Olahraga, Karate, Passion, dan Dakwah

shotokanlogoLama sekali rasanya tak merasakan sebuah “kemenangan”, puas atas hasil dari sebuah proses.. Katakanlah “berprestasi”, meskipun aku tidak enak mengatakannya begitu. Perasaan menang itu sudah lama terjadi. Dulu, waktu aku masih SMP. Itu masa jayaku.

Siapa sih anak SMP yang tidak mau terpilih menjadi tim basket, sepak bola, voli sekolah, dapet juara kelas, menjadi ketua seksi di OSIS. Ya itu semua aku dapatkan saat aku masih SMP. Cuma satu yang tidak aku dapatkan. Pacar! Tapi aku sangat bersyukur karena itu. Tak ada bangganya sama sekali jika dulu saat SMP aku sudah berpacaran. Aku pasti akan sangat menyesal.

Kira-kira dua bulan yang lalu aku memutuskan untuk belajar karate, bergabung bersama siswa-siswaku sendiri. Dari NOL, sabuk putih.

Niatku hanya belajar dan menyalurkan hobi berolahraga, aktualisasi diri. Itu saja.

Pertama kali belajar, aku langsung mencari-cari sendiri sumber-sumber belajar dari internet. Mempelajari gerakan dasar (kihon) hingga jurus (kata). Susah awalnya, jujur saja. Cobalah sendiri kalau mau. Saya menyadari, waktu latihan yang ada tidaklah cukup bagiku agar cepat berkembang, menyusul kemampuan siswa-siswaku yang sudah belajar lebih dulu. Aku belajar kihon langsung dari beberapa Sensei, salah satunya Sensei Kanazawa, ketua konfederasi karate internasional (via video..hehe) untuk melengkapi pelatihan yang aku dapatkan dari sempai di sini.

Terimakasih Sempai! :v Aku mempelajari teori sekaligus praktiknya dari sumber-sumber yang ada yang kebanyakan berbahasa Inggris. Yup, Skill bahasa Inggris yang kupunya sangat membantu.

Apa yang aku lakukan dalam mempelajari karate tidak jauh beda dengan apa yang biasa aku lakukan ketika mempelajari bola basket atau futsal. Selain menyediakan waktu khusus untuk berlatih, ketika berjalan ke masjid, menunggu antrian mandi ( :v ) di rumah, atau ketika ada waktu luang aku biasa bergerak-gerak melakukan gerakan yang sedang kupelajari. Kalo dilihat orang, mungkin aku akan dianggap orang gila. Tak masalah, I like to do it. (Ternyata benar my passion is sports).

Hari Sabtu kemarin, bertepatan dengan waktu pembagian raport mid semester diadakan ujian kenaikan sabuk. Alhamdulillah diumumkan tiga peserta terbaik. Mereka adalah dua siswaku, dan saya sendiri. Alhamdulillah.

Entah usiaku masih terbilang muda atau tidak. Yang pasti dengan usiaku sekarang, aku tentu tak lagi berniat untuk menjadi atlit karate mewakili daerahku. Bukan jamannya lagi mungkin. Setidaknya dengan kemampuan yang sudah aku kuasai, aku bisa membagikannya pada mereka yang membutuhkan. Aku pikir semua orang membutuhkannya, minimal untuk anakku nanti.

Dan yang paling utama, hidup sebagai karateka harus ditujukan demi pembentukan karakter (dakwah). Jika tidak, menjadi karateka adalah hal yang sia-sia.

Salam Pramuka! *eh :v

OSH..!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s