KOMENTAR SISWA SRIJAYA NEGARA TERHADAP CARA MENGAJAR SAYA

Pose di Sela Pembelajaran (Penelitian)

Pose di Sela Pembelajaran (Penelitian)

  1. Hampir seluruh siswa berpendapat bahwa saya kurang tegas namun hampir seluruh siswa yang bilang saya kurang tegas tersebut ternyata juga “autis” (susah dibilangin, dan biasanya siswa cewek), terlalu aktif dan multitasking (banyak pikiran, lama fokus).hehe Jadi seolah-olah kalian ingin bilang, “marahi kami sir!”. Tapi tetep, sering “autis!”hehe Saya itu orangnya tak bisa bicara ketika ada satu saja orang yang sibuk dengan pekerjaannya, saya merasa diinterupsi jika itu terjadi. Ya, susah dibilangin tuh siswa “autis”, gak sadar walaupun diingatkan berkali-kali. Sadarlah wahai, JIN tomang :) 

***

Tegas itu sudahjadi kewajiban, namun tegas dalam pengertian saya adalah lebih menyangkut sikap tegas kepada hal-hal yang mendasar, seperti tidak menghormati guru, mencela guru, memandang guru dengan pandangan yang tidak menyenangkan, dll.  Contohnya saya pernah marah besar (akalan-akalan saya saja) dan mengajak siswa bermasalah keluar. Saya ceramahi mereka. Alasannya adalah waktu itu siswa-siswa tersebut mengabaikan instruksi saya dengan sambil memandangi mata saya seolah-seolah ingin bilang “so what?”

***

Nah, saya melihat bahwa kalian masih dalam “sikap” yang wajar. Tidak saya temukan kalian melanggar norma yang sudah semestinya mendapat ketegasan seperti yang saya sebutkan di atas yakni salah satunya “memandang guru dengan sikap yang tidak menyenangkan”. Saya berpendapat bahwa kalian, siswa-siswa yang “autis” ini adalah hal yang biasa dan bukanlah sesuatu yang salah. Mungkin lain kali bolehlah saya minta yang “autis” ini untuk keluar. Eh, nanti keenakan mereka. Malah gak belajar, rugi. Saya tak rela jika begitu. Jadinya harus putar otak. Inilah mungkin yang membuat saya terlihat seperti orang “linglung” di kelas, banyak merenung/ngayal di sela-sela waktu mengajar”.hehe🙂

***

Nah, sekarang coba bandingkan, siswa yang diam karena mendapatkan “bentakan” dengan siswa yang diingatkan dengan cara yang lembut dan kreatif. Siswa yang diam hanya diam saat itu saja. Mereka pura-pura belajar, bahkan belajar dengan perasaan tertekan. Ternyata pada dasarnya mereka tidak suka dengan sikap guru tersebut. Untuk jangka pendek bagus, kelas aman dari para siswa “autis”. Eh, tapi biasanya siswa cowok yang nakal sedikit autisnya daripada siswa cewek yang kayaknya selalu banyak urusan, banyak yg dipikirkan.hehe

***

Dengan sikap “keras” itu kelihatannya memang berwibawa. Tapi sering saya temui siswa yang seperti itu justru membenci gurunya. Ia takut, bukan menghargai atau menghormati.  Lihatlah ketika di luar kelas, mereka malah sering mencela gurunya.

***

Bagi saya, untuk menyikapi masalah siswa yang “autis” ini, siswa hanya butuh “diingatkan/disadarkan”, nah caranya memang ada dua: “kasar” (bentakan langsung) atau lembut (cara-cara kreatif). Ini tergantung pada gaya mengajar guru yang pada dasarnya sesuai dengan kepribadian guru. Jadi, kepada siswa, jika Anda ingin cara yang “kasar” (bentakan, emosional), tanyakan pada diri kalian apakah kalian suka dengan cara seperti itu?

