Pengumpan:
Tulisan
Komentar

“Nak jalan kemano kito libur nih, Bro?”

“Ke PIM bae? Apo ke Jakabaring? Apo dak tuh berenang ke Lumban Tirta? Atau ke Kemaro”

“Payo! Cari yang lain apo gawe tuh? Apo dio yang nak dijingok’i di sano. Bosen pulo kalu?!”

“Lah, nak ke mano pulo di Palembang ini. Itulah adonyo.”

Apa pesan yang bisa kita ambil dari obrolan dua orang pemuda Palembang di atas ? Secara jelas bisa kita maknai bahwa mereka bosan dengan tempat-tempat rekreasi di Palembang.  Saya saja kalau mau jujur berpendapat bahwa alternatif tempat rekreasi di Palembang sangatlah minim. Apalagi saya memang lebih suka wisata alam seperti yang banyak terdapat di Jawa Barat. Tapi tetap, saya selaku pecinta traveling, bisa menciptakan perjalanan yang bisa saya nikmati meskipun cuma di Palembang, misalnya dengan nongkrong  di tepi sungau musi. Di sana saya bisa menikmati makanan kecil khas Palembang dengan harga yang relatif murah di warung terapung di mana penjual menjajakkan jualannya dengan perahu. Mungkin orang lain tidak bisa menikmatinya. Namun saya pribadi merasa asyik dengan jalan-jalan seperti itu. Dengan deburan ombak-ombak kecil yang menerpa perahu,  saya sangat menikmati kesendirian saya dengan berjalan-jalan di kota Palembang, apalagi ditambah riuh angin yang sedikit-sedikit menyentuh rambutku dengan lembut-sambil menikmati makanan khas Palembang dan pemandangan jembatan ampera dan sungai musi. Pas bin mantap!

Enjoyable Musi Tour

Bicara mengenai persoalan pemuda Palembang di atas, saya jadi teringat dengan dua spot pariwisata yang biasa jadi pelarian warga masyarakat Sumatera Selatan (bahkan di luar Sumatera Selatan ketika mereka bosan dengan pariwisata yang ada di Palembang atau di kota lain di Sumatera Selatan. Dua spot itu adalah Bukit Serelo dan Gunung Dempo. Saya bisa berbangga karena dua tempat ini dulunya berada pada satu kabupaten, yaitu Kabupaten Lahat, tempat di mana saya lahir dan dibesarkan.

BUKIT SERELO

Pertama, saya ingin bercerita tentang Bukit Serelo. Bukit Serelo merupakan bukit yang unik. Ia adalah bukit kebanggaan masyarakat Lahat. Sangatlah pas jika pendiri kabupaten ini menggunakan gambar Bukit Serelo sebagai lambang pemerintahan Kabupaten Lahat.  Melihatnya dari kejauhan sungguh akan membuat hati kita takjub akan kebesaran Tuhan. Bentuknya unik seperti ibu jari, namun ada juga yang mengatakan mirip jari telunjuk. Itulah mengapa ia sering disebut gunung jempol dan ada juga yang menyebutnya bukit tunjuk. Menurut saya, perbedaan ini karena memang bukit ini jika dilihat dari arah jembatan Desa Kebor, Merapi, bentuknya akan kelihatan seperti jari telunjuk, sedangkan jika dilihat dari arah kota  Lahat, maka bentuknya akan sangat mirip dengan jari jempol tangan seperti ingin menungkapkan kata “Oke!”. Namun, nama yang paling populer,terkhusus bagi para pendaki, bukit ini lebih dikenal dengan sebutan Bukit Serelo.

Saya tidak tahu persis mengapa ia disebut bukit serelo. Saya tidak banyak tahu tentang hal itu. Saya pernah mendengar sedikit legendanya dari seorang kakek yang tinggal di basecamp bukit itu saat mendaki ke sana. Sayangnya saya lupa. Kapan-kapan kalau ada kesempatan saya akan pergi ke bukit itu lagi dan bertanya banyak tentang bukit serelo.hehe  Tapi tunggu dulu. Saya tidak yakin apakah kakek itu sekarang masih tinggal di sana. Karena saat waktu itu tahun 2007 dan sekarang sudah 2012. Ya, kapanlah kita ke sana lagi.hehe

Selain itu, ada hal yang menarik jika Anda mendaki bukit ini. Apabila dilihat dari dekat, bukit batu ini terlihat seperti gorila atau monyet besar yang sedang dililit ular. Kadang butuh waktu lama untuk menyadari bahwa memang bukit ini berbentuk gorila yang sedang dililit ular. Butuh dipasati benar. Barulah kita tahu bahwa bentuknya memang sangat mirip. Mengenai ini, kakek yang tinggal di basecamp itu juga pernah bercerita tentang legendanya. Ah, lagi-lagi saya lupa. Maafkan saya.hiks..hiks..:(

Turun Gunung (NB: Lihat bentuk bukitnya!)

