Afwan, Tidak Sekufu! (Ketika Mereka Ingin Menikah)

Just MarriedCatatan ini hanya ingin menyadarkan kita untuk beranjak dari permasalahan teknis pernikahan, ke arah yang lebih substansial, misi besar yang dibawanya dan musuh besar yang dihadapinya. Tanggung jawab kita untuk menyelesaikan semua itu menjadi kemudahan. Jika perlu jadikan program bersama untuk membudayakan menikah mudah dan berkah. Hal yang secara teknis membutuhkan kerja keras karena berhadapan dengan budaya, pengkondisian keluarga (ibu, ayah, saudara, dll), kampanye materialistis media, dan egoisme diri sendiri.

Maunya yang Dokter

“Afwan ya mbak. Bukannya menolak. Tapi ana hanya  bisa melanjutkan proses kalau ikhwan itu seorang dokter.” Begitulah kata seorang akhwat kepada murabbiyahnya. Akhwat itu memang sedikir spesial. Wajahnya menarik, bersih dan manis. Setidaknya beberapa orang mengakui kalimat ini. Ditambah suara yang memikat setiap orang yang mendengarnya.

Ini jujur! Kalau ia meminta tolong kepada seorang ikhwan, niscaya ikhwan itu pasti membantu. Tak soal tugas apa itu, sampai-sampai tugas kuliah sekalipun dibantu, meski yang membantu bukan jurusan yang sama. Begitulah penuturan murabbiyahnya yang mencatat fakta itu.

“Menurut ana tugas dokter itu mulia, mbak. Jadi alangkah baiknya jika ana bisa membantunya.” Sekian kali akhwat tersebut menolak tawaran ikhwan yang datang, hanya karena alasan kemuliaan profesi dokter. Padahal diantara ikhwan yang sempat datang, ada profesi yang tak kalah mulia. Sebut saja, seorang guru di sebuah SD IT; karyawan grafis sebuah penerbitan Islam; seorang penulis; sampai seorang karyawan perusahaan listrik.

Beberapa waktu berselang. Akhwat ini mendapat berita yang menyesakkan dada. Teman satu halaqahnya menikah dengan seorang dokter. Padahal temannya itu sama sekali tidak mengharapkan seorang dokter seperti dia. Betapa teganya sang murabbiyah! Tawaran itu mengapa tidak diberikan kepadanya. Begitu ditanya Al Izzah, sang murabbiyah hanya menjawab, “Ya , ikhwan dokter itu tidak mau sama dia. Malah pilih temannya itu.” Akhwat itu mungkin lupa bahwa pernikahan adalah keputusan dua orang. Kasihan, punduk merindukkan dokter.

Ada 25 Juta? Silakan!

“Tukang cuci ana saja mengadakan pesta pernikahan anaknya sampai 10juta. Gimana ana?! Kalau ada 25 juta mungkin baru cukup.” Kalimat pertama.

Antum kayaknya konyol kalau cuma ada sepuluh juta tapi berani maju untuk nikah.” Ini kedua.

Antum jangan malas dong! Cari kerja sampingan.” Ketiga.

“Kayaknya antum pelit nih! Sekarang saja sikapnya begini. Bagaimana kalau sudah nikah, nanti antum pelit sama orangtua ana. Ini keempat.

“……” kelima. “…..” keenam.

Kalimat-kalimat itu bukan keluar dari orang yang berbeda. Juga bukan untuk orang yang berbeda pula. Tapi itu dari satu orang untuk satu orang. Seorang akhwat kepada ikhwan calonnya. Sang ikhwan hanya mampu sabar sampai kalimat keempat. Ia tidak ingat kalimat kelima dan keenam atau seterusnya. Akhirnya ikhwan itu memutuskan untuk tidak melanjutkan proses ke jenjang lebih lanjut. Ia takut diburu ambisi, bisa-bisa malah merampok  untuk nikah. Kan, jadi lucu!

Mau yang Mirip Dian Sastro

Seorang ikhwan mengaku kewalahan menghadapi teman baiknya (seorang ikhwan pula). Pasalnya, sudah sekian kali mencari calon akhwat untuk temannya itu tapi masih belum ada satupun yang diminati.

“Gimana nih, akh. Sudah duapuluh biodata masih juga tidak ada yang pas di hati antum.” Ujar ikhwan itu agak kesal.

“Sabar akhi. Ana masih ingin mencari terus sampai dapat yang ana mau.” Jawab temannya.

“Oke deh. Sekarang antum maunya yang kayak gimana?” ikhwan itu akhirnya pasrah.

Temannya tersenyum lebar sekali. Matanya menerawang membayangkan sesuatu. Lalu ia menatap ikhwan itu dengan pandangan yang tajam dan berkata,

“Ya, minimal mirip Dian Sastro-lah!”

Hah, tidak salah… minimal? Ngaca dulu dong!

Beruntung temannya tidak bicara demikian. Ia hanya menggelengkan kepala dan tertawa lepas mendengar permintaan temannya itu.

“’Eh, ketawa lagi. Ini serius akhi!” temannya memprotes.

Sang ikhwan malah keras tertawa melihat muka temannya tambah serius.

==================================

Apa hikmah yang bisa diambil dari kisah-kisah di atas?

Ikhwan dan akhwat fillah, marilah sama-sama kita luruskan niat dalam membangun rumah tangga. Karena bagi kita, bangunan rumah tangga bukanlah sekedar rumah tangga pada umumnya. Rumah tangga kita adalah rumah tangga dakwah. Dimana suami, istri, dan anak-anak kita akan berperan dalam dakwah. Perlu dicatat, kita menikah utuk dakwah. Tidak boleh setelah menikah malah surut ke belakang dari dakwah.

Jika ikhwan dan akhwat sekalian memilih calon yang memiliki komitmen dakwah dan pengorbanan dakwah yang baik. Insya Allah, keluarga yang terbangun demi keberhasilan dakwah di masa yang akan datang. Rumah tangga yang akan diwujudkan, mudah-mudahan penuh barokah.

“Pernikahan bukanlah perjalanan satu dua hari. Dia mengiringi sepanjang sisa hayat. Dan dampaknya jauh kedepan hingga menjadi tanggungan akhirat. Maka, pernikahan tidaklah layak dilakukan tanpa pertimbangan masak.”

Sumber: Majalah Al Izzah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s