Tentang MOS, OSPEK, atau Apalah Namanya

Ospek

Ospek

Junior: Maaf kak, boleh minta tangan ?

Senior 1: (Senyum, senior termasuk senior baik). Boleh, tapi nyanyi dulu yah. 

Junior: Wah, nggak bisa kak. 

Senior 1: Ya sudah, kamu bisanya apa ?

Junior: Push up aja kak.

Senior 1: Ya udah gak papa. (Si Junior pun push up. Tiba-tiba Senior lain, ketua OSIS datang).

Senior 2: Dek, berdiri. Sana pergi nggak papa. (Kemudian senyum dengan senior 1 terus bilang “kasihan lah bro..”)

Senior 1: (Diem, malu karena tahu sudah salah. Karena senior 1 ini termasuk senior baik dan temen deket senior 2).

Percakapan di atas adalah contoh kejadian saat MOS di SMA. Sudah menjadi kebiasaan dan hal yang dianggap biasa  jika kakak senior “main-main” dengan junior. Contoh di atas menunjukkan bahwa Si Senior yang mencoba “mengajak bermain” Si Junior ini tidaklah berniat jahat. Ia hanya, mungkin, ingin bisa lebih dikenal atau bisa lebih akrab dengan junior. Ada benarnya juga memang. Tapi ini mesti diluruskan.

Sebenarnya percakapan di atas adalah kisah saya waktu di SMA. Kalo diingat-ingat malu juga rasanya. Ternyata dulu saya termasuk pelajar yang “jahil” (bodoh) juga. Alhamdulllah saya bisa diberikan kesempatan untuk bisa merubah paradigma saya tentang “OSPEK”. Saya pun berterimakasih dengan kawan saya di atas karena telah membuat saya belajar dan berpikir bahwa memang perbuatan saya itu tidaklah benar.

OSPEK sebenarnya bagus. Asal berlandaskan pada tujuan berikut :

  • Mendidik adik-adik tingkat bahwa antara Senior dan Junior itu sama. Keduanya harus saling menghormati. Yang membedakan keduanya hanyalah pengalaman dan  bukan berarti yang lebih senior lebih pintar dan harus lebih dihormati. No! Kita semua sama. Jadi jika kegiatan OSPEK mengarahkan junior untuk bertindak berlebihan dalam rasa hormat (sudah mengarah kepada takut bukan hormat) kepada senior, artinya konsep OSPEKnya mesti dipertimbangkan. OSPEK seharusnya mengajarkan bahwa manusia itu diciptakan merdeka, berani berpendapat, dan berani melawan jika benar.
  • Berbagi pengalaman dan berbagi ilmu. Di OSPEK semestinya lebih banyak diarahkan pada kegiatan berbagi pengalaman dan berbagi ilmu, entah itu tentang sekolah, organisasi, dan lain-lain.
  • Mengakrabkan senior dan junior. Mengakrabkan di sini tidak harus dengan kegiatan kedisiplinan yang berlebihan. Apakah senior bisa menjamin senior lebih disiplin dari junior. No. Saya tidak yakin ! Untuk mengakrabkan, bisa dilakukan dengan kegiatan “team building”. Senior di sini boleh terlibat atau hanya bertindak sebagai fasilitator, bukan “menggurui”.
  • Mengubah paradigma lama tentang OSPEK. Nah, ospek yang kita lakukan harus bertujuan merubah pandangan yang keliru tentang OSPEK.
  • Mengajarkan bahwa “innamal amalu binniyah”. Setiap apa yang kita lakukan itu bergantung pada niat kita. Senior harus menunjukkan sikap pada junor dalam OSPEK bahwa apa yang dilakukan senior hanyalah sebagai sarana untuk “MERAIH RIDHO ALLAH”, BUKAN SEBAGAI SARANA BALAS DENDAM atau MAIN-MAIN DENGAN JUNIOR. Jika sudah begini, insyaallah jika setiap apa yang kita lakukan dan apa yang kita rasakan dalam hati-hati kecil kita menyimpang dari tujuan ini, maka kita akan merasa bersalah dan justru malu kepada junior kita.

Semoga bermanfaat.  INGAT! TELADAN ITU LEBIH BAIK DARIPADA PERKATAAN.  ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s