5cm The Movie (Pandangan Gue)

Salah Satu Adegan di 5cm

Ok. Akhirnya “done” juga niat gue untuk nonton film 5cm. Gue nonton di hari pertama 5cm tayang yakni di tanggal cantik 12.12.12. Gue nonton di International Plaza yang lebih dikenal dengan sebutan “IP” di Palembang. Gue tulus bener-bener pengen tahu gimana cerita 5cm waktu itu, bukan cuma untuk ngilangin kebosenan atau mejeng-mejeng. Ini dibuktikan dengan fakta bahwa gue nonton nih film sendirian.hehe Pengennya sih ada yang nemenin oleh beberapa temen. Tapi yah, gue bener-bener pengen nonton di hari itu juga. Soalnya gue juga sebelumnya belum pernah baca novelnya. Jadi penasaran banget. Sempet pengen khatamin baca tuh novel, cuma akhirnya mikir “yaudah deh, ntar sekalian nonton aja filmnya. Gue cuma baca sampe perkenalan pemerannya saja.”  Nah, gue mau kasih pandangan gue tentang film 5cm.

***

Waktu gue baca novelnya di di bagian awal sebenarnya gue udah menebak tentang “apa manfaatnya bagiku (AMBAK)” jika gue khatamin novel ini. Ini sudah jadi cara gue  ketika mau beli atau baca buku or novel. Soalnya gue mikir baca buku or nonton film itu ngabisin waktu, jadi gue gak mau waktu gue abis cuma untuk hal yang biasa-biasa aja (bagi gue). Kan sayang, lebih baik cari kerjaan lain. Itulah kenapa gue sekarang udah jarang banget maen games, dulu sih gue suka. Gue sadar banyak hal lain yang jauh lebih bermanfaat daripada nge-games lama-lama.

***

Abis mutusin untuk mbatalin baca novel 5cm, gue melirik novel Perahu Kertas (gue bener-bener gak update soal novel dan film meskipun sebenernya gue suka). Itupun akhirnya gue batalkan, cos ada buku-buku lain yang gue pikir jauh lebih penting untuk gue habisin. Yah itulah gue. Waktu kita terbatas dan kita harus pastikan setiap waktu yang kita habiskan itu adalah waktu belajar kita atau setidaknya bermanfaat untuk orang lain. Bukankah kita hidup untuk beribadah. Nah, belajar dan bermanfaat bagi orang lain adalah hal yang insya Allah, jika kita ikhlas, diridhoin oleh Allah. Tapi sebenarnya gue tebak Perahu Kertas kayaknya inspiratif, guenya aja mungkin yang malas baca novel.hehe

***

Ok. Kita masuk ke pendapat gue tentang film 5cm. Overall, bagus. Cuma gue mikir, itu novel yang cukup tebel ternyata ketika gue nonton filmnya kayak singkat banget. Ya iyalah singkat, namanya aja juga film. Iya juga sih. Tapi gini, maksudnya konflik yang ada di film ini cuma dikit, jadi terkesan singkat. Film ini dibagi 4 fase (kehidupan mereka selama sekitar 4 bulan). Pertama perkenalan singkat mereka kalo mereka sudah bersahabat sudah sekitar 10 tahun. Kedua, kegiatan-kegiatan mereka ketika masih ngumpul waktu kuliah, gimana mereka becanda, gokil-gokilan barang. Di fase ini, ditunjukkan saat itu empat sahabat yang kuliah di UI ini sudah tamat duluan sedangkan satu temannya Ian (diperankan Bang Igor Saikoji) belum tamat.

***

Nah, waktu mereka ngumpul-ngumpul mereka ngobrolin tentang persahabatan mereka yang udah lama, mereka mikir mereka harus pisah untuk sementara, fokus dulu dikerjaannya masing-masing. Ian yang belum tamat juga mesti fokus nyelesaian kuliahnya. Udah, singkat kata mereka sepakat berpisah dan nggak boleh berhubungan selama 3 bulan dan akan ketemu lagi di suatu tempat yang sudah disiapkan Si Genta, satu dari 5 sahabat. Nah pertemuan inilah fase selanjutnya (fase 3), yakni pendakian gunung semeru. Nah, kalo menurut gue sih di fase inilah inti dari cerita 5cm yang bikin ceritanya jadi dramatis. Fase inilah yang durasinya paling panjang. Jadi selama 3 bulan mereka berpisah, ditunjukin perjuangan Ian nyelesaiain skripsinya dan kegiatan-kegiatan 4 sahabat lain.  Di fase terakhir yang cuma singkat menunjukkan mereka ketika sudah berkeluarga (beberapa tahun kemudian gitu).

