Kumpulan Renungan Pendidikan #1 – #30 (Pendidikan Berbasis Fitrah) oleh Ust Harry Santosa

Framework Pendidikan Berbasis FitrahKumpulan Renungan Pendidikan #1 – #30 (Pendidikan Berbasis Fitrah ) oleh Ust. Harry santosa
———————

Renungan Pendidikan #1

Sesungguhnya hanya kedua orangtualah yg paling kenal potensi keunikan anak2nya. Dari sanalah karakter2 baik dikembangkan dan disempurnakan dgn akhlak mulia. Kedua orangtuanya lah makhluk yg paling mencintai dgn tulus anak2nya. Orangtua sejati adalah mereka yg menginginkan kebahagiaan anak2nya lebih dari apapun di muka bumi.

Dunia persekolahan adalah dunia yg tdk pernah mengandung anak2 kita, tdk pernah melahirkan anak2 kita bahkan tdk pernah diberi amanah oleh Allah swt sesaatpun juga, krn itu persekolahan bukanlah dunia yg sungguh2 mampu mengenal dan mencintai anak2 kita dgn tulus dan ikhlash.

Bukankah anak kita adalah alasan terbesar dan terpenting mengapa kita ada di muka bumi ini? Merekalah sbg amanah mendidik generasi peradaban bagi dunia yg lebih damai dan sbg amanah yg akan membanggakan Ummat Muhammad di yaumilqiyamah kelak.

Membangun “home education” bukanlah pilihan tetapi kewajiban setiap orangtua, porsi kuantitas waktu dan kualitas perhatiannya mesti jauh lebih banyak bahkan meniadakan porsi persekolahan.

Sayangnya banyak ortu yg menganggap kewajiban mendidik telah selesai ketika anak2 berada sepenuh waktu di sekolah dan di lembaga2 kursus. Obrolan ttg pendidikan adalah obrolan seputar ranking, ijasah, prestasi2 akademis dan tugas2 sekolah yg dibawa ke rumah, bukan tentang mengembangkan karunia fitrah yg anak2 kita miliki.

Mari kembalikan fitrah kesejatian peran orangtua, kesejatian fungsi rumah, kesejatian pendidikan, kesejatian anak2 kita. Jangan sekali2 merubah fitrah kesejatian itu semua krn itulah sesungguhnya penyebab berbagai krisis dan kerusakan di muka bumi.

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasispotensi dan akhlak

_________________________

Diagram Pendidikan Berbasis FitrahRenungan Pendidikan #2

Sesungguhnya masa mendidik anak kita tidaklah lama, itu hanya berlangsung sampai usia AqilBaligh (usia 14-15 tahun). Sebuah masa yg singkat, masa yg cuma seperempat dari usia kita – orangtuanya – jika Allah berikan jatah 60 tahun.

Padahal anak2 dan keturunan yg sholeh akan menjamin kebahagiaan akhirat kita dalam masa yg tiada berbatas. Lalu mengapa amanah terindah ini kita sia siakan dengan mengirim mereka ke lembaga, ke asrama, ke sekolah dll sebelum masa aqilbaligh mereka tiba.

Jika demikian, lalu apa yg ada dalam benak kita ttg amanah terindah dan kesempatan utk kekal bahagia di akhirat nanti?Jika demikian, lalu apa yg kita akan jawab di hadapan Allah swt ttg pendidikan mereka?Apakah lembaga, asrama dan sekolah akan dimintai tanggungjawab di akhirat kelak?

Jika demikian masihkah kita berharap syurga dari doa2 anak2 kita, padahal mereka dititipkan pd pihak ketiga yg tdk dimintai tanggungjawab sedikitpun dan diragukan doanya dikabulkan?

Bukankah ketika usia mereka dititipkan itu masih menjadi tanggungjawab kita?
Bukankah doa yg dipanjatkan oleh orang2 seiman yg bertalian darah akan lebih diterima Allah swt?
Setiap yg beriman pd AlQuran pasti tahu jawabannya. Bahkan memelihara anak yatimpun sebaiknya dalam dekapan keluarga yg utuh bukan cuma disantuni, apalagi anak kandung yg jelas menjadi tanggungjawab penuh kedua orangtuanya.

Lihatlah wajah teduh anak2 kita ketika mereka terlelap, beberapa tahun ke depan wajah2 ini akan berubah menjadi wajah orang dewasa yg setara dengan kita, lalu kita tdk punya lagi kesempatan memperbaiki karakter yg sdh terbentuk, apalagi menyempurnakan akhlak mereka.

Lalu apa yg kita jawab dihadapan Allah swt atas karakter2 yg sudah terbentuk tadi? Apakah kita mampu berlepas tangan dari tanggungjawab kita di akhirat?

Ayah Bunda, mari kita didik anak2 kita dengan tangan, hati, mata, telinga, lisan kita sendiri. Membangun Home Education bukanlah pilihan, namun kewajiban setiap orangtua yg beriman, itu tdk memerlukan penjelasan dan pembuktian lagi.

Pada galibnya anak2 kita akan hidup lebih lama dari kita, walau bisa saja mereka mendahului kita dipanggil Sang Khalik. Dalam menjalani masa depannya nanti – yg tanpa kehadiran kita – anak2 kita akan mengenang kita.
Anak2 kita memerlukan kenangan2 yg memunculkan kesan2 dan imaji2 yg baik, positif, tulus, penuh cinta dan utuh ttg masa lalu mereka bersama kedua orangtuanya, itu semua agar mereka kuat menghadapi masa sendiri ketika mereka kelak dewasa.

Dan itu hanya diperoleh pada masa yg singkat 15 tahun pertama dalam kehidupannya, yg diberikan oleh orangtuanya dgn tulus dan ikhlash yg tak tergantikan oleh siapapun.

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasispotensi dan akhlak

______________________

Renungan Pendidikan #3

Sesungguhnya tidak ada seorangpun anak yg berdoa dan berharap lahir ke dunia dalam keadaan nakal dan jahat.
Jika sempat lihatlah wajah-wajah bengis mengerikan anak dan remaja yg tawuran, atau perhatikan wajah sayu dan tatapan kosong anak2 depresi dan korban narkoba, atau jenguk jiwa2 remaja galau melalui mata bingung dan frustasi mereka dibalik tawa dan canda yg tak bermakna.

Maka jujurlah apakah mereka mau ditakdirkan demikian? Maka jujurlah apakah Allah swt menghendaki keburukan bagi hamba2Nya? Maka jujurlah, apakah itu dosa mereka shg mereka demikian?

Sesungguhnya mereka adalah korban kelalaian kita para orangtua, mereka korban obsesi dan kesembronoan yg merusak fitrah baik mereka. Ingatlah bhw mereka dahulu adalah bayi2 mungil yg lucu, yg senyum, tawa dan tangisnya meluluhkan hati siapapun. Lalu bagaimana bisa di kemudian hari bayi2 ini menjadi beringas, nakal dan jahat?

Sesungguhnya setiap anak yg lahir dalam keadaan fitrah. Sesungguhnya juga bhw Allah tdk akan merubah semua fitrah baik yg ada dalam diri mereka sampai lingkungan, sistem pendidikan, orangtua dll berbuat gegabah “sok tahu” merubahnya shg terluka, tersimpangkan, atau terpendam selama2nya.

Anak2 kita bukanlah kertas putih yg bisa kita jejali dgn tulisan sebanyaknya dan semaunya, bukan! Anak2 kita adalah mutiara terpendam yg mesti disucikan dan disadarkan akan keindahan keunikan mutiara yg mereka dtakdirkan Allah swt utk memilikinya. Mutiara yg tdk perlu diasah, hanya perlu diletakkan pd tempat yg sesuai dan terang agar cahayanya berkilau sempurna. Berbaik sangkalah kpd Allah swt.

Jangan gegabah menjejali mutiara ini dengan beragam zat imitasi dgn maksud agar semakin indah. Tidak perlu. Mutiara ini hanya perlu ditemani, disentuh dengan cinta yg tulus, dan diletakkan pd tempat dan sudut yg tepat shg cahayanya berpendar pendar indah menebar manfaat rahmat menyelimuti dunia. Cahayanya menjadi penyejuk mata kita, sebagaimana doa2 kita ttg keturunan yg baik.

Maka, yakinlah bahwa mutiara akan bertambah indah bila berkumpul dengan mutiara. Mutiara akan tenggelam dalam lumpur hitam yg pekat. Yakinlah ruh2 yg baik akan merapat bershaf2 menuju kemuliaannya. Maka perbaikilah fitrah kita wahai orangtua, sucikanlah fitrah kita sebelum kita mensucikan fitrah anak2 kita melalui pendidikan.

Sesungguhnya apa yg keluar dari fitrah yg baik akan diterima oleh fitrah yg baik. Apa yg keluar dari hati yg bersih dan damai maka akan tiba di hamparan hijau hati yg bersih dan damai. Apa yg hanya dari mulut semata, maka akan berhenti di telinga saja.

Mari kita renungkan, siapakah di muka bumi makhluk yg paling ridha mensucikan diri demi anak kita? Saya yakin anda bisa jujur menjawabnya…

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasispotensi dan akhlak

___________________

Renungan Pendidikan #4

Bila anda memiliki beberapa anak, maka perhatikanlah baik baik, bahwa walau mereka pernah berada dalam rahim yang sama, ayah ibu yang sama, lahir di rumah sakit yang sama, bahkan lahir kembar identik sama dstnya, namun mereka sesungguhnya takkan pernah sama, mereka memiliki keunikan dan kekhasan masing2 yg berbeda. Bukan hanya ciri fisik namun juga sifat bawaannya masing masing.

Sampai kapanpun seorang kakak tidak akan pernah menjadi adiknya, dan seorang adik tidak pernah menjadi kakaknya. Anak kita tidak akan pernah menjadi versi kedua dari orang lain kecuali jika kita memaksanya demikian dengan membuatnya menderita karena mengingkari jatidirinya.

Ingatlah bahwa seseorang tidak akan menjadi maksimal jika dipaksa menjadi atau menjalani sesuatu yang bukan dirinya. Alangkah bodohnya meminta kuda menjadi ikan, menyuruh ikan menjadi burung, memaksa burung menjadi kuda. Apakah kita pernah memanjatkan doa doa agar anak kita menjadi seperti anak orang lain?

Bukan Allah Yang Maha Mendengar, tidak berkenan mengabulkan doa2 kita, karena apa jadinya jika kuda didoakan agar menjadi ikan, maka akan lahir makhluk aneh (bukan unik) yang bukan hebat bahkan menjadi mengerikan atau menggelikan.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya setiap anak itu unik. Maka, janganlah pernah memaksa anak anak kita utk meniru orang lain, menyuruh mereka seperti anak tetangga, menceramahi setiap hari kehebatan anak orang lain. Maksud berbuat obsesif begitu apa ya?

Apakah kita yg menciptakan anak kita sehingga kita tahu anak kita harus menjadi apa kelak? Bukankah Allah yang menciptakan mereka, bahkan kita tidak pernah tahu tujuan spesifik penciptaan anak kita, apa misi spesifik anak2 kita di muka bumi? Tugas kita hanyalah menemani mereka dalam menemukan, menyadari dan menjaga fitrah nya, termasuk fitrah bakat atau potensi uniknya.

Karena itu, sejatinya memang tidak ada 1 kurikulumpun cocok utk semua sekolah bahkan cocok utk semua orang.

Setiap satuan pendidikan bahkan mesti punya kurikulum khas satuan pendidikan itu bukan kurikulum nasional apalagi yg cuma sekedar basa basi mulok.

Setiap anak bahkan memerlukan personalized education terkait potensi dan character unik serta “curriculum” vitae nya masing masing.

Ketahuilah bahwa tidak ada satu obat ajaib (one magic medicine) untuk semua jenis penyakit, bahkan tidak ada satu komposisi gizi yg cocok utk semua orang.

Siapapun yang mencoba mendikte akan jadi dikator. Betapa jeniusnya KHD yang menempatkan negara hanya pendorong, sbg Tut Wuri Handayani dan memerankan Guru sebagai pamong.

Betapa bijaknya Rasulullah SAW yang tidak meninggalkan kurikulum untuk semua orang, tetapi cukup membuat panduan bagi setiap orang agar menyelaraskan panduan itu dengan potensi dan karakter unik dirinya masing masing dalam rangka memuliakan dan menyempurnakan akhlaknya.

Jadi sesungguhnya apa yang mau diperbaiki atas kurikulum pendidikan nasional, kecuali meninggalkannya lalu membuat kurikulum personal sendiri utk anak2 kita sendiri yg berbeda dari anak lain? Karena setiap anak adalah begitu istimewa…

Salam Pendidikan Peradaban
#pendidikanberbasispotensi dan akhlak

_____________________

Renungan Pendidikan #5

Apa yang disisakan dari sebuah rumah tangga atau keluarga tanpa ada aktifitas pendidikan di dalamnya?Apakah rumah kita hanya sebuah ruang hampa tempat makan dan tidur serta (maaf) mandi dan buang hajat?

Sebagaimana AlQuran akan menerangi rumah kita dengan membaca dan mentadaburinya, maka sebuah rumah tangga atau keluarga dengan aktifitas pendidikan juga akan dipenuhi cahaya.

Sebuah rumah tanpa aktifitas pendidikan di dalamnya, bagai ruang kusam dan gelap krn di dalamnya tidak ada proses saling memberi cahaya yaitu proses mendidik dan dididik, tidak ada nasehat utk saling menyadarkan dan disadarkan, begitupula tidak ada keceriaan dan kepercayaan utk saling menumbuhkan dan ditumbuhkan.

Sebuah rumah tangga bukan hanya kumpulan fisik layaknya kandang ternak, namun dia sepenuhnya lebih kepada kumpulan ruh, hati dan fikiran.

Apa jadinya jika fikiran dan hati ayah sehari hari adalah fikiran tentang pekerjaan dan masalah kantor serta hobby yg dibawa ke rumah yg menyerobot hak pendidikan anak dan keluarganya?

Apa jadinya jika fikiran dan hati anak adalah fikiran dan perasaan tentang pekerjaan dan masalah sekolah yang dibawa ke rumah, yg menyerobot hak orangtua utk mendidiknya?

Lalu apa jadinya pula jika fikiran dan perasaan bunda sehari hari adalah fikiran dan perhatian tentang pekerjaan dan masalah kantor dan rumah sehari-hari yang tidak kunjung habisnya.

Tentu saja pasti ada orangtua yg memiliki fikiran dan keinginan utk mendidik di dalam rumah, namun sayangnya wacana dan pembicaraan sekitar pendidikan adalah bukan pembicaraan tentang kesejatian sebuah pendidikan.

Pendidikan bagi banyak keluarga adalah tentang pekerjaan sekolah yg dibawa ke rumah, lalu sekolah sewenang2 memberi nama pekerjaan itu sebagai pekerjaan rumah bukan pekerjaan sekolah, padahal berbeda antara aktifitas sekolah dan aktifitas rumah.Begitulah aktifitas sekolah banyak menyerobot aktifitas rumah yg luhur yg sdh ada sejak ribuan tahun lalu.

Mindset kita tentang makna sukses pendidikan adalah makna kesuksesan berupa sekolah favorit, rangking, ijasah dan gelar yg menggantikan makna sukses pendidikan sejati yaitu utk menyadari peran penciptaan di muka bumi serta memberi manfaat yg banyak bagi sesama dan semesta.

Makna sosialisasi anak sering dimaknakan dengan makna hadirnya bersama teman-teman seumuran dalam ruang kelas seharian, yg menggantikan makna relasi sosial antar usia yang lebih luas.

Makna belajar lebih sering dimaknakan dengan kegiatan menghabiskan bahan pelajaran dan persiapan ujian, menggantikan makna belajar sejati untuk menjadi diri seutuhnya.

Makna tentang tempat belajar yang selalu diberi stigma bahwa tempat belajar terbaik hanya di sekolah saja, menggantikan semua tempat belajar yang lebih baik di muka bumi.

Fikiran ayah sehari2 ttg pendidikan anak2nya adalah menyediakan biaya sebanyak2nya agar dapat bersekolah setinggi2nya.Fikiran anak sehari2 ttg pendidikan adalah menyelesaikan pekerjaan rumah secepat secepatnya dan sebanyak2nya, lalu kuliah setinggi mungkin.Fikiran bunda sehari2 tentang pendidikan adalah memastikan sang ayah menyediakan biaya untuk sekolah dan memastikan sang anak menyediakan waktu untuk bersekolah sepenuh masa anak2 dan sepenuh masa sebelum aqilbalighnya.

Apa yang sesungguhnya diniatkan oleh mereka yang menikah bila memaknakan pendidikan seperti itu? Apakah artinya sebuah keinginan mendidik bila tanpa berwujud aktifitas mendidik anak2nya sendiri dengan pendidikan sejati yang sesungguhnya?

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasispotensi dan akhlak
________________________________

Renungan Pendidikan #6

Apakah Allah swt lalai ketika mentakdirkan kedewasaan biologis seseorang di usia 13-15 tahun dan pada saat yang sama telah jatuh semua kewajiban syar’i, bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga jihad, nafkah dan kewajiban sosial lainnya?

Apakah Rasulullah SAW lalai ketika menikahkan Usamah bin Zaid ra, seorang sahabat muda ketika Rasulullah saw berusia senja, saat Usamah berusia 14 tahun?Apakah Rasulillah SAW lalai ketika menugaskan Usamah bin Zaid ra memimpin 10000 pasukan ke Tabuk, saat Usamah berusia 16 tahun?

Kedua hal itu juga bukan kebiasaan masyarakat Arab sebelum Islam.

