Masa Kritis Menuju Aqil Baligh

Tahap pendidikan pre aqil baligh usia 8-10 tahun merupakan masa kritis dimana anak akan mengalami transisi dari masa egosentris di usia <7th ke kesadaran awal sebagai makhluk Tuhan dan makhluk sosial. Tahap ini merupakan tahap latihan dan pembiasaan dengan cara keteladanan dan membangun kesadaran. Metode pendidikan yang paling efektif pada tahap ini adalah experiental learning atauproject based learning atau biasa disebut menggali hikmah bersama peristiwa sehari-hari, dr sejarah, atau yg ada di alam semesta. Bagaimana dengan tahap selanjutnya? Pre aqil baligh usia 11-14th?

Pertanyaan ini dibahas pada diskusi di group Home Education berbasis Potensi dan Akhlak pada hari Rabu tanggal 26 November 2014 yang digawangi langsung oleh Subject Matter Expert (SME) tetap kami yaitu Bapak Harry Santosa (founder MLC sekaligus praktisi HE sejak 1994) dan Bunda Septi Peni Wulandani (founder IIP sekaligus praktisi HE sejak 1996).

Rasulullah Muhammad SAW, sejak usia 9 tahun telah menjalani pendidikan bersama paman dan keluarga besarnya. Dengan cara magang berdagang bahkan sampai ke Syams (Syiria). Namun mulai serius sejak usia 11 tahun. Nah jika rentang 8-10 tahun adalah masa tadribat (masa pelatihan menuju aqilbaligh) awal, maka 11-14 tahun masa tradibat advance. Kemandirian penuh diharapkan terjadi ketika usia 15-16 tahun. Ini yang kita sebut usia aqilbaligh. Namun latihan-latihan atau program menuju kesana mulai serius sejak usia 11-12 tahun. Maksudnya mulai serius dididik berbasis potensi dan karakternya.

Bila usia 8-10 tahun dikembangkan wawasan potensinya dan gagasannya, maka usia 11-14 tahun diwujudkan potensinya dan aksinya. Itulah mengapa sholat dan ibadah-ibadah ritual mesti tuntas di usia 10 tahun karena anak-anak memerlukan pijakan aqidah dan kenal diri sebelum mewujudkannya. Dalam sains perkembangan anak, usia 11 tahun adalah masa persiapan kedewasaan dan pelatihan potensi yang mulai kompleks secara teknis.

Pak Harry Santosa pernah diminta menjadi konsultan mendirikan sekolah sepakbola sebuah BUMN bidang sumber daya alam di Indonesia, ternyata para pelatih senior FIFA juga menganjurkan latihan teknis mulai usia 11 tahun dan melarang teknik yang rumit di usia di bawah 11 tahun.

Dari sini dapat kita ambil pelajaran, ternyata angka 7 dan 10 tahun adalah titik kritis dalam pendidikan pre aqilbaligh. Mengapa shalat diperintah di usia 7 dan boleh dipukul usia 10, itu semata-mata karena agar anak-anak kita lebih siap menghadapi masa-masa pelatihan yang mulai fokus dan cukup berat di usia 11 tahun.  Saya beri tanda kutip pada kata berat, karena jika berbasis potensi atau bakat dan minat serta tahapan yang benar maka akan dirasakan tidak berat oleh anak-anak calon pemuda. Bahkan menyenangkan dan antusias.

Bagi orang tua yang punya anak atau adik di usia 11 tahun, maka mulai terasa agak berbeda sikapnya dari sebelumnya. Sedikit suka melawan, membantah, tidak suka diatur, banyak merenung, malas melakukan pekerjaan rumahtangga dan lain-lain. Mengapa demikian? Hal ini karena mereka, anak-anak kita sudah hampir separuhnya menjadi orang dewasa. Bukankah orang dewasa tidak suka diatur-atur, diperintah-perintah, dianggap anak kecil? Kecuali, sesuatu yang menjadi minat dan bakatnya, sesuatu yang merupakan idea dan gagasannya, sesuatu yang berangkat dari panggilan jiwanya.

Performance Character seperti disiplin, tekun, kerja keras, tepat waktu, dan tuntas dapat dikembangkan dengan baik apabila berbasis minat, bakat, passion. Dapat pula disebut dengan berbasis potensi keunikan. Alam olahraga dan seni juga demikian, sangat penting bakat atau talent atau potensi seseorang. Jadi ayah bunda, memperbanyak wawasan pd usia 0-10 tahun, dengan membaca dan mengenal diri, membaca dan mengenal Tuhan, membaca alam dan masyarakat. Semua hal itu sebaiknya sudah dipenuhi di usia 0-10 tahun, karena pada usia 11-15 tahun anak-anak akan fokus pada tadribat lanjutan. Menuju kedewasaan atau aqil baligh, dimana kewajiban syariah akan setara dengan kedua orangtuanya. Wawasan dan gagasan berubah menjadi pendalaman potensi dan aksi.

