MENYOAL SEKOLAH ISLAM TERPADU

JSIT

Jaringan Sekolah Islam Terpadu

Akhir-akhir ini saya tak enak hati. Nyesek kalau kata anak jaman sekarang. Jujur saja hati ini lebih sakit jika dibandingkan dengan perasan ketika ayahku meninggal. Saat itu saya bisa tenang lebih cepat. Tapi untuk hal ini, entah mengapa sampai sekarang saya masih “kepikiran” sehingga membuat hati belum juga tenang. Ada apa gerangan?

Ini tentang persoalan yang ada di sekolahku. Tahukah kau bahwa sekolah di tempat saya mengajar siswanya masih sedikit dan gajiku juga masih sangat minim. Sekarang sudah ada sekitar 14 siswa kelas 7 dan 13 siswa kelas 8. Namun, saya begitu menikmati pekerjaanku. Sampai-sampai saya lebih memilih tinggal di sekolah lebih lama (dari pagi sampai ashar) meskipun pada hari itu jadwal mengajarku  cuma di pagi hari (4 jam mengajar) bahkan ketika tidak ada jam mengajar sekalipun.

Saya menemukan bahwa semua siswa di sini mempunyai niat yang bagus dalam belajar (ilmu dan akhlak) dan akhlak merekapun juga sudah cukup bagus. Cukup ideal. Tak ada pembicaraan tentang pacaran apalagi sampai pacaran. Bahkan mereka juga sudah meyakini jika pacaran itu haram. Meskipun masih rentan, saya masih cukup tenang. Beberapa siswa baru datang. Sampai sekarang sudah ada tiga siswa pindahan. Dan yang membuat saya tak tenang hingga saat ini adalah siswa yang datang paling akhir.

SYOK SAYA DIBUATNYA

Dua siswa yang datang lebih awal alhamdulillah sudah cukup bagus akhlaknya, minimal gaya hidupnya tidak parah. Dan yang terakhir adalah siswa pindahan dari salah satu SMP negeri di Lahat. Waktu pertama kali ia sekolah saya tak begitu khawatir. Saya masih berpikir “ya kalaupun dia nakal, paling nakal yang sewajarnya, seperti misalnya masih suka menjahili teman.” Kalau itu saya masih maklum. Tapi sikap ia yang ia tunjukkan ternyata bukanlah hal yang bisa saya maklumi. Ini terjadi di hari pertama ia sekolah.

Di hari pertama ia sekolah, setelah semua sudah pulang ke rumah, saya membuka facebook. Salah satu siswa akhwat memberitahuku via pesan di facebook. Ia bercerita kalau anak baru itu mengajaknya berpacaran. “Sir anak baru itu kurang ajar nian ngajak aku pacaran..!” Kira-kira begitu isinya. Gila! Baru pertama kali sekolah sudah berani berbuat tidak menyenangkan, tidak sopan, dan tidak etis. Apalagi sekolah ini adalah Islam Terpadu. Mestinya ia berpikir dulu sebelum bertindak.

Dan yang paling membuat saya kesal ternyata anak baru tersebut mencantumkan siswa akhwat saya tadi sebagai pacarnya di facebook. Saya langsung memeriksa facebook anak baru itu. Ternyata benar. Dengan enaknya ia berucap di kronologinya “hadiah ulangtahunku..berpacaran dengan……”. Langsung saja saya sarankan siswa akhwat saya tadi untuk memblokir anak baru itu dan meminta anak baru itu menghapus status berpacaran di facebooknya dan meminta ia berhenti mengganggu siswa saya tadi dan juga siswa-siswa akhwat lain. Saya semakin khawatir ketika melihat bagaimana anak baru itu berkata-kata di facebooknya. Berhenti sampai di situ? Tidak ternyata!