Itu adalah output pendidikan Rasulullah saw, pendidikan generasi aqilbaligh yang diwariskan dari generasi ke generasi sesudah wafatnya Rasulullah saw selama hampir 1400 ratusan tahun kemudian.Usamah bukanlah satu2 nya yang mendapatkan pendidikan generasi aqilbaligh oleh Rasulullah saw, ada ratusan Sahabat-sahabat muda lainnya.

Apakah sejarah Islam lalai mencatat itu semua? Tidak. Sejarah mencatat banyak pemuda Islam berusia belasan telah memiliki peran peran dalam panggung peradaban di zamannya, telah memiliki peran peran sosial yang manfaat dan menebar rahmat.

Imam Syafi’i rahimahullah, telah menjadi Mufti (pembuat fatwa) pada usia 16 tahun, dengan karya2 yg banyak kita kenal. Alkhawarizmi telah menjadi guru besar matematika penemu beragam cara berfikir terstruktur, termasuk algoritma, pada usia 18 tahun. Muhammad alFatih telah menjadi panglima dgn membuka kota Konstaninopel di usia 19 tahun, ibnu Batutah memulai perjalanan ekspedisi ilmiahnya di usia 15 tahun, dsbnya
Bahkan sampai Abad 20 kita mengenal pejuang2 muda belasan tahun yg cemerlang dan tercerahkan di usia belasan tahun, spt Hasan al Bana, KH Ahmad Dahlan, M Natsir, Buya Hamka dstnya.

Apa makna itu semua?

Maknanya adalah bahwa pendidikan sejati adalah pendidikan yang menemani anak2 kita utk membangkitkan fitrah keimanannya, fitrah potensi uniknya masing2, sesuai fitrah tahapan perkembangan usianya, agar mampu menerima kewajiban syariah dan memiliki peran2 peradaban, tepat ketika mereka berusia Baligh 14-15 tahun. Itulah amanah terbesar pendidikan Islam.

Adakah lembaga pendidikan Islam memiliki strategic mindset seperti itu pada hari ini?Pandidikan Islam bukanlah pendidikan agama Islam, tetapi pendidikan yg melahirkan generasi AqilBaligh, generasi peradaban yang menyinari dunia.

Lagipula, maaf, apa gunanya belajar agama islam jika tidak pernah lahir generasi aqilbaligh yg mampu menerima kewajiban Syariah dan memiliki peran2 peradaban dengan akhlak mulia yg menebar rahmat bagi semesta, sebagaimana mereka ditakdirkan demikian.

Mari kita rancang dan jalankan pendidikan peradaban untuk anak2 kita – generasi peradaban -generasi aqilbaligh.

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasispotensi dan akhlak
___________________________________

Renungan Pendidikan #7

“Baity Jannati”, Rumahku Syurgaku, begitu Rasulullah saw menginspirasi kita utk membangun imajinasi positif ttg rumah kita. Bukan rumah dalam makna fisik namun rumah dalam makna bathin dan makna langit.
Imaji positif ttg rumah kita, sungguh akan melahirkan kesan dan persepsi positif. Dan kesan dan persepsi positif akan memunculkan pensikapan positif terhadap kehidupan dan dunia kita. Sebaliknya, luka persepsi akan melahirkan pensikapan yg buruk.

Begitulah anak2 kita, dunia di mata mereka adalah bagaimana mereka mempersepsikan rumah mereka, mempersepsikan ayah mereka, mempersepsikan ibu mereka, dan semua yang ada di dalam rumah.

Anak2 yg mudah marah, kasar pd sesama adalah karena banyak kemarahan dan kekasaran dalam rumah mereka, anak2 yg penuh cinta pd sesama adalah anak2 yg rumahnya dipenuhi cinta. Anak2 yg mudah membuang sampah di jalan, tidak memelihara diri dari najis adalah mereka yg rumahnya juga demikian.

Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantar anak2 kita menuju peran peradabannya dengan semulia akhlak. Bila rumahnya baik maka secara kolektif baiklah peradabannya kelak. Sebaik baik kalian di dunia nyata adalah yang paling baik terhadap keluarga dan rumah tangganya.

Bila lahir banyak orang2 terbaik bagi rumah tangganya, maka akan semakin baik dunia kita. Bila dunia kini suram, kumuh, kotor, palsu, keindahan imitasi dan semu, barangkali begitupula potret kebanyakan rumah tangga kita.

Bila dunia dan sosmed penuh fitnah dan kebencian, maka dipastikan fitnah dan kebencian ada di rumah rumah mereka. Bila tidak ada asah, asih dan asuh dalam kehidupan sosial di luar rumah, maka dipastikan rumah2 kita sepi dari asah, asih dan asuh.

Neraka dunia dan neraka akhirat, sungguh dimulai dari neraka rumah secara kolektif. Syurga dunia dan syurga akhirat, juga sungguh dimulai dari syurga rumah secara kolektif.

Syurga adalah sebuah taman yg indah, begitulah Rumah yg dikiaskan Rasulullah SAW dengan Syurgaku. Maka rumah kita semestinya adalah bagai taman yang indah dan penuh cinta.

Lalu bayangkan sebuah taman adalah sebuah tempat beraneka warna bunga yg tumbuh. Maka anak2 kita adalah bunga bunga indah peradaban yang bentuk, warna keharuman, kelopak, tangkainya adalah unik. Dan tiada kata yg bisa melukiskan imaji sebuah bunga kecuali cinta dan ketulusannya.

Maka jadilah petani2 bunga di taman, yg menyemai, memelihara fitrah bunga2 itu dgn penuh cinta serta keikhlashan, rileks dan konsisten, ithminan dan istiqomah, sesuai potensi2 fitrah yg ada. Petani taman bunga bukanlah petani perkebunan yg menyeragamkan dan menggegas produksi namun merusak tanah dan tanaman dalam jangka panjang.

Bila peradaban adalah taman besar kehidupan tempat berbagai bangsa, berbagai budaya, berbagai kearifan2 dan agama, berbagai keanekaragaman hayati, berbagai warna kulit dan bahasa dsnya yg ditakdirkan Allah hidup di atasnya. Maka rumah kita sesungguhnya adalah adalah sebuah miniatur peradaban.

Maka camkan baik baik bahwa peradaban dunia dimulai dari peradaban rumah kita. Dan peradaban rumah kita dimulai dari pendidikan peradaban anak2 kita. Dan peradaban yang kita buat hari ini adalah peradaban yg kita siapkan untuk anak cucu kita kelak.

Jangan sampai doa2 dan kebaikan2 anak cucu kita terputus krn kita mempersiapkan peradaban yg buruk untuk mereka, krn kita lalai menjalankan pendidikan peradaban di rumah rumah kita.

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasispotensi dan akhlak
________________________

Renungan Pendidikan #8

Islam itu sederhana, namun karena kesederhanaannya maka menjadi begitu rumit bagi banyak orang, begitu seorang ulama berkata. Islam adalah agama fitrah, tentu mudah dan ringan bagi mereka yang fitrahnya masih terjaga.

Kesederhanaan fitrah, tentu saja rumit bila berhadapan dengan obsesi dan hawa nafsu, bila berurusan dgn orang2 yang tidak yakin dgn fitrah atau ciptaan Allah.

Kesederhanaan fitrah juga njlimet bila dinasehatkan kpd mereka yg tidak besyukur atas karunia yg Allah berikan, bila bertemu dengan mereka yg tergesa2 dan merasa selalu kurang atas semua karunia dan ketentuan Allah itu.
Renungkanlah, bukankah Allah swt telah menginstal semua fitrah2 baik dalam diri anak2 kita?

Lihatlah, sejak fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah kepemimpinan, fitrah perkembangan sampai kpd fitrah2 yg ada di luar dirinya, semua diberikan Allah swt untuk bekalnya menjalani misi atau peran sbg khalifah, imaroh, imam dan beribadah.

Bukan hanya itu bahkan Allah swt telah mengilhamkan di dada para orangtua hikmah hikmah mendidik setiap hari. Memberikan peristiwa2 setiap hari utk disikapi dgn bijak dan digali hikmah2nya bersama anak2nya.
Tuhanku telah mendidikku maka menjadi baguslah akhlakku.

Mendidik anak dalam Islam pun sesungguhnya sederhana, kita hanya perlu menemani agar fitrah2 yg baik yang ada pada anak2 kita bisa dibangkitkan dan disadarkan secara alamiah, lewat imaji2 positif ttg Allah, ttg dirinya, ttg alamnya, ttg masyarakatnya dstnya. Lalu dilanjutkan dgn keteladanan dan pendampingan pd tahap berikutnya.

Sayangnya banyak orang yg ingin menjadi tuhan, merasa fitrah2 karunia Allah itu kurang, merasa fitrah itu terlalu sederhana, merasa anak2 kita makhluk lemah, ibarat kertas kosong yg perlu ditulisi sebanyak2nya, dibentuk semau2nya. Mereka membuat2 standar yg menyeragamkan pendidikan.

Banyak yg merasa bhw tiap anak tdk memiliki fitrah perkembangan, sehingga anak2 digegas dan dijejali sesuatu yg belum waktunya. Mereka mempercayai tahap emas hanya pd usia balita, padahal tiap tahap perkembangan usia adalah emas, sepanjang mengikuti sunnatullah. Bahkan Nabi saw semakin cemerlang pd puncak usianya ketika berusia 40 tahun.

Banyak yg merasa bhw tiap anak tdk memiliki fitrah belajar, sehingga anak dipaksa dan digegas belajar sehebat2nya utk sesuatu yg belum waktunya.

Misalnya, berapa banyak anak bayi yg diajarkan bahasa asing sebelum tuntas bahasa ibunya? Berapa banyak anak sekolah dasar yg dipacu olimpiade ini dan itu, padahal belajar bukanlah utk menguasai sebanyak2nya, namun utk semakin menjadi dirinya.

Banyak yg menyangka bhw tiap anak tdk punya bakat apapun, pdhl dengan gamblang melihat bhw tiap anak punya sifat bawaan yg unik. Mereka menggegas anak2nya sesuai cetakan yg dibuatnya dengan formula 10000 jam latihan keras, maka jadilah sesuai cetakannya. Ibarat monyet sirkus, yg dilatih untuk pertunjukkan semau pelatihnya.

Padahal bakat anak adalah fitrah, itulah panggilan hidupnya, peran peradabannya, peran spesifiknya sbg khalifah di muka bumi yg kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

Banyak yg mengira, tiap anak tdk lahir bersama fitrah keimanannya. Mereka mendoktrin keimanan bagai orang mengajarkan pengetahuan. Padahal keimanan bukan pengetahuan, namun kesadaran yang tumbuh dari dalam, pengetahuan hanya membantu meneranginya. Berapa banyak orang yg banyak tahu agama namun tdk tumbuh kesadarannya dan tdk tercerahkan.

Mari Ayah Bunda, mari para pendidik peradaban, kita bangun pendidikan berbasis fitrah, pendidikan yg membangkitkan kesadaran fitrah anak2 kita. Agar anak2 kita tumbuh sesuai fitrahnya, sesuai apa yang Allah kehendaki.

Tiada yg berubah dari fitrah Allah, kecuali disimpangkan dan dikubur dalam dalam. Bagi yg menyimpangkan fitrah itu maka akan mendapat bukan yg lebih baik, namun justru keburukan.

Kita tidak membutuhkan kurikulum apapun kecuali peta jalan dan frame pendidikan berbasis fitrah anak.

Mari kita temani anak2 kita menjaga dan menumbuhkan fitrah mereka, agar kita mampu mempertanggungjawabkan fitrah2 baik itu di hadapan Allah kelak.

Kita bukanlah yang menciptakan mereka, tetapi Allahlah Yang Menciptakan mereka. Berhentilah berobsesi dan berhentilah menjadi tuhan.
Bukankah fitrah itu adalah kesejatian? maka pendidikan sejati adalah pendidikan berbasis fitrah.

Salam Pendidikan Peradaban,
#pendidikanberbasispotensi dan akhlak
#pendidikanberbasisfitrah
#gradasisaga
_______________________________

Renungan Pendidikan #9

Setiap kita menginginkan anak-anak kita sukses di masa depan. Namun tidak setiap kita memahami makna sukses bagi anak-anak kita.

Sukses bagi kebanyakan kita biasanya adalah tercapainya cita2 anak2 kita. Lalu apa cita-cita anak2 kita? ya sukses. Jadi apa sebenarnya makna sukses?

Sukses bagi kebanyakan kita diukur dengan materi yg berlimpah, diimajinasikan dengan status sosial yg tinggi, dipersepsikan dengan kedudukan duniawi yang bisa disandang, diidentikan dengan gelar gelar akademis yg bisa diperoleh, banyaknya ilmu yg dikuasai termasuk ilmu agama dstnya.

Boleh boleh saja memandang sukses seperti itu, namun bukan itu hakekat sukses. Materi yg berlimpah akan percuma jika tdk bermanfaat, status sosial yg tinggi, kedudukan duniawi, gelar2 akademis juga akan sia sia jika tidak memberi manfaat.

Bahkan banyaknya ilmu dunia dan ilmu agama juga akan mubazir dan membahayakan jika tidak bermanfaat.Bukankah inti kehadiran kita dan anak2 kita di muka bumi adalah kemanfaatan?

Jadi ukuran sukses dalam pandangan misi penciptaan kita di muka bumi adalah jelas yaitu kemanfaatan. Maka sebaik2 pendidikan anak2 kita adalah pendidikan yang membawa manfaat di dunia dan di akhirat, bukan satu diantaranya.

Tentu kita bertanya2, bukankah semua pendidikan dimaksudkan agar anak2 kita bermanfaat?Benar, namun manfaat yang dimaksud adalah bukan manfaat ilmu secara terbatas namun kepada kemanfaatan yg lebih luas, yaitu bhw pendidikan mampu membawa anak2 kita kepada peran peradabannya sesuai fitrah2 yg dimilikinya sehingga memiliki karya2 yg manfaat dan menebar rahmat.

Kita sesungguhnya tidak perlu khawatir, tinggal mengikuti saja fitrah2 yg ada. Karena Sunnatullahnya adalah sepanjang potensi fitrah2 itu dibangkitkan dan ditumbuhkan, maka dipastikan anak2 kita akan memberi manfaat bagi dunia dan akhiratnya. Mengapa?

Karena fitrah2 itu dikaruniakan Allah kepada setiap manusia dalam menjalani misi penciptaannya di muka bumi, maka niscaya semua fitrah akan bermanfaat. Bukankah tiada satupun yang sia2 dari Ciptaan atau Fitrah Allah?

Dan tiada yg berubah dari fitrah Allah itu sampai kita merubahnya, menyimpangkannya atau menguburnya dalam dalam. Allah tdk akan merubah nasib baik seseorang sampai ada yang merubah apa2 yg sdh diciptakan dalam dirinya, yaitu potensi fitrah2 itu.

Ingatlah bahwa semakin kembali kepada fitrah (iedul fitrah) maka akan semakin menuju kesuksesan. Semakin mendekat kepada kesejatian maka akan semakin mendekati kebahagiaan dan kemanfaatan. Begitulah sunnatullahnya.

Semakin menjauh dari fitrah maka akan semakin menuju ketidakmanfaatan, ketidakbahagiaan bahkan kesengsaraan. Na’udzubillah.

Mari kita jalani kehidupan sesuai fitrahnya, sesuai kesejatian dalam semua hal, mari kita kembalikan kesejatian peran kita sebagai pendidik fitrah terbaik sepanjang masa, mari kita kembalikan kesejatian pendidikan dengan mendidik potensi2 fitrah yg Allah swt karuniakan.

Tentu saja fitrah2 yg Allah karuniakan, adalah potensi yg hrs disadarkan dan dibangkitkan melalui pendidikan, jadi mari kita kembalikan kesejatian (fitrah) diri kita dan anak2 kita, melalui pendidikan berbasis fitrah lalu menyempurnakannya dengan akhlakul karimah.

Agar fitrah2 baik kita sbg orangtua bertemu dan menguatkan fitrah2 baik anak2 kita, agar rumah2 kita kembali kpd kesejatiannya, agar secara kolektif, dunia dan peradaban pun akan kembali kepada fitrahnya atau kesejatiannya, dan pada keseluruhan akhirnya akan memberi manfaat seluas2nya dan menebar rahmat seindah2nya.

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasispotensi
#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
#‎gradasisaga
_______________________________

Renungan Pendidikan #10

Allah telah menetapkan segala sesuatu sesuai kadar dan ukurannya masing-masing. Ibarat tabel periodik unsur unsur kimia, maka kita menyaksikan bhw setiap unsur itu unik dan masing masing memilki karakteristik yg berbeda.

Kita tdk pernah bisa memaksa air membeku pd suhu ruangan, dan menjadi mendidih pd suhu 0 derajat celcius. Begitupula besi tidak akan meleleh pada suhu dimana air mendidih dstnya. Kita bisa meneliti, menemukan polanya, memanfaatkannya sesuai potensinya, namun tdk pernah bisa mekayasa unsur2 itu utk melawan fitrah penciptaannya.

Begitu pula induk ayam, tidak akan pernah bisa menetaskan telurnya sesuka hatinya walau beliau yang menelurkannya. Sang induk ayam hanya bisa “menemani” dengan mengerami pd tingkat kehangatan dan masa eram sesuai sunnatullahnya sebagaimana Allah ilhamkan kpd nya.

Begitupula ikan, sang induk ikan hanya bisa menempatkan telurnya ditempat yg nyaman dan aman sebagaimana Allah ilhamkan kpdnya. Beberapa jenis ikan menyimpan telurnya di karang, jenis lainnya di ganggang, bahkan ada jenis ikan yg harus berjuang melawan arus sungai menuju hulu sungai utk menempatkan telurnya di tempat yg nyaman untuk menetas. Semuanya ada sunnatullahnya, semuanya telah diilhamkan Allah.

