Mengapa UN Sebagai Syarat Kelulusan Perlu Ditolak

Munif Chatib

Satu lagi guest post yang saya dapat minggu ini, dari Ibu Arifah Handayani yang juga pendiri group Smart Parenting di Facebook. Di posting ini Bu Arifah bercerita tentang tanggapan seseorang yang membela Ujian Nasional serta tanggapan balasan dari Pak Munif Chatib, seorang konsultan dan pengamat pendidikan di Jawa Timur. Pak Munif memberikan beberapa argumen tentang mengapa UN perlu ditolak sebagai syarat kelulusan dan perlu direfungsikan sebagai pemetaan distribusi kualitas pendidikan saja. Dengan ijin Bu Arifah, tulisan ini saya jadikan guest post serta sekaligus pembuka untuk beberapa serial tulisan ke depan mengenai Ujian Nasional dan berlapis-lapis permasalahannya. Enjoy!

——————————

Waktu Pak Munif bilang 10 juta Facebooker perlu tolak UN.. Maka spontan saya bikin Group 10 Juta Facebooker Tolak UN.. Ga nyangka seorang Trainer dan penulis buku.. Pak Amir Faisal merasa perlu menegur saya..

Amir Faisal:

UN membuat anak terdorong belajar dengan sungguh-sungguh, mau dimotivasi, mau diajak istighasah, bahkan anak laki-laki saya jadi rajin sholat dan jadi birrul walidain, karena kekuatirannya tidak lulus saya manipulasi secara cerdas . .

Kompetensi yang distandarkan di UN lah yang harus disesuaikan kebutuhan dan output yang dikehendaki dengan memperhatikan regionisasi sesuai dengan semangat KTSP.

Standarisasi mutlak diperlukan dalam rangka menghadapi dunia global. Masalahnya dari ke 8 standar pendidikan menurut PP 19/2005 lebih ditekankan pada STANDAR EVALUASIi. Ibaratnya membawa motor China ke bengkel Ahass minta untuk diperbaiki ??!

Pengalaman saya mentraining ribuan Guru dan Kasek, banyak yang tidak pernah mengetahui apa yang namanya Standar Nasional Pendidikan. Bahkan lucunya ketika PP 19 itu adalah PP tentang apa, saya buat Quiz berhadiah, engga ada yang bisa menebak ??!!

Sehingga pengumpulan pendapat tentang UN menjadi tidak logis kalau mereka yang nge add tidak pernah tahu menahu tentang Sisdiknas. Ini bukan Pilkada.

Arifah <dengan polos menjawab>:

Kami belum lama ikut bedah buku Sekolahnya Manusia tulisan Pak Munif.. Yang berteriak lantang UASBN/UN dg materi soalnya.. tidak mampu membuat anak berpikir analitik kreatif dan inovatif..

Coba Pak Amir Friend dg Pak Munif, lihat pikiran2nya.. Mungkin akan melihat betapa sistem kurikulum dan teaching method guru2 selama ini memang sudah salah kaprah..

WAllahu’alam.. Kalo bisa seeh maunya kasih Home Schooling..

Amir Faisal menulis lagi:

Sisdiknas sudah merupakan produk yang terbaik hingga saat ini dan sangat memihak Lembaga Sekolah Muslim. Proses pengambilan keputusannya sangat panjang dengan menampung aspirasi dari para pakar pendidikan terbaik negeri ini. Jika masih ada overlapp itu sekali lagi pada implementasinya, sebagaimana comment saya kemarin, banyak pendidik yang tidak mau membacanya apalagi mempelajarinya.

Jika ke 8 standar dalam PP 19/2005 dilakukan secara seimbang dan prosesnya kosekwen dengan bunyi pasal 19nya, serta memperhatikan aspek regionalitas

(Apa yang tulis dalam comment saya kemarin mengenai ini ternyata sorenya sejalan dengan pendapat Prof Dr. Arif Rahman yang telah diakui kapasitas kepakaran dan keESQnya)

Sebaiknya ditunjukkan yang salah kaprah itu di bag mana. Misalnya, bag mana dari PP 19/2005 yang tidak sejalan dengan UU N0 20/2003, ataupun PP dan SK Mendiknasnya, itu yang harus diperbaiki.

Jadi jangan karena ada pendapat dari satu orang pakar, kemudian UU yang telah dibuat dengan susah payah itu, belum kita terapkan (dibaca saja engga) terus kita bongkar lagi.

Banyak sekali lembaga pendidikan di Indonesia yang sudah sangat bagus pemberdayaannya. Sebaiknya Pak Munif menggunakan pola pikir positip, dalam arti persepsinya cenderung pada sisi baiknya pada Sisdiknas. Dengan begitu bisa membantu memperbaikinya. Bukan membuat semakin blunder..