Bagi saya pribadi, meski sudah beberapa kali ke sana. Keingininan untuk “hill-walking” ke sana lagi sangat besar.  Memang bila dibandingkan dengan gunung-gunung dengan ketinggian 3.000 mdpl ke atas, serelo bisa dikatakan kalah nama. Namun, serelo bagiku adalah tempat yang tidak kalah menarik dengan gunung-gunung lain sebagai tempat melepas kepenatan. Sebagai perbandingan, saya ambil contoh gunung Dempo. Menurut saya, lebih menyenangkan “berekreasi” di bukit serelo daripada Gunung Dempo. Kenapa ? Alasannya mungkin sederhana yakni tidak terlalu sulit digapai dan pemandangannya, bagiku, lebih menenangkan dari pada berada di puncak Gunung Dempo. Di puncak gunung dempo, kita hanya bisa berkemah yang tidak langsung menghadap ke pemandangan yang luas, jadi kesannya hanya berkemah di hutan atau di kebun. Memang, kita bisa melihat pemandangan luas dengan berjalan lagi menuju kawah. Dari situ barulah kita bisa menikmati hamparan perbukitan. Meskipun begitu tidak berarti saya ingin mengatakan bahwa ke Gunung Dempo tidaklah menyenangkan. Hanya saja, untuk ke Gunung Dempo butuh banyak persiapan, karena medan yang akan dilewati lebih sulit, cuaca yang lebih ekstrim, dan waktu perjalanan yang lebih lama. Memang, kalo dilihat dari segi tantangan, Gunung Dempo pasti unggul. Akan tetapi, di sini saya lebih menekankan kepada aspek rekreasi. Dalam hal ini, saya lebih menyukai Bukit Serelo.

Perjalanan menuju bukit ini tidak terlalu jauh. Untuk bisa sampai ke sana , dari Kota Lahat kita akan menuju desa Ulak Pandan terlebih dahulu sekitar setengah jam. Dari desa ini, dengan berjalan kaki kita akan  melewati sebuah sungai melalui jembatan gantung dan melewati perkebunan karet warga setempat. Dari situ, kita juga akan melewati perkebunan kelapa sawit menyusuri jalan beraspal  sampai pada satu jalan menuju perkebunan warga untuk menuju pintu rimba. Kira-kira waktu yang dihabiskan untuk bisa mencapai puncak sekitar 4-5 jam, tapi itu belum bisa dikatakan mencapai puncak karena untuk mencapai puncak kita harus melakukan pemanjatan dan butuh peralatan khusus. Tapi ada beberapa orang yang berhasil mencapai puncak tanpa menggunakan peralatan khusus, katanya sih merayap dengan mengilingi dinding bukit sampai ke puncak.  Sayangnya, sampai sekarang saya belum pernah sampai ke puncaknya.hehehe Jadi malu !

Hamparan Awan di Bukit Serelo. Very lovely, isn’t it?^_^

GUNUNG DEMPO

Kemudian, marilah kita alihkan perhatian kita pada pesona Gunung Dempo di Pagaralam. Saya pernah berdiskusi dengan pegawai dinas pariwisata Palembang (kalau saya tidak salah ingat). Katanya Gunung Dempo ini sama bagusnya dengan Puncak di Jawa Barat. Tinggal dikelola saja katanya. Teman dekat saya pun bahkan pernah berpendapat bahwa perkebunan teh di Pagaralam jauh lebih indah daripada yang ada di Puncak, Jawa Barat. Kawan saya yang asli Lahat, karena sebelumnya belum pernah ke perkebunan teh, ketika melihat perkebunan teh ini terkagum-kagum. Mendengar ceritanya saya jadi tertawa. Kok bisa warga asli Lahat tapi belum pernah ke Pagaralam ? Tampaknya juga masih banyak orang Palembang yang belum berkunjung ke Gunung Dempo. Buktinya saja, saya pernah mengadakan tour ke Pagaralam dengan menginap di Villa Lahat di perkebunan teh Gunung Dempo yang pesertanya adalah teman-teman saya satu jurusan di Unsri. Ternyata itu pengalaman pertama mereka ke Gunung Dempo, Pagaralam. Mereka pun tak bisa menyembunyikan keinginan mereka untuk kembali berkunjung ke Pagaralam.

Saya ingin menggambarkan pesona Gunung Dempo, Pagaralam. Saya  pikir cara terbaik agar saudara pembaca bisa ikut terlibat dan merasakan nikmatnya menyusuri alam Dempo dengan bercerita tentang pengalaman saya ketika saya pergi ke sana.

MAHASISWA GOES TO PAGARALAM

“Pengen ke Pagaralam lagi aku !” begitulah kira-kira isi status Facebook teman-teman d Himpunan Bahasa Inggris (SEESPA) yang ikut ke Pagaralam saat liburan semester ganjil tahun 2010. Begitu juga dengan yang lain. Hampir semuanya mengungkapkan kepuasaan dan kerinduannya untuk berlibur kembali ke Pagaralam. Saya pun juga berpikir seperti itu, liburan ini memang sungguh berkesan, meskipun sebenarnya aku sudah sering ke Pagaralam. Ada banyak hal berkesan yang membuatnya berbeda.

Saya kembali teringat saat-saat liburan semester ganjil ini digagas. Saat itu, kalau tidak salah, bulan Desember. Saya dan teman-teman memiliki ide untuk menghimpun teman-teman dalam agenda “halal bihalal” Idul Adha, karena kebetulan saat itu adalah hari setelah liburan  Idul Adha. Kebetulan juga pada saat itu sebentar lagi akan liburan semester ganjil, jadi di forum itu  sekaligus kami membahas mengenai liburan bersama semester ganjil. Ada yang ingin ke Bangka, ke Yogya, ke Bali, ke Pagaralam, namun akhirnya, karena berbagai pertimbangan diantaranya biayanya yang murah dan jaraknya yang dekat dengan Palembang, kami memutuskan untuk liburan ke Pagaralam.