Saya pikir, setelah saya memberitahunya soal bagaimana seharusnya bersikap sebaagai siswa SMP IT, ia sudah paham. Besok paginya di saat saya masih menyimpan rasa marah, di kelas ia menulis sebuah tulisan ungkapan rasa cinta (cinta? nafsu keles bukan cinta!) di papan tulis. Siswa akhwat saya tadi mengadu lagi ke kantor. “Ya Allah, lanang ini!”, pikir saya waktu itu. Untungnya tidak ada siswa SMP IT lain yang mengangap hal itu romantis seperti anggapan kebanyakan remaja (yang mungkin karena kebanyakan nonton sinetron kayak Ganteng-Ganteng Serigala). Mereka justru marah dan merasa jijik. Alhamdulillah yang saya khawatirkan tidak terjadi.

Anda mungkin akan langsung mengkomentari cerita saya di atas  “Yah itulah tugas guru, tugas sekolah. Didiklah ia agar berubah”. Betul sekali. Tapi apa yang saya piikirkan tidak sesimpel itu. Saya paham betul bahwa banyak orang yang tidak setuju jika sebuah sekolah hanya menerima siswa yang pintar-pintar saja atau yang akhlaknya yang baik-baik saja. Karena itu berarti menghindar dari tugas guru dan berarti kita gagal jika melakukannya.

Tapi kebanyakan sekolah favorit atau pesantren terkenal seperti di gontor atau SMA 4 di Lahat juga punya standar dalam menerima siswa baru loh. It’s ok. Saat ini saya tidak ingin berdebat atau membahas itu. Anggaplah saya yang termasuk yang tidak setuju dengan sistem penerimaan seperti SMA 4 Lahat dan Gontor, hanya untuk membuktikan bahwa penilaian saya tentang persoalan ini bukan karena saya termasuk orang yang berpandangan bahwa orang berakhlak buruk itu mesti disekolahkan di tempat khusus yang menampung siswa-siswa berakhlak buruk.

Perlu diketahui bahwa sejak dulu saya bercita-cita membuat sekolah khusus siswa-siswa “terbuang” dalam artian mereka yang sering dianggap bodoh dan nakal. Sebelum mengajar di SMP IT pun saya pernah berkecimpung dalam sebuah lembaga pendidikan yang visinya adalah mengembalikan hakikat pendidikan yakni mengajar dengan hati dan belajar dengan pikiran. Ini tentunya relevan dengan masalah yang saya temui di atas bahwa di sebuah sekolah Islam saya harus menerima bahwa ada siswa SMP kelas 1 yang akhlaknya masih belum terkondisikan dan saya harus berusaha mendidiknya.

YANG SAYA PERSOALKAN DAN MASIH SAYA PIKIRKAN SAMPAI SAAT INI

Dari informasi yang saya dapatkan siswa ini memang biasa bergaul dengan anak-anak genk motor. Ia memang biasa balapan liar dan memiliki genk motor. Ia juga merokok dan juga masih suka berkata-kata kotor. Sungguh senjang perbedaannya jika dibandingkan dengan siswa-siswa SMP IT lain.

Sejak hari pertama ia masuk sekolah, sudah empat kali saya ingatkan ia. Namun sampai saat ini belum ada perubahan yang berarti. Setelah ia menulis di papan tulis itu, beberapa guru sudah mengingatkan, termasuk saya. Namun ia masih suka menunjukkan sikap yang menjengkelkan dan tidak sopan yakni memandang-mandangi akhwat di kelasnya. Setelah itu pun saya langsung mengirim sms untuk mengingatkan.

Namun ternyata di hari berikutnya ia diketahui menggunakan cermin temannya untuk memandangi siswa akhwat. Inilah yang membuat saya begitu tidak nyaman ke sekolah. Rasa-rasanya saya ingin bilang “kok bisa anak seperti ini diterima tanpa diketahui betul bagaimana sikapnya, tanpa ada kontrak yang berarti agar kita benar-benar yakin ia berniat untuk berubah?” Ia membuat selera saya berkurang untuk berlama-lama di sekolah. Saya tak kuasa mendengar cerita siswa-siswa saya yang lain terutama yang akhwat yang membuat mereka tak nyaman. Tidak hanya di sekolah, saat sekarang ini pun ketika sudah berada di rumah saya masih kepikiran. Bagaimana ini? Saya tak tahan dengan perasaan tidak nyaman dan khawatir ini.