Nah loh..

Pusing kan.. saya harus bilang apa lagi.. wong saya ini Full Time Mom yang belum selesai belajar.. maka saya forwardlah dialog ini langsung ke Suhu MI saya, Pak Munif.. Alhamdulillah.. ternyata kemudian Pak Munif Nggak tanggung-tanggung langsung menanggapi dalam satu tulisan panjang berikut..

Munif Chatib:

Salam Pak Amir Faisal… semoga selalu dalam keberkahan dan kesehatan tak terhingga dari Allah SWT.

Langsung saja pak Amir … saya kog kurang sependapat ya..tentang UN membuat anak kita terdorong belajar dengan sungguh-sungguh, sampai rajin sholat, atau tiba-tiba ada istighosah agar lulus ujian. Menurut saya ayolah kita buka mata hati kita tentang kenyataan yang sebenarnya tentang dampak UN buat anak-anak kita.

1. UN dan Kondisi Psikologis Siswa

Beberapa hari ini di banyak stasiun TV diundang anak-anak kita yg ‘cerdas’ tapi tidak lulus UN. Mereka kecewa dan kekecewaan ini masuk memori jangka panjang mereka, tidak terlupakan seumur hidup.

Semoga pak Amir melihat juga tayangan telivisi betapa shock-nya anak yang begitu melihat dia tidak lulus UN. Mereka shock pak…sampai pingsan. Di Sidoarjo pak, di kota saya tahun kemarin ada 2 siswa SMA yang bunuh diri sebab tidak lulus UN. Tapi keluarga mereka tidak mau diekspos.

Pak Amir yang terhormat. Kondisi psikologis seperti ini, bukan hanya 1 atau 2 anak kita pak. Tapi ratusan ribu. Saya punya segepok data-data dari daerah tentang betapa banyak sekolah yang rusak dihancurkan oleh siswa-siswanya sendiri sebab mereka tidak lulus UN. Nah mana mungkin kondisi psikologis massa yang sperti ini dapat dikatakan mendorong anak belajar sungguh-sungguh.

Pak Amir yang dirahmati Allah … jika anak kita belajar sungguh-sungguh terhadap suatu bidang studi itu mudah cara melihatnya. Hanya satu kondisi saja, yaitu mereka belajar dengan ‘menyenangkan’. Menyenangkan itu dalam prosesnya tanpa paksaan, dan dalam akhirnya ikhlas menerima apapun hasilnya. Meskipun jika anak kita belajar menyenangkan biasanya hasilnya akan berhasil. Nah jika anak kita serius belajar dalam menghadapi UN, pasti punya 2 sisi pak Amir, sisi pertama anak itu dituntut memang untuk belajar bidang stusi itu dan yang kedua anak dituntut untuk mendapat nilai di atas standar kelulusan UN agar dia lulus. Namanya saja ‘tuntutan’, apalagi pada sisi kedua, pasti anak kita stres. Jika Pak Amir menolak pendapat saya tentang anak-anak itu stres, maka jika Pak Amir seorang guru, maka berilah siswa2nya kuistioner tentang UN. Silahkan buat pertanyaan model apa saja. Hasilnya pasti mengisyaratkan dan memberi kenyataan kepada kita bahwa mereka ‘takut’, was-was dan stres menghadapi UN.

Dan yang luar biasa adalagi gelombang komunitas yang besar yang ikut stres, yaitu para orangtua.

Saya pikir ada sejuta penyebab anak kita rajin sholat, rajin berdoa, menjadi hormat dan sayang kepada orangtua dan lain-lain dengan perasan tidak tertekan. Semoga buat Pak Amir beberapa paragraf yang sederhana ini dapat memberi tambahan informasi tentang kondisi psikologis massa yang berkaitan dengan UN.

2. UN dan KTSP

Pak Amir sahabat saya … Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) itu adalah kurikulum yang bagus banget. Begitu di lounching tahun 2006. Saya termasuk yang mendukung dan angkat topi kepada pemerintah. Waktu itu saya bilang kepada teman-teman guru seluruh Indonesia. Kita sekarang harus bersyukur sebab dengan KTSP setiap SATUAN PENDIDIKAN (Sekolah) mempunyai kewenangan penuh untuk mendisain Indikator Hasil Belajar dari sebuah silabus. Mempunyai kewenangan penuh untuk menyusun silabus sendiri. Mempunyai kewenang penuh untuk memilih bidang studi tertentu. Wow … saya bilang juga kalau sebentar lagi bangsa ini akan melesat kemajuannya di bidang pendidikan. Betapa tidak, KTSP di sebuah sekolah dikatakan berhasil, jika sekolah tersebut mampu menunjukkan ke-khasannya masing-masing.

