Minggat dari Palembang

Visit South Sumatera Too🙂

“Nak jalan kemano kito libur nih, Bro?”

“Ke PIM bae? Apo ke Jakabaring? Apo dak tuh berenang ke Lumban Tirta? Atau ke Kemaro”

“Payo! Cari yang lain apo gawe tuh? Apo dio yang nak dijingok’i di sano. Bosen pulo kalu?!”

“Lah, nak ke mano pulo di Palembang ini. Itulah adonyo.”

Apa pesan yang bisa kita ambil dari obrolan dua orang pemuda Palembang di atas ? Secara jelas bisa kita maknai bahwa mereka bosan dengan tempat-tempat rekreasi di Palembang.  Saya saja kalau mau jujur berpendapat bahwa alternatif tempat rekreasi di Palembang sangatlah minim. Apalagi saya memang lebih suka wisata alam seperti yang banyak terdapat di Jawa Barat. Tapi tetap, saya selaku pecinta traveling, bisa menciptakan perjalanan yang bisa saya nikmati meskipun cuma di Palembang, misalnya dengan nongkrong  di tepi sungau musi. Di sana saya bisa menikmati makanan kecil khas Palembang dengan harga yang relatif murah di warung terapung di mana penjual menjajakkan jualannya dengan perahu. Mungkin orang lain tidak bisa menikmatinya. Namun saya pribadi merasa asyik dengan jalan-jalan seperti itu. Dengan deburan ombak-ombak kecil yang menerpa perahu,  saya sangat menikmati kesendirian saya dengan berjalan-jalan di kota Palembang, apalagi ditambah riuh angin yang sedikit-sedikit menyentuh rambutku dengan lembut-sambil menikmati makanan khas Palembang dan pemandangan jembatan ampera dan sungai musi. Pas bin mantap!

Enjoyable Musi Tour

Bicara mengenai persoalan pemuda Palembang di atas, saya jadi teringat dengan dua spot pariwisata yang biasa jadi pelarian warga masyarakat Sumatera Selatan (bahkan di luar Sumatera Selatan ketika mereka bosan dengan pariwisata yang ada di Palembang atau di kota lain di Sumatera Selatan. Dua spot itu adalah Bukit Serelo dan Gunung Dempo. Saya bisa berbangga karena dua tempat ini dulunya berada pada satu kabupaten, yaitu Kabupaten Lahat, tempat di mana saya lahir dan dibesarkan.

BUKIT SERELO

Pertama, saya ingin bercerita tentang Bukit Serelo. Bukit Serelo merupakan bukit yang unik. Ia adalah bukit kebanggaan masyarakat Lahat. Sangatlah pas jika pendiri kabupaten ini menggunakan gambar Bukit Serelo sebagai lambang pemerintahan Kabupaten Lahat.  Melihatnya dari kejauhan sungguh akan membuat hati kita takjub akan kebesaran Tuhan. Bentuknya unik seperti ibu jari, namun ada juga yang mengatakan mirip jari telunjuk. Itulah mengapa ia sering disebut gunung jempol dan ada juga yang menyebutnya bukit tunjuk. Menurut saya, perbedaan ini karena memang bukit ini jika dilihat dari arah jembatan Desa Kebor, Merapi, bentuknya akan kelihatan seperti jari telunjuk, sedangkan jika dilihat dari arah kota  Lahat, maka bentuknya akan sangat mirip dengan jari jempol tangan seperti ingin menungkapkan kata “Oke!”. Namun, nama yang paling populer,terkhusus bagi para pendaki, bukit ini lebih dikenal dengan sebutan Bukit Serelo.

Saya tidak tahu persis mengapa ia disebut bukit serelo. Saya tidak banyak tahu tentang hal itu. Saya pernah mendengar sedikit legendanya dari seorang kakek yang tinggal di basecamp bukit itu saat mendaki ke sana. Sayangnya saya lupa. Kapan-kapan kalau ada kesempatan saya akan pergi ke bukit itu lagi dan bertanya banyak tentang bukit serelo.hehe  Tapi tunggu dulu. Saya tidak yakin apakah kakek itu sekarang masih tinggal di sana. Karena saat waktu itu tahun 2007 dan sekarang sudah 2012. Ya, kapanlah kita ke sana lagi.hehe

Selain itu, ada hal yang menarik jika Anda mendaki bukit ini. Apabila dilihat dari dekat, bukit batu ini terlihat seperti gorila atau monyet besar yang sedang dililit ular. Kadang butuh waktu lama untuk menyadari bahwa memang bukit ini berbentuk gorila yang sedang dililit ular. Butuh dipasati benar. Barulah kita tahu bahwa bentuknya memang sangat mirip. Mengenai ini, kakek yang tinggal di basecamp itu juga pernah bercerita tentang legendanya. Ah, lagi-lagi saya lupa. Maafkan saya.hiks..hiks..:(

Turun Gunung (NB: Lihat bentuk bukitnya!)

