TEOLOGI PEMBERADABAN – Part III oleh Ust. Adriano Rusfi

Aqidah itu tetap, dan berlaku sepanjang jaman. Itulah tauhid. Namun ekspresi dan penekanannya sangat bervariasi sepanjang jaman, menyesuaikan dengan masalah dan kebutuhan kala itu. Itulah yang saya maksudkan dengan teologi. Maka, sesuai dengan masalah dan kebutuhannya, para mujtahid abad 19 mengusung Teologi Anti-Syirik : pemberantasan bid’ah, khurafat dan takhayyul. Sedangkan para mujtahid abad 20 mengusung Teologi Perlawanan, untuk menghadapi upaya penghancuran eksistensi ummat ini.

Ibarat menanam, abad 19 adalah abad membersihkan lahan dari hama, sedangkan abad 20 adalah abad menanam dan melawan penjarahan para bandit. Maka kini adalah saatnya untuk menuai, saatnya untuk tinggal landas. Jihad sudah saatnya untuk menemukan bentuk barunya : ijtihad. Ya, bukankah keduanya berasal dari akar kata yang sama ? Walau airmata kepedihan abad 20 itu sesekali masih menetes dan menempel di pelupuk mata, tapi sudah saatnya untuk mulai menyunggingkan senyum dan berkata : “Jangan bersedih…: laa tahzan !”

Itulah Teologi Pemberadaban… Ada perbedaan antara peradaban dan pemberadaban, antara civilization dengan civilizing. Teologi Pemberadaban adalah sebuah perjuangan untuk menjadi beradab, memberadab dan memiliki peradaban. Teologi Pemberadaban itu sepenuhnya sadar diri bahwa peradaban itu masih sangat jauh. Bahkan pada tahap awalnya ia harus berjuang menghadapi rejim teologi perlawanan yang cenderung menjadi ekstrem. Ia harus diperjuangkan dan direncanakan. Dan untuk mewujudkannya dibutuhkan sejumlah reformasi sikap dan keyakinan.

Pertama adalah baik sangka dan optimisme, bahwa kehidupan tetap seindah yang dulu dan masa depan adalah milik kebenaran dan para penegaknya. Kebatilan dan para pengusungnya memang muncul di sana-sini, namun percayalah bahwa mereka bukanlah penguasa kehidupan ini. Pelaku kebatilan memang sangat banyak, bahkan mungkin kita sendiri. Namun mari kita bedakan antara pelaku kebatilan dengan penegak kebatilan. Bahkan betapa banyaknya pelaku kebatilan adalah pecinta kebenaran yang tulus. Ya ketika di tangan kita ada api dakwah, bukankah yang tersisa tinggallah baik sangka dan optimisme ?

Kedua adalah harga diri, bahwa ummat ini adalah ummat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia. Kita bukan lagi obyek, tapi subyek. Kita bukan korban, tapi kontributor. Kita bukan sasaran, melainkan inisiator. Sebagai ummat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, kita tak berseberangan dengan manusia manapun, tapi berbuat untuk manusia manapun. Kitalah ummat pertengahan itu, yang membawa misi untuk menjadi wasit dan saksi yang jujur dan adil atas manusia, bukan menjadi pembela atau jaksa bagi siapapun

Ketiga adalah masterplan, bahwa kita harus memiliki tujuan, target dan sasaran untuk masa depan bangsa, ummat, kemanusiaan dan kehidupan. Kita harus merencanakan sebuah capaian, tentunya lengkap dengan target waktu, sumber daya, organisasi dan metodologinya. Sebagai hamba Allah dan ummat Muhammad SAW, kita telah diwajibkan untuk mengikhtiarkan dunia bagaikan akan hidup selama-lamanya. Ya, bahkan untuk capaian seratus atau seribu tahun kedepan. Sedangkan tentang kiamat, biarlah itu tetap menjadi rahasia langit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s