Framework Pendidikan Berbasis Fitrah dan Akhlak

Diskusi dan ngobrol seru mingguan di group Home Education berbasis Potensi dan Akhlak Bandung  kemarin membahas seputar framework pendidikan berbasisi fitrah/kodrat dan akhlak.  Diskusi pada hari Rabu malam, 21 Desember 2015 digawangi langsung oleh Subject Matter Expert (SME) tetap kami yaitu Bapak Harry Santosa (founder MLC sekaligus praktisi HE sejak 1994) dan Bunda Septi Peni Wulandani (founder IIP sekaligus praktisi HE sejak 1996) membuat diskusi ini sangat sarat ilmu pendidikan.

IMG-20150121-WA0005

Sistem persekolahan hari ini menghabisi semua sistem pendidikan berbasis keluarga dan komunitas. Dulu masih ada pendidikan berbasis kelurga dan komunitas ketika Belanda pertama memasukkan konsep persekolahan modern lewat politik etis thn 1901, sebelumnya lewat misi Zending. Setelah 3 generasi, maka pudarlah model pendidikan keluarga dan komunitas seperti surau, pesantren dan lain-lain. Buya Hamka dan M Natsir adalah didikan Surau, sebuah model pendidikan peninggalan ulama dahulu yang fokus pada akhlak dan bakat bersama keluarga dan komunitas.

Pendidikan berbasis komunitas sepetti surau, dayah, meunasah, pesantren, rangkang, langgar dan lain-lain yang mempraktekan kearifan-kearifan lokal dan bahasa ibu dengan sastra yang tinggi dan yang paling utama adalah memuliakan akhlak. Sistem persekolahan modern sejak lahir pada abad 19, memang dirancang sebagai alat rekayasa sosial untuk menciptakan kelas-kelas buruh patuh yang mengisi pabrik dan perkebunan Belanda. Setelah hampir 200 thn, sistem persekolahan era revolusi industri ini masih digunakan sampai hari ini. Sistem persekolahan inilah sebenarnya yang ditentang KHD, KH Ahmad Dahlan. Karena menternakkan manusia, bukan memerdekakan kodrat manusia (fitrah).

Sesungguhnya begitu Allah SWT memberi amanah anak kepada kita maka saat yang sama Allah telah menanamkan begitu banyak hikmah dan kesadaran. Berapa banyak manusia yang bangkit kesadaran fitrahnya karena dikaruniai anak. Namun demikian, banyak juga orangtua yang tidak bangkit kesadaran fitrahnya ketika dikaruniai anak, bahkan cenderung tidak yakin dan tidak siap menjadi orangtua. Gamang akan kemampuannya mendidik atau perlu kemantapan hati dalam mendidik. Nah, inilah mengapa diperlukan tazkiyatunnafs sebelum memulai mendidik? Caranya tentu dengan banyak mendekat pada Allah, memperbanyak shoum dan sholat malam agar diberikan “qoulan sadida“, ucapan bermakna dan berbobot ketika mendidik anak-anaknya.

Chaperon adalah istilah dalam bahasa Perancis, untuk pendamping etika dan moral para anak bangsawan. Istilah ini dipakai dalam bahasan kita agar mudah diingat. Chaperon ini adalah pendamping akhlak atau spiritual, dikenal dengan istilah Murobby. Anak-anak yang sudah berusia di atas 10 tahun, sebaiknya memiliki Maestro dan Chaperon, yang pertama adalah pembimbing bakat dan yang kedua adalah pendamping akhlak.

Bahasa ibu (mother tongue) tentunya bukan sekedar bisa berbicara dalam bahasa ibunya sehari-hari, namun maknanya adalah kefasihan dalam tutur, gestur dan ukur. Bahasa bukan sekedar utk bicara namun untuk mengekspresikan gagasan, pikiran dan perasaan. Bahasa Ibu yang tidak tuntas akan menyebabkan gangguan ekspresi, atau dikenal dengan mental block. Para pakar melarang mengajarkan bahasa non bahasa ibu sebelum usia 7 tahun, dikhawatirkan mengalami mental blockatau bingung bahasa. Dampaknya tidak sesederhana yang dibayangkan. Anak-anak yang mengalami gagal ekpresi akan berakibat kepada kejiwaaan dan sosialnya. Pada tahap berikutnya bahasa ibu adalah kemampuan memahami ekpresi perasaan dan memahami sastra yang bagus. Rasulullah SAW adalah orang yang sangat halus tuturnya, cerdas emosinya, memahami gestur dan menangkap konsep/mengikat makna.

