Renungan Pendidikan #7 oleh Ust. Harry Santosa

Renungan Pendidikan #7 oleh Ust. Harry Santosa

“Baity Jannati”, Rumahku Syurgaku, begitu Rasulullah saw menginspirasi kita utk membangun imajinasi positif ttg rumah kita. Bukan rumah dalam makna fisik namun rumah dalam makna bathin dan makna langit.

Imaji positif ttg rumah kita, sungguh akan melahirkan kesan dan persepsi positif. Dan kesan dan persepsi positif akan memunculkan pensikapan positif terhadap kehidupan dan dunia kita. Sebaliknya, luka persepsi akan melahirkan pensikapan yg buruk.

Begitulah anak2 kita, dunia di mata mereka adalah bagaimana mereka mempersepsikan rumah mereka, mempersepsikan ayah mereka, mempersepsikan ibu mereka, dan semua yang ada di dalam rumah.

Anak2 yg mudah marah, kasar pd sesama adalah karena banyak kemarahan dan kekasaran dalam rumah mereka, anak2 yg penuh cinta pd sesama adalah anak2 yg rumahnya dipenuhi cinta. Anak2 yg mudah membuang sampah di jalan, tidak memelihara diri dari najis adalah mereka yg rumahnya juga demikian.

Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantar anak2 kita menuju peran peradabannya dengan semulia akhlak. Bila rumahnya baik maka secara kolektif baiklah peradabannya kelak. Sebaik baik kalian di dunia nyata adalah yang paling baik terhadap keluarga dan rumah tangganya.

Bila lahir banyak orang2 terbaik bagi rumah tangganya, maka akan semakin baik dunia kita. Bila dunia kini suram, kumuh, kotor, palsu, keindahan imitasi dan semu, barangkali begitupula potret kebanyakan rumah tangga kita.

Bila dunia dan sosmed penuh fitnah dan kebencian, maka dipastikan fitnah dan kebencian ada di rumah rumah mereka. Bila tidak ada asah, asih dan asuh dalam kehidupan sosial di luar rumah, maka dipastikan rumah2 kita sepi dari asah, asih dan asuh.

Neraka dunia dan neraka akhirat, sungguh dimulai dari neraka rumah secara kolektif. Syurga dunia dan syurga akhirat, juga sungguh dimulai dari syurga rumah secara kolektif.

Syurga adalah sebuah taman yg indah, begitulah Rumah yg dikiaskan Rasulullah SAW dengan Syurgaku. Maka rumah kita semestinya adalah bagai taman yang indah dan penuh cinta.

Lalu bayangkan sebuah taman adalah sebuah tempat beraneka warna bunga yg tumbuh. Maka anak2 kita adalah bunga bunga indah peradaban yang bentuk, warna keharuman, kelopak, tangkainya adalah unik. Dan tiada kata yg bisa melukiskan imaji sebuah bunga kecuali cinta dan ketulusannya.

Maka jadilah petani2 bunga di taman, yg menyemai, memelihara fitrah bunga2 itu dgn penuh cinta serta keikhlashan, rileks dan konsisten, ithminan dan istiqomah, sesuai potensi2 fitrah yg ada. Petani taman bunga bukanlah petani perkebunan yg menyeragamkan dan menggegas produksi namun merusak tanah dan tanaman dalam jangka panjang.

Bila peradaban adalah taman besar kehidupan tempat berbagai bangsa, berbagai budaya, berbagai kearifan2 dan agama, berbagai keanekaragaman hayati, berbagai warna kulit dan bahasa dsnya yg ditakdirkan Allah hidup di atasnya. Maka rumah kita sesungguhnya adalah adalah sebuah miniatur peradaban.

Maka camkan baik baik bahwa peradaban dunia dimulai dari peradaban rumah kita. Dan peradaban rumah kita dimulai dari pendidikan peradaban anak2 kita. Dan peradaban yang kita buat hari ini adalah peradaban yg kita siapkan untuk anak cucu kita kelak.

Jangan sampai doa2 dan kebaikan2 anak cucu kita terputus krn kita mempersiapkan peradaban yg buruk untuk mereka, krn kita lalai menjalankan pendidikan peradaban di rumah rumah kita.

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi dan akhlak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s