Siswaku Kena Modus Tukang Foto

Entah kenapa ane begitu kesal ketika kemarin  melihat siswa-siswa ane dengan begitu mudahnya menyerahkan uang mereka pada tukang foto di tempat wisata di Bengkulu. Menyerahkan? Begini maksud ane.

Di tempat wisata di Bengkulu, semuanya hampir ada tukang foto yang biasanya akan menawarkan jasa foto GRATIS. Biasanya kita akan dengan senang hati difoto. Ane yakin, awalnya ada yang tidak mengira kalo setelah ini foto mereka akan dicetak ditempat  pake kertas foto murah dan printer kertas biasa yang sumber listriknya dari aki mobil/motor.

Nah, kemarin siswa-siswa ane tentu TERGODA ketika melihat wajah unyu-unyu mereka nampang di kertas foto tersebut. Harganya untuk ukuran sekitar 10R Rp15.000. Ane yakin itu pasti terdengar murah. Apalagi itu suasana berwisata yang untuk menghabiskan uang demi kepuasan hati tentu tidak menjadi masalah (apalagi itu uang orangtua, hajar bleh! Duit-duit kamu nian memang!). Untuk info saja, kertas foto yang dipakai oleh Tukang Foto itu adalah kertas foto biasa yang harganya paling mahal Rp2000 perlembar (kalo beli satu pack malah bisa lebih murah) dan itu dicetak menggunakan printer biasa.

Ah,entahlah! Gitu deh PERASAAN/EMOSI MANUSIA. Selama mempelajari marketing, ane memahami bahwa WANITA yang CENDERUNG EMOSIONAL (menggunakan perasaan) biasanya lebih mudah BELANJA tanpa pikir-pikir meskipun LAKI-LAKI  juga ada yang seperti itu.

YANG MEMBUAT ANE KESAL

Ane masih bisa nahan ketika siswa-siswa membeli foto itu di tempat wisata pertama. It’s oklah. Habis uang 15ribu aja untuk satu kenang-kenangan (padahal kamera sendiri ada, kurang apa lagi coba?). Yang paling ane gak tahan adalah di wisata-wisata selanjutnya, mereka masih saja MAU TERBUJUK MODUS TUKANG FOTO. Ane mau bilangan “gak usah deh mau difoto oleh tukang foto!” ketika mereka menawarkan foto gratis. Gak enak aja sama mamang tukang fotonya. Cuma dalam hati ane mikir “alah, modus loe,Bang!”

Ane melihat betul mereka dibujuk berfoto, kemudian ditawari foto yang sudah dicetak. Awalnya tidak mau (mungkin saat itu mereka masih kritis/rasional, berpikir kalo itu gak penting). Tapi ketika semuanya sudah sampai di mobil untuk berangkat ke tempat selanjutnya, mereka akhirnya TERBUJUK RAYU juga. Ane melihat uang Rp100.000 merah keluar dari dalam mobil yang dijulurkan ke tangan SI TUKANG FOTO. OH MAI GOD ! Miris ane melihatnya. Kaya banget kalian yah? Selamet deh.

Salah satu siswa ane ada yang membeli sampai 5 foto (lebih malah kalo tidak salah). Udah berapa habis uang tuh, 50ribu lebih untuk foto dengan kualitas secemen itu? Padahal kamera sendiri ada. Dan Tripod untuk foto rame-rame pun ada.  Ane yakin ketika mengatakan ini ada yang berkilah “KAN BEDA RASANYA KALO DICETAK DI TEMPAT?” atau “MEREKA PAKE KAMERA DSLR, KITA NGGAK, KAN BEDA?”. Ada benarnya. Tapi yakinlah “PERASAAN ITU CUMA SEMENTARA!” Dan untuk kamera DSLR, relosusi memang mengungguli kamera saku. Tapi untuk kualitas? Kalo lihat hasil fotonya kemarin sih, ane juga bisa bikin foto melebihi kualitas kamera tukang foto itu.

Ya, mungkin lain kali ANE atau KITA harus bawa/beli kamera DSLR kalo jalan-jalan lagi agar UANG SISWA bisa terselamatkan.  Mending traktir ane aqua satu botol. Sayangnya sampai saat ini belum ada siswa yang traktir ane minum, padahal itu lebih penting dan lebih masuk akal. Nraktir seorang guru beli minum yang harganya paling cuma Rp5.000. Ah,  Semoga kalian sadar, biar nanti kalo sudah dewasa dan bisa backpacking-an sendiri sama temen-temen, bisa ngirit uang dengan cerdas.

3 pemikiran pada “Siswaku Kena Modus Tukang Foto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s