Yuk Rame-rame Jadi Guru ! (Mendidik Itu Menyenangkan)

Pertama kali masuk sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Sriwijaya, saya benar-benar belum terpikir bagaimana nanti jika saya menjadi guru. Pokoknya yang ada di pikiran saya waktu itu saya belajar di Pendidikan Bahasa Inggris hanya untuk mengambil ilmu Bahasa Inggrisnya saja. Entah mau jadi apa nanti. Yang penting saya tidak jadi guru.

Karena biasanya gaji guru itu kecil. Kerjaannya cuma di sekolah, ribet mengurusi murid yang nakalnya minta ampun. Tidak ada potongan saya bisa menjadi guru pikir saya saat itu. Apalagi mengingat guyonan teman-teman SMA yang mengatakan bahwa nanti saya akan terkena hukum karma.

Dulu ketika masih sekolah saya yang berurusan dengan guru. Nanti, ketika saat saya menjadi guru, tentu sayalah yang harus berurusan dengan murid-murid yang katanya bisa membuat kepala guru-guru pendiam seperti saya ini pusing tujuh keliling, menjadi makanan empuk siswa yang suka menjahili guru, menjadi bahan guyonan para siswa.

Jujur saja, beberapa mata kuliah tentang pendidikan yang saya dapat di FKIP seperti Pengantar Ilmu Pendidikan, Profesi Kependidikan, dan Psikologi Peserta Didik tidak begitu masuk di otak dan hati saya. Saya yakin teman-teman saya yang lain juga merasa  begitu. Ya biasalah anak-anak sekarang.hehe Yang penting nilai matakuliah dapat A. Hadir, bikin tugas, ujian, dapat nilai. Selesai urusan. Masalah penghayatan dan pengamalan? Halah, sudahlah.

Itu realitasnya. Saya pun baru tahu setelah saya semester 7 bahwa ada yang namanya 8 keterampilan mengajar. Dan itu sebenarnya ada di matakuliah sebelumnya. Hadeh…gimana sih loe ?

Mengenai kapan tepatnya saya mulai bisa mencintai profesi sebagai pendidik saya tidak begitu ingat. Bisa dibilang saya mulai begitu mencintai kegiatan mengajar setelah saya melaksanakan praktik pengalaman lapangan (PPL). Namun yang pasti semua hal yang berhubungan dengan kependidikan, bisa saya katakan, 80% saya dapatkan dari pengalaman saya berorganisasi di kampus dan dari buku-buku yang saya baca.

Saya benar-benar berhutang budi dengan organisasi kampus. Karena di situlah saya belajar untuk menyukai membaca buku, berbicara di depan umum, menjadi pemimpin, menulis dan banyak lagi. Saya bisa bayangkan bagaimana jadinya saya bila saya tidak aktif di organisasi kampus. Mungkin kerjaan saya cuma KKN (kos, kuliah, nongkrong). Itu-itu saja.

Saya jadi teringat cerita kawan saya ketika Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Dia berkisah bahwa ada temannya dari program studi lain yang menangis karena tidak tahan menghadapi murid yang tidak bisa diatur. Kasihan sekali! Jangan sampe dah terjadi sama kita? Nggak banget kan? Pastinya. 

BERAWAL DARI “DAKWAH DAN “PUBLIC SPEAKING”

Sudah takdir Tuhan saya dulu aktif di organisasi ke-Islaman di kampus. Di situ tentunya para anggota, apa lagi ketua, dituntut untuk bisa berbicara di depan umum. Dakwah, yang menjadi inti kegiatan organisasi saat itu, sangat terkait dengan keterampilan berkomunikasi.

Dari situlah, saya pun berinisiatif dan mulai getol mencari bacaan-bacaan, tontonan dan juga seminar-seminar atau pelatihan tentang komunikasi, public speaking, motivasi, dakwah, psikologi, dan ke-Islaman. Saya membaca buku. Saya mengamati trainer-trainer saat berbicara. Saya mulai menemukan pengetahuan dan keterampilan tentang hypnosis, karakter-karakter manusia, teknik-teknik mempengaruhi orang, teknik-teknik berbicara di depan umum, dan banyak lagi.

Saya sangat suka mempelajari segala segala sesuatu yang berhubungan dengan pelatihan (training) dan pengajaran (teaching).  Untuk latihan, saya biasa memraktikkan ilmu-ilmu itu ketika saya berbicara sebagai moderator atau MC di sebuah acara berskala kecil atau pun besar sebelum  saya praktikkan ketika saya menjalani program pengalaman lapangan (PPL) saat saya semester 7.

MENJADI GURU, MENYENANGKAN DAN JUGA MULIA

Saya berani katakan bahwa pekerjaan yang paling menyenangkan dan juga paling mulia itu adalah guru. Seberat apapun permasalahan yang dihadapi di sekolah, guru biasanya tetap senang dan menikmati profesinya sebagai guru.

Menurut teori  kebutuhan Maslow, manusia itu memiliki setidaknya 5 kebutuhan dasar yang harus dipenuhi, yakni kebutuhan fisiologis (kebutuhan akan makanan, air, oksigen,dll); kebutuhan keamanan; kebutuhan cinta, sayang dan kepemilikian; kebutuhan esteem (kebutuhan akan penghargaan/untuk diakui dan dihargai); dan kebutuhan aktualisasi diri.