Sekolah-sekolah binaan saya di seluruh Indonesia Pak Amir dengan suka citanya, menggunakan bidang studi yang namanya ‘Character Building’ (CB). Menjadi bidang studi favorit. Dan betapa banyak anak-anak yang ‘nakal’ secara akhlak, dapat dibantu dengan CB.

Walhasil KTSP adalah kurikulum ‘on the right track’. Saya sudah tidak perlu lagi mengcopy kan poin dalam KTSP di surat ini sebab saya yakin Pak Amir Faisal sudah mengetahuinya.

Nah sekarang kita lihat dengan mata hati yang bersih. Jika ruh dari KTSP adalah memberi kewenangan sekolah untuk mendisan silabus dan indikator hasil belajar. Lalu dari indikator itulah seorang siswa dapat dinyatakan dia tuntas atau tidak tuntas mempelajari sebuah Kompetensi Dasar, maka semestinya adalah soal-soal yang ditujukan kepada siswa kita untuk menyatakan lulus atau tidak lulus haruslah dibuat oleh sekolah masing-masing. Sebab yang diminta olej KTSP menyusun indikatornya dalah sekolah masing-masing.

UN adalah sebuah alat yang ‘tidak konsisten’ terhadap ruh KTSP. Percayalah pak Amir saya tetap mempunyai pandangan positif terhadap niat baik pemerintah. Namun kita ini juga harus menjadi rakyat yang kritis. Dalam hal ini, yang menajdi indikator bukan pendapat para pakar, bukan kedalaman ESQ-nya. Menurut saya apa sistem UN ini manusiawi. Pak Amir..kembali ke unsur manusiawi anak-anak kita. Saya yakin pak Amir setuju kalau saya katakan banyak juga pakar pendidikan yang menyesatkan. Mohon maaf, apalagi pakar-pakar dari barat yang memang me-lounching- sistem-sistem pendidikan yang didisain tidak manusiawi, menjadikan anak kita robot dan menyebarluaskan ‘hedonisme’.

Percayalah pak Amir … saya ini berpikiran positif. Dalam artikel saya di Facebook, saya secara sederhana menawarkan solusi cerdas. Win-win solution, yaitu merefungsi UN. Dari yang awalnya berfungsi untuk menentukan standar kelulusan menjadi UN dijadikan dasar statistik pemetaan kualitas pendidikan per distrik dan diangkat menjadi skala nasional. Itu saja pak Amir. Dan yang mempunyai wewenang meluluskan anak kita dari kelas 6 SD ke SMP, dari kelas 9 SMP ke SMA, dari kelas 12 SMA untuk lulus adalah sekolah masing-masing. Institusi terdekat dengan anak kita. Institusi yang mempunya hak evaluator terbaik, sebab institusi ini yang mendisain indikator-indikator pencapaian hasil belajar.

Betapa bahagianya jika itu terjadi.

Harapan pak Amir anak kita akan terus termotivasi belajarnya terwadahi, anak kita menjadi ‘birrul walidain juga terwadahi dan yang penting anak-anak kita yang cerdas-cerdas ini tidak stress. Di memorinya tidak ada lagi ‘kaki negatif’ stress, sehingga mempunya self image yang positif, terus berlanjut ke ‘personality’ yang positif dan akhirnya mempunyai ‘habit’ yang positif.

3. Konten Soal UN

Pak Amir yang terhormat jika kita sudah bicara tentang konten soal UN. Dan kita sudah mendalami authentic assessment atau penilaian otentik dari kemampuan siswa, yang sudah dipakai di seluruh dunia. Maka konten dan instruksi soal UN itu termasuk ‘disability test’. Termasuk ‘unvalid test’, atau tes dengan kualitas paling rendah. Yang mana jika anak-anak kita mengerjakan soal-soal itu, sama sekali hasilnya belum mencerminkan ahasil sebenarnya dari kemampuan anak kita.

Naif kan Pak Amir … dengan konten seperti itu lalu digunakan untuk menentukan standar kelulusan. Dalam ‘penilaian otentik’, soal berkualitas dan yang mampu mengukur lebih dalam tentang kemampuan peserta didik salah satunya adalah yang mempunyai dua atau lebih rubrik penilaian. Nah … soal multiple choice dalam UN hanya mempunyai satu kriteria penilaian, yaitu benar dan salah. Hakekatnya semua siswa bisa menjawab UN, sebab hanya dilingkari saja. Setahun lalu hal ini berakibat negatif di salah satu SMA di jawa timur. 100 % siswanya tidak lulus UN, hanya disebabkan jawaban siswa yang ‘bunder-bunder’ itu tidak terbaca di komputer. Sampai-sampai dilakukan UN ulang.