Untuk persiapan, pada awalnya kami mempercayakan angkatan 2009 untuk menangani. Namun karena beberapa hal, akhirnya angkatan 2007 (angkatan saya) yang  mempersiapkan liburan ini. Beberapa hari kami melaksanakan rapat persiapan liburan ini. Kami putuskan biaya yang harus dibayar per orang yaitu Rp270.000,- dengan rincian Rp100.000,- untuk biaya penginapan (Villa), Rp100.000,- untuk transportasi,dan Rp70.000,- untuk komsumsi. Agak meleset memang biaya yang kami tetapkan ini. Karena ada biaya-biaya lain yang tidak terduga. Saya sarankan bagi yang juga ingin berlibur ke Pagaralam dengan menginap, setidaknya menyiapkan Rp300.000,- Kalo perlu lebih dari itu biar aman dan nyaman.hehe Tapi ya namanya juga mahasiswa, pinginya yang murah meriah.haha

Dari evaluasi liburan ini, saya akan tunjukkan informasi-informasi yang bisa dijadikan acuan bagi teman-teman yang juga ingin berlibur ke Pagaralam (menginap di Villa).

Pagaralam Trip, 4 Hari Pulang Pergi

Peserta 24 orang

Biaya Villa/malam=Rp704.000,-

No. HP Villa yang bisa dihubungi : 08127390030 (Pak Nanang Rusmadi)

Fasilitas:

  • 4 kamar (2 yang berukuran besar-2 bed dan 2 yang berukukuran sedang-1 bed).
  • Masing-masing kamar memiliki kamar mandi (bathtube, shower air panas dan dingin) dan televisi.
  • Ruang tamu.
  • Dispenser air dingin, panas, dan sedang  (jika habis bisa minta dengan pengurus Villa).
  • Pesawat Telepon untuk menghubungi  kantor pengurus.
  • Sajadah, raincoat, dan handuk per kamar.

Villa Kab. Lahat, Pagaralam

Untuk makan malam dan makan siang, berhubung harga nasi di Villa terbilang mahal bagi mahasiswa (nasi ayam sekitar 15.000)-tapi masih bisa dinego, maka kami memesan nasi di kantin dekat masjid Gunung Gare, komplek perkantoran Pemkot Pagaralam, Gunung Dempo Pagaralam. Harga nasi telor sekitar 5000, ayam 10.000. No HP yang bisa dihubungi 085273090712 (kantin Bu Tuti).

Untuk makan pagi, kami masak sendiri dengan membawa beras dan beberapa bahan masakan seperti mie dan telor. Atau bagi yang tidak ingin repot memasak, dapat memesan nasi goreng (harga 10.000) di kantor pengurus atau di kantin Villa, bisa dinego untuk mahasiswa.

Biaya transport Palembang-Pagaralam (Bis Telaga Biru-07117078110 atau Melati Indah)= Rp40.000/orang (muatan 25 dan 27 orang)

Biaya transport/antar dari pasar Pagaralam ke Villa Gunung Dempo=Rp150.000 (langsung nego bis atau cari angkot Pagaralam).

Biaya transport/jemput (Bis atau Angkot) ke Villa Gunung Dempo dari pasar Pagaralam=Rp150.000

Biaya angkot (muatan 12 orang) untuk keliling ke tempat wisata di Pagaralam selama sehari=Rp200.000 (nego). No HP supir angkot yang bisa dihubungi 085279338802 (Mang Fensi). Atau tanya dengan pengurus loket Bis Pagaralam di Terminal Karya Jaya, Palembang.

Biaya masuk tempat wisata:

  • Gunung Dempo (Tempat Menginap)sekitar 100.000/rombongan  (nego)

Biaya masuk resmi= 2.000/orang

  • Air Terjun Cughup Embun= Rp2000/0rang (bisa nego jika rombongan)
  • Air Terjun Lematang Indah=Rp2000/orang (bisa nego jika rombongan)

Agenda

Hari 1

  • Jam 8 berangkat ke pagaralam dari terminal Karya Jaya Palembang, sekitar 6  jam perjalanan
  • Sekitar Jam 3 sampai ke Villa, Check In
  • Selanjutnya terserah Anda

Hari 2

  • Jam 9 berangkat ke Tugu Rimau (Batas Tertinggi Perkebunan Teh/Pintu Rimba)
  • Jam 12 turun ke Komplek Perkantoran Pemkot Pagaralam, ambil nasi di kantin Bu Tuti, Makan dan Shalat
  • Jam 13 menuju ke Air Terjun Cughup Embun
  • Jam 16 kembali ke Villa
  • Selanjutnya terserah Anda

Air Terjun Curup Embun

Hari 3

  • Jam 9 berangkat ke Air Terjun 7 Kenangan, atau ke Air Terjun Mangkok, atau belanja oleh-oleh di pasar (opsional).
  • Jam 12 menuju ke Air Terjun Lematang Indah, shalat dulu di Mushola-di luar pintu masuk wisata Air Terjun(cukup untuk sekitar 8 orang)
  • Sehabis shalat menuju ke Air Terjun Lematang Indah. Catatan: biaya untuk bermain ban di bawah air terjun LI yang deras=Rp2000-Rp5.000/orang (nego)
  • Pulang ke Villa atau membeli oleh-oleh jika sebelumnya belum ke pasar.

Maen Banyu di Perahu Ban

Hari 4

  • Jam 9 Bis menjemput, go home!

PENDAKIAN MENUJU PUNCAK DEMPO

Kebetulan, beberapa hari yang lalu saya beserta 6 teman-teman saya lainnya mendaki Gunung Dempo. Sebuah pengalaman yang sungguh berkesan. Perjalanan dimulai dari terminal Karya Jaya. Beberapa teman berangkat Jum’at Sore sekitar pukul lima sedangkan saya dan tiga teman lainnya menunggu di Lahat. Kami akhirnya bertemu di Lahat pukul 10 malam untuk langsung menuju Basecamp yang berada dekat dengan pabrik pengolah teh di Gunung Dempo. Sampai di basecamp kami pun beristirahat hingga fajar hampir menjelang untuk menunaikan Shalat Tahajud sembari  menunggu waktu subuh datang. Air di sini tentu sangat dingin. Tapi kami paksakan karena ini baik untuk adaptasi/aklimatisasi. Apalagi air dingin baik untuk kulit.

