Obsesi Ayah (Panggilan Hidupmu atau Panggilan Anak-anakmu)

Fully copied from Harry Santosa’s Status (https://www.facebook.com/harry.hasan.santosa)

Renungan akhir tahun seorang ayah #1

Waktu masih anak2 mungkin kita punya cita-cita unik dan bergairah mewujudkannya. Makin beranjak remaja cita2 ini menguat seolah memanggil-manggil. Inilah yg disebut panggilan hidup. Namun sayangnya, seringkali ternyata lingkungan, keluarga, orangtua apalagi persekolahan abai menemani kita untuk mewujudkannya. Seringkali kita dipaksa menjadi sesuatu yang bukan diri kita.

Sebagian diantara kita menganggap “kehilangan cita-cita panggilan hidup ini” sebagai bakti kpd orangtua atau tuntutan sekolah yg tidak terelakan bahkan nasib. Lalu mereka hidup menjadi “bukan diri mereka” mungkin sampai kelak bertemu Allah swt. Kata orang hidup memang tidak selalu seperti yg kita inginkan, tetapi bukankah panggilan hidup adalah getar2 jiwa yang merupakan misi penciptaan kita? Bukankah itu alasan kita ada di muka bumi? Bukankah kita akan ditanya Allah swt ttg ini?

Sebagian lagi dari mereka yg kehilangan cita2 panggilan hidupnya waktu kecil, menjadi terobsesi ketika mencapai masa dewasanya. Cita-cita yang dulu terpendam terus mengganggu mimpi, fikiran dan orientasi hidupnya untuk diwujudkan. Namun kondisi telah berbeda, mereka sudah memiliki kewajiban menafkahi keluarga dan membagi waktu dengan anak-anaknya.

Pilihan sikap yang umum adalah memindahkan obsesi cita-cita yang “tidak kesampaian” itu kepada anak2nya. Anak2 mereka menjadi tahanan masa lalu orangtua2 obsesif seperti ini. Saya memahami orangtua2 yg obsesif ini adalah korban masa lalu, tetapi bukan berarti menjadi benar bila berbuat demikian.

Sikap yg lain adalah asik sendiri membangun masa lalunya dengan cara meninggalkan keluarga dan abai terhadap kewajiban menemani dan memfasilitasi anak2nya untuk mewujudkan cita-cita.

Dengan kedua sikap ini, mereka lupa bahwa dengan begitu mereka mengulang kesalahan masalalu orangtuanya dan sekolahnya yang menyebabkan dirinya menjadi kehilangan cita-cita yang merupakan panggilan hidupnya.

Jangan ulangi kesalahan masa lalu, putus siklus kezhaliman ini. Anak2 kita harus menjadi generasi yg tampil hebat dengan keunikan dan akhlak mereka. Cita-cita panggilan hidup mereka harus terwujud, karena dengan itu mereka akan berbahagia, memberi manfaat dan diminta pertanggugjawaban oleh Allah swt kelak di akhirat.

Yuk semangat mendidik generasi aqilbaligh… Ayo para Ayah, jadilah Luqmanul Hakim, temani anak2 kta untuk menjadi diri sejatinya… Jangan disibukkan melulu urusan ambisi dan hobby pribadi…. mulai urusan karir di kantor, politik, bengkel, burung, memancing, futsal, dll atau membunuh waktu dgn nongkrong sama teman2 masa lalu sampai kecanduan.

Jangan tinggalkan generasi mendatang dan anak2 kita krn sibuk mengejar ambisi masa muda yang tidak terpenuhi. Ingatlah bahwa dulu kita tidak ditemani menemukan dan mewujudkannya, usah diulangi….

Masa2 indah mendidik anak2 itu tidak berlangsung lama lkan? kewajibannya hanya 14-15 tahun sejak kelahirannya, yaitu sampai AqilBaligh mereka tiba…

Salam Pendidikan Generasi AqilBaligh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s