Begitupula para petani, hanya mampu mengamati pola pertumbuhan tanamannya, lalu menempatkan benih tanaman pada media yg cocok, dan jelas bukan mereka yg menumbuhkan benih itu. Benih itu akan tumbuh sesuai sunnatullahnya, sesuai fitrah penciptaannya. Semakin sesuai dgn fitrahnya, semakin subur dan bermanfaat tumbuhannya.

Di Jepang, sebuah pohon tomat bisa berbuah sampai 12000 butir, hanya krn diketahui bhw fitrah akar tomat sangat cocok tumbuh di air bukan di tanah. Sehingga tanpa perlu teknologi pertanian yg canggih, hanya perlu menutrisi air dimana akar tomat itu diletakkan, maka pohon itu bisa tumbuh subur dan berbuah banyak.

Nah, begitulah pendidikan anak2 kita. Kita hanya perlu rileks dan konsisten, tenang dan istiqomah menemani dan meletakkan fitrah2 anak kita di tempat yg sesuai dan sejati menurut tahap perkembangannya. Maka tanpa memerlukan metode2 yg rumit, rekayasa dan manipulatif, insyaAllah, potensi fitrah anak2 kita akan tumbuh sempurna dan membawanya kpd peran2 peradaban yg memberi manfaat yg banyak bagi dunia dan akhiratnya.

Salam Pendidikan Peradaban

#‎pendidikanberbasispotensi
#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
___________________

Renungan Pendidikan #11

#‎potensifitrahbelajar

Tiap bayi kita yg lahir adalah pembelajar tangguh sejati. Lihatlah tidak ada bayi yg memutuskan merangkak seumur hidupnya. Mereka menuntaskan belajar “jalan” nya dgn gigih sampai bisa berjalan bahkan berlari dan melompat. Tugas kita hanya memberi kesempatan, ruang yg aman dan semangat.

Tiap bayi kita yg lahir adalah penjelajah (discoverer) yg sangat serius dan kurius (curious). Lihatlah semua sudut di dalam rumah serta perabotan bahkan yg berbahayapun tdk luput dari targetnya. Mereka suka meraba, menyentuh, memegang apapun yg bisa dijangkaunya. Tugas kita hanya memberi kesempatan, ruang yg aman dan semangat.

Tiap bayi kita yg lahir sangat kreatif dan kaya imajinasi. Lihatlah bagaimana mereka mewarnai gambar langit dengan ungu, pohon2 dengan biru, rumput dengan jingga dstnya.

Mereka berimajinasi keranjang pakaian sbg perahu, gayung kamar mandi sbg kapal selam, sapu sebagai pedang dstnya. Tugas kita hanya memberi kesempatan, ruang yg aman dan semangat.

Banyak orang menduga kemampuan manusia yg utama dalam belajar adalah adaptasi, padahal semua binatang dan tumbuhan juga bisa beradaptasi. Ada yg menyangka kemampuan manusia yg utama adalah kompetisi padahal hewan dan jin pun berkompetisi.

Ketahuilah bahwa kemampuan manusia yg utama adalah mengelola, mengklasifikasi, menginovasikan serta mewariskan pengetahuannya sbg produk dari potensi fitrah belajarnya. Seribu ekor kera bisa dilatih memancing ikan, namun tdk satupun dari mereka yg mampu menciptakan kail dan mewariskannya pd anak2nya.

Sejak langit dan bumi diciptakan, lalu ditempatkan Adam di atasnya, maka yg pertama Allah berikan adalah mengajarkan Adam, nama-nama semua benda (taxonomy). Inillah potensi fitrah belajar yg Allah berikan sebagai bekal penting dari makhluk yg ditakdirkan menjadi khalifah di muka bumi.

Karena itu sesungguhnya setiap anak yang lahir telah memiliki Potensi Fitrah Belajar. Para orangtua dan pendidik tidak perlu panik menggegas kemampuan belajar anak2nya.

Anak2 hanya memerlukan sebuah ruang terbuka di alam dan hati orangtua yg terbuka bagi imajinasi kreatifnya, bagi curiousity-nya, bagi ketuntasan eksplorasi belajarnya, bagi penjelajahan dan petualangan belajarnya, bagi kesempatannya utk semakin menjadi dirinya.

Tidak perlu tempat dan gedung belajar yg khusus, semua sudut di muka bumi adalah taman belajar yang indah. Di pasar, di kebun, di stasiun kereta, di sungai, di museum, di terminal, di atas pohon, di tukang sayur keliling, di perahu, di hutan, di sawah, di bengkel dsbnya.

Alam dan budaya masyarakat Indonesia terlalu kaya untuk diabaikan dan dimubazirkan. Bangkitkan fitrah belajarnya yg sdh ada agar terjaga dan tumbuh subur melalui bumi Allah yg luas.

Tidak perlu waktu belajar yg khusus, semua waktu dan peristiwa yg berseliweran setiap saat adalah momen belajar yg banyak hikmahnya. Bangkitkan fitrah belajarnya atas kesadaran hikmah peristiwa yg ada.

Tidak perlu guru “khusus” yg formal, semua makhluk bisa menjadi guru, semua praktisi kehidupan adalah guru, semua peristiwa dalam kehidupan adalah guru dan penasehat, bahkan peristiwa musibah dan kematianpun bisa menjadi guru.

Jika ada anak yg hanya belajar ketika akan ujian, ketika disuruh, ketika ada tugas, ketika diancam, ketika panik krn tertekan, maka fitrah belajarnya telah terkubur dalam dalam.

Jika ada anak yg belajarnya krn ingin juara, ingin hadiah, ingin nilai, ingin dipuji, ingin mendapat ranking, ingin mendapat sertifikat, ijasah dan gelar maka fitrah belajarnya telah tersimpangkan.

Mari percaya diri untuk mendidik sendiri anak2 kita sendiri, agar kitalah yg memastikan potensi fitrah belajarnya terjaga, tumbuh sempurna, indah merekah. Karena kitalah yg diberi amanah menjaga fitrah anak2 kita dan akan ditanya di akhirat kelak.

Salam Pendidikan Peradaban

#‎pendidikanberbasispotensi
#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
__________________

Renungan Pendidikan #12

#‎potensifitrahbakat

Setiap anak kita adalah “very unique”, setiap mereka adalah “very limited special edition”, begitu menurut seorang ustadz.

Sesungguhnya setiap seseorang diciptakan hanya sekali dan satu-satunya sepanjang zaman sejak zaman Nabi Adam as, tidak pernah ada edisi ke dua atau versi kedua manusia yg diciptakan demikian di muka bumi dan di akhirat kelak.

Lihatlah anak-anak kita, tidak seorangpun dari mereka memiliki ciri khas dan sifat bawaan yang sama. Ingatlah selalu bahwa Allah swt terlalu kaya untuk membuat manusia serupa dan sama.

Tidak satupun manusia yang sama persis di muka bumi, baik fisik maupun sifat bawaannya. Lima milyar manusia dengan lima milyar potensi bakat. Renungkanlah, apakah ini sebuah ketidaksengajaan? Apakah adanya variasi yang tak berhingga demikian adalah sebuah kebetulan?

Semua keunikan itu pasti ada maksudnya, ada tujuannya, ada misi penciptaannya, ada perannya, ada manfaatnya dalam peradaban manusia yang membutuhkan begitu banyak peran beragam.
Peran khalifah di muka bukanlah peran tunggal, namun kolektifitas peran spesifik yang beragam. Peran spesifik ini telah terinstal sejak lahir berupa fitrah.

Inilah yang disebut potensi fitrah bakat, di samping potensi fitrah lainnya. Potensi fitrah bakat adalah potensi keunikan berupa sifat bawaan yang telah Allah instal pada setiap anak sejak pertama kali diciptakan.
Potensi fitrah bakat atau potensi unik ini bahkan nampak sejak dalam kandungan, terlihat jelas semenjak balita dan akan semakin menguat dan konsisten saat usia 10 tahun.

Ada dua hal yang harus dikenali dengan jelas dan utuh saat usia 10 tahun, yaitu mengenal Allah dan mengenal diri. Usia 10 adalah batas akhir sholat yang sempurna (sebagai penanda tumbuhnya fitrah keimanan) dan aktifitas bakat yang mulai konsisten dan fokus untuk dikembangkan (sebagai penanda mulai ditajamkannya peran peradabannya kelak yang berbasis fitrah bakat).

Jika seorang anak terlihat “suka menata” sejak usia 8 bulan, maka akan terus demikian bahkan mungkin semakin menguat ketika berusia 88 tahun. Jika seorang anak terlihat “suka bersih bersih” sejak usia 8 bulan maka akan terus demikian bahkan semakin menguat ketika berusia 88 tahun.

Fitrah itu ibarat benih, tergantung kepada kita orangtua dan pendidik, mau diletakkan di tempat yang menumbuh suburkan benih itu atau mau menguburnya dalam dalam.

Fitrah bakat atau sifat bawaan ini pada akhirnya jika tumbuh sempurna akan merupakan peran seseorang, panggilan hidup seseorang, misi penciptaan seseorang, jalan sukses seseorang, misi spesifik tugas khalifahnya di muka bumi.

Namun sayangnya walau banyak orangtua mengakui demikian, dalam kenyataannya banyak orangtua dan pendidik yg tidak jujur dan bahkan tidak peduli serta tidak konsisten untuk mengembangkan potensi keunikan anak2nya ini.

Banyak lembaga yang menamakan dirinya sbg lembaga pendidikan, namun abai terhadap potensi fitrah bakat ini. Umumnya bakat hanya diletakkan dalam pandangan bakat dalam bidang seperti olahraga dll, lalu diberi sedikit ruang bernama ekstra kurikuler. Sementara inti utama pendidikan menurut mereka adalah skill dan knowledge (S.K).

Bayangkan ilustrasi ini, jika 1000 orang di beri pelatihan skill / keterampilan tentang autocad, photoshop dll lalu diceramahi pengetahuan/ knowledge ttg desain selama 1000 jam, maka yang mampu mendesain dengan bagus tetaplah hanya beberapa saja dari mereka yang memang benar benar berbakat desain.

Skill dan Knowledge tidak harus dikuasai semuanya, orang hebat bukanlah orang yg terampil dan mengetahui semua hal, orang hebat adalah orang yang fokus pada keunikan bakatnya lalu dilengkapi dengan skill dan knowledge pendukung yang relevan.

Abu Bakar ra mengatakan bahwa bukan aib bagi seseorang yang tidak mengetahui sesuatu yang tidak relevan dengan dirinya.

Paradigma bahwa Skill dan Knowledge harus utama adalah paradigma revolusi industri yang masih dibawa2 sampai saat ini, dimana anak2 kita digiring menjadi robot robot pekerja yang tidak perlu tahu keunikan bakatnya apa.

Dunia persekolahan masih memuja paradigma ini, mereka beranggapan semua anak sama dan wajib diajarkan semua pengetahuan. Yang paling hebat adalah yang paling banyak menguasai semuanya, walau tidak relevan terhadap bakatnya apalagi karakter personal dan lokalnya.

Lihatlah dunia kini mengalami krisis sumberdaya manusia, dimana 80% lebih orang bekerja tidak enjoy krn bekerja tanpa bakat mereka. Bahkan 87% mahasiswa Indonesia menurut riset 2014, salah jurusan.
Ketidaksesuaian bakat dan peran akan menyebabkan para professional itu tidak produktif, bahkan menyebabkan depresi dan berbagai konflik yang tidak perlu di tempat kerja.

Mari kita kenali bakat anak anak kita dengan sebaik baiknya, sebagai amanah Allah swt untuk menjaga dan menumbuhkan semua fitrah yang ada. Biarkan anak anak kita jujur menjadi dirinya sesuai sifat bawaannya, sebagaimana Allah menghendakinya demikian. Jangan pernah memaksa anak kita menjalani peran yang bukan dirinya, yang tidak sejalan dengan fitrah bakatnya, yang mengkhianati peran peradabannya.

Potensi Fitrah Bakat bukan hanya bakat pada bidang, yaitu terkait fisik yang dapat diamati, seperti olahraga, menari, memasak, dll tetapi juga bakat pada peran, yaitu yang terkait dengan peran spesifik seperti perancang, penata, pemimpin, pemikir, dsbnya yang akan dijalani anak anak kita sebagai peran khalifah di muka bumi.

Makin unik peran anak anak kita, makin eksis peran peradaban mereka. Makin seragam dan generik peran mereka, makin makin mudah digantikan oleh robot maupun orang lain.

Namun ingatlah bahwa bakat penting, namun bukan segalanya. Bakat tanpa keimanan akan menyebabkan kerusakan, namun ingat pula, bahwa keimanan tanpa peran bakat, maka akan sangat sedikit memberi manfaat bagi kehidupan.

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasispotensi
#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
__________________________

Renungan Pendidikan #13

#‎potensifitrahkeimanan

Sesungguhnya sebelum kita dilahirkan ke muka bumi, setiap kita pernah bertemu Allah dan bersaksi bahwa Allah benar adanya sebagai Robb kita. “Alastu biRobbikum? Qoluu Balaa Syahidnaa”, begitu bunyi ayatnya di dalam alQuran.

Walau kita lupa peristiwa persaksian itu namun, itu semua itu terekam kuat bahkan terinstal di dalam fitrah keimanan setiap bayi yang lahir.

Karenanya tidak ada satu kaum atau suku pun di muka bumi yang tidak memiliki Tuhan dan tempat beribadah. Karena secara fitrah sesungguhnya setiap manusia menyadari eksistensi Zat Yang Maha Hebat,
Zat Yang menciptakan, mengatur, memberi rizqi dan menguasai segalanya. Manusia menyadari bahwa bersandar pada Zat Yang Maha Segalanya adalah keniscayaan.

Itulah yang menjelaskan mengapa setiap bayi yang lahir “menangis”, karena pada galibnya, setiap bayi merindukan Zat Yang Mampu Memeliharanya, Zat Yang Memberi Rizki kepadanya, Zat yang Maha Hebat tempat menyandarkan semua kebutuhan dan masalahnya, yaitu Robb Semesta Alam.

Inilah Potensi Fitrah Keimanan, meliputi fitrah kesucian, fitrah kebenaran, fitrah kecintaan, fitrah kehormatan diri, fitrah malu terhadap dosa dstnya. Inilah fitrah terpenting dan terutama dibanding fitrah lainnya.

Fitrah keimanan inilah yang melingkupi semua fitrah lainnya seperti fitrah bakat, fitrah belajar, fitrah kepemimpinan, fitrah perkembangan sehingga disempurnakan menjadi mulia. Fitrah keimanan yang menyempurnakan fitrah lainnya sehingga menjadi mulia inilah yang kita kenal dengan akhlaqul karimah.

Bagaimana menjaga dan memelihara serta membangkitkan dan menumbuhkan fitrah keimanan ini?
Ayah Bunda, para pendidik peradaban, para penumbuh fitrah, ketahuilah bahwa sosok Robb bagi seorang bayi, adalah kedua orangtuanya.

Bagaimana Ayah Bundanya bersikap maka begitulah anak balita kita membangun imaji baik atau buruk tentang Robbnya, kemudian dengan imaji itu mereka mempersepsi Robb nya dan mengkonstruksi pensikapannya terhadap kehidupannya kelak.

Allah swt sebagai Robb, meliputi Kholiqon (Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara), Roziqon (Allah sebagai Pemberi Rizqi) dan Malikan (Allah sebagai Pemilik). Begitulah bayi kita memandang kita, orangtuanya sebagai penciptanya, pemeliharanya, pemberi rizkinya, pemasok kebutuhannya dan pemilik serta pelindungnya.

Rasulullah SAW, pernah dengan keras menegur seoramg ibu yang menarik bayinya dengan keras karena pipis di pangkuan Rasulullah SAW. “Wahai bunda, pipis ini kan bisa di bersihkan, namun perbuatan bunda menarik bayi dengan kasar dan keras akan diingatnya sepanjang hayatnya”.

Imaji yang buruk anak kita tentang perbuatan orangtuanya, akan menyebabkan luka persepsi. Dan setiap luka persepsi akan melahirkan pensikapan yang buruk terhadap kehidupan anak kita kelak ketika mereka dewasa.

Ada seorang psikolog yang mengatakan bahwa satu hari yang membahagiakan seorang anak ketika mereka kecil, akan menyelamatkan satu hari ketika mereka dewasa. Beberapa hari yang membahagiakan seorang anak di masa kecil, akan menyelamatkan beberapa hari ketika mereka dewasa.

Seluruh hari yang membahagiakan seorang anak sepanjang masa anak anaknya akan menyelamatkan seluruh hidupnya ketika dewasa kelak.

Inilah pentingnya membangun imaji positif anak2 terhadap orangtuanya, terhadap alamnya, terhadap masyarakatnya, terhadap agamanya sejak usia dini. Rasulullah SAW membiarkan cucunya bermain kuda kudaan ketika beliau sedang sujud dalam sholatnya, hingga kedua cucunya puas. Ini semata mata untuk mengkonstruksi imaji positifnya tentang ibadah.

Lihatlah bagaimana Rasulullah SAW membolehkan Aisyah kecil memainkan boneka, memiliki tirai bergambar dstnya. Ini semata-mata agar anak anak memiliki imaji psoitif tentang kehidupannya.

Lihatlah bagaimana Rasulullah SAW meminta imam sholat memendekkan bacaannya apabila terdapat anak-anak di dalam shaf makmumnya. Ini semata-mata agar anak memiliki imaji positif tentang sholat dan Tuhannya.
Hati-hati dengan wajah kita, jangan pernah menunjukkan wajah suram di hadapan anak anak kita ketika memandang wajah anak-anak kita, belailah kepalanya dan bersholawatlah.

Juga jangan pernah berwajah tidak bahagia ketika adzan berkumandang, jangan pernah perlihatkan wajah suram ketika memberi shodaqoh kepada fakir miskin dsbnya. Itu semua akan mematikan fitrah keimanan anak anak kita.

