Konsep Memulai Home Education

Panduan bagi Home Education, sekali lagi adalah menjaga fitrah yang baik dengan cara menumbuhkan dan mengeluarkan fitrah-fitrah baik itu (inside out) yang Allah karuniakan kepada anak-anak kita. Diantara Fitrah itu adalah bahwa tiap anak yang lahir adalah pembelajar yang tangguh. Potensi fitrah belajar ini harus dibebaskan dan tidak boleh kaku dan dalam tekanan nilai. Sejak anak dalam kandungan sampai lahir pada galibnya sudah mengalami home education. Tugas HE itu sampai anak kita berusia aqil baligh. Kalau wanita ada special exception, yaitu sampai pindah wali alias menikah, walau kemandirian dan kedewasaan tetap harus disiapkan ketika berusia aqil baligh. Pertanyaannya, bagaimana kita memulai home education? Apa yang harus kita lakukan untuk memulainya?

startPertanyaan ini dibahas pada diskusi di group Home Education berbasis Potensi dan Akhlak Nasional pada hari Rabu tanggal 27 November 2014 yang digawangi langsung oleh Subject Matter Expert (SME) tetap kami yaitu Bapak Harry Santosa (founder MLC sekaligus praktisi HE sejak 1994) dan Bunda Septi Peni Wulandani (founder IIP sekaligus praktisi HE sejak 1996).

Pengantar awal diskusi disampaikan oleh Bapak Harry Santosa berikut :

Pendidikan #1
Sesungguhnya hanya kedua orangtualah yang paling kenal potensi keunikan anak-anaknya. Dari sanalah karakter-karakter baik dikembangkan dan disempurnakan dengan akhlak mulia. Kedua orangtuanya lah makhluk yang paling mencintai dengan tulus anak-anaknya. Orangtua sejati adalah mereka yang menginginkan kebahagiaan anak-anaknya lebih dari apapun di muka bumi.

Dunia persekolahan adalah dunia yang tidak pernah mengandung anak-anak kita, tidak pernah melahirkan anak-anak kita bahkan tidak pernah diberi amanah oleh Allah SWT sesaatpun juga, karena itu persekolahan bukanlah dunia yang sungguh-sungguh mampu mengenal dan mencintai anak-anak kita dengan tulus dan ikhlash.
Bukankah anak kita adalah alasan terbesar dan terpenting mengapa kita ada di muka bumi ini?

Merekalah sebagai amanah mendidik generasi peradaban bagi dunia yang lebih damai dan sebagai amanah yang akan
membanggakan Ummat Muhammad di yaumilqiyamah kelak. Membangun “home education” bukanlah pilihan tetapi kewajiban setiap orangtua, porsi kuantitas waktu dan kualitas perhatiannya mesti jauh lebih banyak bahkan meniadakan porsi persekolahan. Sayangnya banyak ortu yang menganggap kewajiban mendidik telah selesai ketika anak-anak berada sepenuh waktu di sekolah dan di lembaga2 kursus. Obrolan tentang pendidikan adalah obrolan seputar ranking, ijasah, prestasi-prestasi akademis dan tugas-tugas sekolah yang dibawa ke rumah, bukan tentang mengembangkan karunia fitrah yang anak-anak kita miliki.

Mari kembalikan fitrah kesejatian peran orangtua, kesejatian fungsi rumah, kesejatian pendidikan, kesejatian anak-anak kita. Jangan sekali-kali merubah fitrah kesejatian itu semua karena itulah sesungguhnya penyebab berbagai krisis dan kerusakan di muka bumi.

—————————————————————————————————————————–

Memulai Home Education adalah memulai untuk mendidik diri kita sebagai orangtua. Memulai mendidik diri kita sebagai orangtua adalah diawali dengan membaca ayat-ayat Allah, baik Qouliyahmaupun Kauniyah, kemudian mensucikan diri kita untuk mengembalikan fitrah-fitrah yang baik, yang Allah telah karuniakan kepada kita. Mengembalikan kesadaran akan peran-peran kesejatian kita sebagai orangtua.

