Dalil Sentimen (Tentang Poligami)

Poligami

Poligami

Sebelum Anda habis membaca semua tulisan ini, cobalah untuk menahan diri untuk berkomentar. Baca semuanya dan pahami.terimakasih🙂

Jika saya tanya muslimah, apakah mereka mau dipoligami? Saya bisa pastikan kebanyakan dari mereka akan menjawab tidak. Ya, begitulah manusia. Kecenderungan untuk ingin dinomorsatukan itu pasti ada. Itu sudah fitrah manusia. Pasti berat sekali rasanya dimadu. Lalu muncul pertanyaan bagaimana seharusnya muslimah menanggapi mereka yang beristri lebih dari satu? Dari realitas yang sering kita lihat, banyak dari mereka yang menanggapi berlebihan bahkan sudah keluar dari akhlak seorang muslim. Contonya saja Aa’ Gym. Banyak kaum wanita terutama ibu-ibu yang dengan mudahnya menghujat. “Kalau mau dapet berkah Allah, ngapain juga pake poligami segala! Dasar ustadz gak bener!” Nau’dzubillah…

Baru-baru ini pun saya bikin status yang isinya begini

Yang mana yang parah?
Ciuman, pegang-pegangan sama yg bukan muhrim
ATAU menghindari pegang-pegangan, ciuman dgn yg bukan muhrim dan memilih poligami?

Bisa ditebak. Banyak muslimah yang menjawab bahwa dua-duanya parah. Wow banget kan? Yang kedua dianggap parah? Jadi menurut mereka poligami itu parah. Subhanallah… Lalu untuk apa Allah membolehkan lelaki berpoligami (lihat Qur’an surat Annisa ayat 3)?

Coba jawab pertanyaan ini. Apakah kita ingin menentang Allah dengan mengatakan bahwa poligami (dengan syarat yang benar menurut syariat) kita anggap parah? Apakah kita sama dengan mereka kaum feminis dan kaum liberal yang benci dengan syariat Allah. Berikut saya kutip persoalan ini dari http://islamiyah.wordpress.com/2007/03/25/menafsir-ayat-poligami/  :

Kaum feminis melakukan berbagai cara untuk menentang syariat Allah, di antaranya mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah SWT. Syariat yang sering mereka tentang adalah poligami. Baru-baru ini The Asia Foundation –founding Amerika yang aktif mendanai berbagai proyek gerakan liberal– bekerjasama dengan Gramedia, menerbitkan buku berjudul Islam Menggugat Poligami yang ditulis oleh Siti Musdah Mulia.

Dari judulnya, buku tersebut tidak tepat, karena yang menggugat poligami itu bukan Islam, melainkan Siti Musdah sendiri. Jadi, judul yang tepat adalah Siti Musdah Menggugat Syariat Islam tentang Poligami. Inti pembahasan buku feminis yang diberi label Islam ini adalah usaha untuk mengharamkan syariat poligami karena dianggap sebagai pelanggaran terhadap HAM.

Jadi, sekali lagi tanya pada diri kita sendiri. Berada di pihak manakah kita jika kita berpandangan bahwa mereka yang berpoligami meskipun dengan syarat-syarat yang syar’i itu parah?

Gunakanlah dalil-dalil yang syar’i untuk menjawab persoalan ini dan bukan dengan sentimen pribadi. Saya mengerti bahwa sulit rasanya jika dipoligami. Namun coba bukalah pikiran kita dan bersihkan hati kita untuk menilai permasalahan ini. Tidak baik jika kita lancang menganggap mereka yang berpoligami itu parah bahkan dengan menghujatnya dengan kata-kata yang kasar dan kotor.

Terakhir saya kutipkan empat syarat poligami menurut dalil dan pehamaman yang benar dari http://muslim.or.id/keluarga/4-syarat-poligami.html. Silakan dipahami.

Poligami adalah salah satu di antara syariat Islam. Poligami juga adalah syariat yang banyak juga ditentang di antara kaum muslimin. Yang katanya merugikan wanita, menurut mereka yang memegang kaedah emansipasi perempuan.

Namun poligami sendiri bukanlah seperti yang mereka pikirkan. Para ulama menilai hukum poligami dengan hukum yang berbeda-beda. Salah satunya adalah Syaikh Mustafa Al-Adawiy. Beliau menyebutkan bahwa hukum poligami adalah sunnah. Dalam kitabnya ahkamun nikah waz zafaf, beliau mempersyaratkan 4 hal:

1- Seorang yang mampu berbuat adil

Seorang pelaku poligami, harus memiliki sikap adil di antara para istrinya. Tidak boleh ia condong kepada salah satu istrinya. Hal ini akan mengakibatkan kezhaliman kepada istri-istrinya yang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Siapa saja orangnya yang memiliki dua istri lalu lebih cenderung kepada salah satunya, pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa-i, At-Tirmidzi)

Selain adil, ia juga harus seorang yang tegas. Karena boleh jadi salah satu istrinya merayunya agar ia tetap bermalam di rumahnya, padahal malam itu adalah jatah bermalam di tempat istri yang lain. Maka ia harus tegas menolak rayuan salah satu istrinya untuk tetap bermalam di rumahnya.

Jadi, jika ia tak mampu melakukan hal itu, maka cukup satu istri saja. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “…kemudian jika kamu khawatir tidak mampu berbuat adil, maka nikahilah satu orang saja…” (QS. An-Nisa: 3)

2- Aman dari lalai beribadah kepada Allah

Seorang yang melakukan poligami, harusnya ia bertambah ketakwaannya kepada Allah, dan rajin dalam beribadah. Namun ketika setelah ia melaksanakan syariat tersebut, tapi malah lalai beribadah, maka poligami menjadi fitnah baginya. Dan ia bukanlah orang yang pantas dalam melakukan poligami.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” (QS. At-Taghabun: 14)

3- Mampu menjaga para istrinya

Sudah menjadi kewajiban bagi suami untuk menjaga istrinya. Sehingga istrinya terjaga agama dan kehormatannya. Ketika seseorang berpoligami, otomatis perempuan yang ia jaga tidak hanya satu, namun lebih dari satu. Ia harus dapat menjaga para istrinya agar tidak terjerumus dalam keburukan dan kerusakan.

Misalnya seorang yang memiliki tiga orang istri, namun ia hanya mampu memenuhi kebutuhan biologis untuk dua orang istrinya saja. Sehingga ia menelantarkan istrinya yang lain. Dan hal ini adalah sebuah kezhaliman terhadap hak istri. Dampak yang paling parah terjadi, istrinya akan mencari kepuasan kepada selain suaminya, alias berzina. Wal iyyadzubillah!

Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang memiliki kemapuan untuk menikah, maka menikahlah…” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

4- Mampu memberi nafkah lahir

Hal ini sangat jelas, karena seorang yang berpoligami, wajib mencukupi kebutuhan nafkah lahir para istrinya. Bagaimana ia ingin berpoligami, sementara nafkah untuk satu orang istri saja belum cukup? Orang semacam ini sangat berhak untuk dilarang berpoligami.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang tidak mampu menikah, hendaklah menjaga kesucian (dirinya), sampai Allah memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya…” (QS. An-Nur: 33)

Demikian tulisan singkat tentang poligami. Poligami adalah syariat mulia yang bisa bernilai ibadah. Namun untuk melaksanakan syariat tersebut membutuhkan ilmu, dan terpenuhi syarat-syaratnya. Jika anda merasa tidak mampu memenuhi 4 syarat di atas, maka jangan coba-coba untuk berpoligami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s