Refleksi Mengajar di SMA Srijaya Negara Palembang

Kelas XI IPA 2 Srijaya Negara Palembang

Kelas XI IPA 2 Srijaya Negara Palembang

Sejauh ini, sudah hampir 2 bulan saya mengajar di SMA Srijaya Negara Palembang. Ini adalah kali kedua saya mengajar di Srijaya Negara sebagai guru pengganti.  Yang pertama, dua tahun yang lalu, adalah ketika saya menjalani Program Pengalaman Lapangan (PPL). Saat itu saya mendapatkan jatah mengajar di empat kelas yang semuanya kelas X yakni X 1 (kelas satu SMA) hingga X 4.

 ***

Sebelumnya, ada beberapa orang yang menyinggung saya bahwa saya harus “hati-hati” mengajar di SMA Srijaya Negara. Maksud mereka adalah SMA Srijaya Negara banyak diisi siswa-siswa “nakal” yang sulit diatur. Saya tentunya masa bodoh dengan perkataan tersebut. Justru ini saya jadikan tantangan buat saya. Bagi saya, dan inilah pandangan yang harus dimiliki semua guru bahwa “tidak ada siswa yang bodoh atau nakal”.

 ***

Mungkin saja ada guru yang tidak setuju dengan pernyataan saya ini dengan mengatakan “sudah jelas-jelas mereka susahnya minta ampun ketika dijelaskan dan sikap mereka jelas-jelas tidak beradab , masih saja Anda bilang tidak ada siswa yang bodoh dan nakal.” Ya itu hak masing-masing guru untuk berpendapat. Namun, bagi saya pasti ada sesuatu yang tidak beres sehingga menyebabkan mereka seperti itu dan memang manusia diciptakan dengan  potensi yang berbeda-beda sehingga kita tidak bisa memaksa mereka untuk mengusai semua matapelajaran. Mereka pasti cerdas di bidangnya masing-masing, bahkan jika kita dan siswa mau (kedua belah pihak sama-sama siap dan ikhlas), mereka pun bisa menguasai semua mata pelajaran.

 ***

Untuk saat ini saya mengajar di SMA Srijaya Negara untuk melaksanakan penelitian tugas akhir saya atau yang lebih dikenal dengan sebutan “SE-KE-RIP-SI (T)”.hehe Maaf, saya cuma bercanda. Maksud saya adalah “skripsi”. Jelas ya?hehe Nah, lagi-lagi saya menemukan berbagai kendala dalam mengajar, sama seperti masalah yang acapkali saya (dan saya yakin juga guru-guru yang lain) temukan ketika saya PPL dua tahun yang lalu.  Masalah itu adalah “kemauan/motivasi belajar siswa”.

 ***

 Sebelum saya bercerita pengalaman saya mengajar, saya akan mendaftar beberapa kondisi kelas dan siswa-siswanya yang pernah saya temui, antara lain:

KELAS TIPE 1

Kelas dengan siswa laki-laki yang hampir semuanya bisa diatur. Mereka adalah siswa yang memang dikenal baik oleh guru-guru di sekolah, tidak pernah dan tidak mau berbuat aneh-aneh di sekolah. Begitu juga dengan siswa-siswa perempuannya . Kalaupun ada siswa yang suka bicara/nyeletuk saat penjelasan, itu cuma sedikit dan tidak mendominasi kelas. Kelas ini tidak perlu lama-lama diingatkan agar siap belajar. Mereka lama-lama akan siap sendiri ketika didiamkan oleh guru beberapa menit. Kelas ini biasanya jadi primadona guru-guru, jadi pujian guru-guru karena sikap mereka yang kooperatif, mudah diajak kerjasama. Meskipun beberapa dari mereka kadang terlihat malas belajar, ketika ditawarkan sebuah cara belajar yang berbeda, mereka akan menyambut dengan baik dan termotivasi untuk mau berpikir (belajar).

KELAS TIPE 2

Kelas dengan siswa yang sama dengan no 1 namun siswa perempuahlah yang sering jadi biang keributan kelas. Siswa-siswa di kelas ini adalah siswa yang dikenal baik namun sangat aktif dan susah untuk diminta diam. Selalu saja ada alasan bagi mereka untuk mengobrol ketika guru sudah siap untuk menjelaskan bahkan ketika guru sedang menjelaskan. Mereka mau belajar. Hanya saja mereka harus dengan susah payah diminta diam terlebih dahulu. Memang tabiat mereka sudah dari sananya begitu.

