Menerapkan Cara Ayah Dr. Arun Gandhi di Kelas (Kekuatan Tanpa Kekerasan)

Sebagai seorang guru SMP dan SMA, kita sering menemukan banyak akhlak buruk yang dilakukan siswa. Berkelahi, tidak mengumpulkan tugas, mengganggu teman, dan menyontek adalah beberapa perilaku buruk yang biasa dilakukan mereka. Seringkali membingungkan bagi seorang guru ketika perilaku buruk mereka tersebut sulit sekali diubah.

Marah dan marah-marah biasa jadi pilihan, bahkan tak jarang tangan guru akhirnya “jalan-jalan” ke pipi atau kepala siswa. Saya pribadi tidak setuju jika guru terlalu mudah untuk marah-marah, apalagi memukul kepala atau menampar. Meskipun terkadang efektif untuk membuat efek jera, sikap buruk mereka hanya hilang di kelas itu saja ketika guru yang marah-marah itu mengajar.

Marah sebetulnya bisa jadi pilihan tepat untuk mengendalikan kondisi siswa atau kelas. Saya sendiri tidak menganggap marah adalah hal tidak baik dilakukan oleh guru. Saya pernah marah. Itu penting ketika kita ingin menunjukkan ketidaksukaan terhadap sikap buruk siswa agar mereka tahu bahwa tindakan itu salah.

Namun, dalam prinsip saya marah adalah jalan terakhir. Lebih baik melakukan cara yang lebih kreatif dan lebih menyentuh hati daripada marah, apalagi untuk sikap buruk siswa yang tidak terlalu berlebihan. Terlebih jika itu dilakukan oleh siswa yang memang jarang berlaku buruk, dalam artian khilaf atau ikut-ikutan temannya.

Untuk sikap buruk yang berlebihan, marah bisa jadi pilihan sebagai strategi menaklukkan siswa yang “bandel”. Tegas dan konsisten itu keharusan, namun jangan emosional apalagi sampai merendahkan harga diri siswa seperti menyebutnya siswa bodoh atau siswa tak beradab. Itu justru akan membuat mereka menaruh kebencian terhadap Anda. Jika sudah begitu, sulit berharap mereka akan menyukai pelajaran Anda. Itu akan sangat berpengaruh terhadap semangat atau motivasi belajar mereka dan pada gilirannya juga akan berpengaruh pada pemahaman mereka atas pelajaran yang Anda ampuh.

Tindakan yang lebih baik dilakukan oleh guru dalam menangani perilaku buruk siswa yang berlebihan adalah dengan menyentuh kesadarannya. Siswa remaja cenderung tidak bisa didikte. Mereka yang biasa berlaku buruk biasanya sudah tidak peduli dengan tuntutan guru.  Mereka bisa bilang “ya” ketika Anda mendikte mereka.

Namun apa yang ada di dalam hati mereka justru bertolak belakang. Apalagi jika kita mendikte dengan cara yang kasar dan merendahkan mereka. Itu justru bisa membuat perilaku buruknya bertambah parah. Jangan heran jika suatu waktu mereka malah berani membantah Anda, bahkan mengajak Anda berkelahi. Atau katakanlah mereka tak akan berani membantah Anda di kelas, namun di luar kelas atau di luar sekolah, Anda akan jadi bahan celaan para siswa. Anda sudah gagal sebagai guru yang seharusnya bisa dihormati.

Apa yang salah dari cara kita menghadapi sikap buruk siswa? Yang salah adalah kita tidak menyentuh kesadaran mereka. Kita tidak menyentuh hati mereka. Kita seringkali memperturutkan emosi sehingga merasa pantas untuk berlaku tidak adil kepada siswa yang menurut kita sudah bersikap berlebihan. Bagaimana cara yang seharusnya dilakukan. Kisah Dr. Arun Gandhi ketika ia masih kecil berikut ini (sumber: http://muftiaziz.javabeanku.com/) bisa jadi inspirasi kita dalam mendidik siswa kita di kelas.

arum-gandhi

Dr. Arun Gandhi

Dr. Arun Gandhi, anak Manilal Gandhi (putra kedua Mahatma Gandhi) bercerita, pada saat usianya 16 tahun ia pernah berbohong kepada ayahnya. Saat itu ia terlambat menjemput ayahnya dengan alasan mobilnya belum selesai diperbaiki, padahal sesungguhnya mobil telah selesai diperbaiki hanya saja ia terlalu asyik menonton bioskop sehingga lupa akan janjinya.

Berikut ini kisahnya.

“Ketika berusia 16 tahun, saya dan dua adik perempuan saya tinggal bersama kedua orang tua saya di sebuah yayasan yang didirikan oleh kakek saya di tengah-tengah kebun tebu, 18 Km di luar kota Durban, Afrika Selatan.

Kami tinggal jauh di pendalaman dan tidak mempunyai tetangga. Oleh karena itu, setiap kali ada kesempatan pergi ke kota, pasti kami tidak akan melepaskan peluang dengan mengunjungi teman atau menonton film di bioskop.

Suatu hari ayah meminta saya mengantarnya ke suatu pertemuan. Pada waktu yang sama ayah juga meminta saya melakukan beberapa hal termasuk mengantar mobil untuk diservice di bengkel. Ketika sampai di tempat pertemuan/ konferensi, ayah berpesan, “Ayah akan tunggu kamu di sini jam 5 nanti.” Setelah itu saya pun membawa mobil ke bengkel dan cepat-cepat menyelesaikan semua tugas yang di minta oleh ayah agar saya dapat mencuri waktu untuk menonton film.

Terlarut dalam menonton sampai 2 film, tanpa saya sadari jam sudah menunjukkan pukul 6.30 petang. Saya pun terburu-buru mengambil mobil di bengkel dan terus menjemput ayah. Dari jauh telah kelihatan ayah begitu sabar menunggu.

Saat memasuki mobil dengan tenang ayah bertanya. “Apa yang menyebabkan kamu terlambat, nak?”

Malu saya hendak mengaku bahwa saya terlambat karena asik nonton film. Spontan saya berbohong; “Lama menunggu di bengkel, mobilnya belum juga selesai.”

Padahal, ternyata tanpa pengetahuan saya, rupa-rupanya ayah telah menelepon bengkel tersebut. Dan kini ayah tahu saya telah berbohong.

Ayah berkata;

“Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kamu sehingga kamu tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran kepada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang ke rumah dengan berjalan kaki sepanjang 18 Km dan memikirkannya baik-baik.”

Lalu dengan tenang ayah turun dan berjalan kaki pulang ke rumah, sedangkan waktu itu hari sudah mulai gelap.

Tak sanggup meninggalkan ayah, saya menemaninya dengan membawa mobil perlahan-lahan di belakang ayah selama 5 jam setengah. Melihat penderitaan yang dialami oleh ayah hanya karena kebohongan bodoh yang saya lakukan, sejak itu saya bertekad tidak akan lagi pernah berbohong.

Dr Arun melanjutkan, “Seringkali saya berfikir mengenai peristiwa ini dan merasa heran. Seandainya Ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapatkan SEBUAH PELAJARAN MENGENAI KESALAHAN TANPA KEKERASAN? Saya kira tidak, saya akan menderita atas hukuman itu dan akan mengulangi melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, dapat menyadarkan saya dan memberi kesan yang sungguh mendalam sehingga saya merasa kejadian itu baru saja terjadi kemarin. Itulah KEKUATAN TANPA KEKERASAN.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s