***

Sebaiknya, guru dan siswa harus saling toleransi. Saya menganggap kalian manusia yang punya perasaan dan saya juga menganggap kalian siswa yang juga perasaan. Clear ? Jadi tak perlu ada marah dan dusta di antara kita.hehe  Kelas pun berjalan lancar, menyenangkan, dan menantang.  Jangan minta saya untuk jadi pemarah, karena itu menghabiskan tenaga.

***

2.  Ternyata ada sebagian kecil siswa yang tidak suka bermain. Saya yakin mayoritas siswa pasti suka permainan dan kenyataanya memang begitu.

***

Memang, ada beberapa siswa yang lebih suka kelas yang tenang, yang penting belajar dan belajar. Ini berkebalikan dengan siswa yang bertipe ‘malas mikir”, tidak bisa belajar dengan cara yang biasa yakni mendengarkan penjelasan, seperti ceramah.

***

Sebagian kecil siswa berpendapat bahwa saya terlalu banyak memberikan games dan itu tidak ada kaitannya dengan pelajaran. Jika dikatakan banyak, tidak juga. Games ini pada dasarnya adalah untuk menyantaikan pikiran. Karena saya liat mayoritas siswa tidak siap belajar langsung dan memang idealnya di awal kelas guru semestinya mengkondisikan siswa agar gelombang otak mereka masuk ke dalam kondisi alfa (rileks).

***

Kondisi ini adalah kondisi di mana otak mudah menerima  informasi-informasi  yang diberikan (sugestif) sehingga apa yang diajarkan kepada siswa lebih muda diingat, masuk ke dalam memori jangaka panjang.

***

Kalaupun  ketika saya masuk siswa  memang sudah siap belajar, tentunya saya tak perlu memberikan games (atau marah-marah?), bukan? Sapa saja dengan yel-yel yang semangat. Toh siswa memang menunggu kehadiran saya untuk belajar. Ada sih siswa yang seperti ini, tapi sedikit. Biasanya siswa-siswa seperti adalah mereka yang biasa duduk paling depan.hehe🙂

***

Permasalahnya memang dalam satu kelas itu memiliki karakter/kepribadian yang berbeda-beda. Siswa yang jumlahnya 40 ditangani oleh 1 orang guru memang dirasa mustahil jika semua siswa harus suka 100% dengan cara mengajar guru.

***

Tapi yang pasti, saya selalu berusaha agar semua karakter dan cara belajar siswa terakomodir di dalam pengajaran yang saya bawakan. Itulah kenapa saya minta kepada siswa saran dan kritik ini karena dengan siswa yang banyak ini, saya tidak bisa langsung mengidentifikasi dengan jelas kesan/pandangan siswa atas cara mengajar saya.

***

3.   “Penjelasan sir kurang dimengerti”, kata mereka. Untuk ini, saya akui bahwa memang saya sering bicara “tidak sistematis” dan juga terlihat seperti orang “linglung”. Ini bukan berarti saya gugup, tak paham atau sebagainya. Kenapa saya bisa seperti itu? Karena memang saya sering menyiapkan materi apa adanya-cukup gambaran besarnya saja dan tidak mendetil dan sistematis seperti misalnya latihan terlebih dahulu bagaimana mengajarkan materi tertentu.

***

Selain itu, sering kali rencana yang saya siapkan ternyata berbenturan dengan kondisi nyata sehingga membuat saya  langsung berimajinasi di depan siswa (tanpa saya sadari). Misal ketika hampir semua terlihat malas belajar dan saya sadar bahwa penjelasan yang biasa akan sangat membuat “otak” siswa bosan. Saya teringat peraturan otak yang dinyatakan oleh Dr. Jhon Medina bahwa otak tidak memperhatikan hal-hal yang membosankan.

***

Hal inilah yang membuat saya berpikir di depan kelas sehingga siswa melihat “nih guru ngapain, gak jelas?” Jadi kesalahan saya adalah saya harus belajar mengabaikan pikiran-pikiran yang terlintas di kepala ini saat menjelaskan dan juga mesti belajar sistematis.