Pekerjaan mendidik adalah pekerjaan para Nabi sepanjang sejarah. Tiada aktivitas dan peran paling penting di dalam rumah kita kecuali peran dan aktifitas mendidik anak-anak kita. Mendidik anak-anak kita adalah membangkitkan kesadaran fitrah anak-anak kita, karenanya para orangtua perlu mengawali dengan mengembalikan fitrah-fitrah baiknya melalui tazkiyatunnafs lebih dulu.

Fitrah yang baik pada anak-anak kita akan bertemu dengan fitrah yang baik yang ada dalam diri orangtua nya. Apa yang keluar dari fitrah yang baik, akan diterima oleh fitrah yang baik. Fitrah keimanan pada anak-anak kita akan bertemu dengan fitrah keimanan kedua orangtuanya. Fitrah belajar pada anak-anak kita akan bertemu dengan fitrah belajar kedua orangtuanya. Fitrah potensi bakat pada anak-anak kita akan bertemu dengan fitrah pengakuan potensi anak-anaknya sebagai karunia Allah SWT dari kedua orangtuanya.

Fitrah tahapan perkembangan sesuai sunnatullah pertumbuhan anak, akan bertemu dengan fitrah pengakuan bahwa segala sesuatu di muka bumi memiliki sunnatullah perkembangannya masing. Tanpa memulai dengan ini maka perjalanan home education adalah perjalanan yang menjauh dari fitrah, berisi obsesi-obsesi dan kecenderungan merusak fitrah karena ambisi tertentu maupun ketergesaan dalam tahapannya. Jadi memulai HE berawal dari bagaimana kita para ortu membangkitkan kesadaran fitrah kita sendiri dengan melakukan tazkiyatunnafs atau pensucian jiwa.

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS Al-Jumu`ah Ayat 2)

Doa Nabi Ibrahim as tentang generasi yang akan dibangkitkan dari keturunannya.
Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS 2 Al Baqoroh Ayat 129)

Ada tahapan berbeda dari kedua ayat. Doa Nabi Ibrahim as adalah “pembacaan”, “pengajaran” , “pensucian”. Jawaban Allah adalah “pembacaan” dan “pensucian” sebelum memulai proses “pengajaran” (ta’limunal-Kitaba walHikmah). Kata Tazkiyah atau pensucian oleh beberapa ulama dimaknakan sebagai Tarbiyah atau menumbuhkan fitrah yang merupakan inti pendidikan itu sendiri, sedangkan pengilmuan atau pengajaran bersifat pemberian skill dan knowledge.

Pendidikan sebagaimana pengantar diawal adalah proses inside out, membangkitkan fitrah-fitrah dalam diri anak-anak kita. Bukan proses penjejalan outside in. Setiap anak kita terlahir dalam keadaan fitrah (fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah perkembangan). Namun semua fitrah itu adalah potensi-potensi terpendam, maka tugas kitalah untuk mendidik/membangkitkan/menumbuhkan potensi fitrah itu agar anak-anak kita mencapai peran peradabannya atau misi spesifiknya sebagai khalifah di muka bumi.

Dalam QS. 13 ayat 11 Allah berfirman:

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Banyak yang menggunakan ayat ini sebagai argumen untuk belajar atau bekerja keras agar Allah mengubah keadaanya menjadi lebih baik. Padahal maksud ayat ini adalah agar manusia tidak mengubah fitrahnya (مَا بِأَنْفُسِهِمْ) sehingga masa depan kehidupannya menjadi lebih buruk. Yang terakhir di atas adalah nasehat dari ustadzuna Ferous.