***

Pendapat gue sih kenapa remaja-remaja pada seneng nih film karena memang ceritanya banyak menunjukkan kegokilan-kegokilan 5 sahabat ini ketika berkumpul. 5 Sahabat ini kalo gue lihat memang ceritanya dari orang-orang berduit. Itu bisa dilihat dari keadaan keluarga-keluarga mereka. Jadi bisa ditebak setting cerita dan gimana gaya hidup mereka. Ini bikin ceritanya kurang “ngena” bagi gue, meskipun gue tetap terhibur dengan kelucuan-kelucuan mereka. Banyak adegan-adegan ‘gokil’ yang bikin penonton-penonton tertawa. Jadi kesannya nih film, menurut pandangan gue, kayak film-film persahabatan yang lebih menonjol komedinya. Ini memang bukan film yang banyakan seriusnya (konfliknya kurang “greget” yakni waktu Si Ian disangka mati karena ditabrak batu yang menggelinding dari puncak semeru dan bahkan bisa dibilang gak ada konflik di film ini menurut gue). Tapi mungkin ini juga yang bikin orang-orang pada suka.

***

Mengenai konflik cerita, gue bilang sih nih film kurang berhasil memprovokasi gue untuk nangis. Ati gue cuma berdebar ketika melihat keindahan alam semeru ditambah musiknya yang pas. Perasaaannya agak sama (lebih dikit) ketika gue nonton iklan rokok jarum yang nunjukin petualangan-petualangan ke Rinjani dan tempat-tempat keren lain di Indonesia. Film ini berhasil memprovokasi gue untuk bilang “Allahuakbar” karena melihat keindahan alam Indonesia. Kaki gue juga jadi gatel ingin daki ke banyak gunung di Indonesia. Ini kelebihan film 5cm. Ini yang gue suka dari film 5cm.

***

Gue bisa ngerasain kalo film ini akan sangat dinikmati oleh remaja-remaja kebanyakan, apalagi orang-orang kota yang belum pernah daki gunung, belum pernah jalan-jalan jauh pake kereta api.hehe Soalnya gini, perjuangan atau konflik yang ada di film ini, menurut gue kurang “greget”. Skenario kehidupan mereka tidak terlalu luar biasa bagi gue. Apalagi landasan perjuangan di film ini cuma sebatas nasionalisme yang menurut gue “biasa”.

***

Dari segi jalan ceritanya, berbeda dengan film bertema persahabatan lain yang pernah gue tonton waktu gue SMA yakni “Mengejar Matahari”. Walaupun gak di gunung, ceritanya bisa menyentuh emosi gue (bikin nangis) dan bikin gue mikir tentang kehidupan karena gaya hidup mereka mirip-miriplah dengan persahabatan gue waktu SMA. Tapi kayaknya andaikan saja gue nonton 5cm waktu gue SMA, mungkin gue akan merasakan hal yang berbeda dan bisa bilang “film 5cm telah mengubah hidup saya”.hehe Ya itu tadi, faktor “ideologi”, “pemahaman”  dan “pengalaman” itu mempengaruhi selera. Jangan marah ya kalau tidak sependapat dengan gue.hehe

***

Jadi, pertanyaan awal tentang “Apa Manfaatnya Bagiku?”, gue bisa jawab

“karena film ini gue jadi makin pingin daki gunung, mas bro!!! Allahuakbar!!!”🙂

Salam lestari, Allahuakbar!😀 Pesan gue bagi yang ingin daki gunung nantinya “Jangan lupa Shalat lima waktu meskipun di perjalanan! Ok! ”

Oh ya, gue lupa bilang kalo gue suka adegan mereka ketika mengucapkan ikrar waktu di Bromo sebelum daki Semeru, dan gue suka dan setuju dengan ikrarnya. Ini dia bunyi ikrar mereka:

Yang kita butuhkan untuk sampai ke PUNCAK adalah…..

…Kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya
…Tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya
…Mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya
…Leher yang akan lebih sering melihat ke atas
…Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja
…Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya
…Serta mulut yang akan selalu berdoa…
(’5 cm’ by Donny Dhirgantoro)

Yang pasti, SALUT buat bang Donny Dirgantoro. Gue aja gak (belum) bisa nulis novel.🙂

3 pemikiran pada “5cm The Movie (Pandangan Gue)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s