Talent Is Overrated?? Apakah Anda Masih Percaya dengan Talent?

Talent Is Overrated?? Apakah Anda Masih Percaya dengan Talent?

Seorang teman saya, seorang dosen yang mengajar di Amerika, pagi ini nampaknya gundah dan menulis status,

“Ada beberapa orang yang merendahkan pekerjaan saya sebagai guru atau dosen. Mereka bilang kalau ngajar itu gampang. Saya jawab kalau semua orang bisa main sepak bola. Tapi tidak semua orang bisa main sepak bola sekelas pemain sepak bola klub, provinsi, nasional atau profesional apalagi sekelas Pele, Cristiano Ronaldo, dan Lionel Messi. Begitu juga dengan olah raga atau profesi/pekerjaan lainnya. Setiap orang bisa melakukan hal ini atau itu. Saya percaya kalau banyak orang bisa mengajar. Tapi tidak semua orang bisa menjadi guru atau dosen yang baik.”

Tentu saja saya setuju pendapat bahwa, “Banyak orang yang bisa mengajar, namun tidak semua orang bisa menjadi guru dan dosen yang baik”. Inilah sesungguhnya yang disebut dengan potensi unik, yang Allah berikan kepada semua makhluk di alam semesta.

Potensi Unik dan Makna Sukses

Seorang pakar potensi unik menulis bahwa definisi sukses adalah “seberapa besar manfaat bagi orang lain dan atau lingkungan”.

Dan masing masing orang (bahkan semua ciptaan Allah), pasti diberikan jalan sukses tidak terkecuali, sayangnya hanya sedikit yang tahu jalan suksesnya masing-masing.

Mengapa begitu sulit untuk tahu jalan suksesnya adalah lagi-lagi karena banyak orang yang ingin meniru sukses (jalan sukses) nya orang lain, padahal Allah sudah menyediakan potensi unik bagi setiap manusia.

Jadi agar menjadi orang yang bermanfaat, maka jawabannya adalah didalam dirinya sendiri yaitu “Potensi Unik” nya sendiri.

• Setiap manusia akan beramal sesuai konfigurasi tema-tema bakat (syaakilah) yang ada dalam dirinya.
QS. 17:84
• قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَى سَبِيلا
Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut syakilah-nya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.

Jadi setiap orang sudah ditakdirkan memiliki Potensi Unik, dan itu bisa berupa

1. “Keistimewaan Fisik” (panca indera) yang menghasilkan potensi BIDANG seperti : melukis, menyanyi, memasak, bercocok tanam, beternak dlsb. 
2. “Sifat Produktif” yang menghasilkan potensi PERAN seperti: mengajar, memanage, meneliti, menata, merancang, berjualan dlsb.

Keistimewaan Fisik mudah diamati dari kegiatannya dan itu yang selama ini kita kenal sebagai Bakat. Akan tetapi sifat produktif atau Potensi Peran agak sulit menemukannya dan biasanya belum dianggap sebagai potensi unik padahal jauh lebih banyak implementasinya.

Penolakan terhadap Potensi Unik

Dalam sebuah diskusi tentang bagaimana mendorong agar anak mau menulis dan menjadi penulis, saya memberikan komentar, yang kemudian membuka tabir bahwa ada banyak orang di dunia yang menolak

Komentar saya, sbb:
“Setiap orang bisa dillatih untuk menjadi penulis. Namun, menjadi penulis “hebat” memang harus bakat, bukan sekedar passion ttp harus panggilan jiwa. Rela meninggalkan semuanya utk satu2nya misi hidup yg harus ditunaikan, yaitu menjadi penulis.”