Basecamp Pendakian di sebelah Rumah Pak Anton

Hari Pertama di Dempo (Jum’at)

Hari ini kami belum melakukan pendakian. Pagi ini kami ingin bermain-main dulu di Air Terjun Tujuh Kenangan yang letaknya tidak terlalu jauh dari basecamp. Kami cukup berjalan selama sekitar 30 menit dari basecamp. Bagi yang hobi berenang, di sana kita bisa dimanjakan dengan air yang cukup dalam (sekitar 2 meter). Bagi yang tak suka berenang atau tidak bisa berenang bisa bermain-main di bawah  tumpahan air terjun, berfoto ria, atau bermain “waterboom alami”.hehe

Waterboom di Air Terjun Tujuh Kenangan

Melompat Lebih Tinggi!-Air Terjun 7 Kenangan

Sekitar jam 12 lewat kami pun kembali ke Basecamp. Kami tidak ikut Shalat Jum’at di masjid. Kami cukup Shalat Zuhur dan Ashar dengan cara dijama’ dan diqhasar. Tidaklah mengapa bagi kami sebagai orang yang tidak mukim. Sekitar pukul 2, kami menuju Tugu Rimau yang dekat dengan pintu rimba jalur Cahaya Timur dengan mendaki. Kami bermalam di Mushola yang ada di sana untuk esok paginya siap mencapai puncak gunung dempo.

Mentari Pagi di Tugu Rimau (Pintu Rimba Jalur Cahaya Timur)

Menikmati “Sunrise” dari Ketinggian Gunung Dempo

Hari Kedua di Dempo (Sabtu)

Sekitar pukul 2 siang, kami pun mendaki dan akhirnya sampai sekitar pukul 6 sore. Agak lambat dari biasanya. Sesampainya di puncak-tepatnya di alun-alun atau pelataran di antara dua puncak (puncak dempo dan puncak merapi), kami langsung mendirikan dua tenda. Saat itu angin berhembus kencang dan sangat dingin. Malam ini kami ingin istirahat.

Alun-Alun/Pelataran di Gunung Dempo (Lembah Parapuyang)

Hari Ketiga di Dempo (Minggu)

Semalam hujan, meski tidak terlalu deras. Permukaan-permukaan daun dan tenda kami lembab dan basah. Kami bangun agak kesiangan, sekitar pukul 6 pagi. Langsung saja kami ambil wudhu di aliran air yang ada di alun-alun puncak Gunung Dempo. Masya Allah, sangat dingin, seperti air es.

 Pagi-pagi sekali kabut tebal masih menyelimuti alun-alun puncak gunung dempo. Hujan juga masih mengguyur. Kami menunggu hingga pukul sepuluh pagi sampai hujan berhenti untuk setelahnya siap mendaki puncak merapi di mana di sana kami bisa melihat kawah gunung dempo. Sungguh luar biasa cantiknya! Siangnya, kami pun kembali.

Kawah Gunung Dempo..Sungguh eksotis !

Giliran kamu..Visit Mount Dempo, Pagaralam!

Itulah, dua spot wisata alam di Sumatera Selatan yang begitu menakjubkan dan ngangenin. Saya pun rindu sekali ingin ke sana kembali. Di mana lagi kita bisa temukan wisata alam terbaik selain di dua tempat ini di Sumatera Selatan.

Bukit Serelo…Gunung Dempo..memang KEREN ABIZZZ !!! Betul-betul tempat jalan-jalan budak Palembang yang dalam bahasa Lahatnya “Bada midang jeme Plimbang nian!”.hehe

COME ON! VISIT THEM !!! VISIT SOUTH SUMATERA !!!  ^_^ iwz

Jadi keren adalah dambaan setiap orang. Biasanya nih kecenderungan untuk “jadi keren” ini lebih sering terjadi pada remaja. Biasa…pada masa-masa ini memang remaja masih getol mencoba apapun agar bisa “menjadi keren”, misalnya ikut ekskul basket, ikut ekskul pecinta alam, ikut ekskul band dengan harapan bisa jadi anak basket, anak Pecinta Alam, dan anak band gitu. Apakah salah? Ya tentu saja tidak. Ini wajar-wajar sih saya bilang. Saya juga dulu begitu.hehe

Sekarang, ketika saya sudah dewasa (eah..hehe). Saya mulai sadar ternyata “menjadi keren” yang seperti itu saja tidaklah cukup. Saya baru sadar kalo ternyata sekeren-keren manusia adalah dia yang “keren” ibadahnya. Betul tidak?! Jawab betul aja yah..hoho Nah, saya selaku mantan anak keren waktu masih ABG (SMP/SMA), merasa terketuk hatinya untuk mencoba menyadarkan generasi-generasi muda sekarang yang sudah tercemar pikirannya bahwa keren itu bisa jadi “anak mapala”, atau jadi “anak band”, atau jadi “anak geng motor” BELAKA tanpa diikuti dengan menguatkan jati diri remaja dengan identitas Kemusliman mereka.