Pada usia 11-14 tahun Rasulullah Muhammad SAW disebutkan bahwa masih magang namun telah memiliki tanggungjawab pada bisnis atau usaha sendiri serta terlibat dalam aktivitas sosial masyarakat dalam skala terbatas. Wawasannya selama menggembala kambing dan magang pada usia sebelumnya, berwujud pada pendalaman potensi dan aksi.

Perjalanan hidup Nabi dan Khazanah peradaban Islam sudah begitu banyak memberikan hikmah kepada kita. Sudah bertebaran perjalanan dan kisah hidup para pemuda belasan tahun yang telah punya peran peradaban signifikan sepanjang sejarah. Tugas kitalah mengembalikan model pendidikan sejati sebagaimana peradaban Islam dahulu.

  • Usamah bin Zaid 18 tahun memimpin pasukan yang anggotanya adalah para pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar untuk menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di masa itu.
  • Sa’d bin Abi Waqqash 17 tahun yang pertama kali melontarkan anak panah di jalan Allah. Termasuk dari enam orang ahlus syuro. Rasul Shallallahu’alahi wasallam bersabda tentangnya: “Ini adalah pamanku, ayo mana paman kalian”.
  • Al Arqam bin Abil Arqam 16 tahun menjadikan rumahnya sebagai markas dakwah Rasul Shallallahu’alahi wasallam selama 13 tahun berturut-turut.
  • Zubair bin Awwam 15 tahun yang pertama kali menghunuskan pedang di jalan Allah. Diakui oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai hawari-nya.
  • Zaid bin Tsabit 13 tahun sang penulis wahyu. Dalam 17 malam mampu menguasai bahasa Suryani sehingga menjadi penterjemah Rasul Shallallu’alalihi wasallam. Hafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi Al Qur’an.
  • Atab bin Usaid diangkat oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai gubernur Makkah pada umur 18 tahun.
  • Mu’adz bin Amr bin Jamuh 13 tahun dan Mu’awwidz bin ‘Afra 14 tahun membunuh Abu Jahal, jenderal kaum musyrikin, pada perang Badar.
  • Thalhah bin Ubaidullah 16 tahun adalah orang Arab yang paling mulia. Berbaiat untuk mati kepada Rasul Shallallahu’alaihi wasallam pada perang Uhud dan menjadikan dirinya sebagai tameng.
  • Muhammad Al Fatih 22 tahun menaklukkan Konstantinopel ibukota Byzantium pada saat para jenderal agung merasa putus asa.
  • Abdurrahman An Nashir 21 tahun. Pada masanya Andalusia mencapai puncak keemasannya. Dia mampu menganulir berbagai pertikaian dan membuat kebangkitan sains yang tiada duanya.
  • Muhammad Al Qasim 17 tahun menaklukkan India sebagai seorang jenderal agung pada masanya.

Melatih kemandirian anak dengan serius yang sesuai dengan potensi dan karakter anak dapat dijelaskan dengan framework sebagai berikut :

