Pengalaman Pertama Telat (Ekstrim) Naik Pesawat

Sriwijaya AirSaya merasa begitu bodoh ketika membayangkan kejadian kemarin (26/3/2014). Itu adalah kali pertama saya telat Check In pesawat. Jadwal keberangkatan saya 10.45 wib dan saya baru tiba di bandara pukul 10.40 wib. Luar biasa rasanya.

Kali ini saya naik pesawat Sriwijaya Air untuk pulang ke Palembang dari Pontianak. Tiketnya sudah saya pesan satu hari sebelumnya. Biayanya sekitar Rp1.200.000. Untuk ke bandara saya diantar Mr. Aji dengan mobil kesayangannya. Satu teman saya, Panja ikut menemani. Kami berangkat dari rumah (kantor SBS Pontianak) pukul 10.00 wib. Sedangkan jadwal keberangkatan saya 10.45 wib. Saya sebenarnya khawatir sekali telat. Tapi saya mencoba berusaha tenang dan berpikir positif. “Pasti terkejar”,pikir saya waktu itu.

Sesampainya di Bandara Supadio Pontianak

Sampai di bandara sekitar 10.40 wib. Saya bergegas. Mr Aji menyarankan saya agar meninggalkan tas gunung saya dulu agar saya tidak ribet. Tapi saya bilang biar sekalian saya check in bagasi. Panja masih sempat minta foto-foto dulu. Oh, tidak. Saya tentu menolak karena saya sudah benar-benar telat. Seharusnya paling lambat check in 30 menit sebelum jadwal keberangkatan. Setelah salaman dengan Mr. Aji dan Panja serta menerima bungkusan oleh-oleh dari Mr. Aji, saya langsung beregas masuk bandara.

Ada satu hal yang membuat saya merasa begitu bodoh saat masuk bandara. Ketika ada bapak di dalam bandara yang mengatakan bahwa tasnya biar mereka yang urus biar bisa langsung ke counter check in. Karena pikiran saya lagi panik, saya jadi berpikir pendek. Saya pikir mereka petugas Sriwijaya Air.  Ketika saya lihat lagi ternyata tas saya dibungkus dengan plastik yang saya yakin pasti berbayar. “Dasar Indonesia! jualan gak bener! Maksa dengan halus!”, ujar saya dalam hati. Saya hampiri bapak itu. “Pak, tadi saya gak minta dibungkus loh!” Pokoknya dia ngeles hingga akhirnya saya pun harus bayar Rp35.000. Saya minta ia cepat menyelesaikan bungkusan tas saya karena saya belum check in. Saya lihat di papan informasi elektrik yang ada di check in counter Sriwijaya Air sudah berubah ke jadwal penerbangan selanjutnya. Saya makin panik dan langsung bergegas ke petugas Check In Counter Sriwijaya Air.

Singkat kata setelah berurusan dengan petugas Check In, saya diminta langsung ke pesawat dan menjinjing sendiri tas saya ke pesawat karena check in bagasi sudah gak diterima. Saya harus lari ke pesawat dengan mengangkat tas gunung 80 liter saya yang padat. Dompet dan tiket tidak sempat saya masukkan dalam kantong celana. Saya berhenti di sebuah konter untuk bayar Airport Tax kemudian lansung menuju pesawat. Untung di gerbang tunggu ada petugas yang memang sengaja menunggu saya yang notabene penumpang terakhir.  Saya diminta untuk Check In bagasi di Jakarta nanti. Itu artinya mesti berurusan lagi dengan petugas terkait. Oh, pengalaman!

