Jika Mereka Tak Kuingatkan

anak miris

Remaja Galau yang Menyimpang dari Kebenaran. Miris!😦

Ketika mengajar saya sering memberikan informasi kepada siswa saya terkait “permasalahan remaja”, seperti pacaran, seksologi, pergaulan bebas, adab berinteraksi dengan lawan jenis, dan sebagainya. Saya merasa bahwa saya harus lebih banyak memberikan mereka wawasan tentang. Sejauh ini, saya cukup puas dengan sikap dan keyakinan mereka saat ini soal “bagaimana menjadi Muslimah yang shaleha full tanpa modus”.

Pernah ada diskusi menarik antara saya dengan mereka. Kami berdiskusi tentang kawan-kawan SD mereka yang sekolah di tempat lain (maksudnya bukan di SMP IT Lahat). Mereka merasa miris karena beberapa dari mereka ada yang tidak lagi berhijab dan ada juga yang sudah pacaran.  “Ah, bahkan SMP, sebut saja SMP 90 (yang dikenal dengan SMP Islam Terpadu di Lahat) banyak siswa-siswanya yang pacaran”, kata mereka. Dari sini saya merenung dan sedikit mengambil kesimpulan. Bahwa ternyata banyak dari guru atau sekolah yang abai atau tidak terlalu mempedulikan persoalan ini.

Saya bisa mengatakan hal tersebut karena saya begitu merasakan bahwa perhatian saya sejauh ini dalam persoalan ini bisa begitu merubah cara mereka bersikap. Bagaimana hampir setiap hari di facebook saya mengontrol dan memberikan mereka arahan. Bagaimana di kelas saya sering kembali menegaskan dan memberikan informasi tambahan tentang pergaulan dan seksologi. Bagaimana di sekolah saya begitu menekankan bahwa tidak ada pembicaraan soal “ketertarikan dengan lawan jenis”. Bagaimana di sekolah saya begitu memperhatikan tindak-tanduk mereka ketika bercampur dengan lawan jenis, mengingatkan dan mengajari mereka jika ada sikap yang salah. Memang, sepertinya kebanyakan guru mungkin akan sangat sulit bisa seperti saya yang hampir setiap hari selalu online (Mau dan  ada waktu. Dan saya sepertinya memang tak bisa hidup tanpa paket internet..hehe)

Tentu saja saya tidak berpikir ini adalah hasil usaha saya sendiri atau saya menafikan campur tangan Allah atas perubahan mereka. Saya tahu di mentoring mereka diajarkan tentang larangan mendekati zina, perintah menundukkan pandangan, dan lain-lain. Namun ada beberapa hal yang ternyata bisa saya sentuh dari persoalan mereka yang tampaknya tak akan bisa tersentuh jika orang lain tidak berusaha mencampurinya di luar proses pengajaran/pembinaan di sekolah. Saya menyadari bahwa facebook adalah dunia mereka yang kedua. Di situ saya bisa melihat sisi lain atau tabiat asli dari mereka yang tidak mereka tampakkan di sekolah.

Dari diskusi-diskusi saya dengan mereka, alhamdulillah, entah karena mereka sudah percaya dengan saya sehingga mereka akhirnya mau mengakui beberapa rahasia mereka tanpa saya tanyakan. Contohnya, sebelum ini, meskipun saat itu mereka sudah sering mengatakan dan yakin bahwa pacaran haram, mereka masih sering berinteraksi dengan jenis dengan cita rasa yang sama seperti orang yang menikmati hubungan pacaran seperti berchatting ria dengan lawan jenis di FB entah itu di obrolan (yang guru tak akan bisa memeriksanya) atau di kolom komentar dari setiap status yang mereka buat.

Ada juga siswa saya yang mengaku bahwa ia punya sahabat cowok yang biasa sms-an dengannya. Ada juga yang masih suka “pamer kecantikan” dengan mengupload foto selfie. Entah apakah saya yang begitu berlebihan dalam menyikapinya atau memang sebaiknya itu diabaikan saja, tapi saya benar-benar tidak setuju jika mereka melakukan itu semua sehingga saya menasihati mereka dengan beragam cara agar mereka meninggalkan perbuatan tersebut. Saya jelas tak bisa mengabaikan itu. Karena sikap mereka tersebut bisa menjerumuskan mereka dalam dosa seperti yang telah diajarkan di mentoring-mentoring yang mereka ikuti di sekolah. Alhamdulillah saat ini mereka sudah menunjukkan perubahan.

Soal memajang foto pribadi misalnya, bahkan ada rekan guru yang akhirnya “merasa sadar” dan merubah foto profilnya yang awalnya adalah foto pribadinya (semacam selfie) dan diganti gambar lain, padahal saya sebenarnya hanya berniat menyindir atau menasihati siswa saya. Alhamdulillah yah..😀 Siswa saya yang tadinya punya sahabat cowok (kawan SD) pun juga sudah berkomitmen untuk menjaga jarak dengan ikhwan, siapapun, apalagi sampai sms-an secara personal dengan ikhwan yang rentan membuat hati mereka terlena.

Mereka sadar kalau mereka sudah “dewasa”, sehingga batasan-batasan yang Islam ajarkan sudah harus dijalankan atau dibiasakan. Karena kesadaran mereka yang saya pikir sudah sangat berbeda dengan remaja kebanyakan, alhamdulillah saya tinggal terus menjaga mereka agar tetap istiqomah, memberikan wawasan tambahan yang bisa menguatkan keimanan mereka, memberikan mereka arahan terhadap hal-hal kecil yang bisa membuat iman mereka goyah, apalagi setelah mereka tidak berada di SMP lagi, sudah SMA, kuliah, atau sudah bekerja. Ya Allah semoga mereka istiqomah. Aamiin

Itulah kenapa saya mendapatkan gambaran, kenapa di banyak sekolah yang mengatasnamakan sekolah agama, sikap kebanyakan siswa mereka masih jauh dari Islami, terutama soal “pergaulan”. Sebabnya adalah guru merasa cukup hanya dengan mendidik mereka di sekolah, kurang intens dalam menyikapi sikap siswa dalam hal bergaul,  masih merasa segan mencampuri urusan pribadi mereka, dan parahnya lagi ada guru yang ikut berbahagia dengan hubungan dekat siswa akhwatnya dengan ikhwan lain meskipun sebenarnya mereka tahu bahwa pacaran itu haram. Jadi jangan heran jika ada sekolah yang gurunya masih suka merokok, pacaran, dan sebagainya,                                   siswanya pintar, bisa ngaji dan shalat, tapi dalam menjaga kehormatan diri mereka masih jauh dari Islami, sangat mengkhawatirkan.

Tak terbayangkan, JIKA MEREKA TAK KUINGATKAN.

Tak terbayangkan, JIKA AKU SEGAN MENCAMPURI URUSAN PRIBADI MEREKA.

Terimakasih Ya Allah atas hidayah yang Kau berikan padaku dan kepada setiap siswaku, terutama yang akhwat.

Jangan Kau sesatkan mereka setelah Kau beri mereka petunjuk.

Jadikanlah mereka kader-kader dakwah yang tangguh yang senantiasa berjuang dan berdakwah untuk tegakknya Islam di muka bumi.

Care you as always, Sir Ike.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s