IMG-20141126-WA0011

  1. Awareness.
    Kenali potensi anak sejak usia 7 tahun. Lakukan Pengamatan atas potensi uniknya. Usia 10 tahun diharapkan sudah mulai ada yang konsisten. Caranya sederhana, amati aktivitas yang sebelumnya anak sangat semangat, ketika menjalaninya sangat energik dan sesudahnya sangat sehat dan bahagia. Selama beberapa bulan catat aktifitas-aktivitas tersebut, beri bobot lalu pilih 3 atau 4 yang paling atas. Abah Rama mensyaratkan agar anak-anak banyak aktifitas sehingga punya banyak wawasan dan gagasan. Pak Harry menganjurkan agar dimulai di usia 7-10 tahun, bersamaan dengan dimulainya perintah shalat. Batas penyadaran fitrah keimanan dan fitrah bakat ini sebaiknya pd usia 10 tahun. Performance Character, seperti kemandirian, ketekunan, disiplin, keuletan dan lain-lain bisa dibangun bersamaan. Tentunya aktivitas-aktivitas yang positif.
    Rasulullah SAW adalah guru yang sangat mengenali potensi sahabatnya satu persatu. Tidak semua sahabat mendapat penugasan yang sama, mereka mendapat tugas sesuai potensi keunikannya masing-masing. Umar bin Khattab, tidak pernah ditugaskan menjadi pangloma perang, karena beliau tempramental dan lebih cocok pada penugasan-penugasan strategis. Sahabat Usamah bin Zaid ra, Jafar b Abi Thalib ra, Khalid bin Walid ra, lebih cocok menjadi panglima perang karena sama-sama tegas seperti Umar bin Khattab ra, namun memiliki ketenangan yang tinggi serta penglihatan lapangan yang baik. Begitupula tugas kepada Huzaifah ra yang cepat bertindak dan cerdas, tugas delegasi kepada Mushab bin Umair ra, yang tampan dan bertutur indah dikiaskan dengan untaian mutiara yang keluar dari celah-celah giginya yang putih.
  2. Design.
    Ini yang disebut merancang perencanaan program kemandirian aqil baligh. Setelah menemukan potensi uniknya, maka orangtua dan anak bersama-sama mulai merancang program masa depan mereka sesuai potensinya. Bunda Septi membantu membuatkan VISIONING BOARD, yaitu membuat visualisasi mimpi di atas papan. Isinya gambar-gambar dan tulisan-tulisan penyemangat, yang menggambarkan cita-citanya. Pengalaman Pak Harry anak-anak, membuatkan portfolio tiap anak, isinya paparan bakat mereka, keunikan sejak bayi, penghargaan-penghargaan, karya mereka, hasil talent mapping dan perencanaan 5 tahun ke depan. Pilih the best of the best hasil karya anak atau kalau mau buatkan personal web nya. Kecil-kecil punya personal web kan keren. Kita bisa buat timeline interaktif berisi perjalanan hidup anak, dokumentasi foto, karya, pujian nenek, tanda kecakapan khusus pramuka, julukan baik dari teman. Ini sangat positif membangun konsep diri, anak percaya diri, fokus pada perjalanan dan seterusnya. Dalam portofolio anak tidak hanya menampilkan track record tetapi juga future plan, skill dan knowledge pendukung bakat, club-club yang sebaiknya diikuti, maestro-maestro yang harus “dikejar” dan murobby-murobby pembimbing akhlak yang diincar untuk homestay maksudnya.
  3. Network.
  4. Applied.

Minat dan bakat anak usia di bawah 10 tahun sudah pasti berubah-ubah, namun makin lama akan makin konsisten. Menurut pakar talent, bahwa potensi ada 2 yaitu yg terkait fisik atau disebut potensi bidang. Ini mudah dikenali melalui kelebihan fisik, misalnya bakat olahraga, memasak, menari, berkuda dan lain-lain. Yang kedua terkait potensi peran, ini terkait sifat-sifat produktif yang memang kadang-kadang memerlukan pendalaman lebih jauh dan menggunakan tools. Potensi anak adalah fitrah dan unik. Lima orang anak dalam satu rumah, satu rahim dstnya tidak akan pernah sama.

Kemandirian pd tahap 7-10 memang lebih kepada kemandirian dalam hal-hal kecakapan sehari-hari, seperti makan sendiri, mencuci piring sendiri, mencuci baju sendiri, membersihkan kamar dan lain-lain. Ini hanya memerlukan keteladanan dan kesadaran tanggungjawab bersama secara sosial di rumah.Lifeskill kerumahtanggaan tetap penting namun porsinya akan semakin berkurang ketika anak-anak semakin fokus dengan potensi bakat dan sosialnya.  Kecuali anak-anak yang punya potensi bersih-bersih, beres-beres, berkebun, mengatur rumah, perkayuan, mencuci, dan sebagainya.

Kemandirian pada tahap  11-14 tahun lebih melebar kepada hal-hal sosial dan pilihan minat. Anak-anak mulai memerlukan pengakuan eksistensi diri dan sosial. Anak-anak yang tidak mengenal dirinya dan Tuhannya dengan baik sampai usia 10 tahun, akan lebih berat untuk menjalani masa 11-14 tahun. Remaja galau, abg galau, depresi, mencari eksistensi dengan tawuran, geng, narkoba. Banyak terjadi hal ini karena tidak merasa memiliki eksistensi diri, anak tidak mengenal potensi dirinya dengan baik disamping aqidahnya yang lemah.

Kejujuran atau credibility dimulai ketika anak-anka dibiasakan dan disadarkan jujur pada dirinya dan pada Tuhannya. Orangtua juga semestinya jujur mengakui amanah dirinya dan keunikan anak-anaknya.Moral Character seperti kejujuran dibangun bersamaan dengan pengembangan potensi dibarengi keteladanan ortu dan komunitas sekitarnya. Tentu dimulai bertahap. Usia mulai rentan berbohong umumnya usia ketika anak mulai membuat pilihan atau dipaksa mematuhi hal yang tidak disukai. Pendidikan yang baik adalah membangkitkan kesadaran fitrah, misalnya jujur karena tidak ada manusia yang suka dibohongi, maka jangan berbohong.

Demikian review diskusi kami, semoga memberikan manfaat dan gambaran bagaimana kita harus memulai proses home education.

Salam HE,

Winda Maya Frestikawati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s