***

Saya memang cenderung tidak sistematis dalam bicara, acak, dan mulai dari mana saja. Ini kekurangan saya yang mesti saya perbaiki. Tapi, ternyata tipe siswa “kanan” yang banyak memberikan saran kepada saya bahwa cara mengajar saya yang santai dan tidak menekan tidak terlalu mempermasalahkan ini.  Justru mereka bilang, tidak seperti biasanya, pengajaran yang saya bawakan menyenangkan dan mudah dimengerti.

***

Tampaknya mereka senang sekali kelas dengan pembelajaran yang “aneh-aneh”. Begitulah , memang ada perbedaaan pandangan antara siswa yang cenderung “teratur/kalem/suka mikir” (kita sebut tipe “kiri) dan siswa yang cenderung “berantakan/tidak tenang/suka ngayal males mikir” (tipe kanan).

***

Namun,  justru siswa yang tipa “kanan” inilah yang jarang jadi perhatian kebanyakan guru. Kalau mau mengejar nilai, saya bisa-bisa saja fokus menjelaskan materi. Tapi saya sebenarnya lebih ingin semua siswa untuk senang dan tidak terbebani ketika belajar Bahasa Inggris di kelas saya terlebih dahulu, baru sedikit demi sedikit mulai belajar dengan yang agak menantang (namun tetap diusahakan dengan cara yang menyenangkan) dan banyak mikir karena memang bahasa itu urusannya otak kiri, sama seperti matematika.

***

4.  Siswa masih banyak yang “score-oriented”, terlalu berharap pada nilai sehingga ujung-ujungnya seringkali tetap menggunakan cara yang curang ketika ujian bahkan pada saat tidak ujian. Hadeh! L Ayo, jangan begitulah. Mulai sekarang berorientasilah pada output pembelajarannya yakni pemahaman dan keterampilan. Pasti bisa.

***

Jadi kesimpulannya adalah:

  1. Jika ingin kondisi kelas yang siap/kondusif belajar, aturlah diri kalian sendiri. Please dong ah sama-sama sadar. Jangan minta saya untuk jadi guru pemarah (bedakan dengan tegas). Meskipun sesekali marah itu penting, saya tidak menemukan momen yang pas untuk marah kepada kalian, paling tidak ya mengingatkan dengan mimik muka sedikit “cemberut”.hehe Jujur, saya sudah lama tidak memukul meja dengan keras, seperti yang sering saya lakukan di kelas X1 dulu waktu PPL.haha Mesti kita semua ketahui, sabar itu tidak ada batasnya, yang membatasinya cuma manusia itu sendiri. Saya pikir “keautisan” kalian itu masih tahap wajar, hanya butuh sedikit disadarkan bahwa ada dunia lain selian dunia kalian, ada guru di depan kalian.hehe
  2. Insya Allah akan saya siapkan pebelajaran yang lebih menantang “otak-otak” kalian untuk berpikir, tapi kasihan yang tipe “kanan”, udah siswa satu kelas banyak jumlahnya-gurunya cuma satu, panas, belajar siang-siang-laper, disuruh mikir lagi..hehe “Ampun DJ”, kata mereka. Jadi yang tidak suka kelas yang “aneh”-banyak mainnya, kayak anak kecil, mesti belajar untuk sedikit beralih ke “kanan”.
  3. Saya sulit untuk mengadakan ujian ketika kalian ternyata masih berusaha untuk mencontek. Rasanya percuma saja mengadakan ujian jika begitu. Karenanya saya seringkali bingung bagaimana caranya agar kalian mau dan siap untuk tidak mencontek saat ujian. Jika masih begitu, lebih baik belajar saja, tak perlu ada ujian dan nilai. Kalaupun ujian tidak bisa tidak diadakan, ya mohon maaf jika nilai Anda turun drastis bahkan hingga 0 jika kalian kedapatan mencontek. Ah, apalah artinya nilai jika tidak jujur. Jujur, honesty is everything.

JIKA KITA AKHIRNYA BERPISAH, SAYA HARAP KETIKA KITA BERTEMU SAAT KALIAN DEWASA, KALIAN SUDAH MAMPU MERASAKAN BAHWA “KETIDAKJUJURAN” ITU ADALAH AIB YANG SANGAT BESAR. See you at the top !🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s