Poligami, Keimanan, dan Kejahilan (Kasus Master Limbad)

Illustration Picture from yadisyahid.web.id

ah, Poligami! Selalu saja jadi pro dan kontra.

Dewasa ini, media televisi sedang hangat-hangatnya memberitakan “cinta segitiga” master Limbad.

Respon masyarakat beragam. Sekarang, saya tidak sedang membahas respon orang-orang di luar Islam. Saya hanya berfokus pada respon orang-orang Islam tentang masalah ini.

Masalah Master Limbad tuh gini:

Master Limbad berpoligami dengan wanita yang bisa dilihat dari sikapnya, insya Allah Sholeha.

Secara hukum agama dan hukum negara, ini sah.

Dari hubungan dengan istri kedua ini, Master Limbad memiliki anak (yang baru saja lahir).

Istri pertama tidlak terima, bahkan ia menganggap bahwa hubungan Master Limbad dengan istri kedua ini adalah hubungan zina.

Istri kedua tidak terlalu menanggapi serangan personal yang sudah mengarah pada fitnah yang ditujukan padanya. Bahkan dari sikap istri pertama, kakak master limbad melalui wawancara di media televisi mengungkapkan ketidaksukaannya dengan sikap istri pertama yang “tidak etis”.

Istri kedua, karena tidak tahan dengan tekanan dari istri pertama, lalu mengatakan “saya ikhlas bercerai jika memang istri pertama master limbad tidak ridho”.

 

RESPON MASYARAKAT

1. Benci dan menyalahkan istri kedua, bahkan sampai menghibah, menganggap bahwa istri kedua telah merebut master limbad. na’udzubillah

2. Mengapresiasi sikap istri kedua master Limbad yang kalem dan sabar.

 

PENDAPAT SAYA

Respon masyarakat  adalah cermin dari ketidakpahaman mereka.

 

1. Muslim dengan keimanannya terhadap Al Qur’an dan Assunah, tidak boleh menafikan kebolehan berpoligami (dengan syarat). Jika begitu, berarti Kita tidak menjadi Muslim secara keseluruhan.

2. Dalam hukum Islam, pernikahan master limbad dngan istri kedua sah. Hanya saja mungkin akan lebih baik jika sebelumnya ada pembicaraan terlebih dahulu. Cukup bijak kan? Jika Anda membenci syariat poligami dan juga menghibah saudara Muslim tanpa landasan ilmu, justru itu sangat disayangkan bukan?

3. Karena nasi sudah menjadi bubur, saya menghargai sikap istri kedua master Limbad dan menyayangkan sikap istri pertama.

4. Ini cuma soal pemahaman dan keimanan. Apakah Anda mencoba menentang syariat Tuhan ?!

5. Jangan takut jika harus menikah dengan saya, karena saya tahu saya belum punya kemampuan untuk bersikap adil.🙂

 

Bagamana pendapat Anda ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s