Pertanyaan Kritis Seorang Ibu Tentang Kursus Tanpa PR dan Mencatat

Buku Keajaiban Belajar

Tadi malam, SBS Pontianak (Lembaga Pendidikan Sang Bintang School)  kedatangan tamu. Seorang ibu dan bapak beserta kedua orang anaknya hendak mencari informasi tentang program-program belajar SBS, terutama Klub Jenius. Klub Jenius sendiri adalah program belajar bahasa Inggris untuk anak-anak SD dan SMP. Karena program inilah, ibu tersebut banyak bertanya segala hal tentang Klub Jenius dengan sangat detil. Sayangnya, Front Officer kami masih baru jadi kurang bisa menjawab dengan baik pertanyaan-pertanyaan ibu tersebut.

Apa itu Klub Jenius

Di SBS, ada beberapa program belajar bahasa Inggris antara lain Kampoenk Jenius 6 Minggu Bisa!, Kampoenk Jenius 6 Hari Bisa!, Master Class, dan Klub Jenius. Selain Klub Jenius, program bahasa Inggris tersebut diperuntukkan bagi anak SMA hingga dewasa. Klub Jenius sendiri, seperti yang sudah saya sebutkan di atas, diperuntukkan bagi anak SD hingga SMP.

Berbeda dengan program belajar bahasa Inggris di kursus-kursus lain, belajar di Klub Jenius tidak ada PR dari guru, tidak diminta menghafal, dan tidak diminta mencatat. Selain itu anak Klub Jenius dibagi berdasarkan karakter dan kemampuannya bahasa Inggrisnya. Pembedaan ini direpresentasikan dengan nama-nama warna. Ada yellow class, red class, white class, blue class, dll. Saya sendiri tidak begitu mengetahui secara detil tentang pembedaan ini. Yang paling saya ingat adalah anak Red Class adalah mereka yang mempunyai karakter “aktif” (extrovert).

Berbeda dengan program dewasa yang memiliki sistem dengan target dan batasan waktu, sistem Klub Jenius tidak memberi target dan waktu khusus bagi siswanya untuk memahami bahasa Inggris. Dalam konsep SBS, anak-anak tidak boleh dipaksa dengan target akademis yang mengikat. Biarlah mereka menikmati pembelajaran sesuai dengan apa yang mereka inginkan, guru hanya membantu mengarahkan. Jadi, ketika ditanya “Klub Jenius ini kapan berakhirnya?” Jawabannya adalah tidak ada akhir. Anak Klub Jenius bisa terus belajar di Klub Jenius hingga ia tamat SMP jika memang ia mau. Ini bukan berarti Klub Jenius tidak memiliki kurikulum yang jelas. Namun Klub Jenius menyesuaikan pembelajaran bagi siswa sesuai dengan kemampuan dan karakternya.

Konsep pembelajaran seperti inilah yang membuat ibu di atas banyak bertanya. Nah untuk memahami bagaiman konsep pembelajaran Klub Jenius, saya salinkan tanya jawab imajiner antara Sang Ibu dan saya.

  • Kok biayanya berbeda dari bimbel biasanya sih?

Klub Jenius memiliki konsep yang berbeda dengan bimbel, bu.

  • Apanyas yang berbeda?

Klub Jenius adalah program belajar khusus bahasa Inggris dengan ciri khas Character-based Class dan metode Tanpa Mencatat, Tanpa PR, dan Tanpa Menghafal.

  • Tidak ada jaminan, misalnya gagal mengulang gratis gitu?

Karena tidak ada yang akan gagal, maka tidak perlu ada jaminan, bu.

  • Kok tidak ada yang gagal?

Karena dalam konsep Klub Jenius, tidak ada ukuran pasti yang membuat siswa bisa dikatakan gagal atau tidak. Inti pembelajaran di Klub Jenius adalah siswa menyukai belajar bahasa Inggris sehingga ia bisa dengan mudah memahami materi bahasa Inggris dan lebih percaya diri ketika berhadapan dengan pelajaran bahasa Inggris yang seringkali dianggap pelajaran yang sulit dan menakutkan serta percaya diri dalam mengaplikasikan bahasa Inggris dalam kehidupannya sehari-hari, belajar bagaimana cara belajar, belajar agar berakhlak baik dan lain-lain. Penjelasan lebih lengkap tentang konsep pendidikan yang SBS jalankan ada di Buku Keajaiban Belajar ini, bu. Saya harap ibu bisa membacanya jika ingin jawaban yang memuaskan.

  • Oh ya, kalau tidak ada PR, mencatat, dan menghafal lalu bagaimana anak saya bisa belajar?

Menurut pandangan kami, PR dan mencatat tidak terlalu diperlukan untuk pembelajaran, terkhusus bahasa Inggris, apalagi kan rata-rata siswa banyak yang tidak suka PR dan mencatat. Meskipun kami tidak sepenuhnya menolak anggapan bahwa PR dan mencatat itu perlu, kami memandang bahwa seringkali PR dan mencatat membuat siswa berpura-pura belajar di dalam kelas sehingga dengan metode tanpa PR dan mencatat tersebut, para guru/instruktur bisa lebih optimal dalam menyiapkan kegiatan belajar mengajar di kelas yang efektif dan menyenangkan. Pernah terjadi pada siswa kami, meskipun tidak ada PR, karena ia semangat belajar, ia meminta sendiri PR kepada guru kami. Nah itu yang dibutuhkan sebenarnya. Siswa semangat belajar karena kesadaran dan kemauannya sendiri, bukan karena dipaksa.

Penjelasan panjang lebar tentang inti konsep pendidikan yang SBS jalankan ada di Buku Keajaiban Belajar. Saya harap ibu bisa membacanya agar lebih paham.

  • Lalu bagaimana anak saya bisa menjawab PR-PR atau mata pelajarannya di sekolah jika pembelajarannya begitu, bagaimana anak saya bisa sukses di sekolah?

Jika anak Ibu butuh bantuan dalam menjawab PR, itu soal mudah. Kami bisa membimbingnya meskipun sebenarnya inti pembelajaran yang kami jalankan bukan untuk menjawab PR di sekolah seperti di bimbel. Tapi pada intinya, kami tentu bisa membantu anak Ibu jika hanya menjawab PR di sekolah.

Ada lagi pertanyaan, bu?

  • Hmm, cukup itu dulu. Boleh saya lihat kelasnya gimana?

Oh iya, silakan bu.🙂

2 pemikiran pada “Pertanyaan Kritis Seorang Ibu Tentang Kursus Tanpa PR dan Mencatat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s