Nah, saya yang mantan anak keren dan insya Allah masih keren mencoba menunjukkan bahwa menjadi keren itu mesti SESUAI DENGAN TUNTUTAN. Saya ingin memberikan contoh bahwa menjadi anak soleh itu tidak mesti selalu diidentikkan dengan anak yang kurang gaul atau gimana. Misalnya aja nih, saya waktu di kuliah ikut Mapala, sering main basket dan tentunya juga bergaul dengan anak-anak basket, berteman dengan orang-orang “gaul”, “gokil” dan “ganteng atau cantik” yang setidaknya sama gantengnya dengan saya (apa coba?!hehe), apalagi sebutin! (sombong..hehe). Ya, pada intinya saya cuma ingin menunjukkan bahwa ANAK MUSHOLA, ANAK MASJID ITU JUGA MAMPU MENJADI KEREN seperti yang diidam-idamkan para kaula muda..hahahaha :D

Nah, terkait ini..saya di facebook dan di media sosial lainnya berusaha membuat serangan balik atas pemikiran-pemikiran sesat yang sering dilancarkan untuk kaula muda dengan membuat status-status atau tweet-tweet bermanfaat, Islami, menggugah, dan lain sebagainya sembari melakukan pendekatan dan secara tidak langsung menggiring opini kaula muda bahwa ternyata “ANAK MASJID/ANAK MUSHOLA” itu GAUL JUGA, KEREN JUGA.hehe

Salah satu cara melakukan “matching/pacing” dengan kaula muda adalah dengan menyamakan persepsi kita dengan mereka atau dengan menyamakan kesukaan atau minat dengan mereka, misalnya nih dengan ikut terlibat dengan guyonan-guyonan yang gokil (tapi syar’i); atau dengan bernarsis ria (berpose ria, mamen!hehe) dengan menampilkan foto profil pribadi yang menarik dan “keren”. Nah, saya mau kasih contoh foto-foto keren tersebut..heuheu (pamer nih yeh…) ^_^

“Wuih, kakak mapala ini!”<—-ANAK MUSHOLA NIH

=============================

Blue<——ANAK MUSHOLA NIH

=========================

Anak Band<——ANAK MUSHOLA NIH

=========================

Iwaza Yoshiharu<——ANAK MUSHOLA NIH

=========================

Anak Basket<——-ANAK MUSHOLA NIH

=========================

Playing the role<——ANAK MUSHOLA NIH

==================================

The Teacher<——ANAK MUSHOLA NIH

==================================

The Freshmand of English Department<——–ANAK MUSHOLA NIH

============================

Kakashi Style<—–ANAK MUSHOLA NIH

=========================

Anak fotografi (eah..haha)<—–ANAK MUSHOLA NIH

===================

Udah kali yah, cukup ini aja fotonya (sok banyak!haha).

Nah..

Terakhir… saya ingin mengatakan bahwa sebenarnya MAU MENJADI APA SAJA ITU MUDAH. Kalo kita niat jadi anak band insya Allah bisa jadi anak band, kalo kita niat jago basket-jadi anak basket ya insya Allah kita bisa, karena kita akan mendapatkan apa yang kita niatkan. HANYA SAJA, kita mesti sadar bahwa MENGENAL ALLAH, BERUSAHA MENDEKATKAN DIRI DENGAN ALLAH, MENYAMPAIKAN DAKWAH itu lebih mulia, lebih keren dari menjadi apapun..”Kita adalah Da’i sebelum menjadi apa pun”. Saya kadang miris melihat adik-adik atau teman-teman yang ternyata Shalat saja masih bolong-bolong.Masya Allah (padahal udah gede, kalo mati gimana coba?). Jadi sobat, siapa pun kita dan apapun minat dan aktivitas kita, kita mesti mengevaluasi dan memperbaiki diri-bagaimanakah “agama” kita. Saya juga tentunya juga terus berusaha “mendidik diri” agar diistiqomahkan.

Semoga segala minat dan aktivitas kita senantiasa mendapatkan ridho Allah SWT dan semoga kelak kita dipertemukan di surga-Nya kelak, sebuah cita-cita tertinggi kita.^_^

NB:

YANG DIMAKSUD ANAK MUSHOLA/MASJID di sini adalah mereka yangg:

  • selalu berusaha Shalat Fardu berjamaah di masjid
  • selalu berusaha membaca Al Qur’an setiap hari
  • selalu berusaha mengerjakan Shalat Malam (tahajud)
  • selalu berusaha mengerjakan puasa Senin Kamis
  • selalu berusaha mengerjakan shalat Rawatib
  • selalu berusaha mengerjakan Shalat Dhuha setiap pagi
  • berusaha belajar menahan diri untuk tidak “pacaran” sebelum menikah (emang bisa? bisa lah!hehe ^_^)
Kita bisa menjadi manusia dengan ciri-ciri di atas. Yang tergugah hatinya untuk segera berubah, saya ucapkan “selamat saudaraku!”. Semoga Allah membimbing niat baik, saudara. Memang ini butuh proses. Sedikit demi sedikit insya Allah kita bisa! SEMANGAT !

BANGGALAH MENJADI “ANAK MUSHOLA/MASJID”!^_^

“Aku pikir hanya aku yang merasakan hal ini. Ternyata ketika kuamati semua orang, terkhusus untuk manusia yang sekelamin dengan saya, laki-laki.”

Ya, laki-laki seperti saya, yang “percaya” bahwa pacaran itu tidak ada di dalam Islam seringkali merasakan kerinduan yang besar untuk segera, dengan cara yang halal, bercengkrama, bicara mesra, bercumbu rayu  dengan “orang” yang kita sayangi. Hal ini lumrah karena fitrah mencinta itu memang sudah “built in” di setiap hati-hati kita. Aku yakin, ini juga dirasakan oleh mereka, lawan jenis kami-laki-laki, yakni mereka yang biasa disebut kaum hawa. Bahkan mungkin perasaan itu pada mereka lebih besar dibanding kami laki-laki. Apalagi memang umurku sudah hampir menginjak 23 tahun. Umur yang kata seorang pakar psikologi, jika aku tidak salah ingat, bahwa umur yang baik untuk menikah bagi laki-laki itu antara umur 20-25 tahun dan saya sudah masuk pada masa itu.

