3 Sikap yang Diperlukan Guru Demi Kebaikan Siswa

gto_class_drama

Guru Hebat

Kali ini saya akan berbagi sedikit ilmu yang saya dapatkan dari buku Mengajar dengan Hati yang ditulis oleh Allen. M. Nendler (Penerbit Kaifa). Ia adalah seorang psikolog sekolah, guru, konsultan pendidikan, dan pembicara seminar yang bertempat tinggal di Rochester, New York. Buku ini secara umum menjelaskan apa saja yang perlu diperhatikan guru dan juga pejabat sekolah agar hubungan antara siswa dan pendidik dapat menjadi daya ungkit siswa untuk mengembangkan potensinya di sekolah

Sebenarnya ada banyak yang bisa disampaikan mengenai buku ini, namun saya hanya mengambil tiga poin penting yang berguna jika dipahami oleh setiap guru.

  •          Mengatasi Kurangnya Daya Tarik

Apa yang kalian rasakan ketika bertemu dengan siswa dengan penampilan yang berlebihan dan tampak seperti seorang berandalan? Sebagian dari guru biasanya akan merasa “ilfil” dengan siswa seperti itu lalu menjaga jarak dengannya. Kita cenderung memberi perhatian yang lebih sedikit kepada siswa-siswa seperti itu.

Allen menjelaskan bahwa apa yang seharusnya kita lakukan tentang ini adalah memisahkan keyakinan, penilaian, dan standar moral pribadi kita dari tanggung jawab kita untuk merasa kasihan dan prihatin terhadap mereka yang kita anggap berbeda atau bahkan mungkin secara pribadi tidak dapat kita terima.

Kita mesti paham bahwa peran kita adalah seorang pendidik sehingga kita tidak punya hak untuk memutuskan siapa yang dianggap patut untuk diberi perhatian lebih dan siapa yang tidak. Tinggalkan pemikiran konvensional  tentang ini. Jangan menyerah pada persepsi dan penilaian pribadi saja tentang siswa Anda sehingga renggangnya hubungan dan bahkan penolakan siswa atas sikap kita dapat dihindari. Apa yang bisa diharapkan jika siswa Anda tidak menyukai Anda?

  •          Menganggap Anak Bermasalah sebagai Guru

Saya merasa sangat beruntung ketika PPL (praktik mengajar saat kuliah) diberikan tanggung jawab mengajar empat kelas yang berbeda. Di situ saya menemui siswa-siswa dengan karakter yang berbeda-beda. Ada kelas dengan siswa-siswa yang memang mudah diatur. Ada kelas yang siswa-siswanya sering bermasalah di dalam sekolah dan di luar sekolah.

Ketika saya tanya guru PPL yang mengajar di sekolah yang lain, tidak sedikit mereka yang suka mengeluhkan siswa-siswa mereka yang sulit diajak bekerjasama sehingga mereka cenderung tidak menikmati tugas yang mereka emban. Mereka menanggapinya dengan cara yang berbeda. Ada yang merasa stres dan frustasi sehingga rasanya ingin cepat-cepat mengakhiri kelas, ada yang bersikap cuek (tidak peduli dengan keadaan siswa-yang penting guru sudah menjelaskan materi), ada juga yang merasa tertantang dan terus berusaha meskipun terkadang ia gagal dalam mengatur siswa-siswanya.

Sikap yang benar adalah tentu menjadikan siswa-siswa bermasalah yang kita temui adalah sebagai guru yang mengajari kita. Yakinlah senakal apa pun siswa mereka masih punya hati. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan yang mungkin belum kita ketahui. Maka dari itu, teruslah merasa tertantang, terus belajar, dan terus berkreasi.

  •          Meninggalkan Toleransi Nol

Maksud dari sikap ini adalah jangan terlalu kaku soal peraturan untuk siswa yang telah ditetapkan.  Meskipun guru sangat diharapkan untuk bersikap konsisten namun bukan berarti tidak ada toleransi untuk sebuah kesalahan.

Saya ingin mengutip apa yang dikatakan Allan tentang ini. Katanya:

Jika pengertiannya dipaksakan secara kaku, toleransi nol dapat mengakibatkan jatuhnya sanksi yang tidak perlu, seperti skorsing atau dikeluarkan dari sekolah.  Dan hal itu tidak akan membantu apa-apa, justru kaum muda-yang pada dasarnya sudah tercerabut hak-haknya-akan merasa semakin terasing. Diskors karena membawa pisau plastik dalam ransel atau membawa pengikir kuku tanpa sengaja, jelas tidak perlu terjadi. Bahkan kasus-kasus yang lebih kompleks masih diperlukan analisis dan penilaian dalam menjatuhkan sanksi.

Agar lebih memahami ini Anda bisa membaca tulisan ini Menentang Ilmu Pendidikan.

Semoga bermanfaat.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s