OBROLAN CINTA ANAK BARU GEDE #NoValentineDayEdition

Anggita No Khalwad Before AkadBeberapa hari yang lalu, saat sedang menunggu iqomah shalat maghrib di masjid, saya melihat santriwati yang sedang membolak-balik buku tulisnya. Saya dapati ada tulisan tentang cinta (jomblo). Dari wajahnya sepertinya ia gadis yang cukup hanif (lugu, pendiam, rajin, dsb).

Dulu, ketika masih di awal-awal periode pelajaran tahun 2014-2015, saya masih biasa mendengar siswa akhwat saya di SMP membicarakan tentang “sahabat lelaki” ketika mereka di SD. Sahabat dalam artian bukan pacar, tapi semacam teman spesial sehingga teman-temannya masih sering “menjodoh-jodohkan” mereka dan mengingat-ingat kembali kedekatan mereka dulu ketika masih di SD, misalnya dengan bersenda gerau mengatakan “cieh, kangen ya sama si anu?” atau “si anu lagi sakit loh, jangan sedih yeh”. Banyak lagi kejadian lain yang mengindikasikan mereka masih fokus “ngurusin” cinta, seperti membahas siapa cowok yang mereka suka di sekolah. Tapi alhamdulillah karena proses pendekatan dan bimbingan, sekarang mereka tidak lagi seperti itu (semoga istiqomah).

Begitulah, obrolan anak yang baru menginjak umur belasan tahun saat ini kebanyakan memang seperti itu. Kita bisa buktikan dengan melihat status-status anak SMP atau anak SD kelas 5 dan 6. Rata-rata bertemakan ketertarikan terhadap lawan jenis. Masalah buat kita? Ya, masalah.

Penggabungan siswa lelaki dan perempuan dalam satu ruangan kelas terutama kelas 5 dan 6 SD  menjadi salah satu faktor yang menyuburkan fenomena ini. Karena intensitas pertemuan mereka dalam satu ruangan dapat menumbuhkan “CINTA LOKASI”.  Saya yakin meskipun dari zahirnya mereka tidak berpacaran (tidak pernah terlihat berdua-duaan, dsb), ketika mereka ada hubungan diam-diam dengan lawan jenis, misal SMS-an, chatting di facebook, ketemuan di suatu tempat, mereka sangat jarang menceritakan itu kepada orangtua, apalagi guru. Saya berpendapat ketidaktahuan kita tentang hal itu atau menganggap remah hubungan yang tidak terdeteksi tersebut bisa berujung “masalah”. Lalu harus bagaimana?

Sebagai guru, saya selalu berupaya membangun kedekatan dengan siswa dengan banyak cara. Istilah dalam ilmu NLP disebut building rapport. Patut diketahui bahwa building rapport adalah proses awal yang biasa dilakukan oleh orang yang berupaya menghipnosis orang. Proses pedekatan ini tentu berbahaya jika dilakukan oleh orang yang bertujuan jahat. Itulah mengapa saya juga menjelaskan hal ini kepada siswa saya terutama siswa perempuan agar mereka tidak mudah “tertipu” (terhipsnosis) dengan perhatian lelaki. Karena kalau sudah “klepek-klepek” dengan perhatian seorang lelaki, maka untuk menghilangkan perasaan itu susah. Itulah mengapa jika ada siswa kita yang sudah terlanjur pacaran atau terlanjur cinta mati susah untuk dinasihati. Love is blind. Makanya, jangan main-main cinta kalau belum waktunya.  Dan untuk pendidik, cegah jangan sampai itu terjadi dengan memberikan pemahaman, peringatan, dan perhatian yang tulus secara terus menerus.

Building rapport tentu bisa dimanfaatkan untuk tujuan baik (kita tentu tahu bahwa ilmu-ilmu NLP/hipnosis banyak digunakan untuk tujuan pendidikan misalnya membuat siswa nakal menjadi patuh kepada guru). Dalam hal ini, building rapport atau membangun kedekatan kita tujukan agar siswa lebih percaya kepada kita sehingga akan memudahkan kita dalam mengarahkan/menasihati mereka. Itu juga bertujuan agar mereka lebih terbuka sehingga informasi penting seperti fakta bahwa mereka sering sms-an dengan cowok bisa kita dapatkan. Ketika mereka mengakui hal itu tentu mereka sudah menyadari bahwa perbuatan itu keliru sehingga selanjutnya kita bisa memberikan nasihat tambahan agar pemahaman/komitmen mereka tentang interaksi dengan lawan jenis lebih kuat lagi.

Mungkin Anda bertanya-tanya, bagaimana sih saya membangun kedekatan dengan siswa. Untuk itu, saya tidak akan jelaskan di sini. Silakan Anda berkreasi bagaimana cara membangun kedekatan dengan peserta didik. Ada salah satu program bagus yang bisa diterapkan di sekolah, yakni program mentoring. Program ini semacam pengajian yang dilaksanakan satu kali perpekan. Siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok.

Siswa perempuan dan siswa lelaki dikelompokkan secara terpisah. Satu kelompok maksimal 12 orang. Satu kelompok dibimbing oleh satu orang pembina. Pembina perempuan untuk siswa perempuan , begitupun sebaliknya.  Pembina harus memastikan antara pembina dan binaan (siswa) serta antar siswa harus terbangun kedekatan dan kekeluargaannya.  Susunan acaranya setiap pekan bisa seperti ini: 1. Pembukaan 2. Tilawah bergilir 3. Tausyiah oleh siswa 4. Penyampaian nasihat/materi keagamaan oleh pembina 5. Curhat (berbagi berita suka dan duka) 6. Pengumuman 7. Penutup

Sekali-kali pembina bisa mengadakan acara khusus agar kekeluargaan antar peserta mentoring semakin terbangun, misalnya dengan jalan-jalan dan makan-makan.  Sesuaikan metode pendidikan kita dengan fitrah perkembangan mereka.

Semoga bermanfaat.

I’m Muslim. No Valentine Day.  J

2 pemikiran pada “OBROLAN CINTA ANAK BARU GEDE #NoValentineDayEdition

  1. hehehe..😀 sekarang dk lagi kok kak.. aamiin.. insyaAllah kami terutama aku dk bakalan lg berhubungan dg ikhwan .. walaupun susah ( krna sdh terbiasa sejk SD ) tp ak akn berusaha untk menjauh..😀 saling do’ain bee kak.. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s