Imaji positif ini juga bisa dibangkitkan dengan belajar di alam, belajar bersama alam. Ajak anak2 balita kita ke alam, bangkitkan imajinasi positifnya tentang semesta, katakan bahwa burung-burung juga sholat dengan merentangkan sayapnya, bulan, planet dan bintang-bintang di langit juga sholat dengan berjalan pada garis edarnya. Bagaimana patuhnya alam pada Sang Pencipta.

Imaji positif ini juga bisa dibangkitkan dengan kisah kisah inspirasi dan kepahlawanan, utamakan kisah alQuran sebelum kisah lainnya. Hindari memulai dengan kisah2 yang berisi banyak peringatan tentang perbuatan yang buruk, mulailah dengan kisah kisah yang membahagiakannya dan memicu kegairahan tentang perbuatan yang baik.

Inilah pentingnya Bahasa Ibu yang utuh pada usia dini, agar anak anak mampu mengekspresikan gagasannya, perasaannya dengan utuh, sebagai represntasi imaji imaji positifnya.

Nah, bila anak2 kita telah memiliki imaji imaji yang baik dan positif tentang Allah, tentang Sholat, tentang alQuran, tentang Alam Semesta dsbnya sejak usia 0-6 tahun, maka ketika Sholat diperintahkan pada usia 7 tahun, akan seperti pucuk dicinta ulam tiba. Tidak ada perlawanan apapun kecuali kebahagiaan menyambutnya. Hal yang sama berlaku untuk syariah lainnya.

Jadi mulailah dengan membangkitkan kesadaran fitrah keimanannya sejak dini bukan dimulai dengan memaksakan pelaksanaan syariahnya. Begitulah tarbiyah yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Usia 10 tahun adalah batas akhir untuk mengenal Allah secara utuh lewat pembuktian Sholat yang konsisten. Karenanya anak yang sudah berusia 10 tahun boleh dipukul bila masih belum konsisten sholatnya. Hal ini sebaiknya tidak terjadi karena ada masa yang panjang selama 10 tahun untuk menyadarkan dan membangkitkan fitrah keimanannya.Rasulullah SAW tidak pernah memukul anak sepanjang hidupnya.

Maka ada hal terpenting bagi kita semua para orangtua untuk mendidik keimanan anak-anak kita yaitu mulailah dengan membersihkan jiwa kita dan mengembalikan fitrah2 baik dalam diri kita, sehingga fitrah kita akan bertemu dengan Fitrah Keimanan anak anak kita, yang sesungguhnya telah siap untuk disemai, dibangkitkan dengan inspirasi, imaji dan keteladanan.

Mari kita perbaiki jiwa dan keimanan kita sebelum membangkitkan fitrah keimanan anak anak kita. Menjadi orangtua sejati dengan jiwa dan hati yang bersih adalah keberkahan dan bekal menumbuhkan fitrah keimanan anak anak kita.

Tanpa tumbuhnya Fitrah Keimanan anak kita maka fitrah lainnya akan menjadi tidak mulia.

Salam Pendidikan Peradaban

#‎pendidikanberbasispotensi
#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
________________

Renungan Pendidikan #14

#‎potensifitrahperkembangan

Segala yang ada di muka bumi memiliki sunnatullah tahapan pertumbuhannya masing-masing yang berkorelasi dengan dimensi waktu dan dimensi kehidupan.

Ada masa dimana benih atau biji ditanam dan disemai, ada masanya benih bertunas, ada masanya tumbuh cabang dan daun, ada masanya berbunga, ada masanya berbuah begitu seterusnya.

Untuk setiap masa itu ada cara dan tujuannya masing-masing. Dalam sunnatullah perkembangan atau pertumbuhan ini maka tidak berlaku kaidah “makin cepat makin baik”, juga jangan terlalu terlambat untuk tiap tahapannya. Segala sesuatunya akan indah bila tumbuh pada saatnya.

Inilah potensi fitrah perkembangan, dimana semua upaya dan tujuan menumbuhkan fitrah harus sesuai tahapan fitrah perkembangan. Karena peran pendidikan adalah menumbuhkan fitrah anak anak kita maka pendidikan fitrah keimanan, pendidikan fitrah belajar dan pendidikan fitrah bakat sebaiknya mengikuti sunnatullah tahapan waktu.

Maka dalam pandangan keimanan pada sunnatullah tahapan ini, tidak ada periode emas pada tahap tertentu sebagaimana kita umumnya mengenal “golden age” pada usia 0-5 tahun. Karena sesungguhnya setiap tahap usia adalah emas apabila tumbuh menurut cara dan tujuan yang sesuai pada tahap itu.

Sistem persekolahan yang ada umumnya melihat tiap tahapan itu sebagai upaya persiapan masuk perguruan tinggi atau mencetak professor dan professional, dimulai sejak pendidikan anak usia dini.

Pendidikan anak usia dini (PAUD) bukanlah sekolah anak usia dini (SAUD) yang mempersiapkan anak untuk masuk sekolah dasar. Dengan pandangan absurd ini, banyak persekolahan yang memberhalakan kecerdasan akademis sebagai mata uang yang paling laris dijajakan.

Sesungguhnya bukan demikian! Pandangan ini mengingkari fitrah perkembangan. Setiap yang mengingkari fitrah dipastikan merusak fitrah itu sendiri.

Pendidikan usia dini sejatinya adalah pendidikan agar anak2 kita utuh menjadi usia dini dalam semua aspek fitrahnya (fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat) tepat ketika mereka berada pada usia dini.
Begitupula pendidikan dasar dan menengah adalah pendidikan agar anak anak kita utuh dalam semua aspek fitrahnya pada tahapan tersebut.

Sayangnya banyak orangtua yang “taken for granted” pada sistem persekolahan yang mengkhianati fitrah perkembangan ini. Kita ikut-ikutan merusak fitrah anak anak kita tanpa sadar karena menganganggap persekolahan adalah pendidikan yang kebenarannya mutlak.

Di sisi lain, tidak pernah ada penelitian ilmiah satupun yang membenarkan tahapan perkembangan manusia sebagaimana pengamatan psikolog barat terhadap masyarakat mereka, yaitu ada tahap toddlers, kids, teenagers, adult dstnya, dimana setiap tahap itu dibagi tiga yaitu tahap awal, pertengahan dan akhir, lalu ada pubertas untuk tiap tahap tersebut.

Tahapan tanpa ada landasan ilmiah ini kemudian masuk ke dalam sistem persekolahan menjadi TK, SD, SMP, SMA dstnya, dimana masing masing punya waktu 3 dan 6 tahun. Total lama bersekolah mencapai 20 tahun bahkan lebih sebelum seseorang dianggap layak menjadi manusia dewasa dan memiliki peran sosialnya.

Sesungguhnya Islam dan bahkan dunia sebelum era persekolahan modern seperti hari ini, hanya mengakui dua tahap besar pertumbuhan manusia yaitu sebelum Aqil Baligh ( < 15 tahun) dan sesudah Aqil Baligh (=> 15 tahun). Islam dan peradaban dunia hanya mengenal dua tahap yaitu tahap anak dan tahap pemuda, dan sampai abad 19 tidak pernah mengenal istilah adolescene (remaja). #‎aqilbaligh

Lagi lagi para orangtua menerima begitu saja, menelan mentah-mentah sistem yang dibangun tanpa landasan ilmiah dan melanggar fitrah ini, sistem yang melambatkan peran para pemuda belasan tahun, sistem yang melakukan pembocahan anak anak kita sampai usia 25 tahun, sistem yang membuat kegalauan dan kegelisahan yang panjang akibat kesenjangan masa anak dan masa pemuda yang terlalu jauh.

Maka mari kita kembalikan pendidikan anak anak kita- pendidikan generasi peradaban – kepada kesejatiannya, kepada kesejatian fitrah perkembangan dan fitrah pertumbuhan anak-anak kita, lalu meletakkan fitrah2 lainnya di atas fitrah perkembangan itu secara tepat.

Ambilah sehelai kertas, rancanglah pendidikan fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat anak anak kita pada tahap usia 0-6 tahun, lalu pada tahap usia 7-10 tahun, lalu pada tahap usia 11-14 tahun (pre aqil baligh), lalu tahap usia di atas 15 tahun (post aqil baligh).

Pelajarilah Sirah Nabawiyah, amati dengan seksama bagaimana mendidik masing-masing fitrah itu sesuai tahapannya. Bagaimana mendidik dan membangkitkan fitrah keimanan atau aqidah di usia dini, juga di usia pre aqil baligh awal, pre aqil baligh akhir dstnya. Pelajarilah sains tentang perkembangan manusia yang sesuai dengan alQuran.

Lihat dan telitilah bagaimana fitrah Belajar seperti Bahasa ibu, Belajar di Alam, Belajar di Masyarakat dstnya dididik pada tiap tahapan itu. Juga bagaimana fitrah Bakat diamati, dikenali, dikembangkan pada tiap tahap itu. Susunlah semuanya agar menjadi framework dan roadmap pendidikan anak anak kita.

Setelah itu mari kita rancang dan jalankan pendidikan sesuai tahapan fitrah perkembangan, mari kita didik generasi aqil baligh yang mampu memikul syariah, generasi peradaban belajar yang inovatif dan generasi yang memiliki peran peradaban ketika anak anak kita mencapai aqilbaligh saat berusia belasan tahun.

Lagipula buat apa kita ajarkan syariah, kecerdasan, bakat dll pada anak anak kita bila mereka tidak dipersiapkan menjadi generasi aqilbaligh. Padahal hanya generasi aqilbaligh yang mampu memikul syariah dan yang punya peran peradaban, generasi yang mampu menebar rahmat dan manfaat ketika mencapai aqilbaligh.

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasispotensi
#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
__________________

Renungan Pendidikan #15

Pada galibnya anak anak kita kelak sepeninggal kita akan menghuni suatu zaman yang mungkin “beyond imagine”, yang tidak pernah terbayangkan oleh kita akan seperti apa.

Saat ini saja, zaman ini sudah membuat kita, kebanyakan para orangtua tergagap gagap, tergopoh gopoh, terkejut kejut, terpana, terpesona dan sebagian lagi tergila2.

Kebanyakan kita, tanpa sadar, sudah merasa tak sanggup mendidik anak anak kita sendiri. Kita merasa zaman sudah terlalu edan atau kitanya yang sudah tenggelam dalam dunia yang membuat edan, sehingga melalaikan pendidikan anak anak kita.

Kita umumnya lebih suka menitipkan anak anak kita di lembaga, di asrama dll lalu merasa telah mendidik dengan alasan klasik bahwa kita tidak mampu mendidik sendiri.

Jika demikian, lalu apa yang kita tinggalkan untuk anak anak kita agar mereka mampu menjalani kehidupan sesuai misi penciptaannya di zaman yang akan datang itu kelak?

Meninggalkan harta warisan yang banyak? Meninggalkan ilmu yang banyak? Meninggalkan perusahaan yang banyak? Meninggalkan ilmu agama yang banyak?

Kita tentunya tidak ingin generasi sesudah kita, generasi yang mengikuti hawa nafsu dan meninggalkan sholat.
Sesungguhnya sebaik baik bekal adalah taqwa, ya… taqwalah yang akan kita bekalkan kepada mereka, anak anak kita, generasi masa depan. Lalu apa makna taqwa?

Sesungguhnya taqwa bukan hanya meninggalkan laranganNya tetapi yang terpenting adalah menjalankan perintahNya. Dosa melanggar perintahNya jauh lebih besar daripada dosa meninggalkan laranganNya. Dosa Iblis yang menolak perintah Allah untuk sujud pada Adam as, berakibat lebih hebat dan fatal daripada dosa Adam yang melanggar laranganNya.

Kemampuan menjalankan perintahNya adalah kemampuan menjalankan peran yang telah digariskanNya kepada setiap manusia yaitu untuk peran Ibadah (beribadah), untuk menjadi Imaroh (pemakmur bumi), untuk menjadi Imama (pemimpin para orang bertaqwa), dan menjadi Khalifah di muka bumi.
Tujuan peran ini secara personal adalah menebar rahmat dan pembawa berita gembira (solution maker) serta pembawa peringatan (warning notifier).

Secara komunal tujuan peran ini agar terbentuk komunitas/ummat yang menjadi model tebaik untuk bisa diteladankan (khoiru ummah) dan menjadi komunitas yang mampu melakukan peran integrator dan orkestrator (ummatan wasathon) bagi kebaikan kebaikan yang ada pada semua ummat.

Membekali taqwa adalah membekali anak anak kita kemampuan mengambil peran peradaban menurut alQuran seperti di atas, baik personal maupun komunal.

Peran peradaban adalah hasil resultansi dari fitrah fitrah personal anak kita (fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah perkembangan dstnya) dan fitrah komunal (fitrah alam, fitrah masyarakat, fitrah lokalitas dan budaya, fitrah zaman) yang dibangkitkan dan ditumbuhkan melalui sebuah katalis peradaban bernama pendidikan.

Maka kembalikanlah fitrah kesejatian kita para orangtua dan anak anak kita. Kembalikanlah kesejatian keluarga, kesejatian komunitas, kesejatian masyarakat, kesejatian alam, kesejatian belajar, kesejatian mendidik dan pendidikan dstnya.

Mari kita mulai pendidikan berbasis kesejatian fitrah ini di rumah rumah kita (home based education) dan juga di komunitas komunitas/jamaah kita (community based education), karena peradaban terbaik dimulai dari rumah dan dari komunitas yang melahirkan generasi dengan peran peran terbaik.

Semoga kita, keluarga2 dan komunitas2 dapat bersama2 bergandeng tangan, bershaf-shaf dengan rapi merajut peran peradaban terbaik untuk generasi peradaban terbaik untuk memperindah dan memuliakan zaman. Mari kita wujudkan melalui pendidikan berbasis fitrah menuju peran peradaban sebagaimana Allah swt kehendaki.

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasispotensi
________________________

Renungan Pendidikan #16

Membangkitkan fitrah anak anak kita sebaiknya tidak parsial. Keseluruhan fitrah personal mesti bertemu dengan keseluruhan fitrah komunal.

Itu semua agar peran peradaban personal anak2 kita kelak akan lebih bermanfaat dan membawa rahmat apabila bertemu dengan peran peradaban komunalnya.

Ibarat tumbuhan, maka faktor personal atau internal seperti akar, batang dan daun serta bunga dan buahnya mesti dibangkitkan sesuai tahap perkembangannya dengan memperhatikan faktor eksternalnya.

Faktor komunal atau eksternal pada tumbuhan meliputi habitat, jenis tanah, musim dll yang harus relevan dan sesuai dengan faktor internal.

Fitrah komunal anak anak kita setidaknya meliputi fitrah alam dan lokalitas serta budaya, yaitu dimensi tempat dimana anak kita ditakdirkan tinggal. Lalu, fitrah zaman dan realitas masyarakat, yaitu dimensi waktu dimana anak kita ditakdirkan hidup.

Ingatlah bahwa Fitrah personal anak anak kita setidaknya meliputi fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar, fitrah perkembangan. Semua fitrah dalam Dimensi Manusia ini menjadi sentra pertumbuhan fitrah yang akan membawa kepada peran peradaban.

Fitrah bakat tanpa fitrah keimanan akan melahirkan talented professional yang berakhlak buruk, begitupula sebaliknya fitrah keimanan tanpa fitrah bakat akan melahirkan orang2 beriman yg paham agama namun sedikit bermanfaat.

Lihatlah mereka yang berbakat menjadi pemimpin tanpa akhlak maka akan menjadi diktator. Begitupula mereka yang bertauhid tanpa bakat, akan sangat sedikit memberi manfaat.

Fitrah belajar tanpa fitrah keimanan akan melahirkan para sciencetist dan innovator yang berbuat kerusakan di muka bumi, begitupula sebaliknya fitrah keimanan tanpa fitrah belajar akan melahirkan generasi agamis namun mandul dan tidak kreatif.

Fitrah belajar tanpa fitrah bakat akan melahirkan pembelajar yang tidak relevan dengan jatidirnya, begitupula sebaliknya, fitrah bakat tanpa fitrah belajar akan melahirkan orang berbakat yang tidak innovatif. Berapa banyak kita lihat orang yang bakatnya hanya berhenti sebagai hobby semata.

Semua fitrah personal itu jika tidak ditumbuhkan sesuai fitrah perkembangannya akan membuat generasi yang tidak matang dan tidak utuh menjadi dirinya.

Fitrah belajar dan fitrah bakat yang tumbuh bersamaan dengan fitrah keimanan melahirkan generasi yg inovatif, produktif dan berakhlak mulia.

Dimensi Manusia di atas kemudian akan menjadi penuh rahmat ketika bertemu dengah fitrah komunal berupa Dimensi Alam dan Dimensi Zaman serta Sistem Nilai.

Akhirnya semua fitrah personal harus relevan dengan fitrah komunal agar mampu menjadi problem solver dan solution maker bagi realitas sosial masyarakatnya (life skill dan sosial bisnis / mujahid), menjadi konservator dan innovator bagi alamnya (ecopreneur / mujadid), menjadi pahlawan bagi peradabannya (mutaqin).

Fitrah belajar yang ditumbuhkan secara kolektif melalui pendidikan peradaban akan bertemu dengan fitrah alam dan lokalitas sehingga melahirkan peradaban belajar yang inovatif dalam memakmurkan bumi.

Fitrah bakat yang ditumbuhkan secara komunitas melalui pendidikan peradaban akan bertemu dengan fitrah zaman dan realitas ummat sehingga melahirkan peran peradaban yang produktif dalam karya karya solutif bagi problematika ummat.