Bagi saya pribadi, meski sudah beberapa kali ke sana. Keingininan untuk “hill-walking” ke sana lagi sangat besar.  Memang bila dibandingkan dengan gunung-gunung dengan ketinggian 3.000 mdpl ke atas, serelo bisa dikatakan kalah nama. Namun, serelo bagiku adalah tempat yang tidak kalah menarik dengan gunung-gunung lain sebagai tempat melepas kepenatan. Sebagai perbandingan, saya ambil contoh gunung Dempo. Menurut saya, lebih menyenangkan “berekreasi” di bukit serelo daripada Gunung Dempo. Kenapa ? Alasannya mungkin sederhana yakni tidak terlalu sulit digapai dan pemandangannya, bagiku, lebih menenangkan dari pada berada di puncak Gunung Dempo. Di puncak gunung dempo, kita hanya bisa berkemah yang tidak langsung menghadap ke pemandangan yang luas, jadi kesannya hanya berkemah di hutan atau di kebun. Memang, kita bisa melihat pemandangan luas dengan berjalan lagi menuju kawah. Dari situ barulah kita bisa menikmati hamparan perbukitan. Meskipun begitu tidak berarti saya ingin mengatakan bahwa ke Gunung Dempo tidaklah menyenangkan. Hanya saja, untuk ke Gunung Dempo butuh banyak persiapan, karena medan yang akan dilewati lebih sulit, cuaca yang lebih ekstrim, dan waktu perjalanan yang lebih lama. Memang, kalo dilihat dari segi tantangan, Gunung Dempo pasti unggul. Akan tetapi, di sini saya lebih menekankan kepada aspek rekreasi. Dalam hal ini, saya lebih menyukai Bukit Serelo.

Perjalanan menuju bukit ini tidak terlalu jauh. Untuk bisa sampai ke sana , dari Kota Lahat kita akan menuju desa Ulak Pandan terlebih dahulu sekitar setengah jam. Dari desa ini, dengan berjalan kaki kita akan  melewati sebuah sungai melalui jembatan gantung dan melewati perkebunan karet warga setempat. Dari situ, kita juga akan melewati perkebunan kelapa sawit menyusuri jalan beraspal  sampai pada satu jalan menuju perkebunan warga untuk menuju pintu rimba. Kira-kira waktu yang dihabiskan untuk bisa mencapai puncak sekitar 4-5 jam, tapi itu belum bisa dikatakan mencapai puncak karena untuk mencapai puncak kita harus melakukan pemanjatan dan butuh peralatan khusus. Tapi ada beberapa orang yang berhasil mencapai puncak tanpa menggunakan peralatan khusus, katanya sih merayap dengan mengilingi dinding bukit sampai ke puncak.  Sayangnya, sampai sekarang saya belum pernah sampai ke puncaknya.hehehe Jadi malu !

Hamparan Awan di Bukit Serelo. Very lovely, isn’t it?^_^

GUNUNG DEMPO

Kemudian, marilah kita alihkan perhatian kita pada pesona Gunung Dempo di Pagaralam. Saya pernah berdiskusi dengan pegawai dinas pariwisata Palembang (kalau saya tidak salah ingat). Katanya Gunung Dempo ini sama bagusnya dengan Puncak di Jawa Barat. Tinggal dikelola saja katanya. Teman dekat saya pun bahkan pernah berpendapat bahwa perkebunan teh di Pagaralam jauh lebih indah daripada yang ada di Puncak, Jawa Barat. Kawan saya yang asli Lahat, karena sebelumnya belum pernah ke perkebunan teh, ketika melihat perkebunan teh ini terkagum-kagum. Mendengar ceritanya saya jadi tertawa. Kok bisa warga asli Lahat tapi belum pernah ke Pagaralam ? Tampaknya juga masih banyak orang Palembang yang belum berkunjung ke Gunung Dempo. Buktinya saja, saya pernah mengadakan tour ke Pagaralam dengan menginap di Villa Lahat di perkebunan teh Gunung Dempo yang pesertanya adalah teman-teman saya satu jurusan di Unsri. Ternyata itu pengalaman pertama mereka ke Gunung Dempo, Pagaralam. Mereka pun tak bisa menyembunyikan keinginan mereka untuk kembali berkunjung ke Pagaralam.

Saya ingin menggambarkan pesona Gunung Dempo, