Mendidik Generasi Akil Baligh

MENDIDIK GENERASI AKIL BALIGH

Oleh Ust Adriano Rusfi

Framework Pendidikan Berbasis FitrahCiri paling generik dan penting bagi generasi aqil-baligh adalah kemampuan untuk memikul tanggung jawab : mukallaf. Bermula dari tanggung jawab pada Allah, yang akhirnya menjelma menjadi tanggung jawab pada diri, hak milik, otoritas teritorialnya, kemanusiaan dan alam semesta.

 

Jadi, jika seorang anak manusia rajin shalat namun buang sampah sembarangan, tampaknya ia tak sedang dididik menjadi aqil-baligh, tapi sekadar dididik untuk terbiasa shalat. Ya, karena tanggung jawab adalah sebuah paket yang utuh : kaffah.

 

Inilah pentingnya mendidik aqil : berakal. Karena tak sulit bagi akal memahami pentingnya kebersihan, ketertiban, disiplin, konservasi, dan berperilaku hijau. Tapi pendidikan akal lho ya, bukan pendidikan intelektualitas-akademik semata.

 

——

generasi aqil-baligh perlu disiapkan karena kita ingin lahir generasi yang konstruktif. Karena generasi yang aqil tanpa baligh dan sebaliknya, akan bikin banyak masalah. Kita juga tak ingin membentuk generasi dengan masa transisi yang panjang, karena transisi itu banyak mudharatnya

 

Tanggung jawab terhadap Allah sudah bisa ditanamkan sejak dini. tanggung jawab terhadap diri dan property diajarkan pada usia 7 sd 10. Tanggung jawab sosial dan lingkungan diajarkan sejak usia 10 sd 12.

 

—–

tanggung jawab terhadap diri sendiri dimulai dari tanggung jawab terhadap penampilan, kebersihan, kesehatan dan disiplin diri. Itu dapat mulai dilatih pada usia 7 tahun.

 

Dilatihnya harus dimulai dari pembangunan kesadaran dan keimanan, bahwa seseorang bertanggung jawab kepada Allah secara pribadi, bahwa Islam sangat mencintai keindahan, bahwa kebersihan itu bagian dari iman dsb.

 

Selanjutnya orangtua harus memberikan contoh dan keteladanan tentang hal-hal tersebut secara konsisten dan istiqamah. jadikan tanggung jawab atas diri tersebut sebagai tradisi keluarga

 

Anak juga mulai dibiasakan dengan tanggung jawab. Biarkan dia memikul resiko jika dia tak bertanggung jawab atas diri sendiri. Saat dia ternyata tidak bersih dan wangi, ambil jarak dengannya. Ciptakan kesan bahwa keluarga terganggu dengan penampilannya.

 

Salah satu cara bertanggung jawab terhadap diri sendiri adalah kemampuannya untuk membiayai dirinya sendiri. Ajari anak mencari nafkah saat berusia 10 tahun. Kalau ia menginginkan sesuatu, sebagian biaya harus dia tanggung sendiri (misalnya 10 %).

 

—–

tanggung jawab terhadap lingkungan dapat dimulai dari tanggung jawab terhadap lingkungannya sendiri. Misalnya kamarnya sendiri, lalu terhadap rumah dan halaman. Untuk itu, sejak anak berusia 10 tahun, pisahkan tidurnya dari orangtuanya, agar ia punya kamar yang ia harus bertanggung jawab terhadapnya

 

Latih anak untuk membersihkan tempat tidurnya sendiri, kamarnya sendiri dsb.

 

—–

ejak anak berusia 10 tahun, ijinkan ia memiliki peliharaan, misalnya tanaman atau binatang. Ajarkan kepadanya untuk mencintai peliharaan tersebut. Setelah itu, biarkan ia merawatnya, memberikannya makan, mengobatinya/menanganinya jika sakit/mati dsb.

 

Kedekatan anak dengan makhluk hidup melalui peliharaan adalah pintu masuk bagi kecintaan terhadap lingkungan.

 

—–

tentang kebersihan, buat anak peka terhadap kebersihan. Keluarga yang peka dan sangat peduli dengan kebersihan, nggak bisa melihat sampah sekecil apapun, akan membuat anak “alergi” terhadap sampah.

 

Kalau anak sudah “alergi” terhadap sampah dan kotoran, maka dia bukan hanya rajin membuang sampah pada tempatnya, tapi juga akan membuang setiap sampah yang dilihatnya, walaupun itu sampahnya orang lain.

 

—–

 

Dan yang paling penting, mulailah setiap ikhtiar untuk membangun tanggung jawab lewat penyadaran, motivasi, aqidah, dan agama. Bukan semata-mata lewat pembiasaan dan pemaksaan.

 

—-

kalau bicara tanggung jawab, sebaiknya dimulai pada usia 7 tahun. Pada usia 4 tahun, tanamkan padanya rasa cinta dulu. Rasa cintalah yang akanb melahirkan tanggung jawab.

 

—–

konsistensi lahir dari dua hal :

 

Pertama, kencintaan yang tertanam, sehingga berkembang menjadi niat.

 

Kedua, adanya tradisi dalam keluarga yang ditegakkan secara konsisten.

 

—–

anak dapat dimulai untuk mencari nafkah dengan cara mengerjakan tugas-tugas tersier di rumah sendiri, lalu diberi upah. Misalnya membantu pekerjaan ayah yang selama ini diupahkan pada orang lain (mencuci mobil/motor dsb)

 

Silanjutnya dengan berdagang yang ringan-ringan, misalnya jual kue atau ATK di sekolah. Saat hujan, mungkin ia bisa menawarkan jasa ojek payung dsb.

 

Dulu saya punya tetangga kaya-raya. Setiap hujan dia selalu mendorong anak-anaknya untuk ngojek payung. Lalu sayapun meniru untuk anak-anak saya.

 

—–

Sekali lagi, ketika akal anak dibangun (aqil), maka akan lahir kesadaran. Kesadaran akan melahirkan cinta. Akhirnya cinta akan mewujudkan tanggung jawab.

 

Dan akal tak identik dengan nalar atau intelektualitas. Karena akal adalah ikatan (Arab : ‘uqul) antara otak dan hati.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s