Fitrah keimanan yang ditumbuhkan secara berjamaah melalui pendidikan peradaban akan bertemu dengan fitrah sistem nilai ilahiah sehingga melahirkan peradaban yang berakhlak yang mulia.

Mari kita sucikan, bangkitkan dan tumbuhkan semua fitrah anak2 kita baik fitrah personal maupun fitrah komunal secara simultan melalui pendidikan berbasis fitrah bersama keluarga dan komunitas. Agar tumbuhan itu memiliki akar yang kokoh menghunjam ke tanah, batang yang besar menjulang ke langit, daun daun yang rimbun subur menaungi siapapun di bawahnya, serta bunga dan buah yang indah menebar rahmat dan manfaat.

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasispotensi
#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
___________________________

Renungan Pendidikan #17

“It takes a village to raise a child”, diperlukan orang sekampung untuk membesarkan anak, begitu pepatah bangsa Afrika.

Selama berabad abad, pendidikan dipahami dan dijalankan oleh keluarga dan komunitas secara berjama’ah.
Pendidikan adalah sebuah keniscayaan untuk membentuk komunitas yang lebih baik, dan komunitas itu kemudian memerlukan pendidikan untuk mewariskan dan mengembangkan pengetahuan, mengangkat derajat posisi peran personal dan komunal yang lebih baik di muka bumi serta memuliakan kearifan dan akhlak bagi generasi selanjutnya.

Pendidikan bukan lahir karena ada komunitas atau karena ada masyarakat, namun pendidikan justru yang melahirkan komunitas dan peradaban. Banyak orang menyalahi sunnatullah keberadaan pendidikan, mereka mendirikan pendidikan layaknya industri, melihat ceruk “market” kebutuhan pendidikan.

Pendidikan adalah tanggungjawab rumah dan jamaah, karena rumah dan jamaahlah yang paling tahu kebutuhan peran yg merdeka dan manfaat, paling paham problematika dan dinamika realitas sosial, paling mengamalkan tradisi dan budaya serta kearifan mereka.

Maka kembalikanlah rumah2 kita dan jamaah2 atau komunitas2 kita sebagai sentra pendidikan peradaban. Kembalikanlah fungsi rumah dan rumah ibadah (masjid, gereja dll) sebagai pusat belajar dan mendidik anak anak kita.

Lihatlah bahwa kehebatan bakat, belajar dan akhlak pada hari ini bukan lagi ada di kampus dan di sekolah, tetapi ada di para Maestro Kehidupan, di tangan para orang Sholeh berakhlak mulia dan sebagian lagi ada di dunia maya.

Mari rancang sungguh sungguh pendidikan berbasis rumah dan berbasis komunitas secara berjamaah.

Mari bangun jaringan pendidikan rumah dan komunitas di seluruh Indonesia berbasis kepada fitrah personal (fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah keimanan, fitrah perkembangan) dan berbasis kepada fitrah komunal (fitrah alam dan lokalitas, fitrah realitas sosial masyarakat dan kehidupan, fitrah budaya dan kearifan serta agama).
Ingatlah bahwa negara bukanlah peradaban, negara hanyalah wadah peradaban.

Sesungguhnya peradaban adalah milik rumah dan jamaah, karena di dalam rumah dan jamaah ada karya peradaban dan ada generasi peradaban masa depan, yaitu anak2 kita.

Wahai para pendidik peradaban yang berada di rumah dan yang berada di jamaah, mari bergandeng tangan dalam shaf shaf yang kokoh dan rapih, untuk mewujudkan bangsa yang mandiri, peradaban yang menebar rahmat dan manfaat melalui pendidikan berbasis fitrah personal dan fitrah komunal.

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasispotensi
#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
______________________

Renungan Pendidikan #18

Firaun memang Raja Besar pada zamannya, kesuburan Mesir dengan aliran Sungai Nil membuat negeri ini bagai adidaya, bahkan Firaun menyebut dirinya “ana robbukumul a’laa” , sayalah Tuhan kalian yang Maha Tinggi. Pyramid dibangun memang sebagai Symbol keinginan menjadi Tuhan bahkan melampauiNya.

Allah mengadzab Firaun bukan karena Firaun tidak melek teknologi, tidak paham literasi, tidak piawai manajemen dan kepemimpinan dstnya, namun Allah mengadzab firaun karena “…aladzina thogow fil bilad”, karena Firaun membangun sistem yg melampaui kewenangan Tuhan, sistem yang hendak menyeragamkan potensi fitrah fitrah. Tentu saja krn Firaun telah merasa telah menjadi Tuhan.

Padahal, karena bukan Tuhan maka sudah pasti sistem yang dibangunnya itu “..waaktsaru fihaalfasad”, banyak merusak fitrah manusia dan alam.

Hari ini barangkali tidak ada yang sedigdaya Firaun, andai kedigdayaan Amerika setara Firaun, maka bisa dibayangkan begitu banyak bekal yang dibutuhkan Musa. Lihatlah bagaimana Allah membekali Musa as, sejak Harun as sebagai pendamping, sampai mukjizat yang sangat banyak. Kegentaran Musa as sangat manusiawi mengingat kehebatan Firaun. Firaun adalah lambang kekuatan sistem dalam ketaatan, kekuatan, keilmuan dan teknologi.

Namun hari ini, kita yg intelek, cerdas, melek literasi, jago komunikasi dll tergagap2 hanya utk mengatakan bahwa UN itu buruk, KurNas seragam itu buruk, sistem pendidikan yang ada itu buruk karena telah mencerabut banyak fitrah anak anak kita dstnya apalagi menghapusnya. Padahal mengatakan kebenaran seperti itu hanya didepan sebuah sistem yg tdk sehebat dan searogan Firaun.

Padahal kita punya banyak pilihan untuk mendidik anak2 kita sendiri di rumah2 kita, di komunitas kita secara berjamaah atau berbasis komunitas. Padahal hari ini kehebatan keilmuan itu bukan lagi ada di sekolah2 dan di kampus2, tetapi di tangan para Maestro Kehidupan dan dunia maya.

Mungkin Firaun Modern telah berhasil menyembelih mental LAKI-LAKI pada bangsa ini agar tidak lahir MUSA MUSA yang berani mengambil alih perbudakan belajar menjadi kemerdekaan belajar, perbudakan fitrah menjadi kemerdekaan fitrah.

Mungkin IBU IBU MUSA zaman ini, sudah tidak mau memberikan ASI. Pendidikan fitrahnya pada MUSA MUSA kecil yang masuk ke dalam sistem Firaunisme modern. Mereka lebih suka menyerahkan begitu saja anak anaknya untuk dipelihara firaun modern.

Mungkin mental budak kita sudah lebih buruk daripada mental budak bangsa Israil yang juga dijajah Firaun lebih dari 350 tahun sehingga sama sekali tidak berkenan hijrah.

Semoga Allah swt, melahirkan kembali Musa Musa peradaban dari rumah rumah kita dan di jamaah kita, melalui Ibu Ibu Musa yang mendidik anak2nya dari sumber kemurnian fitrah nya, semurni air susu para Bundanya.

Salam Peradaban
#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
#‎pendidikanberbasispotensi
_________________________

Renungan Pendidikan #19

Pernahkah kita mempertanyakan mengapa anak2 kita harus menjalani PG atau TK selama 3 tahun?Mengapa anak2 kita harus menjalani SD selama 6 tahun?

Lalu mengapa anak2 kita menjalani SMP selama 3 tahun, lalu menjalani SMA selama 3 tahun?Adakah landasan ilmiah dan risetnya? Adakah landasan syariahnya? Pernahkah menggalinya?
Mengapa kita pasrah bongkokan menerimanya? Mengapa?

Memang ada percepatan atau akselerasi sehingga bisa lebih cepat, tapi pertanyaannya tetap belum terjawab.
Mengapa ada penjenjangan demikian? Lalu mengapa kita tidak mempertanyakan?

Seorang psikolog Muslim, Malik Badri, tahun 1985 pernah ke Indonesia, beliau penulis buku “dilemma psikolog muslim”, mengatakan bahwa penjenjangan itu tidak pernah bisa dibenarkan secara ilmiah. Ini hanya pengamatan psikolog barat terhadap masyarakat mereka yang kemudian masuk dalam sistem persekolahan hampir di seluruh dunia.

Lalu apa makna penjenjangan ini? Lalu mengapa kita menelan mentah mentah begitu saja, menerima sebagai sebuah keimanan?

Lupakah kita bahwa anak2 kita bagai benih tumbuhan yang memerlukan tahapan perkembangan yang benar?
Lalu perhatikan setelah masa “siswa kecil” ada masa menjadi “mahasiswa” (siswa besar) selama 4 atau 5 tahun. Apa maknanya?

Para “pemuda kuliahan” tetap dianggap sebagai anak anak walau bernama mahasiswa atau “siswa besar”?
Padahal menilik usianya, para “siswa besar” ini sudah berusia di atas 17 tahun, sudah bukan lagi berada pada fase pendidikan,, tetapi fase berkarya dan berperan.

Belajar memang sepanjang hayat, namun bagi para pemuda ini, fase belajar untuk menjadi diri seharusnya sudah selesai, mereka seharusnya berada pada fase belajar untuk melahirkan peran dan karya. Kenyataannya hampir 90% mahasiswa tidak mengenal dirinya dengan baik apalagi menjadi dewasa (aqil).

Padahal secara syariah mereka sudah jauh melampaui usia aqilbaligh, dimana seluruh kewajiban syariah dan sosial sudah jatuh di pundak mereka sejak berusia setidaknya pada usia 14 tahun ketika tibanya kedewasaan biologis.

Lalu kembali pertanyaannya adalah apa makna dan maksud penjenjangan TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi ini ?

Sesungguhnya penjenjangan ini semata mata bukan untuk kepentingan tumbuh kembang anak anak kita secara utuh, namun untuk kepentingan kapitalisme dan sosialisme yang merekayasa kelas kelas sosial tenaga kerja atau buruh.

Penjenjangan ini mencerabut generasi dari akar masyarkatnya, akar kearifan dan pengetahuannya, bahkan akar budaya dan agamanya. Umumnya anak anak kita tidak punya idea memandirikan dirinya dan masyarakatnya atas potensi2 yang ada.

Generasi kita dan anak2 kita, telah disegregasi dalam kelas2 usia mirip peternakan hewan. Masyarakat kita terkotak kotak, terkungkung dalam kotak yang tidak sesuai fitrah perkembangan manusia.

Pemuda tetap dianggap anak anak bahkan sampai selesai kuliah. Anak anak dikelompokkan dalam kelas kelas usia yang tidak boleh beranjak kecuali jika lulus naik kelas secara akademis.

Lalu dengan bangga kita menyebut sekolah sebagai tempat sosialisasi, benarkah?Padahal anak2 kita disekat sekat dalam ruang kelas dengan anak2 seumurnya selama seharian, apakah itu sosialisasi? Siapa gegabah yang menentukan demikian, untuk kepentingan siapa?

Selama berabad abad dunia hanya mengenal kelas anak anak dan kelas pemuda. Kelas remaja (adolescene) tidak pernah dikenal sampai abad ke 19. Ini kelas yang membocahkan para pemuda selama mungkin, sampai mendekati usia 25an bahkan akan terus lebih.

Sesungguhnya sepanjang sejarah kelompok yang ada hanya kelompok tahap dididik dan tahap berkarya. Kelompok tahap anak anak dan kelompok tahap pemuda aqilbaligh. Tahap pedagogis dan andragogis.

Walau demikian, dalam keseharian sebuah komunitas atau jamaah atau desa2 yg masih murni, tetap saja sosialisasi seperti gotong-royong terjadi antar semua usia, tidak dibedakan tua dan muda.Mari kita kritis atas tahap perkembangan ini yang merupakan fitrah manusia. Jangan biarkan anak anak kita direkayasa sebuah sistem yang menternakkan generasi.

Mari kita bangun generasi baru, generasi peradaban yang tahapan tahapan perkembangannya sesuai dengan fitrah dan sunnatullahnya.

Tidak tumbuhnya fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar secara utuh pada tahap yang benar akan menyimpangkan peran peradaban anak anak kita. Sesungguhnya Insan Kamil adalah resultansi fitrah2 itu yang tumbuh sempurna sesuai tahapan yang benar.

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
#‎pendidikanberbasispotensi

_________________

Renungan Pendidikan #20

“Bukan Aib!”, kata Abu Bakar RA, “…bukan aib bila seseorang tidak mengetahui sesuatu yang tidak relevan dengan dirinya”.

Jika anak kita hanya suka pelajaran matematika, namun tidak suka pelajaran bahasa, atau sebaliknya, apakah masalah buat kita? Jika anak kita tidak suka semua pelajaran, sukanya hanya “menggambar”, “mengkhayal”, “merenung”, “mengobrol”, “memasak”, “beres beres rumah”, “mengumpulkan teman teman” dll , apakah masalah buat kita?

Bagi negara anak anak kita seperti di atas akan dianggap bermasalah besar, bahkan dianggap produk gagal, tidak punya masa depan.

Bagi sekolah yang memberhalakan nilai akademis, hal seperti di atas akan dinilai “sangat bermasalah”, anak anak kita terancam dikeluarkan, dicap merusak prestasi, tidak layak disekolahkan dstnya.

Bagi orangtua yang obsesif, hal ini dianggap mimpi buruk, masa depan suram, mungkin dianggap musibah bagi keturunan dstnya.

Gejala bahwa seorang anak harus hebat semuanya, harus tahu semuanya melanda dunia sampai hari ini. Kompetisi adalah harga mati.

Sebuah penelitian, memberi pertanyaan, “Bila anak kita pulang, membawa rapor dengan nilai 7,9,5 dan 3, maka yang mana menjadi fokus kita?”

Penelitian itu membuktikan 78% orangtua di Eropa fokus pada nilai 5 dan nilai 3. Di Amerika 64% orangtua hanya melihat pada nilai 5 dan nilai 3.

Di Indonesia belum dilakukan penelitian, namun tampaknya tidak jauh berbeda, mungkin lebih panik.Begitulah dunia paska era revolusi industri dan perang dunia, anak anak kita dianggap tentara yang harus mengusai semua hal secara seragam. Anak anak kita dianggap komoditas produk yang harus memenuhi standar layak jual.

Di ujung setiap rantai produksi ada QC (quality control) yang melakukan “reject” dan “accept” bagi produk, bernama Ujian Nasional.

Kita lebih suka melihat sisi negatif seseorang daripada sisi positif seseorang. Kita lebih suka mengecam kelemahan daripada menghargai kelebihan seseorang.

Cara pandang berbasis kekurangan atau “deficit/weakness based” ini melanda hampir semua orang, konon mencapai 80% warga dunia. Tak pelak lagi juga melanda kaum Muslimin.

Padahal dalam pandangan orang beriman, sejatinya segala sesuatu telah diciptakan Allah sesuai jalan suksesnya masing masing (syaqila). Orang beriman adalah mereka yang meyakini bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, telah tertanam potensi fitrahnya masing masing. Orang beriman sejatinya adalah orang yang paling menghargai potensi kekuatan atau keunikan anak2nya.

Ketahuilah bahwa berbagai penyimpangan perilaku anak dan remaja, seperti tawuran, bully, penyimpangan seksual dll adalah karena obsesi bahwa semua anak harus bisa semuanya, harus menjadi paling unggul melampaui siapapun, harus paling cerdas mengalahkan semuanya dstnya.

Anak anak kita jarang dihargai potensi keunikannya, dihargai kelebihannya. Mereka terus dikecam kelemahannya, mereka dipaksa menjadi orang lain yang dianggap lebih sukses, lebih pandai, lebih cerdas dstnya. Kita mengaku beriman namun menjadi manusia yang paling ingkar terhadap adanya potensi keunikan fitrah anak anak kita.

Anak2 dan pemuda2 yang dihargai potensi keunikan fitrah bakatnya, lalu ditemani untuk mengembangkannya akan tumbuh menjadi pemuda yang eksis jatidirinya, yang “kutahu yang kumau”, yang jauh dari galau dan perasaan terbuang dan hina. Mereka disibukkan menguatkan potensi unik produktifnya secara positif.

Mari kita perbaiki keimanan dan cara pandang kita tentang potensi keunikan anak anak kita, sehingga kita mau dan mampu mensyukuri, menghargai dan menumbuhkan karunia Allah ini lalu memuliakannya dengan akhlakul karimah.

Berhentilah mengecam, berhentilah obsesif, berhentilah membanding2kan, berhentilah menambal keterbatasan anak anak kita, fokuslah pada potensi keunikan dan kekuatannya yang merupakan panggilan hidupnya, misi spesifik penciptaannya di dunia, peran spesifiknya sebagai khalifah di muka bumi. Misi yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Salam Pendidikan Peradaban
#pendidikanberbasispotensi
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

___________________

Renungan Pendidikan #21

Andai guru2 dari abad ke 19, dilahirkan kembali di abad 21, maka mereka akan terkaget kaget melihat betapa canggihnya perkembangan teknologi dan gedung menjulang di abad 21.

Namun mereka akan biasa biasa saja, ketika masuk ke ruang2 kelas sekolah. Mengapa?

Karena apa yang ada di ruang kelas sekolah hari ini tidak pernah berubah sejak 100 sampai 200 tahun terakhir, sejak era revolusi industri dimulai.

Pemandangan yang selalu sama sejak 200 tahun yang lalu. Guru yang berdiri di depan kelas, murid murid berseragam duduk di barisan bangku bangku dan meja meja tersusun rapi, wajah wajah yang menghadap ke depan, papan tulis yang setia menghadap siswa dstnya. Deringan bel setiap usai pelajaran pun selalu ada sejak dua ratus tahun lalu.

Pemandangannya selalu sama, guru guru yang nampak serba tahu, dan terlalu banyak “menggurui” dan murid murid yang banyak “mendengar” dan menjawab pertanyaan.

