BELAJAR MENJADI PECINTA ALAM, BELAJAR MENJADI DEWASA

Diksar Wigwam di Dempo (ilustrasi)

Beberapa hari yang lalu, saya mendaki dempo. Tetap luar biasa rasanya. Meskipun saat itu adalah pendakian saya yang ketiga (belum cukup sering saya kira). Saya masih bisa merasakan sensasinya. Apalagi saat turun, telinga saya didampingi headset yang melantun lagu-lagu instrumen yang menggugah hati. Anchor pendengaran. Sembari memandangi pemandangan kota Pagaralam dari ketinggian, saya menikmati kedamaian dan sungguh luar biasanya ciptaan Allah. Ya, ketika mendengar lagu itu lagi di rumah, saya bisa merasakan kembali sensasi saat saya berada di gunung dempo. Awan-awan berjalan pelan, mengapung di udara. Di bawahnya yang tampak seperti permadani hijau mungkin senang karena awan sedang menaunginya. Sejuk mungkin dirasakan di sana.

Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa saya pernah ikut organisasi Pecinta Alam. Karena memang saya saya cuma aktif di sana selama kurang dari 1 tahun. Organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) adalah organisasi pertama yang saya masuki saat kuliah. Saya memang sudah berniat sejak SMA. “Nanti kalau kuliah saya ingin masuk Mapala”, pikirku waktu itu.

Kesenangan mendaki gunung diawali ketika SMA. Saya bersama beberapa  teman SMA lainnya mendaki Bukit Serelo di Lahat. Pertama kali mendaki, ada perasaan takut juga karena yang terbayang saat itu adalah keangkeran hutan beserta mitos-mitosnya. Ya, biasalah. Seperti itulah pikiran anak muda yang masih lugu yang belum pernah naik gunung.hehe

PECINTA ALAM ITU KEREN

Mulai dari situlah, persepsi bahwa Pecinta Alam itu keren semakin kuat di hati dan pikiran saya. Gayanya yang macho dengan sepatu gunung yang menggigit tanah-tanah yang curam, dengan tas carrier besar yang menjulang tinggi di badan, dan tentunya nikmatnya menjalani pendakian yang payah namun terbayar oleh indahnya pemandangan membuat saya semakin ingin mendalami kegiatan ini. TAPI, ada beberapa kesalahan yang sering terjadi pada pemuda-pemuda pecinta alam lain atau pendaki-pendaki lain, yakni KAMI saat itu mencoreti Batu dengan tulisan “kelompok kami” (meski bukan saya yang mengeksekusi, tapi saat itu saya tidak menentang). Hal inilah yang mengingatkan saya dengan pendakian saya kemarin (Juli, 2012) di dempo.

BELAJAR MENJADI PECINTA ALAM, BELAJAR MENJADI DEWASA

Semakin sering mendaki dan semakin saya mendalami kegiatan ini (meski tidak bisa dikatakan sering), saya melihat ada pendewasaan dan kesadaran tentang kelestarian lingkungan pada diri saya. Saya mulai berpikir “jika tidak ada pendaki, tentu saja kelestarian gunung akan lebih terjaga?” Pemikiran ini tentu benar. Tak perlu dibantah. Karena semakin sedikit orang yang menjamah hutan, maka akan semakin sedikit kemungkinan untuk dirusak oleh tangan-tangan manusia yang tak bertanggung jawab. Namun, pendaki tidak semuanya perusak (vandalis), bukan ? Dan gunung, juga elemen-elemen alam lainnya tidak dilarang untuk ditelusuri. Bahkan, Tuhan pun di dalam kitab suci meminta kita untuk menyusuri bumi agar kita mau berpikir tentang kebesaran Tuhan yang pada gilirannya akan membawa diri kita menjadi pribadi yang bertaqwa (menaati perintahnya, seperti Shalat dan Puasa dan meninggalkan larangannya seperti judi dan minum minuman keras). Hal inilah sebenarnya yang harus disadari oleh setiap pecinta kegiatan alam bebas.

Teringat benar saat mendaki dempo, salah satu teman yang satu perjalanan kami berteriak “lestari!” untuk memanggil pendaki-pendaki lain yang sudah tiba duluan dan sudah beristirahat di tenda saat menjelang tiba di puncak. Namun, apa yang ia  lakukan di puncak. Ya, “mencoreti” salah satu batu yang ada di puncak dengan sebuah spidol. Tapi tenang saja, ini tentu saja bukan organisasinya yang mengajarinya, mungkin hanya karena ia belum dewasa. Ia memang masih SMA. Sama seperti kami dulu saat masih SMA, rasa ingin diakui dan egoisme kelompok itu memang masih kuat. Lihat saja hasilnya. Di gunung-gunung, terutama gunung dempo, banyak batu yang dicoreti. Biasanya memang yang mencoreti ini adalah orang awam/sipil (bukan Mapala) atau pecinta-pecinta alam yang masih SMP atau SMA yang memang belum punya kesadaran yang besar tentang visi misi Pecinta Alam.

Begitulah, sejatinya menjadi pecinta alam adalah belajar untuk menjadi dewasa. Karena alam, seperti juga pasar, masyarakat, sekolah, keluarga membutuhkan orang-orang yang memiliki kualitas kepribadian yang baik. Ia membutuhkan orang-orang yang berintegritas atau setidaknya mau belajar untuk menjadi orang yang berintegritas agar mampu menjaga keseimbangan sistem yang ada di bumi sehingga tercipta kehidupan yang damai, aman, dan tentram. Itulah sebenarnya tugas kita, sebagai manusia secara umum dan juga sebagai pecinta alam secara khusus yakni menjadi khalifah fil ard atau khalifahturrahman (menjadi wakil Allah di bumi).wallahu a’lam

SALAM LESTARI !!!

2 pemikiran pada “BELAJAR MENJADI PECINTA ALAM, BELAJAR MENJADI DEWASA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s