Semoga memahami bahwa mengapa kita menamakan dengan Home Education bukan Home Schooling? Karena pendidikan berbeda dengan persekolahan, mendidik tidak sama dengan mengajar, HE bukanlah memindahkan sekolah ke rumah. HE bukan menjejalkan pengetahuan namun menyadarkan, membangkitkan fitrah-fitrah. Jika fitrah-fitrah ini bangkit maka anak-anak akan beriman dengan sendirinya, belajar tangguh dengan sendirinya, mengembangkan bakat dengan sendirinya, menjalani kehidupan sesuai tahap-tahap perkembangan dengan sendirinya. Memulai Teknis HE akan terasa mudah dan ringan jika kita memulai dari kesadaran ini.

Sesungguhnya pada galibnya setiap orang tua sudah memenuhi kriteria dan syarat untuk HE, karena sudah layak diamanahi karunia anak oleh Allah SWT. Home Education hanya istilah yang mudah diingat untuk mengembalikan peran pendidikan kepada rumah atau keluarga. Amanah mendidik anak tidak bisa didelegasikan kepada siapapun. Lembaga rumah telah ada jauh sebelum ada lembaga-lembaga lain seperti sekolah. Pendidikan Usia 0-7 sepenuhnya tanggung jawab kita sebagai orang tua, usia 8-14 mulai perpaduan antara rumah dan komunitas.

Konsep mendidik inside out adalah dengan :

  1. Menyadari bahwa tiap anak telah terinstal setidaknya 4 fitrah utama, yaitu fitrah keimanan, fitrah pembelajar yang tangguh, fitrah potensi bakat, dan fitrah perkembangan.
  2. Membangkitkan kesadaran atas fitrah itu dengan cara dan metode yang sesuai tahap perkembangannya.

Contohnya untuk anak usia 0-7 tahun, mencontohkan amal sholeh dan akhlakul karimah, menginspirasi kisah-kisah kepahlawanan orang-orang besar, membangun imaji-imaji positif tentang Allah, tentang ciptaan Allah pada alam, pada diri, pada masyarakat dan lain-lain adalah salah satu proses inside out. Tetapi memaksanya dengan flashcard, menyuruhnya membaca 1 buku sepekan , menargetkan belajar, memaksanya sholat adalah outside in. Kita tidak yakin pada fitrah ciptaan Allah bahwa anak kita adalah pencinta ilmu dan pembelajar tangguh. Ini yang disebut merusak fitrah karena ketidakyakinan orang tua akan karunia Allah SWT. Sudah banyak riset yang membuktikan bahwa anak-anak adalah pembelajar yang tangguh, kita hanya perlu membangkitkannya dengan menginspirasi, keteladanan, keikhlashan, ketulusan, kecintaan.

Peran ayah dalam HE adalah seperti peran para Nabi terhadap keluarganya, yang bukan Nabi  namun luarbiasa dalam mendidik adalah Luqmanul Hakiem, seoranh ayah yang diabadikan namanya oleh Al Quran karena wasiat-wasiat kepada anak-anaknya. Penelitian menyebutkan bahwa anak lelaki yang tidak dekat dengan ayahnya berpeluang 6 kali kena narkoba. Sementara anak wanita yang tidak dekat dengan ayahnya akan (maaf) mudah menyerahkan kehormatannya pada pria yang bukan suaminya. Para psikolog dan penggiat parenting selalu mendorong peran ayah dalam pendidikan rumah. Ayah adalah sosok ketegasan, pembuat hukum dan penyedia sumber.

Persekolahan adalah lembaga pengajaran bukan lembaga pendidikan. Sekolah mengajarkan anak skillsupaya pandai (misalnya pandai membaca, berhitung, menulis) dan mengajarkan knowledge supaya pintar (pintar matematika, kimia). Jangan sampai porsi mendidik dikalahkan oleh porsi mengajar, pada tahap awal perkembangan anak (0- 7 tahun) justru porsi sekolah sebaiknya ditiadakan karena tahap ini sepenuhnya tanggungjawab orang tua. Pada tahap mulai bergeser dari ego ke sosial awal (8-10 tahun) boleh peran pendidik komunitas atau jamaah mulai masuk, namun tetap fokusnya untuk menggali potensi-potensi fitrahnya bukan skill dan knowledge formal. Pada tahap usia 11-14 ketika anak-anak mulai menjelang aqil baligh (usia 15 – 16 tahun), ketika mulai ajeg aqidahnya, sholatnya, bakatnya mulai konsisten, maka pengajaran skill dan knowlegde yang relevan dan mendukung bakat dan karakternya boleh dikembangkan.

