Jika Orang-orang Terdekat Meninggal Dunia

Meninggal Dunia

Pernah merasakan bagaimana rasanya ditinggal mati orangtua, kakak kandung, atau adik kandung yang sudah bertahun-tahun hidup bersama dengan Anda? Aku pernah. Bayangan di pikiran dan perasaan yang ada selepas kematian mereka sungguh menarik untuk diceritakan sepertinya. Sebelum aku cerita panjang lebar. Jika perlu bacalah ini sambil mendengar alunan musik kontemplasi. Kemudian bayangkan, saat ini juga Anda menerima sebuah SMS tentang berita kematian mereka, misalkan ibumu atau ayahmu. Kenangan-kenangan yang ada di pikiran kalian tentang hidup mereka berputar di pikiran. Senyum mereka. Canda mereka. Tangis mereka. Marah mereka.

Ayah meninggal tanggal 14 Agustus 2013, siang hari di RSUD Kab. Lahat. Saat itu aku sedang dalam perjalanan menuju Indralaya, kota di mana kampusku berada. Perjalanan ke Indralaya dari Lahat butuh waktu empat jam. Saat itu aku sudah menghabiskan waktu perjalanan sekitar tiga jam. Satu Jam lagi aku seharusnya sudah sampai ke Indralaya.

Aku pergi ke Indralaya saat itu hanya karena ingin menghadiri gladi resik wisuda besok harinya. Hari itu sebenarnya Ayah sudah sekarat di rumah sakit. Aku menimbang-nimbang dan berkonsultasi dengan beberapa orang apakah aku sebaiknya pergi ke gladi resik atau tetap tinggal di Lahat, MENUNGGU BERITA “BAIK” YANG SUDAH SIAP KAMI TERIMA. Ibu sempat menyarankan untuk tidak perlu pergi ke gladi resik. Namun aku bilang “aku akan langsung pulang setelah selesai, bu”.

Aku pergi dengan sebuah firasat “di tengah perjalanan akan ada berita kematian Ayah”. Selama sekitar tiga jam di perjalanan aku ditelingaku mengalun sendu lagu-lagu sedih. Saat itu aku sudah membayangkan bagaimana rasanya jika tiba-tiba ada sms “Ke, Ayah meninggal…” HP-ku pun sempat berbunyi dengan nada dering SMS dan juga telepon. Beberapa lama nada itu aku abaikan karena saat itu sedang dalam keadaan tidur (tapi tidak terlalu lelap). Barulah setelah sadar, aku pun membuka HP. Ada panggilan tak terjawab beberapa kali oleh kakakku. Aku sudah menduga-duga. Aku juga membuka pesan BBM. Ternyata ada beberapa orang yang sudah mengirimi aku BBM. “Om Ike, Opa meninggal😦 ” ; “Ike, turut berduka cita ya. Sabar ya” ; Tangisku saat itu pun pecah. Aku menangis sesenggukan sembari menahan suara karena saat itu aku sedang berada di mobil. Malu jika didengar orang. Teringat kenangan-kenangan saat hidup bersama Ayah. Teringat kesalahan-kesalahanku yang membuat Ayah kesal, bahkan saat ia terbaring dengan sakit sesaknya di rumah sakit. Astaghfirullah..

Singkatnya aku kembali langsung ke Lahat. Aku membayangkan apa yang terjadi dengan roh Ayah saat itu. Aku memandangi langit senja yang warnanya hampir meredup, seolah-olah di sana ada wajah Ayah. “Innalillah. Oh Ayah! Maafkan aku atas segala kesalahanku! Ayahku pergi meninggalkanku bersama dengan tenggelamnya mentari di ufuk sana…” “Ayahku tenggelam. Ayahku memang sudah senja. Aku begitu sedih. Aku akhirnya merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan orang terdekat yang dicintai.”

Begitulah kematian. Kalian juga akan segera merasakannya, begitupun aku. Apa yang kalian cintai saat ini akan segera pergi. Siapkan perasaan kalian agar kalian tak ikut mati dalam ratapan yang berlebih-lebihan ketika ditinggalkan orang-orang tercinta. Rasanya cepat sekali mereka pergi. Kamar yang dulu mereka tempati kini kosong. Senyum dan segala ekspresi wajah yang bisa kita nikmati sewaktu mereka hidup telah hilang. Suasananya jadi berbeda. Semoga orang-orang yang kita cintai dimatikan dalam keadaan khusnul khotimah, begitupun kita. Aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s