Sampai sekarang pun, di dalam hati kecil saya, saya belum menerima ia sebagai keluarga SMP IT sampai ia menunjukkan komitmen untuk berubah: tidak lagi berniat “ngejer-ngejer” akhwat SMP IT (padahal sudah sering dibilangin oleh siswa-siswa akhwat bahwa pacaran itu haram, saya juga gurunya sering mengingatkan), tidak lagi bicara kotor seperti ‘anji**, gela*, jala*, dan sebagainya, tidak lagi merokok, dan perbuatan yang melanggar norma Islam lainnya. Sampai sekarang, yang saya ketahui, ia masih ngebet ingin mengajak pacaran salah satu siswa saya, bikin kesel aja.

Jangan kira saya terlalu menetapkan standar tinggi soal ini. Saya pernah mengajar di sekolah umum dan melihat banyak hal yang tidak ideal. Saya maklum. Bahkan saya pernah menetapkan aturan bahwa siswa boleh makan minum di kelas saya asal tenang dan tetap mendengarkan penjelasan. Ketahuilah, saya paham realita pendidikan di Indonesia. Tapi ini soal lain, ini soal sekolah yang saya cintai yang mengusung pendidikan Islami, sekolah Islam terpadu.

EVALUASI DIRI DAN SISTEM SEKOLAH        

Dari kejadian ini, alhamdulillah saya semakin termotivasi untuk menjaga pandangan saya terhadap perempuan non mahram. Saya merasakan bagaimana sakitnya hati ketika orang-orang yang kita sayangi diperlakukan dengan tidak sopan. Saya juga jadi sering berpikir tentang bagaimana sebaiknya sistem sekolah. Ada beberapa hal yang menjadi ide saya untuk sekolah, dalam hal ini sekolah Islam Terpadu. Berikut poin-poinya:

  • Sekolah Islam Terpadu harus steril dari kegiatan pacaran (mengajak pacaran, berdua-duaan, dan sebagainya),  merokok, dan berkata-kata kotor/kasar sehingga ini harus menjadi standar akhlak siswa SMP IT. Jika memang ada calon siswa yang masih “jejelenge” (baca: bodoh) soal itu dalam artian belum mengerti bahwa pacaran, merokok, dan berkata-kata kasar/kotor itu tidak baik, maka harus diberi peringatan atau sebuah kontrak komitmen di awal bahwa jika ia benar-benar berniat memperbaiki diri di sekolah Islam Terpadu ia harus siap diberhentikan jika pada saatnya ia melakukan perbuatan tersebut.  Ini penting agar tercipta lingkungan Islami di sekolah Islam terpadu. Jika ada satu saja siswa yang belum serius soal itu, maka itu bisa menjadi virus yang membahayakan bagi siswa lainnya. Belum lagi hal itu dapat membawa ketidaknyamanan bagi siswa dan guru. Hal inilah yang menjadi kebanggaan saya mengajar di sekolah Islam terpadu meskipun gaji yang saya punya tidak seberapa. Namun jika hal ini tidak bisa dipenuhi, maka hilanglah kebanggaan itu meskipun gaji yang saya terima di atas rata-rata.
  • Menerima guru yang juga steril dari pacaran (tidak pacaran dan tidak menganggap pacaran sebagai sesuatu yang lumrah), merokok, dan berkata-kata kotor/kasar. Saya lebih baik keluar dari sekolah Islam Terpadu jika hal ini tidak bisa dipenuhi. Anda bisa bayangkan bagaimana jadinya. Teladan adalah hal utama. Itulah mengapa, mengajar di sekolah umum yang guru-gurunya tidak satu visi dengan kita itu sulit.

Inilah pemikiran saya agar sekolah Islam terpadu lebih baik lagi ke depannya. Semoga dapat memberikan manfaat.Wallahu a’lam. Jayalah Pendidikan Indonesia!

“‘SUBHANAKAALLAHUMMA WA BIHAMDIKA, ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA (Maha Suci Engkau Ya Allah dan segala puji bagi bagi-Mu, tidak ada Rabb yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampunan dan taubat kepada-Mu).”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s