Saat ini, ada beberapa teman baik itu adik tingkat atau pun kakak tingkat yang sudah menempuh kehidupan baru sebagai seorang suami atau istri. Beberapa dari mereka ada yang menikah ketika masih kuliah dan beberapa lainnya ada yang menikah tidak lama setelah mereka menamatkan kuliahnya. Hal ini mungkin masih dianggap biasa dan sering terjadi. Tapi saya rasa kita juga sepakat bahwa masih banyak orang yang menganggap orang yang menikah di umur 20 hingga 25 itu masih terlalu cepat.  Apalagi jika ternyata mereka yang meniatkan untuk menikah ini tidak pacaran. Akan banyak pertanyaan atau bahkan mungkin fitnah yang timbul di masyarakat. “Eh, tahu-tahu udah nikah aja nih anak. Kebelet aja mau nikah. Jangan-jangan..dan jangan-jangan?!”

“Masa berpuasa” inilah yang terkadang membuat “galau” para pendamba “ikatan yang teguh” ini. Untuk mengisi waktu ini, untuk memenuhi kecenderungan berbagi dan berharap kasih sayang  ini masing-masing punya caranya sendiri. Nah, kira-kira bagaimanakah cara kalian ? Nah, yang biasa dilakukan yang aku tahu misalnya dengan bercanda dengan lawan jenis, ngobrol (chatting), dan lain sebagainya. Nah, dalam hal ini terkadang ada yang berbeda entah itu dalam hal waktu, cara, kedekatan, dan isi pembicaraan. Misalnya saja ada yang pembicaraannya sudah mengarah kepada “cinta”  entah itu dilakukan ketika sedang berkumpul bersama-sama di dalam sebuah forum atau perkumpulan yang banyak pesertanya. Atau ada juga yang chatting di facebook atau di media sosial lainnya. Begitulah, kisah mereka (dan mungkin juga aku). Tapi jujur, aku termasuk orang yang menghindari pembicaraan yang mengarah kepada “perasaan suka/senang/cinta”, apalagi orang yang diajak bicara juga orang yang memiliki pemikiran yang sama (langsung menikah tanpa pacaran).

Jika begitu, bagiku, potensi untuk “merasa dan dirasa” itu akan cukup besar. Itulah mengapa aku lebih cenderung suka berbicara/ngobrol dengan mereka yang aku tahu bahwa mereka tidak/ tidak terlalu berpotensi untuk berpikir ke arah “perasaan tadi”. Namun, begitulah manusia. Kita tidak bisa mengetahui apa isi hati manusia. Jadi ya tetap jaga pembicaraan saja dan jaga hati. Terkadang, jika sudah begitu, maksudnya ketika ada indikasi bahwa “si lawan jenis” sudah berubah orientasinya dalam setiap pembicaraan, aku biasanya mengurangi interaksi (atau mengurangi kedekatan) dengan “si lawan jenis” tersebut. Sebenarnya aku hanya ingin mereka tahu bahwa pada hakikatnya aku menyayangi mereka, dengan memberikan bantuan dan perhatian laiknya adik dan kakak sendiri. Itu saja, tidak lebih.

Ya…Begitulah manusia. Begitulah hati. Begitulah cinta. Silakan sayang..silakan mencintai..tapi jika mau lebih, yang sampai pada “ikatan yang teguh” itu, ya mesti kudu berani lamar..hehe :)

Semoga dalam “masa-masa” ini kita dijaga oleh Allah agar tetap dalam “batasan”-Nya. Dan semoga fitrah mencintai dan dicintai ini membawa kita pada produktifitas dalam hidup, bukan malah menjadi buta karenanya.wallahu’alam

^_^  Semoga bermanfaat.

Artikel yang masih banyak kekurangan yang Alhamdulillah pernah dimuat di Lahat Post

Semoga bermanfaat.

Ketika membaca judul di atas, mungkin pertanyaan yang pertama kali muncul di pikiran kita adalah “apa sih konsep diri?” Konsep  diri, menurut Hurlock, E.B., merupakan jumlah total dari ide-ide atau gagasan-gagasan seseorang tentang apa dan siapa dia. Mungkin dengan penjelasan defenisi di atas masih belum membuat kita mengerti tentang apa itu konsep diri. Sederhananya, menurut versi saya, konsep diri adalah pandangan pribadi dan pandangan orang lain tentang siapa kita dan bagaimana seharusnya kita menjadi. Sebagai contoh saya memandang saya pribadi sebagai orang yang “gaul”, orang-orang lain juga berpandangan  bahwa saya orang yang “gaul”, dan saya ingin menjadi, misalkan anak-anak band yang “gaul” yang banyak dikenal dan dikagumi orang banyak. Itu saja, yang penting saya “gaul” dan harus menjadi “gaul” dengan cara apa pun. Itulah konsep diri saya. Konsep diri saya itulah yang akan membawa saya untuk berperilaku sesuai dengan konsep diri saya tersebut. Maka tidak mengherankan jika kerjaan saya setiap hari cuma nongkrong, kongkow, ngeband, dan hura-hura, karena memang itulah tujuan saya hidup yang saya pahami. Pertanyaannya, apakah sudah benar konsep diri yang seperti itu ? Lanjut Baca »

MENGEJAR KERETA

Seperti biasa, gedung-gedung UIN yang megah menjadi pemandangan kami, Shandi dan aku sendiri, ketika akan menuju jalan raya untuk menuju tempat di mana kami bisa menemukan angkot berkode “AL”. Kami jalan menunduk dengan langkah cepat-cepat, terburu-buru karena jam menunjukkan pukul 2 siang lewat, sedangkan kereta Matarmaja jurusan Malang-Jakarta akan berangkat pukul 14.50 siang.