Anak usia 0-6 sebisa mungkin dijauhkan dari pengaruh yang merusak. Di usia ini anak kita, baik secara fisik maupun mental amat mudah tertular penyakit fisik dan penyakit mental atau penyakit sosial sekitarnya. Usia 7 sampai 10, sudah mulai lebih tahan karena pada tahap ini mereka mulai mengenal nilai-nilai secara sadar. Sejak usia 7 tahun anak-anak sudah mulai melihat “dunia luar”, mereka secara bertahap mulai menyadari bahwa dirinya bukan lagi pusat semesta. Mereka mulai menyadari ada orang lain dan nilai-nilai sosial serta moral yang harus dipegang. Saat itu, di usia 7 tahun sholat sudah diperintahkan sebagai wujud fitrah keimanan. Bakat mulai diamati dan difasilitasi dengan banyak aktifitas dan seterusnya.

Di usia 11, ada dua kriteria yang harus selesai yaitu kenal diri dan kenal Allah. Keduanya kenal itu dibutuhkan untuk menjalani fase pre baligh, atau fase menjelang kedewasaan penuh. Artinya anak-anak diharapkan sudah memiliki prinsip hidup yang kokoh, sudah fokus pada pengembangan bakatnya dstnya. Sehingga secara sosial anak kita akan imun dan tangguh, tidak “cengeng” menghadapi kehidupannya. Maka fokuslah pada pengembangan potensi-potensi keunikannya atau bakatnya dengan penyempurnaan akhlaknya, bukan pusing menghadapi masalah-masalahnya atau kelemahan-kelemanhanya. Tidak bermaksud menyuruh melupakan masalah dan kelemahannya, namun jika anak terbiasa fokus pada hal baik yang dimilikinya maka masalah dan kelemahannya menjadi tidak relevan.

Kenal diri yang dimaksud adalah mengenal sifat bawaan atau bakat. Bakat ini jika dikenali, dikembangkan dgn aktifitas yg sesuai maka akan menjadi peran atau karir. “Kenal diri” diawali dengan memperbanyak aktivitas dan wawasan dari 0-10 tahun. Orang tua bantu mengamati dan mencatat mana aktivitas yang dikerjakan dengan 4E, yaitu enjoy (enak) dan easy (enteng) makin lama makin excellent (edun) dan earn (enthuk). Menjelang 7 tahun mulai terlihat jelas, semakin konsisten di usia 10 tahun. Diharapkan jika udah kenal diri, maka usia 11 bisa mulai dikembangkan serius.

Fitrah keimanan dibangkitkan dengan membangun imaji positif tentang Allah SWT, tentang Rasulullah SAW, tentang Islam, tentang ibadah dan seterusnya. Caranya bisa lewat keteladanan, sikap ortu, kisah-kisah inspiratif, nasehat yang membuatnya optimis bukan pesimis. Jika usia di atas 7 tahun, sesekali dititipkan(home stay) beberapa hari atau 1-2 pekan kepada keluarga yang kita kenal akhlak dan ibadahnya baik. Seringkali anak memerlukan figur lain selain ayah bundanya dalam hal keimanan, pendalaman bakat maupun etos belajar.

Di usia 7 tahun, anak mulai diperintah sholat. Artinya secara umum, semua perintah Allah mulai dikenalkan dan dipraktekkan dalam skala terbatas dan dalam konteks mendidik, bukan memerintah. Setelah usia 0-6 tahun sifat-sifat Rubbubiyatullah sudah dihayati dengan baik, betapa Allah Maha Penyayang, Maha Pemberi Rezqi dstnya, maka anak juga mesti menghayati bahwa Allah meletakkan juga hukum yang sesungguhnya baik untuk kita. Di usia 7 anak mulai menyadari bahwa dirinya bagian dari sosial, mereka perlahan mulai mengenal nilai-nilai sosial serta konsekuensinya bila melanggar, nah saat yang sama kenalkan bahwa Allah Pembuat Hukum Yang Maha Adil semata-mata untuk kebaikan manusia dan masyarakatnya. Keinginan memahami nilai sosial bersamaan dengan membangkitkan fitrah keimanan bahwa Allah telah mengatur semuanya dengan sempurna. Anak kita harus memahami bahwa masyarakat dan semesta memerlukan hukum Allah.

Sesungguhnya secara alamiah, pada usia 7 tahun, anak kita mulai mengamati nilai-nilai sosial. Mencuri milik orang itu buruk, berkata kasar pada orang tua itu buruk, melindungi dan menyayangi adik, hewan, tumbuhan itu baik dstnya. Mereka mulai merasa bersalah jika berbuat tidak baik, merasa malu jika ketahuan berbuat buruk dsbnya, itu semua tidak perlu diajarkan. Namun, orangtua mesti konsisten terhadap tanggungjawab moral ini, jangan menciderai fitrahnya dengan melanggar aturan, menuduh anak, mempermalukan di depan umum atas kesalahannya (cukup bicara dari hati ke hati, raihlah hatinya utk terbuka dan jujur mengakui kesalahannya).

Demikian review diskusi di malam yang seru ini. Semoga kita semua diberi kesehatan, kekuatan, serta selalu istiqomah dalam menjalankan tugas mulia sebagai orang tua dari buah hati kita, generasi unggulan penerus amanah. Aamiin yaa rabbal alamin.

Salam HE,

Winda Maya Frestikawati (windafrestikawati.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s