Tentu yang terpandai adalah yang jawabannya paling sesuai dengan selera guru, yaitu yang paling banyak menjawab pertanyaan dengan “cerdas cermat” dan “cepat tepat” sesuai buku, kisi kisi dan tentu saja selera gurunya.

Maka jangan heran, bila anak anak Indonesia dikenal paling jago menjawab namun paling sulit bertanya. Padahal pertanda matinya fitrah belajar adalah diawali dengan hilangnya semangat bertanya karena matinya nalar (nadzor).

Pemandangan lainnya adalah guru guru yang terlalu banyak diam namun rajin memberi catatan dan pekerjaan rumah. Bagi mereka mendidik adalah menghabiskan bahan ajar. Sebuah riset menyatakan bahwa ada begitu banyak “Silent Class” di sekolah sekolah Indonesia.

Bagi kebanyakan anak anak kita, hal yang paling berkesan ketika bersekolah hanya dua hal, yaitu bel istirahat dan bel pulang.

Selama seratus tahun lebih ada stress yang sama ketika ujian, ada tekanan kompetisi yang sama, ada pemilahan si bodoh dan si pandai, si bengal dan si penurut, si juara dan si pecundang, si kaya dan si miskin dstnya.

Selama lebih dari sepuluh dasawarsa, masalahnya selalu sama. Murid murid yang patuh dan penurut serta jaim di hadapan para guru namun ada ribuan penyimpangan perilaku di luar pagar sekolah.

Sekolah bagai etalase toko atau restoran atau hotel mewah yang nampak indah, mahal, megah menggiurkan bahkan terlihat relijius, namun di balik itu ada begitu banyak pengkhianatan dan kecurangan dari siswa siswanya maupun guru gurunya, setidaknya membiarkan keduanya terjadi.

Tak perlu sulit membuktikannya, temukan ratusan mungkin ribuan film di youtube tentang bully, kekerasan, tawuran, pelecehan dan penyimpangan seksual, pembunuhan dll dari anak anak dan pemuda generasi kita. Mereka umumnya anak anak yang dikenal “baik baik” saja di sekolah.

Selama lebih dari seratus tahun, fitrah bakat anak anak kita dihilangkan, hanya yang berbakat akademislah yang mendapat tempat penghargaan, ada sedikit bakat lainnya diletakkan sebagai ekskul selebihnya dibiarkan hilang dan terkubur.

Cukup 200 tahun ini ummat manusia disengsarakan sistem pendidikan yang abai terhadap fitrah personal, berupa fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar dan fitrah perkembangan yang berakibat rusaknya mentalitas, moralitas dan rendahnya produktifitas serta meningkatnya depresi.

Cukup 200 tahun ini ummat manusia disengsarakan sistem pendidikan yang abai terhadap fitrah komunal, berupa fitrah alam, fitrah keunggulan lokal, fitrah realitas sosial masyarakat dan kehidupan, fitrah kebudayaan dan kearifan serta sistem hidup atau agama. Ini berakibat rusaknya alam, ketergantungan masyarakat, keterjajahan ekonomi, urbanisasi besar besaran dstnya.

Mari kita kembalikan pendidikan sejati berbasis fitrah, di mulai dari rumah2 kita, dari komunitas2 kita, secara bersama dan berjamaah. Sesungguhnya pendidikan sejati akan melahirkan peradaban sejati yang berakhlak mulia untuk anak dan keturunan kita, karena itulah yang menjawab mengapa kita hadir di muka bumi, mengapa kita menikah dan mengapa kita memiliki keturunan serta mengapa kita mendidik.

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasisipotensi
#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

___________________________

Renungan Pendidikan #22

Sadarkah kita, bahwa anak anak kita, generasi kita, digiring memasuki sistem pendidikan berorientasi persaingan atau kompetisi yang menyengsarakan dan membahyakan kebudayaan dan akhlak manusia?

Kompetisi terlihat sepintas sebagai sebuah hal yang biasa, layaknya perlombaan olahraga atau sebagai kemestian bisnis, dsbnya. Ketika diingatkan bahaya kompetisi maka selalu pertanyaannya adalah, “bukankah orang perlu berkompetisi agar menjadi unggul atau terlihat unggul?”.

Ingatlah bahwa menjadi unggul bukanlah secara tunggal mengungguli semua orang bak anak Tuhan ala Yahudi atau ras termulia ala nazisme, namun menjadi unggul adalah menjadi paling bermanfaat dan paling menebar rahmat atas semua manusia, ummat dan bangsa dengan fokus tumbuh atas keunikannya sendiri lalu bekerjasama dengan beragam keunggulan unik yang lainnya sebagai karunia Allah swt.

Siapapun tahu, bahwa sebuah sistem pendidikan adalah alat pembentuk karakter personal, lalu secara kolektif karakter2 personal ini akan mengkonstruksi budaya. Budaya yang dilahirkannya, bisa budaya yang baik maupun budaya yang buruk, yang disebut kebudayaan dan akhirnya melahirkan peradaban.

Tanpa sadar, selama beberapa generasi, sistem persekolahan telah menanamkan sebuah budaya yang penuh dengki, dendam, jumawa dan rivalitas. Doktrinnya adalah siapa yang paling hebat adalah yang paling mampu mengungguli siapapun, yang paling bisa berdiri tegak di atas siapapun.

Dan yang paling mengerikan adalah untuk mencapai itu semua, maka semua cara dihalalkan. Sudah mafhum, sejak PAUD, anak anak belum cukup umur dimanipulasi agar bisa calistung sbg syarat masuk SD. Sudah rahasia umum di kalangan pelajar smp, sma untuk bahu membahu membeli bocoran soal, sementara guru guru bergotong royong memberikan jawaban soal, para ortu bersikap seolah tidak tahu menahu dstnya. Sementara di kalangan mahasiswa untuk menjiplak skripsi dan tesis sudah dianggap kelaziman.

Tentu saja itu semua demi Tuhan baru bernama kompetisi dan keunggulan semu, layaknya Lata dan Uza.
Tuhan baru untuk memperebutkan status sosial semu dengan sedikit remah remah dunia. Sungguh kepalsuan demi kepalsuan yang melahirkan budaya kepalsuan, kebencian, rivalitas, kedengkian dsbnya yang mengorbankan semua kesejatian dan misi penciptaan manusia.

Mari kita ingat ingat, sejak bersekolah, umumnya kita terpola untuk tidak pernah benar benar ikhlash melihat anak lain dipanggil maju ke depan ketika upacara, untuk menerima penghargaan atau hadiah sebagai juara umum, juara satu, dua dan tiga.

Begitu juga sejak kita menikah dan memiliki anak, umumnya kita juga tidak bisa ridha ketika melihat anak orang lain yang juara melebihi anak kita. Kita selalu ingin melihat anak kita menyaingi teman2nya dalam segala hal. Kita lupa bersyukur dan beriman atas fitrah keunikan kebaikan setiap anak.

Selalu terbersit, bahwa saya atau anak saya juga bisa. Obsesi yang menuduh kecurangan pihak lain atau pembenaran atas “ketidakberhasilan” kita. Kita bertepuk tangan, tapi hati kita meradang, senyum kecut mengembang. Ketidakberhasilan dimaknakan sebagai kegagalan berkompetisi yang sangat memalukan untuk menjadi pemenang.

Lihatlah banyak orangtua dan guru, masyarakat, para pengambil keputusan dll selama beberapa generasi itu telah memuja dan menyembah keunggulan tunggal lewat kompetisi, menggantikan Tuhan. Padahal tiap manusia punya martabat atas tugas, peran atas keunikannya masing2 untuk saling mengenal dan bekerjasama.

Itu semua karena kompetisi sudah menjadi budaya, kompetisi dalam benak banyak orang adalah sebuah keniscayaan bahkan sebuah kewajiban layaknya fardu ‘ain.

Lalu semakin hari semakin banyak lahir sekolah sekolah yg diberi “branding” keunggulan, yang hanya diperuntukan untuk para juara. Sekolah bagai sebuah arena pacuan dimana anak anak digegas berkompetisi.

Padahal semakin hari semakin banyak orang salah jurusan dalam belajar, salah karir dalam bekerja, salah bisnis ketika pensiun. Banyak orang unggul bergerak tanpa tujuan manfaat kecuali mengungguli orang lain semata.

Para pemenang di sekolah dan di masyarakat adalah mereka yang memperoleh score tertinggi dalam akademik, begitu membanggakan dan dipuji siapapun. Lalu para pecundang terlihat begitu menjijikan, memalukan dan bahkan layak dipermalukan, diolok olok seumur hidupnya dengan sebutan si bodoh, si nakal, si dungu dstnya.

Si bodoh atau si nakal yang tidak suka pelajaran di sekolah ini terus dikenang dalam pertemuan dan reuni sekolah sampai akhir hayatnya, “oh si bodoh itu ya…, oh si rangking terakhir, …oh dia yang berkali kali tidak naik kelas itu ya,… oh dia yang gagal di ujian,… dstnya. Biasanya mereka yang dicap demikian akan terpicu rasa dendam sosial dan pembuktian eksistensi yang menyimpang.

Status ranking sekolah ini kemudian berkembang menjadi status sosial. Segregasi sosial berupa bodoh dan pandai kemudian bergeser jadi miskin dan kaya, pecundang dan pemenang, dengan menggunakan cara apapun. Konsep diri yang rusak, membawa penyakit sosial dan terbawa sampai kubur

Jelas siapapun menolak kekejaman sosial macam itu bagi yang dianggap pecundang, maka lahir kesimpulan atau antitesis dari kekejaman sosial ini berupa filosofi hidup, “jangan pernah dikalahkan oleh siapapun, kekalahan adalah kehinaan tak terampunkan, maka selalulah di atas, apapun caranya, at all cost, at all risk”

Sepanjang sejarah kapitalisme ditegakkan, kompetisi adalah jantungnya. Kompetisi sesungguhnya hanya ilusi kemajuan, pacuan yang tidak menuju kemana mana kecuali ekses kerusakan kemanusiaan dan alam. Kompetisi mendorong individu, lembaga atau perusahaan selalu mengintip permainan lawan, meniru niru, membajak, mencurangi dstnya.

Tidak ada kreatifitas positif dan kemaslahatan ummat dihasilkan lewat kompetisi, kecuali obsesi mengalahkan siapapun. Setiap tindakan dikendalikan oleh permainan lawan dan meniru niru pesaing.

Di ranah bisnis, kompetisi akan terus terus memangkas biaya produksi, mengeksploitasi sumberdaya, mencari pengganti bahan baku semurah mungkin walau berbahaya, menekan biaya dan gaji pekerja, menghadirkan produk dgn harga serendah mungkin dengan kualitas pas pasan. Jika terus dilakukan maka sampai sebuah titik, akan membunuh semuanya.

Kompetisi tidak sesederhana yang dibayangkan. Perhatikanlah, bila ini sudah menjadi budaya yang dilakukan secara masif, sadar maupun tidak maka akhirnya akan menghancurkan sumberdaya manusia dan sumberdaya alam.

Manusia dan alam “boleh dirusak” atas nama kompetisi. Banyak orang baik “terbunuh” atas nama kompetisi. Kompetisi yang dicetuskan Darwinisme Sosial ini telah merusak akidah dan keimanan sampai kepada peradaban ummat manusia.

Di ranah sosial, kompetisi masuk ke dalam institusi lembaga pemerintahan, ke persekolahan bahkan ke lembaga agama, lembaga zakat, LSM dsbnya.

Mereka berlomba bukan lagi demi kebaikan bersama dalam tugasnya masing masing sehingga menebar rahmat, tetapi berlomba untuk bertarung demi kebaikan diri sendiri dengan mengkhianati tugasnya masing masing sehingga menebar laknat dan maksiat.

Mari kita segera menyadari dan bertaubat dari sistem pendidikan berbasis persaingan, menuju pendidikan berbasis potensi keunikan dan akhlak.

Mari segera rancang pendidikan anak anak kita yang membangkitkan fitrah2 baik mereka, yang mengkonstruksikan budaya kerjasama saling melengkapi dan menghargai keunggulan unik tiap manusia baik personal maupun komunal.

Agar bangsa dan peradaban tidak ditegakkan di atas puing2 kehancuran yang menghinakan martabat manusia, organisasi atau bangsa lain, tetapi ditegakkan atas manfaat bersama dan rahmat semesta alam.
Salam Pendidikan Peradaban

#‎pendidikanberbasispotensi
#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

———————————————-
Renungan Pendidikan #23

“Buat apa kita ajarkan anak kita syariah, jika tidak kita siapkan generasi aqilbaligh, yaitu generasi yang mampu memikul semua tanggungjawab syariah dan mampu menjalani peran dan misi penciptaan manusia di muka bumi, tepat dimulai ketika mencapai aqilbaligh”.

Sebuah nasehat yang provokatif, yang membangunkan jiwa jiwa kita yang tertidur dan terperangkap rutinitas serta tujuan tujuan hidup pragmatis yang membutakan tujuan dan misi sesungguhnya dari penciptaan kita.
Padahal tujuan dan misi penciptaan adalah hal pokok yang wajib ditemukan dan yang menjawab mengapa kita harus ada di muka bumi.

Sesungguhnya inti pernikahan adalah melahirkan dan mendidik generasi peradaban. Dan inti mendidik adalah agar generasi mendatang, yaitu anak anak kita, kelak mampu menjalankan peran peradabannya yang merupakan misi penciptaan (ultimate purpose) manusia di muka bumi. Syariah adalah pedoman yang melingkupinya.

Begitu pentingnya hal ini maka pernikahan disebut sebagai setengah agama. Jadi ” Separuh Agama” kita adalah melahirkan dan mendidik generasi peradaban. Jika demikian maka pada galibnya tiada pernikahan dan tiada agama tanpa pendidikan di dalam rumah dan di dalam jamaah/ komunitas.

Namun sayangnya kita menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak anak kita pada persekolahan modern secara ikhlash dan taat. Kita tidak mau mengembalikan peran sejati kita sebagai ayahbunda, kita tidak mau belajar bagaimana merancang dan menjalankan pendidikan berbasis fitrah untuk anak anak kita sendiri.

Hari ini kita saksikan, persekolahan modern, walau berlabel Islam, gagal menyiapkan generasi yang mampu menjalankan peran dan misi penciptaannya di muka bumi. Persekolahan modern melahirkan orang2 pintar terpelajar namun tidak tercerahkan dan tidak memahami apalagi menjalankan misi penciptaannya di muka bumi.

Misi penciptaan itu meliputi, misi sebagai imaroh (perawat bumi) agar bumi semakin hijau dan lestari, misi sebagai imama (pemimpin manusia) agar manusia semakin bijak bestari dan damai harmoni, misi sebagai abid (hamba yang taat) agar semakin tunduk merunduk dan rendah hati kepada Sang Pencipta, dan misi sebagai khalifah fil ardh yang menjalani semua misi penciptaan dan peran peradaban.

Krisis terbesar abad 21 bukan hanya krisis alam seperti global warming, perubahan iklim yang ekstrim saja, namun juga krisis kemanusiaan. Banyak manusia modern yang hebat teknologi namun tidak kenal Tuhan dan tidak kenal dirinya. Tidak tercerahkan dan tidak bahagia serta tidak produktif.

Kedua krisis ini, alam dan manusia tentu saja menjadi isu yang paling utama karena indikator keberlangsungan bumi ada pada seberapa baik kondisi alam dan ada pada seberapa baik kondisi manusia.

Namun jauh sebelum krisis alam, manusia telah mengalami krisis lebih dahulu. Manusia telah dicerabut dari akar fitrahnya, dari kodrat penciptaannya, lalu dicetak dan dikemas menjadi kuli kuli industrialisme dalam perbudakan modern.

Semua krisis ini dimulai ketika modernisme dimulai. Modernisme telah melakukan kampanye bahwa modernisasi adalah puncak keunggulan yang harus diseragamkan di seluruh muka bumi, di seluruh bangsa bangsa, di setiap keluarga dan manusia.

Pada kenyataannya modernisme telah melakukan rekayasa yang berakibat penyimpangan fitrah manusia dan fitrah alam. Jargon yang mereka hembuskan senyatanya adalah ambisi mengendalikan dan menternakkan manusia. Modernisme telah melakukan penjajahan peradaban di seantero dunia.

Dunia modern, malu mengakui bahwa manusia modern gagal melahirkan kehidupan yang lebih baik. Persekolahan modern sebagai pilar modernisasi, malu mengatakan bahwa merekalah akar penyebab semua krisis ini. Modernisme telah menciptakan kemunafikan dalam semua tatanan kehidupan manusia.

Persekolahan modern dirancang sebagai alat rekayasa sosial dari modernisme, dengan maksud untuk membuat manusia lebih modern karena modern adalah kehebatan universal. Setelah dijalani 200 tahun, ternyata modernisme malah menyengsarakan manusia dan alam.

Dalam pandangan modernisme bahwa manusia, alam dan bangsa bangsa akan bahagia bila dicerabut dan diseragamkan kehidupannya sesuai modernsime. Intinya, kalau mau hebat maka ikuti standar modernisme. Begitulah persekolahan modern ditanamkan dan dijalankan.

Padahal modernisme tak lebih daripada sebuah alat yang hanya memporak porandakan fitrah penciptaan personal dan komunal manusia, merusak fitrah alam, bumi dan seisinya, menyimpangkan fitrah bangsa bangsa di dunia serta memberangus sistem hidupnya sekaligus.

Penggagas dan penjaja persekolahan modern sudah lebih dahulu menderita dan hampir masuk jurang. Lalu kita pun apakah mau menuju jurang yang sama?

Modernisme melahirkan generasi yang melek literasi dan mampu membaca semua hal kecuali gagal membaca jatidirinya, gagal membaca Tuhannya, gagal membaca lokalitas budayanya, gagal membaca misi penciptaanya di muka bumi.