KELAS TIPE 3

Kelas di mana siswa yang “tidak termotivasi belajar” sangat mendominasi. Mereka bukanlah siswa yang “nakal” dalam artian bukan siswa yang sering membuat pelanggaran di sekolah seperti berkelahi dan sebagainya, kalaupun ada itu cuma sedikit. Mereka biasanya dikenal oleh guru-guru sebagai siswa yang “malas mikir” , “lemah-letih-lunglai”, “kurang semangat”, dan sebagainya. Ketika guru mendiamkan atau tidak mengingatkan biasanya mereka akan terus mengobrol, bersikap santai dan cuek bahkan guru yang ada di depan kelas pun tidak mereka hiraukan. Kelas inilah yang sering menjadi pikiran guru-guru, begitu juga dengan saya. Ketika mereka dimarahi, memang mereka diam, hanya saja mereka belajar dengan mood yang rendah (atau katakanlah pura-pura belajar). Pun ketika kelas ini ditawarkan dengan metode pembelajaran yang menyenangkan, masih saja beberapa dari mereka yang “kurang semangat” mendominasi kelas sehingga kelas tidak berjalan dengan efektif.  Siswa-siswa minoritas yang suka belajar menjadi korban mayoritas siswa yang tidak termotivasi untuk belajar.  KELAS SEMACAM INILAH YANG SEDANG MENJADI PIKIRAN SAYA ?

KELAS TIPE 4

Kelas di mana siswa-siswa yang menjadi “jagoan” sekolah berkumpul. Mereka adalah siswa-siswa yang sering jadi korban “labeling” guru. Mereka sering dicap “nakal”, “bodoh”, dan semacamnya. Saya justru melihatnya dengan cara yang berbeda. Beberapa mereka yang dikenal “nakal” memang ada yang kurang termotivasi belajar. Namun, janganlah kita salah bahwa ternyata mereka kadang hanya kurang perhatian oleh guru dan kurang mendapat penghargaan oleh guru. Banyak di antara mereka ketika ditawarkan dengan metode belajar yang berbeda, yang menyenangkan, yeng lebih banyak memberikan perhatian dan penghargaan kepada mereka sebagai siswa yang juga memiliki potensinya masing-masing TERNYATA JUSTRU BERSEMANGAT/BAHKAN SANGAT BERSEMANGAT UNTUK BELAJAR. Saya lebih suka siswa yang seperti ini, meskipun dikenal “nakal”, namun mereka mau mencoba dan mau menghargai usaha guru.

 ***

Seperti yang saya singgung di atas, selanjutnya saya akan membahas mengenai tipe kelas nomor 3. Karena saya pernah menjadi siswa, jadi coba kita bandingkan ketika saya pernah menjadi siswa. Sama seperti siswa-siswa yang lain, ada beberapa pelajaran yang tidak saya sukai. Dulu, ketika saya menjadi siswa SMA, saya tidak suka pelajaran hitung-hitungan, entah itu Matematika (MTK), Kimia, atau Fisika. Saking tidak suka dan merasa tidak bisa bahkan ketika saya mengikuti ujian SNMPTN, saya cuma mengisi 1 (satu) soal MTK dasar (dasar loh?). Saya benar-benar tak paham.

Nah, di kelas MTK, karena saya siswa yang baik, saya cuma mengobrol seperlunya saja. Saya memang belum paham MTK, tapi ketika guru menjelaskan, saya coba memahami, meskipun rasanya sulit untuk paham. Alhamdulillah, guru MTK yang mengajar tidak terlalu serius (tapi juga tidak terlalu menyenangkan, maksudnya mengajar dengan cara yang biasa-biasa saja), jadi saya tetap bisa relaks dalam belajar. Bisa dibayangkan bagaimana jika gurunya terlalu serius (killer), udah pelajaran susah nangkep, gak rileks lagi, pasti kacau, “kacau ati”, “pecah utak”. Ujung-ujungnya dateng ke sekolah jadi males, apalagi belajar. Dan itu benar, pernah saya diajar oleh guru yang “killer”nya minta ampun, main tangan, main alat yang dengan mudahnya melayang ke tangan atau ke kepala, itu membuat saya benar-benar merasa kelas seperti neraka.  Apakah Anda pernah merasakan kelas yang seperti itu? Bagaimana rasanya? Beruntunglah Anda yang memiliki guru yang menghargai Anda sebagai manusia.

 ***

Keadaan saya waktu belajar MTK mungkin akan jadi berbeda ketika gurunya sangat membantu siswa, penyayang, perhatian, nyantai, menganggap semua siswa pasti bisa, meskipun belum juga  ngerti-ngerti belajarnya jadi enak, sekolah bagaikan surga. Kita jadi semangat belajar dan mau mencoba memahami meskipun terasa susah. Nah, yang gini nih yang seharusnya. Tapi masalahnya, ini siswa-siswa di kelas tipe 3 beda dengan saya. Inilah masalahnya, yakni siswa yang tetap aja “males belajar” meskipun ngajarnya udah nyantai. Jadi gimana dong? Muncullah pertanyaan tentang mereka yang hampir selalu “kurang semangat” belajar ini:

  • Apakah mereka mesti dipaksa belajar, pake cara guru killer? (Yang mau belajar sini, yang gak mau jauh-jauh sana). Tapi, apakah ini baik untuk mereka?
  • Apakah mereka cukup dibiarkan begitu saja (terus saja motivasi dan diingatkan) dan cukup diadakan pendekatan personal dengan waktu yang tidak bisa singkat? (artinya memang butuh sabar)

 ***

Sejauh ini, yang saya lakukan untuk mengatasi kelas seperti ini adalah pendekatan personal dan sesekali, demi kelas yang kondusif, mengingatkan/memarahi mereka. Tapi tetap cara taktis yakni memarahi mereka adalah cara yang efeknya cuma sementara. Setelah itu mereka tetap saja terlihat malas.  Tampaknya banyak sekali masalah yang mereka pikirkan sehingga di sekolah tak fokus dan kurang bersemangat.