Seorang teman memberi sanggahan dan mengajukan referensi dengan menulis,
“Dari dulu instinct saya mengatakan bahwa “hebat’ itu tidak ditentukan oleh “bakat” — dalam artian inborn talent (bakat bawaan dari lahir) yang berkaitan dengan genetic material yang diwarisi dari orangtuanya (dalam dialek prokem “dari sononya”). Sampai saat ini para scientists –kendati kemajuan yang luarbiasa dalam genomics– masih belum bisa menentukan gene mana (dari 20,000+ genes) yang bertanggujngjawab pada “bakat” tertentu. Lha kalau bukan dari bakat terus apa yang membuat sebagian orang itu “hebat” banget? Menurut researchers yang sudah lama ngotak-atik bidang ini, jawabannya sudah ditemukan … yaitu apa yang disebut “deliberate practice.” Binatang apakah deliberate practice itu? Well, ceritanya panjang, dan karena sudah ada buku yang menjlentrehkan sampai njlimet, silahkan baca sendiri saja buku yang ditulis oleh Geoffrey Colvin (Senior Editor at Large untuk Fortune Magazine), “Talent is Overrated: What Really Separates World-Class Performers from Everybody Else” (ISBN 9781591842248),

Penelusuran Saya atas Penolakan Potensi Unik

Setidaknya, selain Geoffrey Colvin yang menolak adanya potensi unik atau Talent, saya menemukan setidaknya dua penulis barat kawakan yang menolak Talent atau “Talent Nature”. Diantaranya adalah Malcolm Gladwell, dalam bukunya “Outliers” dan John Grisham dalam bukunya “The Associate”.

Saya sudah membaca resensi bukunya Geoffrey Colvin, termasuk pemikiran awalnya yg tertuang pd buku sebelumnya “the myth of the natural – practice, passion, and the good news about great performance”

Dari latar pemikiran itu nampak bhw Geoffrey menolak konsep “fitrah penciptaan”, yaitu sifat dan potensi alamiah atau bawaan manusia yg mengiringi penciptaannya. Menurut saya, fikiran seperti ini biasa dalam masyarakat barat yang Atheis dan menganut propaganda evolusi Darwin.

Menurut saya, tidak ditemukannya gene yg bertanggungjawab thd talent pada DNA manusia, tidak membuktikan bhw talent tidak ada. Dalam pandangan Geoffrey, sepintas, bahwa segala sesuatunya termasuk kehebatan tergantung dari seberapa banyak latihan, interaksi dan kerja keras atau disebut oleh mereka dengan istilah “Deliberate Practice”

“Deliberate Practice” Membuat Hebat?

Menurut pandangan mereka yang menolak Potensi Unik, bahwa Rumus kehebatan atau Genius adalah 10000 Jam Kerja Keras (3 Jam perhari selama 10 tahun) plus Luck (Keberuntungan – righ time, right place, right parents, right friends dll). Jadi intinya, Potensi Unik tidak diperlukan, ini, menurut mereka, persoalan malas atau rajin, banyak latihan dan keberuntungan.

Saya pribadi tidak menolak konsep CARA SUKSES seperti “kerja keras (work), banyak latihan, rajin dll” , namun saya juga tidak menolak konsep “fitrah penciptaan” bahwa manusia memiliki potensi unik yg dibawa sejak lahir termasuk potensi bakat dan potensi sifat produktif, seperti yg ditolak Geoffrey. Namun saya juga tidak menolak bahwa sifat dan potensi itu, terutama yg spesifik memerlukan latihan, interaksi dan kerja keras.

Kalau dimisalkan sbg aliran Qadariyah (segala sesuatunya given dari Tuhan) dan ada aliran Jabariyah (segala sesuatunya karena usaha manusia), maka sebaiknya kita berada di tengah.

Bahwa Allah menciptakan potensi2 bawaan dan manusia mengupayakan agar potensi yg ditakdirkan itu menemui takdir lainnya yaitu hebat dan manfaat melalui latihan dan kerja keras.

Namun latihan dan kerja keras selama ribuan jam tidak akan maksimal apabila faktor potensi unik tidak ditemukan lebih dahulu. Simak beberapa pendapat beberapa pakar Human Development yang menuliskan bahwa belajar dan latihan tanpa potensi unik akan tidak efektif dan efisien.

