Kurang Bahagia? Baca Ini!

Ini adalah hasil renungan saya sore ini.

Bayangkan jika saat ini kamu diberi tahu oleh malaikat bahwa besok jam sekian (misalnya jam 9 pagi) kamu ditabrak mobil dan mati. Bayangkan setelah itu kamu merasakan alam kubur, ditanya tentang amalmu ketika hidup di dunia.

“Waktumu dihabiskan untuk apa saja? Renungkanlah!”

Sekaya apa pun orang, setinggi apapun jabatannya, sehebat dan seterkenal apapun dia, ia tetap tidak bisa menambah waktu yang tersedia dan juga tidak bisa menambah ukuran perutnya. Waktu kita sama, 24 jam sehari. Ajal kita pun rahasia Allah. Ukuran perut kita pun tak jauh beda. Jadi kebutuhan makan kita pun juga tak jauh beda.

Punya Uang Banyak dan Makanan yang Berlimpah

Saya sering mengalami kondisi saya dihadapkan pada makanan yang lebih dari cukup. Tentu hampir semua orang pernah mengalami, contohnya pada saat hari raya idul fitri. Makanan kita berlimpah bukan? Apakah kita mampu memakan semuanya. Kalau pun mampu itu justru malah bisa menimbulkan penyakit.

Maka sebenarnya cukup bagi kita memiliki makanan yang cukup untuk menghilangkan lapar dan memberi asupan gizi pada tubuh kita.

Kaya dan memiliki banyak makanan tentu suatu hal yang patut disyukuri. Namun jangan salah sikap. Gunakan keberlimpahan itu untuk berbagi. Gunakan secukupnya saja.

Pada intinya, memiliki uang yang banyak dan makanan yang banyak bukanlah KUNCI KEBAHAGIAAN.

Siapa Orang yang Beruntung?

Orang yang beruntung adalah mereka yang dengan segala kondisi hidupnya bisa memastikan waktunya di dunia untuk :

  • Banyak berbagi kebahagiaan
  • Bersedekah
  • Beribadah (shalat, puasa, baca qur’an, zikir, istighfar, dll)
  • Mengajak orang dalam kebaikan/kebenaran
  • Menolong orang lain / meringangkan beban orang lain
  • Memajukan / mensyiarkan Islam
  • Mengingatkan orang dari keburukan/kemungkaran/kejahatan
  • Menolak untuk melakukan kemungkaran/keburukan
  • Mempelajari ilmu bermanfaat
  • Mengajar ilmu bermanfaat
  • Dll

Nah, untuk melakukan itu apa yang kita butuhkan?

  • Iman dan Islam (syarat utama)
  • Hidayah dan Taufiq yang selalu kita mohonkan kepada Allah (agar dimudahkan dalam melakukan hal di atas)
  • Waktu (apakah pekerjaan kita memungkinkan kita untuk memiliki waktu yang cukup untuk melakukan hal di atas)?
  • Uang yang cukup (sarana pelancar)
  • Kedudukan/jabatan yang cukup (sarana pelancar)
  • Kesehatan (butuh uang dan makanan bergizi yang cukup)

JADI,

APAKAH WAKTUMU SUDAH BANYAK DIHABISKAN UNTUK HAL DI ATAS? Jika belum, aturlah kembali hidupmu ! Jika perlu, berhentilah dari pekerjaanmu sekarang jika pekerjaanmu menjauhkanmu dari hal di atas! 

Jika hidupmu dihabiskan untuk hal-hal di atas, maka insya Allah ada perasaan tenang dan terjamin. Ingat ya, bahagia dan senang itu beda. Ada orang yang memiliki berbagai macam kesenangan tapi tidak ada ketenangan di dalam hatinya (tidak bahagia).

Jika ada orang yang tampaknya bahagia tapi hidupnya “jauh dari Allah”, maka yakinlah bahwa Allah hanya menangguhkan/menunda adzab baginya. Ia boleh saja merasa terjamin di dunia karena apa yang ia butuhkan akan mudah diperoleh dengan jabatan dan uangnya yang berlimpah, tapi tidak untuk hidupnya setelah mati.

Jika Anda galau atau tidak tenang karena memikirkan perkara akhirat, itu pertanda bagus. Itu isyarat bahwa Anda harus mengambil langkah baru untuk memastikan bahwa hidupmu banyak dihabiskan untuk hal-hal yang saya sebutkan di atas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s