TENTANG CINTA (PETUNJUK JALAN BAGI MUKMINAH)

pacaran-positif1[BUKU: PETUNJUK JALAN BAGI MUKMINAH]

PASAL PROBLEMA-PROBLEMA PERADABAN

AYAT 1: TENTANG CINTA

Rasulullah saw bersabda:

“Apabila Allah Ta’ala mencintai seorang hamba, maka Jibril berseru: ‘Sesungguhnya Allah ta’ala mencintai si fulan. Maka cintailah dia’. Jibril sendiripun mencintainya. Lalu kepada para penghuni langit Jibril juga berseru: ‘Sesungguhnya Allah mencintai si fulan. Maka cintailah dia’. Setelah para penghuni langit sama mencintainya, Jibril kemudian meletakkan penerimaannya di bumi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang dimaksud dengan kata “cinta” ialah memuliakan, menghargai, dan menghormati. Seorang lelaki yang mencintai lelaki lain artinya dia menghormatinya, menempatkannya pada tempat yang layak, mau mendengarkannya, suka bersilaturahim dengannya, dan mau mengingatkannya pada kebenaran/kebajikan.

Seorang lelaki yang mencintai seorang wanita artinya dia mau menghormatinya, memuliakannya, dan menjaganya dari hal-hal negatif yang mengancam kehormatannya.

Tetapi celakanya masyaralat kita sekarang ini sudah punya persepsi yang keliru pada kalimat tersebut. Mereka menyimpangkannya dari arti yang sebenarnya. Segala sesuatu yang terjadi selalu di atas namakan cinta. Kalimat “cinta” sudah diobral begitu gampang dan oleh siapa saja.

Memandang wanita cantik lalu terpesona dikatakan sebagai cinta. Melihat lelaki yang tampan lalu tertarik disebut cinta. Semuanya cinta, cinta, dan cinta……….Jauh sekali dari kebenaran apa yang mereka artikan tersebut tentang cinta. Cinta tidaklah sedangkal dan sepicik itu pengertiannya.

Seorang pemuda yang memandang seorang pemudi lalu dia terpesona, hal itu tidak bisa disebut sebagai cinta. Tetapi lebih tepat disebut menganggumi. Kalau misalnya dia memandang sejuta wanita yang seperti pemudi itu tadi lalu dia tertarik kemudian itu disebut cinta, maka bisa-bisa dia jatuh cinta kepada seluruh wanita di jagad ini.

Oleh karena itulah Islam mengharamkan orang memandang wanita lain yang bukan muhrimnya, agar dia tidak dipengaruhi oleh syetan yang masuk dari berbagai pintu tubuhnya.

Cinta seorang wanita kepada lelaki karena wajahnya atau karena pangkat kedudukannya atau karena sifat pemberaninya atau sifat-sifat yang lain, adalah bodoh kalau itu dinamakan cinta dalam arti yang sejatinya.

Mereka telah menjungkir-balikkan namamu, wahai cinta. Padahal engkau adalah lambang kemuliaan, kesucian, kelembutan, kasih sayang, fitrag yang putih dan kemanusiaan. Tanpa sadar mereka telah melakukan pelanggaran yang teramat besar.

Seorang istri terlanjur mencintai seorang pemuda idamannya dan ia telah menyatakan cintanya itu. Maka demi cinta ia rela berbuat apa saja.

Seorang suami terlanjur mencintai seorang pemudi idamannya. Maka ia rela patah hati demi cinta.

Seorang sumai mencintai isterinya atas nama cinta. Seorang nenek mencintai seorang pemuda atas nama cinta. Dan seorang kakek mencintai seorang pemudi juga atas nama cinta. Duh, begitu murah “cinta” diobral!

Dua orang lawan jenis saling bergandengan tangan dan berangkulan itu disebut cinta. Dua orang lawan jenis saling bertemu, saling berkencan, saling bercumbu, sama-sama tidak bisa tidur, sama-sama menangis, sama-sama bersedih, sama-sama patah hati, dan kemudian berpisah, juga mengatasnamakan cinta.

Sungguh, kalau hati telah mati memang tidak kuasa untuk memahami makna-makna cita yang mulia sebagai lambang terpuji yang diciptakan Allah pada diri manusia. Akibatnya, mereka tersesat dalam belantara nafsu. Kalau semudah itu arti cinta, maka setiap orang bisa mencintai seribu bahkan sejuta kali, seorang anak SMP bisa mencintai banyak wanita dewasa. Begitu mudahnya mengatasnamakan cinta. Na’udzubillah..

HUBUNGAN DENGAN PEMUDA

Pada masa-masa usia menjelang akil baligh, seorang wanita cenderung untuk mencari eksistensi dan identitas diri. Ada gejala ia mulai menampakan kematangan serta kedewasaan. Karena itu ia berani bergaul dengan lawan jenis yang sebaya dengannya dan mulai mengalami ketertarikan kepada lawan jenis yang ia sukai. Tak ayal ia pun menjalin hubungan yang erat dengan pemuda tersebut. Ia merasa tentram dan terlindungi sehingga semakin besarlah perasaan nikmat ketika bertemu dengannya dan perasaan sakit ketika jauh dengannya.

Padahal masalahnya tidaklah senaif dan sesederhana. Ia masih perlu belajar banyak dari pengalaman-pengalaman. Kalau tidak, maka ia akan menurut saja apa yang dikatakan pemuda tadi mengingat usianya yang baru beranjak baligh. Akibatnya, ia akan banyak menemukan benturan-benturan.

Banyak sekali pemuda yang bejat moralnya yang memanfaatkan perasaan wanita seusia itu. Mereka dengan segala akal bulusnya membujuk agar ia nanti mau menikah dengannya. Paling tidak mereka bisa saling melampiaskan nafsu syahwatnya. Yang sering terjadi biasanya perkawinan semacam itu kandas di tengah jalan. Yang menjadi korban sudah barang tentu adalah pihak wanita.

Seorang lelaki boleh berduaan saja dengan seorang wanita asalkan ia sudah menikahinya. Seringkali terjadi seorang laki-laki buaya yang sudah berpengalaman berhasil membujuk wanita yang masih ingusan untuk bersenang-senang di luar pernikahan yang sah. Bahkan seorang lelaki yang perilakunya sopan, baik, dan tampak saleh pun bisa terbawa bujuk rayu setan untuk berzinah dengan wanita yang ia sukai ketika ada kesempatan. Na’udzubillah…

Maka, jangan ada kata pacaran dalam hidupmu. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra’ ayat 32 yang artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, itu (zina) sungguh suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s