Generasi Pembelajar atau Generasi Penghamba Nilai?

Di pagi hari yang cerah di SMP Madani, para siswa sudah berbaris rapi. Mereka siap masuk kelas dengan wajah antusias. Shalat Subuh? Sudah. Sarapan? Sudah. Zikir Al Ma’surat sudah. Maka tak ada alasan bagi mereka untuk berwajah masam dalam memulai hari.

Guru pun masuk. Siap menstranfer ilmu dan terutama mengajarkan akhlak pada para siswa. Alhamdulillah para siswa duduk dengan sopan. Wajah mereka menyiratkan kebahagiaan dan antusiame dalam belajar. Ada beberapa siswa yang sepertinya capek karena begadang. Namun Subhanallah, mereka tak ingin membuat guru mereka kecewa. Sesekali mereka mengangguk dan tersenyum simpul tanda tulus menyimak, meskipun mereka sebenarnya sungguh mengantuk.

Tak ada dari mereka yang menunjukkan wajah yang meremehkan penjelasan atau pengajaran guru, apalagi duduk tak sopan dan banyak mengobrol dengan teman sebelah. Mereka sungguh menghormati guru.  Pengetahuan agama yang ia miliki berbuah akhlak yang manis. Betul-betul terasa manis bagi guru mereka dan bagi orang lain.

DI SEKOLAH SEBELAH

Di sebelah SMP Madani, ada SMP Mantap Jaya. Aku pernah mengajar di sana. Tak ada yang terlalu istimewa. Siswanya sama seperti siswa kebanyakan. Mood belajar langsung meningkat drastis jika akan ada ulangan, namun segera menjadi turun jika kegiatan belajar tak ada permainan. Mungkin mereka kira SMP sama dengan Pendidikan Anak Usia Dini.

Sepertinya memang sulit menjadi orang-orang pembelajar yang mencintai ilmu. Sulit rasanya menjadi insan yang sungguh berharap ilmu dan memiliki adab yang benar terhadap sumber-sumber ilmu.

Dulu, aku pernah mengadakan penelitian mengajar di salah satu SMA sebagai syarat kelulusan kuliah. Saat itu aku memberikan proyek pembelajaran bahasa Inggris. Selama dua bulan aku tak pernah menjanjikan nilai atau mengancam mereka dengan nilai yang buruk jika mereka tak serius dalam menjalankan proyek itu. Dan saat tiba hari penyelesaian proyek, ternyata banyak yang belum menyelesaikan proyek tersebut. Jalan terakhir kutempuh, ANCAMAN. “Bagi yang ngumpul besok akan sir kasih nilai 80 semua, jika terlambat sir kasih nilai 50”, begitulah kira-kira kataku. Dan benar, setelah itu mereka seperti KESETANAN, antusiasme mereka muncul. DASAR GENERASI PENGHAMBA NILAI ! Semoga aku tidak termasuk.   (iwz)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s