Aku mencoba tenang, seperti biasa, meski sulit rasanya. Karena hujan, ditambah lagi sang supir angkot AL yang kami tumpangi tampaknya masih haus penumbang baru, angkot dengan sengaja dijalankan sang supir dengan lambat. Kulihat sepintas wajah Shandi yang melihati jam tangannya. Tampaknya ia cukup cemas. Ketika kulihati ia juga seolah ingin mengkonfirmasi apakah aku juga merasakan hal yang sama dengan memeriksa mukaku. Aku masih cukup tenang.

10 menit sebelum kereta berangkat akhirnya kami sampai juga di stasiun, tepatnya di sebrang jalan dekat stasiun. Buru-buru kami langsung menyebrang jalan menuju stasiun Malang. Di peron sudah sepi dengan penumpang karena sudah bersiap berangkat dan mungkin sedang asyik di bangku mereka masing-masing.

“Kereta Matarmaja mana ya pak?”, tanyaku pada petugas di sana. “Jalur tiga!”, katanya.

Di jalur satu melintang kereta api entah jurusan mana. Kami memutar cukup jauh, berjalan menuju ujang kereta di jalur satu. “Ah, jauh juga!”, pikirku. Kali ini aku sedikit was-was. Langkah kupercepat. Stasiun seolah-olah sudah sangat sepi. “Aha, itu Lanjut Baca »

Semalem karena nggak ada kerjaan, saya nonton film The Social Network (betul yah judulnya?). Itu, film yang menceritakan kisah Mark Zukeberg meraih kesuksesannya dengan menciptakan Facebook. Yang lain semalem udah pada tidur kecuali satu adik tingkat saya yang belum tidur karena masih asyik main Facebook. Sekitar jam 11 malam lewat film itu saya khatamkan.

Setelah nonton tuh fllm, satu hal yang menggugah saya yaitu tentang “Mandiri”. Yap. Sampai sekarang sayangnya masih belum mandiri. Berbeda sekali dengan Mark yang sudah mampu membangun perusahaan di usia muda. Lah saya, astagfirullah, uang makan saja masih minta. Saya bahkan pada tahap menyesal, kenapa saya tidak dididik dari kecil untuk bisa mandiri sehingga mental kepepet itu masih kurang mendarah daging.  Sebenarnya ini bukanlah kali pertama saya tergugah untuk segera mandiri. Sudah sering, yakni dari bacaan-bacaan tentang finansial dan kewirausahaan selama ini.

Setelah menonton film tersebut saya pun siap-siap tidur, melakukan “ritual-ritual” biasa sebelum “jump to the bed” (padahal nggak pake bed, alias tidur di ambal..hehe). Pertama, ke belakang untuk Buang Air Kecil, terus ambil wudhu, terus shalat witir. Sebenarnya sih malam ini masih mikir-mikir untuk shalat witir. Air yang ada di bak tinggal dikit. Bingung hukumnya itu masih bisa dipake nggak untuk wudhu. Opsi saya : 1. Malam ini nggak usah wudhu setelah buang air yang artinya juga nggak usah shalat witir. 1. Buang keraguan, ambil wudhu dan shalat. Toh kalaupun airnya tidak mensucikan yang penting hati tenang sebelum tidur ambil wudhu dan shalat witir, lebih tenang.

Di Shalat saya kepikiran tentang kondisi saya yang sampai saat ini masih belum mandiri, masih menggantungkan hidup pada passive income yang berasal dari orangtua. Meminjam istilah anak muda sekarang “saya lagi galau”.hehe Tapi nggak segitunya sih. Dulu, sebenarnya saya pernah bilang pada orangtua kalau saya nggak perlu lagi dikirimin uang. Tapi ujung-ujungnya karena sangat butuh uang akhirnya komitmen itu patah, dikirimin lagi. Ah, ternyata saya BELUM BENAR-BENAR MERASA KEPEPET. Jadi teringat tantangan Mas Jaya Setiabudi waktu Entrepeneur Camp dulu, katanya “Berani sekarang bilang ‘PAK BU, MULAI SEKARANG JANGAN KIRIMI SAYA UANG LAGI!”

Habis shalat saya mikir-mikir. Saya pun membuat kertas berisi tulisan “Renungkan! Kapan Mau Mulai Mandiri. Sampai Nikah? Jangan Sampai”. Ya setidaknya itu bisa jadi cambuk bagi saya untuk segera BERUSAHA agar bisa MANDIRI.

Rencana saya sih, bulan depan masih butuh uang kiriman (duh, malu euy). Sekarang keuangan saya sampai pada status “defisit”.  Hutang-hutang yang ada harus dilunasi dulu. Setelah itu bikin rencana keuangan agar keuangan lebih teratur. Selain itu juga harus berpikir untuk menambah pemasukan dan siap untuk mandiri-bayar SPP dengan uang sendiri, uang makan hasil keringat sendiri, uang kebutuhan lain juga dari usaha saya sendiri.

ASTAGFIRULLAH..HARI GINI TERNYATA SAYA MASIH FAKIR !!!

Ayo kawan-kawan, saling bantu dan saling mengingatkan dalam mewujudkan kehidupan yang lebih mandiri.

Terakhir saya ingin mengutip sebuah kalimat bijak.

“Muliakan diri dengan memenuhi segala hak diri. Berusahalah untuk menambah pendapatan, alih-alih berhemat tapi malah merendahkan diri dengan mengabaikan pemenuhan hak diri.”