Sampai di Palembang

Waktu duduk di pesawat, sambil mengatur nafas saya terbayang-bayang dengan kejadian tadi. “Ya Allah, untung masih sempet naik pesawat! Edan!” saya berkata dalam hati. Saya jadi berpikir “kejadian begini saja kepikirannya begini, apalagi kejadian orang-orang yang membuat mereka hampir mati atau kejadian yang membuat kita merasa bersalah seumur hidup karena membuat nyawa orang melayang misalnya, pasti lebih traumatik, lebih membekas di pikiran dan bisa mempengaruhi kejiwaan”. Saya langsung mengambil hikmah pemikiran saya tersebut. “Jangan pikirkan lagi kebodohan saya tadi. Lupakan!”, saya berbicara kepada diri saya sendiri. Saya mencoba menenangkan diri dan melupakan kejadian tadi dengan membaca majalah yang tersedia di pesawat.

Setibanya di Palembang, seperti biasa saya mencari bus Trans Musi karena biayanya yang murah, cuma Rp5.000. Untuk naik taxi minimal saya harus menghabiskan uang Rp50.000. Tapi ternyata saat itu saya tidak melihat Trans Musi. Saya pun menunggu sebentar di dekat masjid bandara, siapa tahu sebentar lagi datang. Rencananya saya mau langsung ke loket travel Lahat Wisata untuk langsung berangkat ke Lahat.

Setelah lama menunggu ternyata Trans Musi tak datang-datang juga. Saya pun berkeputusan untuk naik taxi sampai simpang empat saja agar lebih murah. Saya pikir tidak ada biaya minimalnya. Alhamdulillah supirnya baik mau bilang kalau taxi yang saya naiki ada biaya minimalnya, yakni Rp50.000. Saya pun turun lagi dan diminta naik ojek saja. Saya pun langsung cari ojek. Biayanya Rp20.000 sampai simpang empat tempat di mana saya bisa menunggu bis kota ke arah loket Travel Lahat Wisata di dekat International Plaza alias IP. Baru saja mau naik ojek, Trans Musi datang. Dengan berani saya katakan “Pak maaf ya, gak jadi. Gak papa kan?!” Akhirnya saya pun naik Trans Musi. Oh, pengalaman!

Gak lagi deh. Kapok! Saran saya untuk Anda yang mau berpergian dengan pesawat adalah pastikan Anda sudah sampai bandara satu jam sebelum keberangkatan. Biar lebih aman. Check In pesawat sebenarnya sudah dibuka dua jam sebelum jadwal keberangkatan (koreksi kalo salah). Sebenarnya sih saya sudah rencanakan begitu, pergi dua jam sebelum jadwal kebarangkatan. Tapi kondisi kemarin berkata lain. Ya gak papa deh, itung-itung pengalaman. Tetep alhamdulillah karena untung masih sempet naik pesawat.  :D

9 pemikiran pada “Pengalaman Pertama Telat (Ekstrim) Naik Pesawat

  1. Hahahaha.. Pantesan, Rupanya Diantar Bng Aji..
    mereka itu biasa, klu brngkt jam 10, dari rumah brngktnya jam 9:55 (ane lebih-lebihkn krn kadang Jengkel juga dgn kebiasaan itu)..hahahahaha

    Semoga jadi pengalaman berharga,. sehingga ane punya temen yg sifatnya (lbh baik nunggu dibandara) lg di Tim SBS, krn selalu ane yg “Panic” setiap mau berpergian -__-

  2. Kalau pengalaman pribadi saya belum bro, tapi mengantarkan orang yang nyaris melangami pengalaman serupa pernah, smpe2 lupa pamitan, nyaris lupa boarding pas. Saya sih ketawa2 aja liatnya…

  3. Agak mirip pengalaman saya waktu transit di Medan untuk penerbangan Banda Aceh Ke Jakarta. Saking penuhnya ruang tunggu, kita sekeluarga (5 orang) gak denger pengumuman untuk naik ke pesawat. Kita baru tau kalau pesawat sudah akan berangkat karena ada petugas maskapai yang mendatangi kita, setelah mencari satu persatu di ruang tunggu bandara Polonia Medan yang lumayan luas dan kita duduk paling pojok.

    Waktu masuk ke pesawat, ternyata kita penumpang terakhit dan tempat duduk kita ada di baris belakang. Sementara kita masuk melalui pintu depan.

    Duh.. Walk of Shame banget deh😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s