***

Tapi bagaimanapun juga, saya percaya, mereka sebenarnya cerdas, hanya saja belum punya kemauan yang kuat untuk belajar.  Akhirnya saya berharap semoga mereka malas karena memang tak suka dengan saya atau cara mengajar saya. Karenanya, saya harap suatu saat mereka mau menyampaikannya agar itu bisa jadi evaluasi buat saya. Kalau pun bukan karena itu, semoga saja mereka akhirnya mau belajar dengan cara mereka sendiri dengan atau pun tanpa saya, karena ataupun bukan karena saya. Usaha sudah dilakukan. Semoga Allah menyentuh hati mereka.

 ***

Ini baru masalah kelas dan siswanya, belum lagi masalah efektifitas pembelajaran bahasa Inggris di sekolah. Saya acapkali berpikir begini:

 “pengetahuan grammar dasar dan vocabulary siswa (di SMA mana saja-mayoritasnya) masih belum dikatakan terpenuhi, padahal mereka sudah belajar bahasa Inggris sejak SMP (bahkan SD), ditambah lagi belajar di les-les di luar sekolah. Sekarang di SMA mereka harus belajar bahasa Inggris dengan bahasan yang saya pikir akan sulit mereka cerna (karena dasarnya saja belum paham). Belum lagi kemampuan mereka dalam mengaplikasikan bahasa Inggris. Jangankan mereka yang nilai bahasa Inggrisnya buruk, mereka yang nilai bahasa Inggrisnya bagus di sekolah pun ternyata ketika diaplikasikan dalam writing dan speaking yang sederhana ternyata masih menemui banyak kesulitan. Jadi saya melihat bahwa pembelajaran bahasa Inggris di SMP dan di SMA rasanya tidak membawa kemajuan yang signifikan pada penguasaan bahasa Inggris mereka. Mereka hanya diajarkan cara menjawab soal dan itupun akan cepat dilupakan. JADI PERCUMA SAJA RASANYA. ITULAH MENGAPA, SAYA JADI BERPIKIR BAHWA KONSEP BELAJAR BAHASA INGGRIS YANG DITAWARKAN SANG BINTANG SCHOOL TAMPAKNYA SANGAT COCOK. KESENANGAN DAN PROSES BELAJAR HARUS ADA DALAM KELAS BAHASA INGGRIS. BAHASA INGGRIS ITU KOMPLEKS MAKA SISWA TIDAK HARUS MEMAHAMI SEMUANYA. CUKUP AJARKAN BAGAIMANA BELAJAR, BAGAIMANA PERCAYA DIRI, DAN TERAKHIR ATURAN-ATURAN DASAR BAHASA INGGRIS YANG DIAPLIKASIKAN DALAM 4 SKILL DENGAN CARA YANG MENYENANGKAN. DENGAN MODAL ITU DIHARAPKAN MEREKA BISA BELAJAR MANDIRI DIMANAPUN DAN KAPANPUN, MENYENANGI KEGIATAN BELAJAR (JUGA MENGAJAR), PERCAYA DIRI SERTA MERASA BAHWA BAHASA INGGRIS ITU MUDAH DAN MENYENANGKAN. Jadi alangkah sial dan kasihannya siswa, jika pembelajaran bahasa Inggris di sekolah sudah membuat mereka “tertekan”, mereka pun tak paham dan tak bisa mengaplikasikannya dalam tulisan dan lisan.” 6 TAHUN TERBUANG PERCUMA. KARENA LAGI-LAGI BAHASA INGGRIS DASAR HARUS MEREKA ULANG DI LEMBAGA-LEMBAGA BELAJAR DI LUAR SEKOLAH. Waste of time. Waste of Money. Atau, jika memang itu terlalu mustahil diterapkan di sekolah, setidaknya berusahalah dengan cara apapun agar setidaknya siswa menganggap Sekolah adalah Surga, bukan Neraka. ”

SEE YOU AT THE TOP, BRO AND SIS ! SEMOGA SUKSES !

JAYALAN PENDIDIKAN INDONESIA!

Ini sekedar pendapat saya yang miskin ilmu. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Palembang, 8 Nopember 2012

2 pemikiran pada “Refleksi Mengajar di SMA Srijaya Negara Palembang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s