Sekali lagi saya ajak Pak Amir untuk berpikiran positif, naif pak …dengan konten soal seperti itu lalu dijadikan standar ukur kelayakan dan kelulusan sebagai ukkuran kompetensi anak kita. Saya pikir kalau hati kita bersih akan menerima kenyataan ini, tanpa harus kita menjadi seorang profesor atau nilai keimanan kita sedang ‘meninggi’. Dalam topik konten ini saya batasi sampai di sini saja, meskipun ada 12 dimensi tentang konten dan instruksi soal yang berkaitan dengan penilaian otentik. Insyallah di lain waktu kita bisa sharing.

4. UN, UU No. 20 2003 dan PP no 19 tahun 2005

Pak Amir Faisal yang terhormat, untuk membahas 3 makhluk di atas, sayangnya kita ini bukan anggota DPR. Jadi hanya bisa berpendapat saja. Izinkan saya mengkajinya dengan cara sederhana. Secara hukum positif UU itu lebih tinggi dari PP dan Peraturan Menteri (Permen)

Hal inilah yang menjadi perdebatan sampai sekarang tak kunjung selesai di komisi X DPR RI.

Dalam UU sisdiknas (UU No. 20 th. 2003) pada pasal 57 dan 58 dinyatakan bahwa hak evaluator ada di tangan ‘pendidik’ atau guru. Berikut saya cuplikan pasalnya.

Pasal 57

(1) Evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

(2) Evaluasi dilakukan terhadap peserta didik, lembaga, dan program pendidikan pada jalur formal dan nonformal untuk semua jenjang, satuan, dan jenis pendidikan.

Pasal 58

(1) Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.

(2) Evaluasi peserta didik, satuan pendidikan, dan program pendidikan dilakukan oleh lembaga mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistemik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan.

Namun dalam petunjuk pelaksanaannya yaitu PP no 19 tahun 2005 secara nasional hak evaluasi itu dilakukan oleh BSNP, instutusi baru pada saat itu yang bertugas menyelenggarakan UN. Saya cuplikan pasalnya di PP tersebut.

Pasal 66

(1) Penilaian hasil belajar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ayat (1) butir c bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan teknologi dan dilakukan dalam bentuk ujian nasional.

(2) Ujian nasional dilakukan secara obyektif, berkeadilan, dan akuntabel.

(3) Ujian nasional diadakan sekurang-kurangnya satu kali dan sebanyak-banyaknya dua kali dalam satu tahunpelajaran.

Pasal 67

(1) Pemerintah menugaskan BSNP untuk menyelenggarakan ujian nasional yang diikuti peserta didik pada setiap satuan pendidikan jalur formal pendidikan dasar dan menengah dan jalur nonformal kesetaraan.

(2) Dalam penyelenggaraan ujian nasional BSNP bekerja sama dengan instansi terkait di lingkungan Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/ Kota, dan satuan pendidikan.

(3) Ketentuan mengenai ujian nasional diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri.

Nah Pak … kita lihat kan, ada yang tidak sinkron. Dan terjadi tidak sesuai anatara UU dan PPnya. Perhatikan Pak tentang perpindahan hak evaluator dari guru ke BSNP. Dan juga perpindahan cara melakukan evaluasi, dari cara berkala, menyeluruh, transparan tiba-tiba berpindah menjadi bentuk ujian nasional, yang tidak berkala, sebab hanya 3 hari. Tidak menyeluruh sebab hanya beberapa bidang studi yang di UN kan ddan juga akhirnya tidak tranparan, penuh kecurangan. Sebab tingkat kelulusan siswa dalan UN sekarang banyak dipakai alat ukur untuk kinerja kepala dinas oleh bupatinya dan seterusanya.

Nah Pak Amir Faisal saya percaya anda adalah orang yang baik. Dan semoga mau menerima tulisan saya ini dan untuk seterusnya menjadi sahabat, meskipun ada perbedaan pandangan. Hanya satu pak kita yang sama, yaitu semoga kita ikhlas berjuang untuk memajukan pendidikan di negara kita yang tercinta ini. Amien.

Wassalam,
Munif Chatib

Sekali lagi terima kasih Pak Munif untuk waktu dan penjelasannya yang begitu komplit. Saya tulis semua ini dalam note.. Karena dialog ini perlu dibaca semua kalangan yang terlibat langsung pendidikan anak.. Baik sebagai Guru maupun Orang tua.. Semoga bermanfaat. ***

Full copas dari http://www.bincangedukasi.com/mengapa-un-sebagai-syarat-kelulusan-perlu-ditolak/

Satu pemikiran pada “Mengapa UN Sebagai Syarat Kelulusan Perlu Ditolak

  1. Menurut hemat kami standar penilaian memang perlu, namun tidak menjadi acuan lulus atau tidaknya. yang lebih penting adalah mencetak orang yang baik. dalam hal ini karena kami muslim adalah mencetak orang dengan kepribadian islam yang baik pak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s