Sesungguhnya Allah swt telah menciptakan setiap makhluk di muka bumi dengan misi penciptaannya masing masing yang spesifik dan unik. Tidak diperkenankan mengubahnya sedikitpun, dan setiap intervensi perubahan akan merusak misi penciptaan itu. Yang diperkenankan hanya membangkitkan dan menumbuhkan fitrah2 yang telah Allah karuniakan.

Tatanan dunia baru bernama modernisme beserta persekolahan modern telah gagal menciptakan dunia yang lebih damai dan harmoni, alam yang semakin hijau lestari, manusia yang semakin bijak bestari.

Mereka, para modernist, telah gagal merekayasa sebuah kehidupan yang lebih sejahtera dan lebih maju yang mereka sebut modern, itu semua lantaran mereka mencerabut manusia dari akar dirinya, akar alamnya, akar masyarakatnya, akar budaya dan akar agamanya.

Mari kita kembalikan peradaban dunia kepada kesejatiannya, dimulai dari rumah rumah dan komunitas komunitas kita, dimulai dari pendidikan berbasis fitrah anak anak kita. Agar anak anak kita tidak lagi tercerabut fitrah fitrahnya dan mampu menjalani peran dan misi penciptaannya di muka bumi.
Salam Pendidikan Peradaban

#‎pendidikanberbasispotensi
#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

______________________________________

Renungan Pendidikan #24

Jika beriman dan bersyukur, sesungguhnya menjadi Ayah Bunda adalah aktifitas yang paling indah dan sangat menyenangkan di muka bumi.

Luqmanul Hakim adalah sosok ayah yang paling mengimani dan mensyukuri semua karunia fitrah yang Allah berikan pada anak anaknya, sehingga memiliki kemampuan mendidik yang hebat bahkan namanya diabadikan di dalam alQuran.

Sayangnya, banyak para orangtua hari ini yang kurang mengimani dan mensyukuri kenyataan bahwa Allah swt telah mengkaruniakan begitu banyak kebaikan berupa potensi fitrah2 baik yang telah ada semenjak anak anak mereka dilahirkan.

Pada kenyataannya banyak dari kita para orangtua yang tidak yakin dengan potensi2 fitrah yang ada pada anak2nya sehingga terlalu mudah melalaikan pendidikan anak2nya atau sebaliknya terlalu obsesif menggegas dan mencetak anak2nya.

Jika memahami peran mendidik dalam landsekap peradaban, maka pekerjaan mendidik anak adalah pekerjaan para Nabi sepanjang sejarah, pekerjaan mulia membangun peradaban dengan mendidik generasi peradaban.

Setiap anak yang lahir di tengah keluarga kita, adalah karunia terindah sekaligus “big project”, yaitu proyek besar peradaban yang berhadiah syurga dan tentu saja keridhaan tiada tara Allah swt.

Maka bahu membahulah, wahai AyahBunda, KakekNenek, PamanBibi dll dalam kebersamaan menjalankan proyek besar bernama “mendidik generasi peradaban untuk melahirkan peran peran peradaban masa depan yang penuh rahmat dan manfaat”. Mendidik tanpa bertujuan kepada peran peradaban anak2 kita akan melahirkan generasi yang akan ditindas dan dijajah peradaban.

Maka segeralah kembali beriman, bersyukur dan berperanlah dalam mendidik anak anak kita. Iman akan melahirkan keberanian dan ketenangan serta optimisme dalam mendidik. Syukur akan melahirkan kesadaran obyektif yang positif atas semua potensi anak anak kita. Peran akan membuktikan keimanan dan kebersyukuran kita.

Jangan ragu, rancanglah pendidikan berbasis fitrah dan akhlak bagi anak anak kita. Buatlah perencanaan dan kerangka kerja (framework) operasional pendidikan anak anak kita dengan sebaik baiknya. Mendidik potensi fitrah anak anak kita berarti juga mendidik dan mensucikan fitrah kita sebagai orangtua mereka.

Manfaatkan setiap momen untuk mendidik anak sebaik baiknya. Andai jika esok lusa berencana berwisata atau berekspedisi atau berjalan jalan membawa anak2 kita maka rencanakanlah sebaik baiknya, pastikan semua fitrah direncanakan untuk dibangkitkan, baik fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat sesuai dengan fitrah perkembangan usianya.

Untuk mampu menjalankan itu maka kita memerlukan “Qoulan Sadida”, perkataan yang berbobot, yaitu gagasan fikiran yang bernas, keyakinan perasaan yang mantap, kelembutan dan kefasihan tutur serta kecermatan dan konsistensi tindakan.

Maka perbanyaklah mendekat kepada Allah, perbanyaklah shaum sunnah, perbanyaklah tilawah, perbanyaklah mengingat Allah dan bangunlah sepertiga malam untuk sholat agar Allah swt turunkan Qoulan Sadida. Begitulah keindahan proyek besar mendidik peradaban.

Renungkanlah, apa yang kita sisakan dari hidup kita tanpa mendidik anak anak kita sendiri dengan tulus, ikhlash, penuh cinta, tenang dan optimis.

Merekalah alasan mengapa kita ada di muka bumi, dalam rangka melanjutkan misi risalah yaitu menyempurnakan akhlak manusia dan peradaban dari generasi ke generasi sepanjang sejarah manusia hingga akhir zaman.

Sesungguhnya, anak anak kita adalah karunia dan karya terindah yang akan menyelamatkan dan membanggakan kita di hadapan Allah swt dan para Nabi ketika hari akhir nanti.

Salam Pendidikan Peradaban

#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
#‎pendidikanberbasispotensi

_____________________________________

Renungan Pendidikan #25

Hal yang sulit didapat bahkan tidak pernah didapat dari sistem pendidikan yang tidak berbasis kepada potensi fitrah dan peradaban adalah kedewasaan. Menjadi dewasa atau matang (mature) tidak pernah menjadi opsi utama dalam proses maupun hasilnya.

Lihatlah begitu banyak kita saksikan orang orang dengan jiwa, fikiran, perasaan dan sikap “kekanak kanakan” yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa. Sebagian besarnya bahkan menyandang posisi sosial yang penting, yang menentukan nasib dan hajat begitu banyak orang.

Semuanya diawali oleh pendidikan sejak masa balita. Lihatlah para balita kita, mereka tidak pernah terpuaskan egonya, tidak tuntas perkembangan senso motorik dan tidak terpenuhi tumbuhkembang imaji imajinya. Mereka diperkosa haknya untuk utuh tumbuh fitrahnya pada tahap usianya demi obsesi kecerdasan, calistung dan persiapan masuk sekolah dasar.

Anak anak pada tahap 0-6 tahun yang tidak terpuaskan egonya, tidak tuntas senso motoriknya, tidak selesai bahasa ibunya, tidak berkembang imajinya, maka pada tahap usia selanjutnya akan tumbuh menjadi pribadi yang terhambat mengkonstruksi konsep dirinya, membenci proses dan belajar, bermasalah pada ekpresi perasaan dan gagasan serta nalarnya dstnya.

Kemudian, masa sekolah dasar. Anak kita, umumnya tidak utuh menjadi dirinya pada tahap usia dasar, karena mereka digegas untuk persiapan masuk sekolah menengah. Lihatlah anak anak sekolah dasar, mereka tidak terpuaskan pengenalan aspek sosialnya, tidak terpuaskan aktifitas, wawasan dan gagasannya, tidak berkembang mental pembelajar dan nalarnya. Mereka diperkosa hak tumbuh kembang fitrahnya demi alasan obsesi kecerdasan dan persiapan masuk sekolah menengah.

Anak anak pada tahap 7 sampai 10 tahun, yang tidak terpuaskan mengenal nilai sosial, minim aktifitas wawasan gagasan, pendek nalarnya maka pada tahap usia selanjutnya akan sulit memiliki keterampilan sosial dan tanggungjawab moral, galau dan krisis kepercayaan diri karena sulit mengenal siapa dirinya, memiliki nalar dan persepsi yang buruk terhadap dirinya, Tuhannya, alamnya dan masyarakatnya.

Kemudian, masa sekolah menengah. Mereka lagi lagi gagal terpuaskan untuk menjadi makhluk sosial dewasa yang eksis, mereka terus dianggap bocah. Satu satunya penghargaan adalah nilai rapot yang bagus dan harus terus menerima status menjadi anak kecil. Seluruh energi dipersiapkan untuk masuk perguruan tinggi bergengs sebagai obsesi walau salah jurusan.

Maka pemuda2 kita tumbuh menjadi makhluk dewasa yang terisolir dalam masyarakat, mereka berjamaah dalam geng dan “anak nongkrong” yang menjauh dari realitas sosial apalagi tanggungjawab sosial. Mereka memiliki kecerdasan dan keterampilan bersosial yang rendah, mudah terbakar emosi, menumpuk dendam dan kebencian sosial. Di sisi lain sibuk mencari eksistensi diri yang hilang lalu berwujud pd perilaku menyimpang.

Lalu tiba tiba mereka bergelar S1, S2 dan S3. Lalu tiba tiba sebagian ada yang menjadi elite birokrat baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Lalu, sebagian lagi menjadi elite teknokrat, sebagian lagi masuk dalam kelas kelas elite konglomerat. Sebagian lagi tersebar dalam beragam posisi dan profesi di masyarakat.

Lalu, jiwa jiwa anak2 yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa ini, tiba tiba memegang begitu banyak posisi dengan amanah besar yang menentukan nasib orang banyak.

Ketidakdewasaan mereka membawa mereka pada parade dan panggung dunia anak anak yang tidak utuh menjadi dirinya, tidak mengenal utuh Tuhannya, tidak pernah tuntas mengenal realitas dan tanggungjawab sosialnya, tidak menyadari keberadaan perannya di semesta, tidak pernah tahu jelas peran peradabannya.

Amanah amanah besar peradaban itu kemudian bagai “harta karun” di tangan “anak anak” bertubuh dewasa yang tidak pernah dewasa. Amanah itu menjadi bahan jarahan dan kerakusan akibat ego yang gagal dipenuhi ketika balita dan masa aqilbaligh. Dan itu juga akibat tanggungjawab sosial yang gagal dibentuk ketika usia dasar dan menengah.

Amanah amanah besar yang menentukan begitu banyak nasib ummat, kemudian hanya menjadi mainan dan permainan semata bagi imaji imaji liar akibat tidak tuntasnya imaji positif ketika balita dan tidak pungkasnya nalar serta tidak munculnya sensitifitas sosial ketika usia dasar dan menengah. Layaknya anak kecil bengal mereka saling serang, saling menjatuhkan, saling menyungkurkan satu sama lain, dstnya.

Maka kehancuran tinggal menghitung hari bahkan sudah terjadi jauh sebelumnya. Maka penjajahan peradaban atas bangsa ini adalah keniscayaan.

Mari kita konstruksikan pendidikan yang sesuai sunnatullah, sesuai fitrah agar fitrah anak anak kita tumbuh utuh sempurna pada tiap tahapannya. Agar lahir generasi aqil baligh, insan kamil yang membawa manfaat, maslahat dan menebar rahmat. Agar lahir peradaban dengan peran peran peradaban yang berakhlak mulia.

Sesungguhnya, itulah misi sesungguhnya keberadaan kita di muka bumi.

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasispotensi
#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

______________________________________

Renungan Pendidikan #26

Pernikahan adalah peristiwa besar peradaban. Ketahuilah bahwa “perjanjian” pernikahan setara dengan perjanjian Allah kepada para pemimpin peradaban sekelas Nabi dan juga setara dengan perjanjian Allah kepada komunal peradaban sekelas bangsa Israil yang melahirkan Nabi Nabi.

Al-Quran menyebut pernikahan sebagai Mitsaqon Gholidzo (Perjanjian yang sangat kuat). Mitsaqon Gholidzo dalam al-qur’an hanya disebutkan 3 kali yaitu pada saat Allah mengangkat Bukit Thursina ketika mengadakan perjanjian dengan Bani Israil (Q.S. 4:154), pada saat Allah mengambil perjanjian dengan para rasul ulul azmi (Q.S. 33:7-8), dan pada ikatan pernikahan (Q.S. 4:21).

Perhatikan bahwa selain ikatan pernikahan, dua ikatan lainnya adalah terkait dengan peristiwa besar peradaban manusia. Lalu mengapa pernikahan begitu penting sehingga perjanjiannya disetarakan dengan peristiwa peradaban yang begitu fenomenal dan menentukan?

Sepanjang sejarah, peran penting peradaban kenabian adalah mendidik generasi peradaban. Pekerjaan mendidik generasi adalah pekerjaan para Nabi.

Sepanjang sejarah bangsa bangsa, peran penting komunal sebuah bangsa atau komunitas dalam peradaban adalah juga mendidik generasi peradaban. Tidak ada bangsa yang memiliki peran peradabannya tanpa pendidikan peradaban generasinya.

Maka begitupulalah peran di dalam sebuah lembaga pernikahan, peran pentingnya adalah juga peran mendidik generasi peradaban. Runtuhnya banyak lembaga pernikahan karena di dalamnya tidak lagi tersisa peran mendidik anak2 nya.

Ketika banyak keluarga menyerahkan pendidikan anak anaknya kepada lembaga di luar rumah maka sesungguhnya keluarga itu telah kehilangan peran pendidikan peradabannya. Lagipula apa guna kita menikah bila melalaikan peran pendidikan di dalam keluarga kita.

Sesungguhnya peradaban dimulai dari sebuah lembaga terkecil peradaban bernama keluarga atau rumah dimana di dalamnya ada pendidikan generasi peradaban. Semua unsur peradaban dalam skala kecil dan miniatur tersedia di dalam sebuah lembaga pernikahan.

Lihatlah, dalam lembaga pernikahan yang bernama keluarga atau rumah tangga, ada sosok pemimpin peradaban, ada sosok penumbuh dan penjaga peradaban, ada sosok yang dipimpin dan yang ditumbuhkan, ada infrastruktur berupa sarana dan perlengkapan pendukung, ada perasaan cinta yang mendalam tulus, ada kebutuhan saling menasehati dan kebersamaan, dan ada sistem nilai kehidupan yang diimani.

Sistem nilai kehidupan inilah yang utama, yang diyakini bersama sehingga melingkupi semua aktifitas dan perjalanan maupun tujuannya.

Maka menjadi bisa diterima akal dan hati mengapa pernikahan memerlukan keyakinan dari sistem nilai yang sama ketika memulainya. Tidak hanya Ikatan cinta dan ikatan iman namun juga ikatan misi dan peran peradaban yaitu mendidik generasi peradaban.

Maka sesungguhnya rumah rumah kita adalah miniatur peradaban dimana sebuah peradaban yang indah dan cemerlang dimulai dikonstruksikan dan dimuliakan dari sini. Proses mengkonstruksi dan memuliakan itulah yang kita namakan pendidikan.

Sungguh suatu tugas dan peran yang teramat besar dan mulia, perjanjian yang agung namun sederhana. Besar dan mulia karena terkait peran mendidik generasi peradaban yang akan melanjutkan misi risalah kenabian dan kepemimpinan orang2 yg bertaqwa.

Sederhana karena semua potensi fitrah baik fitrah personal maupun fitrah komunal telah Allah sediakan pada diri kita, anak anak kita, alam sekitarnya dan masyarakatnya, serta sistem nilai kehidupan.

Maka optimislah, karena setiap kita yang berada dalam pernikahan, adalah kita yang sedang dalam perjanjian yang agung dengan Allah swt untuk menjalankan peran keluarga dalam peradaban, yaitu mendidik generasi peradaban.
Maka jangan pernah khawatir, setiap peran peradaban adalah peran taqwa, dan tentu saja dibarengi jaminan rezki dan semua sarananya serta jalan keluar dari segala masalahnya, yaitu mereka yang menjalani peran2 peradabannya, termasuk peran mendidik generasi peradaban.

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasispotensi
#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

__________________________________________

Renungan Pendidikan #27

Siapa sesungguhnya guru yang kita percaya dan pantas mendidik anak anak kita?
Mari kita pilah. Sebagian guru, mungkin adalah guru pemula, yaitu guru yang masih disibukkan oleh dirinya.
Sebagian lagi adalah guru biasa, yang sehari hari mengajar apa adanya, sulit disebut professional walau mungkin ikhlash.

Sebagian yang lain mungkin guru professional, yang merasa berpengalaman dan pasang harga, namun profesinya mungkin bukan panggilan hidupnya.

Sebagian dari guru professional adalah guru ikhlash, mungkin bisa saja ada yang tidak berbakat, yaitu mereka yang tidak mempermaslahkan bayaran atau manfaat profesinya, namun tidak memiliki sifat sifat sebagai guru.

Sebagian dari guru ikhlash ada yang berbakat, yaitu mereka yang menjadikan peran guru sebagai panggilan hidupnya, tulus dan penuh cinta. Professional namun mereka tidak mempermasalahkan bayaran, mereka sudah selesai dengan dirinya, mereka sibuk berkarya. Ini role model yang baik.

Sebagian dari yang ikhlash dan berbakat ada yang menjadi guru mujahid, yaitu yang sungguh2 berjuang mendidik dan memberdayakan komunitas. Keteladanannya tidak diragukan.

Sebagian dari yang ikhlash dan berbakat, ada yang menjadi mujadid dan mujtahid, yaitu guru mujahid yang melahirkan gagasan gagasan pendidikan baru yang genuine, menggali dari sumber Kitabnya, lalu membangun ruh peradaban komunitas baru di atasnya.

Lalu siapakah diantara mereka yang layak kita pilih untuk anak anak kita? Simpan jawaban anda sekarang.
Sekarang lihatlah realitanya, pemerintah selalu menyalahkan kualitas guru yang rendah, yang menjadi penyebab rendahnya mutu pendidikan, padahal pemerintah yang membangun sistem persekolahan dan keguruan.

