TEOLOGI PEMBERADABAN – Part II oleh Ust. Adriano Rusfi

TEOLOGI PEMBERADABAN – Part II

Betul, masalah kita sangat banyak, karena memang begitulah watak hidup. Terkadang, satu masalah belum selesai, telah muncul lagi masalah baru. Yang lebih memilukan lagi, bahkan solusi untuk masalah lama justru melahirkan beberapa masalah baru sekaligus. Maka lihatlah, ummat ini punya masalah kemiskinan, ketidakadilan, cinta dunia, korupsi, kebodohan, kerapuhan aqidah, dekadensi moral, ditinggalkannya syari’ah, pemurtadan, dan masih banyak lagi. Miris rasanya jika harus disebutkan satu per satu.

Bukannya tak ada yang telah selesai. Banyak… sangat banyak malah. Ummat ini tak kurang-kurangnya memiliki para pemecah masalah yang militan dan brilyan. Bukankah kita telah memiliki organisasi Islam, Majelis Ulama, Perbankan Syari’ah, Ikatan Cendekiawan Muslim, Partai Islam, Serikat Dagang, Lembaga Dakwah dan sebagainya. Kita tak mungkin menutup mata akan fakta tentang maraknya dakwah dan tabligh akbar, tertutupnya aurat, penuhnya mushalla kantor dan masjid kampus, dilafalkannya salam,bahkan munculnya Perda-perda implementasi syari’ah di berbagai daerah.

Ya… banyak yang telah diperbuat, banyak masalah yang telah dipecahkan, dan banyak karya yang telah dihasilkan. Tapi seakan kita tak ke mana-mana. Riuh rendah itu hanya jalan di tempat. Kita telah lelah berlari penuh semangat, tapi tampaknya hanya berputar di lokasi yang sama. Kita seperti ummat yang berlari di atas jogging track yang melingkar. Repotnya lagi, di saat kita begitu asyik memecahkan berbagai masalah, ternyata ada pihak-pihak yang secara sengaja terus mensuplai masalah kepada kita. Tapi itulah resikonya ketika kita hanya hobby memecahkan masalah.

Rasanya sudah saatnya kita mulai berpindah dari masalah kepada tujuan. Saatnya kita mulai berlatih untuk menatap masa depan, lewat sebuah pertanyaan : “Mau ke mana kita ?”. Sebagai ummat beriman kita wajib punya arah, tujuan dan target, karena kita diwajibkan untuk berjalan di jalan yang lurus (shiraathal mustaqiim). Benar, bukankah jalan adalah sebuah rute untuk mencapai tujuan ? Dan Islam sangat banyak bicara tentang jalan, lewat berbagai istilah : shiraath, sabiil, thariiq atau syari’…

Bahkan terkadang kita diajarkan untuk tak harus memecahkan masalah, karena beberapa masalah dapat diselesaikan dengan cara diabaikan dan ditinggalkan. Persis ! Masalah dapat ditangani lewat hijrah : berpindah dan terus bergerak mencapai sebuah tujuan. Lalu, biarkanlah masalah tertinggal dan membusuk di belakang. Sebuah kebathilan, misalnya, toh akan bersifat self-destructive tanpa harus capek-capek dipecahkan. Sehingga Allah-pun berfirman : “Dan katakanlah : telah datang alhaq dan telah tersingkir kebathilan, karena sesungguhnya kebathilan itu sesuatu yang pasti tersingkir” (QS 17 : 81)

Nah, TEOLOGI PEMBERADABAN adalah sebuah ajakan untuk menatap tujuan dan masa depan. Saatnya ummat ini memiliki sebuah Masterplan dan strategic planning, memiliki goal-setting dan akhirnya fokus pada goal-getting. Terlalu menghabiskan enersi rasanya jika kita selalu menari di atas gendang yang ditabuh orang lain. Terlalu sia-sia rasanya jika kita terus menerus mengerjakan PR yang soalnya dibuat oleh para durjana. Sudah saatnya kita menentukan masa depan kita sendiri. Ya, berjuang di atas Garis Besar Haluan Ummat !!!

“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka. Bukan (jalan) orang-orang yang Engkau murkai dan bukan (jalan) orang-orang yang sesat” (QS Alfatihah : 6-7) Aamiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s