APAKAH PENGEMBANGAN BAKAT ANAK ADALAH PUNCAK DARI TUJUAN PENDIDIKAN ?

Ini adalah sebuah pertanyaan krusial, karena kita sedang hidup di dunia persekolahan yang memperlakukan dirinya sebagai pabrik dan menganggap siswa-siswanya adalah produk.

Ya, seakan pada tiap anak tidak ada potensi-potensi unik yang berhak untuk dikembangkan sesuai fitrahnya. Lalu ketika anak manusia dianggap hanya dianggap sebagai kertas kosong, maka merekapun dipaksa untuk menjalani rute kehidupan yang sama. Pada saat itu diperkenalkanlah konsep kompetisi (adu lari di rute yang sama)

Maka kita harus memberikan apresiasi tinggi kepada para penggiat pendidikan yang ingin mengembalikan pendidikan kepada upaya untuk mengembangkan bakat, potensi dan keunikan setiap manusia. Bagaimanapun setiap potensi adalah fitrah dan amanah.

Wajib bagi kita untuk berikhtiar mengaktualisasikannya melalui pendidikan. Bahkan, ketika potensi sekecil apapun tak mendapatkan kesempatan untuk diaktualisasikan, selain itu merupakan sikap kufur nikmat iapun dapat menjadi penyakit bagi si pemilik potensi.

Namun, apakah teraktualisasinya sebuah potensi dan keunikan adalah puncak dari sebuah tujuan pendidikan ? Apakah ketika lumba-lumba telah mampu berenang, ketika kuda telah mampu berlari, ketika burung telah mampu terbang dan tupai telah mampu melompat lalu misi pendidikan telah selesai ? Apakah ketika Ahmad telah menjadi pelukis besar dan Fatimah telah menjadi juru masak ulung lalu beban telah terangkat dari pundak ?

Nah, untuk itu mari kita tak melupakan satu hal : MISI KEHIDUPAN. Ya, Setiap kelahiran memikul sebuah misi kehidupan. Dan Allah menciptakan bakat yang berbeda-beda dalam rangka untuk berkolaborasi sesuai kapasitas masing-masing untuk memikul misi kehidupan bersama.

Anak-anak yang dilahirkan dan dibesarkan di Kalimantan, misalnya, memiliki misi dan amanah kehidupan untuk melestarikan sumber daya alam yang ada di bawahnya, tentunya sesuai dengan bakat mereka masing-masing.

Alhasil, sebuah sekolah alam di Kalimantan tak hanya bertugas untuk mengaktualisasikan potensi murid-muridnya, tapi juga menata keunikan bakat tersebut ke dalam sebuah misi : The Natural Preserver.

Jadi, pendidikan yang berusaha untuk mengaktualisasikan keunikan bakat seorang anak, baru sekadar menuntaskan fardhu ‘ain pendidikan. Mereka tidak boleh lupa bahwa ada tujuan pendidikan berikutnya : FARDHU KIFAYAH – Mewujudkan Misi Kolektif.

Oleh karenanya, wajib bagi sebuah institusi pembelajaran untuk memiliki Tujuan Pendidikan, Target Kompetensi, Standard Kompetensi, Tolok Ukur Keberhasilan, Proses Pencapaian, Metodologi Pembelajaran, Sumber Daya yang dibutuhkan hingga Evaluasi Pencapaian Kompetensi.

Nah, itulah yang dinamakan dengan kurikulum…

Tulisan oleh Ust. Adriano Rusfi

Tambahan:

Pendidikan peradaban memang mesti mengintegrasikan

1. potensi unik manusia (fitrah penciptaan manusia, meliputi fitrah bakat, fitrah belajar, fitrah keimanan, fitrah perkembangan)
2. potensi unik alam, potensi keunggulan lokal dan budaya (fitrah alam)
3. potensi unik zaman dan realita sosial masyarakat (fitrah waktu)
4. lalu melingkupinya dengan sistem hidup atau agama dan kearifan (fitrah sistem hidup)

Resultansi dari keempat fitrah itu adalah Peran Peradaban (daur hadhoryah)
Katalisnya adalah Pendidikan Peradaban.
Setiap upaya pendidikan yg tdk relevan dengan keempat fitrah itu akan tidak melahirkan peradaban yg berakhlak mulia. (Ust. Harry Santosa) 

Unsur pembentuk kurikulum Islam (ilmu dari Ust. Hilmi Aminuddin):

1. Almabda’ (sistem hidup atau agama dan kearifan)
2. AzhZhuruf (potensi unik alam, potensi keunggulan lokal dan budaya)
3. Al-awdha’ (potensi unik zaman dan realita sosial masyarakat)
4. AlMawaqif (potensi unik manusia) 

pendidikan bertanggung jawab untuk mengaktualisasikan potensi individu, namun tak boleh terjebak pada individualisme. Makanya harus berlanjut kepada fardhu kifayah : misi kehidupan

Peradaban bangsa dan ummat ini hanya akan terwujud jika :

1. Fitrah individu teraktualisasi
2. Mimpi bangsa dan ummat terumuskan serta terwujud  (Ust. Adriano Rusfi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s