Ayah Meninggal, Aku Wisuda

Waktu Ayah Masih Hidup

Tulisan ini terlambat diterbitkan. Ya, biasalah. Masalah akses internet dan masalah kemauan menulis jadi faktor. Biasanya, saya benar-benar “gatal” untuk menulis ketika ingin meluapkan emosi kejengkelan atau kemarahan, ingin menyindir dan semacamnya.

Bermula dari Sakit Jantung

Ayah dari dulu mengidap penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi). Biasanya Ayah kalau tensinya naik dan merasa sangat pusing seringkali meminta kami anaknya untuk menyuntiknya dengan semacam obat penenang yang seingat saya namanya Diaspam. Beberapa detik setelah disuntik, Ayah langsung tidur. Ini terjadi berulang-ulang sejak dulu. Ayah punya pantangan makan daging sebenarnya dengan hipertensi ini. Namun Ayah sering merasa “percaya diri” dan tidak meindahkan pantangan itu. Makanya, pernah juga Ayah kalau makan daging di pesta pernikahan dan semacamnya, “ambruk” karena tekanan darahnya tiba-tiba naik. Karena hipertensi ini juga Ayah sedikit dikenal dengan Ayah yang mudah marah.

Dari penyakit hipertensi ini, timbul juga diabates. Dan baru dirasakan tahun ini Ayah seringkali merasa dadanya sangat nyeri, rasa mau mati kalau kata Ayah. Hampir tiap malam Ibu dan kami harus menangani Ayah yang merengek kesakitan. Akhirnya diperiksakanlah Ayah ke dokter. Diketahui dari situ kalau terjadi penyempitan pembuluh darah di jantung Ayah. Karenanya, Ayah harus dioperasi. Kalau tidak salah namanya “heart bypass surgury” alias operasi bypass jantung. Untuk jelasnya cari aja di google.

Pertama kali, Ayah dibawa ke RSMH Palembang. Namun akhirnya dirujuk ke rumah sakit jantung Harapan Kita Jakarta. Setelah operasi jantung Ayah sempat koma 8 hari. Setelah koma pun ingatan Ayah terganggu meskipun akhirnya bisa diobati dengan sedikit terapi.

Setelah kondisi Ayah membaik, Ayah dibawa ke Bandung (rumah saudara perempuan saya). Saat itu bulan puasa. Saat itu rumah di Lahat kosong karena saya kuliah di Indralaya dan lainnya memang tidak menetap di Lahat. Sampai-sampai ada gosip di Lahat kalau Ayah meninggal. Ada-ada saja.

Saya sempat menyusul ke Bandung. Saat itu memang saya sudah selesai sidang skripsi. Jadi tinggal menunggu wisuda. Setelah saya tinggal satu minggu di sana, saya dan keluarga termasuk Ayah dan Ibu pulang ke Lahat. Saat itu kalau tidak salah 8 hari lagi Idul Fitri. Awalnya Ayah diminta untuk tinggal di Bandung, lebaran di sana saja. Namun Ayah meminta untuk lebaran di Lahat saja. Sekalian silaturahim dengan kawan-kawan yang ada di Lahat. Kami pun akhirnya pulang.

Habis Operasi Malah Sesak Nafas

Setelah operasi jantung, saya lihat memang ketika di Bandung nafas Ayah agak sempit. Namun, saat di Bandung Ayah masih bisa jalan pagi dan melakukan aktivitas kecil. Ketika di Lahat, sesak nafas Ayah semakin terasa. Makanya Ayah diminta ke dokter untuk memeriksakan kondisinya. Saat itu saya yang menemani Ayah. Ayah pun direkomendasikan untuk diopname. Besoknya, 6 hari sebelum lebaran Ayah diopname.