Nah, kira-kira profesi apa yang lebih memungkinkan kita untuk dihargai/diperhatikan oleh banyak orang (kebutuhan esteem)? Meskipun profesi lain masih mungkin memenuhi kebutuhan manusia akan penghargaan, profesi sebagai pendidik (guru) adalah profesi di mana kita bisa mendapatkan banyak cinta, kasih sayang, dan penghargaan.

Kita tidak berniat mencari pengakuan dan penghargaan dalam mengajar.  Tetap harus kita camkan dalam hati bahwa tujuan utama kita mengajar bukanlah untuk mengejar pengakuan, tapi untuk meraih ridho Allah. Namun, bagi saya, kesenangan yang didapat dari perhatian dan kasih sayang siswa terhadap guru adalah imbalan yang adil dari Tuhan karena sebagai guru kesabaran kita sering kali diuji. Itulah nikmatnya menjadi guru.

Bahkan ada dosen saya, menurut ceritanya, dulu adalah seorang pegawai negeri di lembaga non-kependidikan dan gajinya lebih besar dari pada gaji profesinya sekarang sebagai dosen. Namun akhirnya sekarang dia lebih memilih dan menikmati profesinya sebagai pendidik, meski dia tahu gajinya tidak lebih besar daripada guru.

Tapi tenang saja. Sebagai guru, kita masih tetap bisa menjadi kaya. Caranya bagaimana ? Ya banyak. Bisa dengan menulis buku, membuka usaha di samping profesi kita sebagai guru. Tapi jangan dikira dengan mengatakan itu saya sekarang sudah kaya. Belum, sedang menuju ke sana. Tapi selaku guru, kita tetap harus yakin bahwa dengan menjadi guru kita bisa kaya lahir dan batin.

Namun, lagi-lagi saya ingatkan, tujuan utama kita menjadi guru bukanlah gaji atau pendapatan yang banyak meskipun sebetulnya boleh-boleh saja mengharapkan itu dan justru bagi saya kita memang harus menjadi kaya. Lihat saja, Nabi Muhammad dan para sahabat dulu adalah orang-orang kaya di zamannya.

Nabi saja mas kawinnya 100 onta merah atau bila dikonversikan dengan nilai mata uang sekarang 1 onta merah itu kurang lebih sepadan dengan harga mobil Toyota Fortuner. Wow, ajib bukan ? Namun meskipun kaya, Nabi dan para Sahabat yang kaya tetap berlaku sederhana, banyak menghabiskan hartanya untuk kepentingan agama dan umat.

KEBANGGAAN MENJADI GURU

Kembali lagi ke soal nikmatnya menjadi guru, saya pun saat ini sangat mencintai profesi saya sebagai pendidik. Ada kebanggaan dan juga perasaan bahagia yang teramat sangat ketika kita bisa berbagi ilmu, apalagi ketika melihat murid-murid kita bergembira saat mereka diajar oleh kita.

Mengenai ini, Oprah Winfrey, yang terkenal dengan acara talk show-nya ini dalam acaranya pernah membuat riset tentang perasaan bahagia. Oprah ingin mengetahui bagaimana perasaan orang yang awalnya biasa menggunakan uang untuk berlibur dan diganti dengan berbagi kepada orang yang lebih membutuhkan.

Ketika diwawancarai, orang-orang yang telah melakukan kegiatan berbagi tadi merasakan perasaan bahagia yang sungguh berbeda dengan ketika mereka berlibur atau menghabiskan uang untuk kepentingan mereka sendiri. Nah, begitulah guru. Kita mendapatkan energi positif berupa cinta dan penghargaan sehingga kita bisa merasa sangat bahagia. Perasaan yang jarang bisa dinikmati oleh profesi-profesi lainnya.

GURU PROFESI MULIA

Selain itu, profesi pendidik juga begitu mulia di mata Allah. Mari kita hayati perkataan Nabi Muhammmad SAW berikut ini tentang guru:

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi hingga semut yang ada di lobangnya dan ikan-ikan yang ada di lautan akan bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia (pendidik, guru).” (Hadist Riwayat Turmudzi)

Subhanalllah. Keren sekali bukan menjadi guru ? Banget !

Satu lagi mari kita simak perkataan putri Nabi Muhammad, Fatimah tentang mereka yang berilmu dan mengajarkannya:

“Setiap ulama diberikan sejuta pakain dari cahaya. Kemudian malaikat berseru, Wahai ulama yang telah membimbing umat Muhammad dengan ilmu kalian, maka sebesar apa mereka memanfaatkan ilmu kalian, maka sebesar itu kalian berhak memperoleh pahala!”

Bahkan untuk sebagian mereka hanya diberikan seratus ribu pakaian. Setelah pakaian itu dibagikan, Allah swt berfirman, Sekali lagi berikan pakaian kepada mereka sampai pakaian mereka sempurna. Kemudian datang perintah agar hadiah itu digandakan, demikian juga mengenai murid-murid ulama yang menurunkan ilmunya kepada murid-murid berikutnya untuk mereka pahala yang berlipat-lipat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s