Lihatlah para pengamat, para peneliti, bahkan aktifis guru sendiri seolah sepakat mengaminkan jebloknya kualitas bahkan mentalitas guru. Mereka berlomba mengusulkan peningkatan kompetensi guru, walau sebenarnya juga tidak yakin perubahannya. Kompetensi bukan cuma skill dan knowledge bukan?

Semua kekacauan ini, akar masalahnya adalah formalitas pemusatan persekolahan, dimana guru hanya menjadi robot2 kurikulum pusat, kaki tangan birokrat, yang kehilangan kesejatiannya. Guru dan siswa adalah korban sistem termasuk para orangtuanya. Semua peran kehilangan kesejatiannya.

Kehilangan kesejatian berarti kehilangan harga diri, kehormatan dan kreatifitas termasuk rasa malu.

Dahulu kala, sebelum era revolusi industri, guru guru adalah senyatanya sosok yg keteladanannya dinilai dan yg dihormati, mereka dipilih oleh komunitas krn rekam jejaknya dan keilmuannya yg memang relevan bagi kebutuhan warga komunitas dan anak2nya terkait pendidikan dan pemberdayaan.

Warga bergotong royong bahu membahu memberi ganti atas waktu mencari nafkah bagi guru2 yg terpakai utk mendidik anak2 mereka dan memberdayakan warga.

Kini komunitas tdk pernah diajak bicara, tiba2 di desa2 dan dikampung2 berdiri sekolah, guru2nya didatangkan entah dari mana, pelajarannya tdk nyambung dengan realita desa dan kampung, warga dicekoki pandangan bhw kalau tdk bersekolah di sekolah negara maka jadi kampungan, kurang kerjaan, kurang ajar dan “gak makan sekolahan.”

Guru2 sekarang tdk lagi sungguh2 dihormati, kecuali sopan santun belaka. Keilmuan mereka dianggap dagangan yg sdh dibarter dengan gaji yg dibayar dari pajak.

Guru2pun merasa tdk perlu mendidik, apalagi terfikir memberdayakan warga, mereka umumnya hanya menghabiskan bahan ajar lalu menunggu gajian. Beberapa ada yg ikhlash namun maaf, pasrah bongkokan. Beberapa lainnya susah ikhlash, baik krn merasa terzhalimi atau menikmati mengambil kesempatan dalam kerusuhan.

Di mata orangtua dan siswa bahkan masyarakat, guru sering jadi sosok yg diolok2, dianggap pegawai rendahan yang menjadi guru krn terpaksa. Walau kini gaji guru sdh lumayan, sosok guru tetaplah sosok petugas birokrat atau pekerja gajian yg ditugasi menghabiskan kurikulum dengan tupoksi yang standar.

Akhirnya gurupun kebanyakan menstigma dirinya sbg sekadar tukang mengajar saja.
Nah, sekarang keluarkan jawaban kita yang tadi di atas. Kita pasti segera tahu siapa guru peradaban terbaik untuk anak anak kita dan generasi masa depan Peradaban.

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasispotensi
#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

____________________________________________

Renungan Pendidikan #28

Ada sekolah negara, yang misinya untuk kepentingan negara. Ada sekolah komunitas yang misinya untuk kepentingan komunitas. Ada sekolah rumah, yang misinya merumahkan sekolah dan mensekolahkan rumah.
Ada sekolah manusia, yang misinya memanusiakan manusia. Ada sekolah alam, yang misinya meng”alam”i alam dan menghijaukan alam. Ada sekolah kehidupan yang misinya membekali keahlian hidup dan kehidupan sesuai zaman.

Ada sekolah karakter, yang misinya membaguskan personal karakter dan komunal karakter kolektif atau budaya. Ada sekolah Islam, yang misinya mengIslamkan orang Islam.
Ada sekolah pedagogi kritis, yang misinya memberi solusi bagi realitas sosial secara kritis. Ada sekolah keunggulan lokal, yang misinya menghidupkan dan mengembangkan keunggulan ekonomi lokal, misalnya kerajinan, pertanian dsbnya.

Ada sekolah pembebasan, yang membebaskan anak anak untuk menjadi dirinya. Ada sekolah penjara dan pemaksaan, yang memaksa anak anak untuk menjadi seperti yang sekolah mau.

Ada sekolah bakat yang fokus pada bakat. Ada sekolah kecerdasan yang fokus pd kecerdasan. Ada sekolah akademik yang fokus akademik. Ada sekolah agama yang berharap mampu mencetak para ulama. Ada sekolah ahli alQuran yang ingin melahirkan sebanyak banyak hufadz.

Ada juga sekolah gado gado memadukan tanpa tahu konsepnya masing masing. Ada juga sekolah yang merupakan hibrida dan kombinasi dari dua atau lebih model sekolah sekolah di atas.
Semuanya mengklaim yang terbaik, yang paling dekat dengan kebenaran. Lalu mana sesungguhnya sekolah yang terbaik untuk anak anak kita??

Yang jelas tidak ada satu sekolah pun yang cocok untuk semua orang. Satu satunya sekolah yang cocok adalah sekolah yang menumbuhkan semua potensi fitrah anak anak kita.

Yang jelas tidak boleh ada sebuah lembaga pendidikan didirikan di luar kepentingan menegakkan peradaban dan di luar misi penciptaan atau keberadaan manusia di muka bumi.

Yang jelas tidak boleh ada sebuah lembaga pendidikan yang menyeragamkan semua anak atau mengabaikan satu potensi fitrah pun, misalnya hanya memanusiakan manusia saja, hanya mencerdaskan manusia bukan kehidupan dstnya.

Mari kita lihat lebih komprehensif, mari pandang pendidikan sebagai bagian dari landsekap peradaban, yaitu dimensi yang melakukan transformasi potensi fitrah peradaban personal dan komunal kepada peran personal peradaban (rahmatan lil alamin, bashiro wa naziro) dan peran komunal peradaban (ummatan wasathon, khoiru ummah).

Pendidikan peradaban adalah pendidikan pada generasi peradaban yang membangkitkan fitrah2 peradaban menjadi peran peran peradaban baik personal dan komunal. Peran peran peradaan yang penuh rahmat dan manfaat inilah yang merupakan indikator sukses lembaga pendidikan, inilah indikator terbaik lembaga pendidikan sepanjang zaman.

Pendidikan peradaban bukanlah pendidikan yang melahirkan budak budak peradaban, bukanlah pendidikan yang menternakkan dan mempabrikkan anak anak kita.

Karenanya, dalam pandangan peradaban, lembaga pendidikan haruslah lembaga yang meyakini dan mensyukuri adanya semua potensi fitrah personal dan fitrah komunal.

Bukan hanya menumbuhkan sebagian fitrah saja, tetapi semua potensi fitrah lalu membangkitkan dan menumbuh-sempurnakannya sehingga menjadi cemerlanglah peradaban dan tuntaslah misi penciptaan dan peran2 setiap manusia di muka bumi termasuk anak anak kita.

Lembaga pendidikan sejatinya adalah taman taman peradaban yang harus mampu menumbuh-sempurnakan semua benih potensi fitrah personal lalu menginterintegrasikannya dengan potensi fitrah komunal serta melingkupinya dengan sistem kehidupan yang diyakininya sehingga melahirkan pohon pohon, bunga bunga berupa peran peran peradaban dengan semulia mulia akhlak.

Mari kita jadikan rumah rumah kita, jamaah jamaah kita, komunitas komunitas kita, sebagai taman taman peradaban, sebagai lembaga pendidikan sejati terbaik di muka bumi untuk melahirkan generasi peradaban terbaik dengan peran peran terbaik, pada peradaban terbaik.

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasispotensi
#‎pendidikanberbsisfitrah dan akhlak

_____________________________________________

Renungan Pendidikan #29

Masa lalu pendidikan para orangtua jelas tidak dipungkiri banyak berpengaruh pada cara berfikir, cara merasa dan cara bertindak serta cara bersikap dalam mendidik anak anaknya. Ada siklus kebaikan dan ada siklus kezhaliman dalam mendidik anak yang berlangsung dari generasi ke generasi.

Dalam sebuah keluarga besar bangsawan, dijumpai bahwa generasi sang cucu sering mensetrap (menghukum) adiknya yang lebih kecil hanya karena tidak patuh pada kakaknya.

Sang kakak kadang menghukumnya dengan mengikat adiknya di tiang jemuran seharian atau memasukkan ke kamar mandi berjam-jam atau memukul sang adik. Dalam keluarga mereka, begitulah disiplin dan ketaatan ditegakkan.

Usut punya usut ternyata ayahnya dulu diperlakukan demikian oleh ayahnya lagi atau kakeknya. Usut punya usut, termyata dulu kakeknya juga diperlakukan demikian oleh gurunya di sekolah kolonial Belanda.

Kembali kepada cerita adiknya sang cucu, karena tidak memiliki lagi sasaran vertikal ke bawah maka dia sering mengikat kucing atau hewan peliharaan di tiang jemuran atau dimasukkan ke kamar mandi atau dipukul jika tidak patuh.

Jelas hewan peliharaan tidak punya sasaran lagi vertikal ke bawah, mereka stres. Dan setiap kali stres hewan tersebut akan membuat kekacauan di rumah. Dan setiap kali sang ayah melihat kekacauan di rumah, maka menjadi alasan sang ayah untuk mengikat anaknya di tiang jemuran. Inilah siklus kezhaliman.

Kembali kepada kakeknya, ternyata ayah sang kakek atau buyutnya mendidiknya dengan cara yang jauh berbeda. Sang buyut hanya mementingkan akhlak dan kemandirian hidup. Persekolahan kolonialah yang telah mencerabut sang kakek dari pendidikan sejati di keluarganya, ketika masih anak anak.

Tanpa terasa sudah tiga generasi yang tercekoki oleh sebuah model pendidikan yang sama, lahirlah generasi dengan cara pandang yang sama, cara berfikir dan cara merasa serta bersikap yang sama dan pastinya hukuman yang sama. Apakah akan dilanjutkan?

Berapa banyak orangtua, guru, pendidik yang tidak mau merubah mindset nya tentang pendidikan yang sejati. Mereka susah “move on” , susah hijrah baik hijrah pemikiran, hijrah mentalitas, hijrah pensikapan dan hijrah tindakan.

Berapa banyak keluarga yang mendidik anak anaknya sesuai profesi kakeknya atau bapaknya. Keluarga militer cenderung mendidik anak2nya dengan gaya disiplin militer, maka anak anaknya pun bergaya militer. Begitupula keluarga dokter, keluarga guru bahkan keluarga pedagang.

Ini obsesi namanya, padahal mendidik adalah menumbuhkan fitrah bukan mematikannya dan bukan pula mencetak seperti profesi buyut keluarganya.

Para orangtua, heran dan mengeluhkan perilaku anak anaknya bahkan pemimpinnya, mereka mengeluhkan hasil pendidikannya itu yang nir-akhlak dan nir-peran atas bakat, tetapi terus mengulangi sistemnya, tanpa mau mengembalikan kepada kesejatian pendidikannya.

Maka jika ingin peradaban dan destiny negeri ini membaik, maka lahirkan generasi peradaban terbaik dengan pendidikan sejati, segera beristighfarlah, berlepas dirilah, putuslah rantai siklus kezhaliman ini.
Kembalikan semua kepada kesejatian misi dan perannya.

Kembalikan cara berfikir kita bahwa kemuliaan dan kehebatan anak anak kita bukanlah dengan menguasai dan berkuasa atas segalanya, tetapi adalah apabila fitrah2 anak2 kita berhasil ditumbuhkan dengan paripurna, sehingga menebar rahmat dan manfaat dengan semulia mulia akhlak.

Kembalikan cara merasa kita bahwa kemuliaan dan kehebatan anak anak kita, bukanlah merasa paling hebat segalanya, namun adalah apabila mereka dididk dengan ketulusan dan kecintaan yang penuh sehingga bangkit kesadaran pada fitrah iman, fitrah bakat, fitrah belajar dan fitrah perkembangannya menuju peran peradabannya.

Kembalikan cara bertindak kita bahwa kemuliaan dan kehebatan anak anak kita bukanlah dengan menjejalkan sebanyak banyak keterampilan dan pengetahuan lalu sekeras kerasnya melecut dalam persaingan, namun adalah dengan menemani dan memberi ruang kesempatan yang luas dan nyaman bagi anak anak kita sehingga membangkitkan dan menumbuhkan potensi fitrah2 baiknya,

agar potensi fitrah keimanan mereka bertemu dengan sistem kehidupan dan kearifan sehingga mewujud menjadi akhlak mulia,
agar potensi fitrah bakat mereka bertemu dengan potensi fitrah kehidupan dan zaman sehingga mewujud menjadi peran spesifik khalifah di muka bumi,
agar potensi fitrah belajar mereka bertemu dengan potensi fitrah alam sehingga mewujud menjadi karya inovatif yang membumi.

Mohonkanlah kepada Zat Yang Maha Rahman, agar kita mampu mewujudkannya bersama keluarga dan komunitas secara berjamaah.

Salam Pendidikan Peradaban

#‎pendidikanberbasispotensi
#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

—————————————————————-

Renungan Pendidikan #30

Tahun 1980an, dunia demam “Genius Baby”, pasalnya dunia digemparkan dengan sebuah asumsi yang nampak keren dan kompetitif, padahal belum bisa dibenarkan secara ilmiah, yaitu adanya Golden Age, masa masa emas di usia lima tahun pertama kehidupan manusia.

Maka berbondong2lah para orangtua di dunia, termasuk kaum Muslimin mengaminkan dengan menggegas bayinya. Buku buku, mainan mainan bayi yang dianggap menggenjot kecerdasan otak, laku keras di pasaran, seolah tidak mau tertinggal dalam pacuan mencetak bayi jenius.

Alat alat penggegas seperti Flashcard, Puzzle, buku Glen Doman semisal “mengajarkan bayi anda membaca”, “mengajarkan bayi anda matematika” laku keras di pasaran, termasuk program dan workshop orangtua untuk melahirkan bayi jenius.

Asumsi tanpa sandaran ilmiah ini, dan tanpa landasan syariah ini begitu diimani, padahal disandarkan pada pandangan Darwinist Materialist yang memberhalakan keunggulan ras manusia lewat materi otak, bahwa ada kaitan antara volume otak dan kecerdasan.

Asumsi ini dengan gegabah berani menyatakan bahwa selama masa lima tahun pertama otak bayi dipenuhi oleh sambungan sambungan atau synapsis yang apabila tidak “segera diisi” atau “dijejali” maka akan meluruh terbuang percuma.

Tak pelak lagi para orangtua di barat di timur termasuk kebanyakan kaum Muslimin mengekor sampai masuk ke lubang landak sekalipun.

Tahun 90an, penelitian penelitian terbaru membuktikan bahwa Sinapsis atau sambungan syaraf yang diduga meluruh dan tidak tumbuh selamanya lagi setelah usia lima tahun, ternyata tumbuh kembali pada usia setelah lima tahun. Meluruh kembali dan tumbuh kembali pada tiap tahap.

Ditemukan juga anak2 yang dipaksa menghafal nama2 ratusan pesawat dan gambar2nya ketika berusia 8 bulan, ternyata sama sekali tidak mengingatnya ketika berusia 8 tahun. Anak yang sejak bayi usia 8 bulan diajarkan membaca, tidak banyak bedanya dengan anak anak yang baru belajar membaca di usia 8 tahun.

Sesungguhnya dalam Islam, setiap tahap pertumbuhan manusia adalah masa emas semuanya, sepanjang benar dan tepat sesuai dengan tahap usianya itu. Kita saksikan para Sahabat Nabi bahkan Nabi SAW sendiri cemerlang pada tiap tahap usianya.

Golden Age pada usia 0-6 tahun tentu berbeda dengan golden age pada usia 7-14 tahun, juga berbeda pada tahap tahap usia selanjutnya. Bahkan Rasulullah saw juga menemui Golden Age pada tiap tahap usia bahkan ketika berusia di atas 40 tahun, golden nya berkembang eksponen sampai akhir hayatnya.

Pada usia 0-6, golden age bukan pada aspek kognitif, tetapi pada aspek senso-motorik, aspek muscle memory, aspek imaji, aspek belajar di alam, aspek bahasa ibu. Pada usia ini kecerdasan dibentuk bukan dari leher ke atas, tetapi leher ke bawah dengan memperbanyak aktifitas dan imaji2 positif.

Pada usia 7-10 golden age juga hanya sedikit kognitif, lebih banyak aspek attitude dan sosial. Personality dan Kognitif mengalami masa emas di usia 11 tahun sampai 14 tahun dstnya.

Bila tidak tepat cara dan tujuan sesuai tahapnya, malah akan beresiko kehilangan emasnya sama sekali. Masih ingat kisah angsa bertelur emas bukan? Ketergesaan akan berakibat terpendam dan hilangya fitrah anak anak kita.

Ketahuilah, sepanjang hidup dan kehidupan kita di muka bumi adalah Golden Age, masa masa emas, apabila kita mampu menjaga dan membangitkan fitrah sesuai tahap perkembangannya lalu berujung kepada menebar rahmat dan manfaat . Mustahil Allah swt membatasi golden age hanya sebatas kecerdasan otak di usia 0 – 5 tahun.

Mari kita rancang pendidikan berbasis fitrah dan akhlak sesuai tahapan usia anak anak kita secara sungguh sungguh dan optimis, agar cahaya emasnya berpendar pendar indah sampai seluruh penjuru bumi.

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasispotensi
#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

2 pemikiran pada “Kumpulan Renungan Pendidikan #1 – #30 (Pendidikan Berbasis Fitrah) oleh Ust Harry Santosa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s