Ayah diopname hingga hari pertama lebaran. Hari kedua Ayah pulang ke rumah karena selama 6 hari itu yang dibutuhkan Ayah cuma oksigen. Dari situlah diputuskan untuk pulang ke rumah dan membeli tabung oksigen saja. Namun baru satu hari di rumah, Ayah minta diopname lagi karena merasa tak tahan. Ayahpun diopname lagi. Kalau tidak salah saat itu tanggal 13 Agustus.

Malam 12 Agustus Ayah kritis, mulutnya memelet-melet dan matanya mengerjap-ngerjap keliahatan putihnya saja. Saya tak tahan melihatnya. Saya pikir malam itu Ayah akan sudah berpulang. Saya disuruh masuk pun tak mau. Saya lebih memilih ke mushola. Shalat di sana.

AKU PERGI AYAH MENINGGAL

Tanggal 20 Agustus saya harus wisuda dan tanggal 15 Agustus ada gladi bersih wisuda. Tanggal 14 Agustus saya menimbang-nimbang dan sempat bertanya dengan kawan apakah saya sebaiknya ikut gladi atau tidak. saya pun menelpon ibu untuk pergi ke Palembang tanggal 14 Agustus karena besoknya saya harus gladi bersih wisuda. Saya sempat ditahan untuk pergi namun saya bilang habis gladi saya pulang. Saat itu saya sudah membayangkan bagaimana jadinya ketika saat saya pergi ke Palembang Ayah diberitakan meninggal.

TANGIS PECAH DI TRAVEL MENUJU PALEMBANG

Saya berangkat ke Palembang pukul 12 kalau saya tidak salah ingat. 2 jam berlalu di travel, beberapa menit lagi saya masuk daerah Prabumulih. Saat itu  seperti biasa saya mendengarkan musik instrumen dengan headset. Ada beberapa kali bunyi telp masuk. Saat itu saya mengabaikannya karena kalau tidak salah saya tidak tahu itu no siapa. Meskipun begitu, saya sudah menduga-duga itu dari keluarga dan membayangkan itu berita bahwa Ayah meninggal. Saya pikir biarlah mereka mengirim sms nanti. Sms pun datang. Saya buka. Kira-kira isinya begini, “Ke, sudah sampe mano? Ayah ninggal. Kalo biso balek dulu.” Di BBM pun ada pesan dari keponakan saya Maurice, “Om, Opa ninggal”. Saya lihat statusnya “Opa ninggal..hiks..hiks..”. Saat itu tangis saya pun pecah. Terbayang wajah ayah. Terbayang saat-saat saya melakukan hal yang membuatnya kesal, bahkan saat dia diopname. Suasana hati semakin sedih karena saya kebetulan sedang mendengarkan musik instrumen. Saya tentu memutuskan untuk pulang kembali ke Lahat. Namun saya tidak minta supir travel untuk berhenti. Sebentar lagi sampai RM Siang-Malam. Sekalian juga saya pulang bareng dengan kakak saya yang kebetulan juga sedang menuju Lahat dari Palembang.

Innalillahi wainnailaihi roji’un..

Ayah sudah meninggal..Dan saya cukup tahu itu..

Sabar adalah jalan terbaik. Teringat motto yang saya tulis di skripsi saya, “Kesabaran sejati adalah kesabaran sejak awal mendapatkan musibah”. Bukan satu jam setelahnya, bukan juga satu hari setelahnya. Saya pun juga teringat kalau ratapan seseorang di depan mayit itu justru menambah kepedihan sang jenazah.  Sedih boleh, tapi jangan meratapi musibah. Dan ingat, akan tiba juga giliran kita mengahadap Allah SWT.

Wisuda Tanpa Kehadiran Ayah, Ok lah!

2 pemikiran pada “Ayah Meninggal, Aku Wisuda

  1. aku terharu baca tulisan kakak…. karena ku juga mengalami nasib yang sama,,, ayahku meninggal disaat aku berjuang untuk skripsiku,,,,aku ingin tunjukin sama ayahku,,, untuk membalas jasa beliau…. tapi beliau pergi duluan …hiks,,,hiks…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s