“Although studies have shown that real change can result from training, most of the time the change doesn’t seem to be sustained, which is why it is often called the honeymoon effect. Considering that more than 60 billion dollars spent in North America alone on training (2001), this is a sobering observation.” 
“Meskipun penelitian telah menunjukkan bahwa perubahan nyata didapat dari hasil dari pelatihan, namun umumnya, waktu perubahan tampaknya tidak bisa berlangsung lama, ini mengapa sering disebut efek bulan madu. Menimbang bahwa lebih dari 60 miliar dolar yang dihabiskan di Amerika Utara saja untuk pelatihan (2001), ini adalah pengamatan serius.” “
(Daniel Goleman et al – pakar Emotional Intelligence)

“What Americans believe people can change is-in historical perspective- truly astonishing. We are told that we can improve ourselves in almost every way. Our children taught: to read, to be good citizen, to be lovingly sexual, to exercise, to have high self esteem, to enjoy literature, to be ambitious, to obey the lawets. The reality fall short”
“Apakah Amerika percaya orang bisa berubah adalah yg dalam perspektifsejarah-sungguh menakjubkan. Kita diberitahu bahwa kita dapat meningkatkan diri di hampir semua cara. Anak-anak kita diajarkan: membaca, untuk menjadi warga negara yang baik, untuk menjadi penuh cinta seksual, untuk berolahraga, untuk memiliki harga diri yang tinggi, untuk menikmati sastra, untuk menjadi ambisius, mematuhi lawets. Kenyataannya gagal”

(Martin Seligman, Pakar Psikologi dalam Cognitive BehaviorTherapy, Father of Positive Psychology)

Tentang Kehebatan

Logika keimanan saya mengatakan bahwa tidak mungkin Allah menciptakan manusia tanpa meletakkan potensi kehebatan. Karena tidak ada manusia yg sempurna, maka potensi kehebatan ini spesifik dan unik agar bisa saling melengkapi.

Jangankan manusia, kalau kita melihat tabel unsur periodik kimia, dapatlah kita simpulkan bhw alam semesta ini memiliki takdir penciptaannya, berupa sifat dan potensi. Masing2 unsur itu unik dan spesifik dan saling melengkapi.

Bila sifat dan potensi Fe, kita kenali, lalu kita hebatkan sesuai takdir penciptaanya itu maka dia akan hebat. Ada manfaat yg hanya hebat bila dilakukan oleh Fe, dan tidak bisa hebat2 amat bila dilakukan oleh unsur lain misalnya He, H, O, Cl dsbnya. Ada yg hebat bila bersama2 saling melengkapi rantainya dsbnya.

Begitupula dengan manusia. Seorang penulis, setidaknya dia memiliki personaliti produktif sbg researcher, investigator mungkin sedikit komunikator, designer, developer dan mungkin tdk terlalu penting memiliki sifat problem solver, leader, clerical, collector, arranger, collaborator dll. Berbeda sedikit dgn dosen dan peneliti, berbeda banyak dgn pengacara, debt collector, jaksa, akuntan dll

Namun, sekali lagi, potensi unik tetap masih berupa potensi kehebatan yg harus digali dan dikembangkan serta dihebatkan dengan berbagai cara.

Jadi tentang kehebatan, saya berbeda dari Geoffrey dan para penganut yang menolak potensi unik atau potensi bakat. Setiap manusia sesungguhnya punya potensi kehebatan yg unik dan spesifik. Hanya saja tidak setiap manusia mengenali dan mampu menghebatkan potensi bawaan yg spesifik dan unik itu.

Jika anda melatih sesuatu yang bukan potensi kehebatan seseorang atau melatih kelemahan seseorang, maka hasilnya bukan hanya akan tidak hebat2 amat, tetapi juga menjadi kehilangan kehebatannya sama sekali. Indonesialah contohnya, baik skala individu, maupun skala bangsa.

Saya kira ini peran pendidikan berbasis potensi unik dan sudah saatnya kita memulainya segera.

Salam Pendidikan Peradaban 
‪#‎pendidikanperadaban‬ ‪#‎mlc‬ ‪#‎cbtd‬ 

Tulisan ini murni saya salin dari Millenial Learning Center Group di Facebook, tulisannnya Pak Harry Santosa (https://www.facebook.com/harry.hasan.santosa?fref=ufi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s