Mengenali potensi keunikan anak, bisa dimulai dengan pengamatan. Ayah Bunda pasti sudah mengenal keunikan sepintas tiap anak sejak dalam kandungan. Pd usia 0-7 terlihat dari aktivitas-aktivitas yang dia sukai. Jika anak suka bersih-bersih sejak usia 8 bulan, maka akan terus begitu sampai usia 80 tahun. Mulai usia 8-10 tahun, perbanyak wawasan dengan beragam aktivitas yang menjadi minat dan kesukaan produktifnya. Persekolahan mulai tingkat dasar, menengah dan seterusnya biasanya tidak memberi peluang dan waktu cukup bagi anak-anak untuk terjun berbagai aktivitas yng diminatinya, kecuali ekskul, itupun jika ada. Anak-anak fokus pada pembelajaran akademik formal. Anak-anak yang memang berbakat dan bergaya akademik formal mungkin cocok dengan model persekolahan, namun banyak anak-anak juga yang tidak cocok dengan model demikian. Misalnya hanya suka bahasa, hanya suka robot, hanya suka gambar, hanya suka ngomong, hanya suka melukis, hanya suka menari, dan sebagainya. Jika wawasannya bamyak dan beragam maka akan mudah ditemukan potensinya hanya dengan pengamatan.

Melakukan tazkiyatunnafs adalah mengembalikan kesadaran-kesadaran kita akan fitrah-fitrah yang baik pada diri kita. Tujuan tarbiyah atau pendidikan bagi siapapun adalah lahirnya kesadaran yang tinggi. Kesadaran yang tinggi akan keimanan, janji-janji dan syahadah kita kepada Allah SWT, kesadaran kita pada peran dan misi penciptaan, kesadaran bahwa tiap makhluk diberi jalan kebaikan oleh Allah SWT. Tentu saja dengan banyak bertaubat, memperbanyak kedekatan dengan Allah, dengan amal ibadah dan amal sholeh, meninggalkan maksiat, waro terhadap yang halal dann syubhat serta menjauhi yang haram.

Orang tua kita dahulu menyebut dengan kata-kata sederhana, “tirakat buat anak“. Maksudnya menjalani thoriqot perbuatan-perbuatan baik agar menjadi bekal bagi keberkahan dan kesabaran dalam mendidik anak. Ketika kita semakin dekat dengan Allah, doa-doa terpanjatkan setiap saat untuk anak-anak kita, maka kesadaran-kesadaran akan lahir, cara kita memandang anak kita akan berbeda. Kita tidak obsesif, rileks dan tidak panik, yakin akan janji-janji Allah, mengakui fitrah-fitrah baik dan sifat-sifat unik anak-anak kita dengan positif dan baik sangka.

“Ketenangan jiwa, baik sangka pada Allah, keyakinan bahwa tiada anak yang dilahirkan buruk, akan membuat kita memiliki pensikapan yang baik dan benar terhadap perjalanan pendidikan anak-anak kita.”, Harry Santosa.

Demikian review diskusi kita. Semoga kita selalu berada dalam komunitas yang saling mengingatkan dalam kesabaran dan menetapi akan kebenaran. Semoga kita semua diberi kesehatan, kekuatan, serta selalu istiqomah dalam menjalankan tugas mulia sebagai orang tua dari buah hati kita, generasi unggulan penerus amanah. Aamiin yaa rabbal alamin

Salam HE,

Winda Maya Frestikawati (https://windafrestikawati.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s