Saya sangat menyukai memakai jaket, jaket dalam arti pakaian yang berfungsi sebagai penghangat tubuh dan atau jas hujan. Saya mulai menyukainya sejak SMA. Meski sebelumnya sudah biasa memakai jaket, tapi itu bukanlah sesuatu yang sangat disenangi. Jaket hanya sekedar baju biasa yang dipakai sebagai penghangat tubuh.  Mulai sekitar SMA, jaket fungsinya bagi saya sudah berbeda, selain sebagai penghangat tubuh (atau pun sebagai jas hujan), ia juga menjadi salah satu jenis pakaian yang paling digemari yang bisa dipakai untuk “style” saya. Sebenarnya kegemaran saya ini tidak terlalu istimewa dan berbeda dengan orang lain, hanya saja, jaket-jaket ini berkualitas bagus (pamer nih yeh^^) dan harganya murah, bahkan tanpa harus membeli.  Kok bisa ?! Ya bisa.

Jaket pertama yang saya punya yang saya ingat adalah jaket olahraga merk PUMA. Harganya murah, kalau tidak salah cuma 15 ribu. Wow, murah sekali ? Asli nggak tuh ? Menurut saya, asli. Hanya saja memang, saya membelinya di toko baju bekas. Jiahhhhh!!!! Baju bekas donk! Ya, benar. Jaketnya memang beli di sana. Bagi saya tak masalah jika harus membeli di toko baju bekas, karena bagi saya yang penting kualitas.hehe (Ngeles..!^^). Tapi bener sob, gue orang quality oriented..hehe Nah, kalo pingin beli yang bener-bener “high” kualitasnya pasti mahal, sob. Contohnya saja jaket-jaket sport merk Nike dan Filla, dan merk terkenal lainnnya. Asli, kagak nahan harganya. Jangankan jaket yang memang kelihatan bedanya dengan jaket biasa. Baju kaos saja,yang saya pikir bahannya saja tampak tidak terlalu berbeda dengan merk-merk biasa atau merk tiruan, beda harganya jauh sekali. Pun kalau ada uang banyak, rasanya saya tak begitu rela untuk melepas uang saya hanya karena baju itu. Perbedaannya tak terlalu sifnifikan. Apalagi tuh baju cuma untuk di rumah atau untuk olahraga. Selain quality-oriented, saya juga tentunya Price-oriented. Perhitungan itu harus, kecuali untuk urusan “berbagi”.

Mengenai jaket Puma saya ini, pernah ada teman, yang sebenarnya lebih “mampu” secara keuangan dari saya menanyakan di mana beli jaket PUMA ini. Waktu itu saya jawab jujur saja, “aku beli di BJ (sebutan untuk toko baju bekas, belum tahu kenapa toko baju bekas sering disebut BJ, mungkin saja singkatannya BAJU JEMPOLAN.hehe).  Teman saya ini nggak percaya. Ya sudah. Believe it or not. You better believe it.^^

Almarhum. Jaket Puma Saya^^

Yang kedua, saya juga dapet di tempat biasa. Ceritinya hobi hunting di toko baju bekas nih ?hehe Biasalah, nggak keduitan bro kalo beli yang aslinya. Yang kedua ini, saya tawar Rp30.000. Harga “deal”, saya ambil. Ini jaket kalo beli aslinya pasti “very expensive” dan, kayaknya nggak bakal bisa dicari di toko-toko busana biasa, kecuali di toko khusus.  Jaket ini merk “New York”, mirip dengan jaket-jaket olahraga yang sering dipake di luar negeri, tebal dengan bulu-bulu seperti angsa. Pertama kali beli, biar aman dipakai, saya mencucinya sampai benar-benar bersih.

My Jacket and I myself in Tangkuban Perahu Crater

Nah, empat jaket lagi yang saya punya adalah jaket/sweater warisan. Yang ngasih kakak ipar saya, yang alhamdulillah, punya pekerjaan sering ke luar negeri. Yang pertama sweater biru dari Kanada, yang kedua juga sweater warna biru dongker, yang ketiga jaket hitam merk Forester dan yang ke empat jaket yang sekarang sering jadi partner karena bisa berfungsi sebagai rain coat.

Dari beberapa jaket, ada sebagian jaket yang saya lepas (maksudnya saya kasih ke teman). Pernah juga beberapa teman ingin membeli jaket saya. Karena ini warisan dan memang saya suka, saya tak rela menjualnya, pun jika harus  menjualnya dengan harga mahal. Paling mahal juga berani dibayar 300 ribu. Dan pasti, jarang yang mau membayar dengan harga segitu. Katanya pasti lebih baik membeli jaket baru di toko.

So, apa hikmah dari tulisan ini. Pingin pamer ? Oh no, not at all. Saya hanya sangat bersyukur ternyata nikmat yang saya punya begitu banyak. Hidup saya penuh warna. Mengalir lancar seperti tak pernah merasa kesusahan. Ternyata masih memiliki keluarga dan teman yang mau dan sering berbagi. Apapun keadaan saya, rasanya saya selalu berkelimpahan nikmat. Dalam hal jaket, tak pernah rasanya sampai sekarang saya membeli jaket berkualitas dengan harga mahal. Pernah saya beli sekali, sweater biru yang saya beli di Factory Outlet Bandung, harganya cuma 50ribu.   Ah, hidup memang terlalu indah. Alangkah naifnya kita jika  tidak mau mensyukuri hidup.

Tea Park-My Blue Sweater

Pertama kali Naik TransJakarta-My NavyBlue Sweater

Dawn in Serelo Hill-My Forester Jacket

My Jacket-My Partner, Pagaralam

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.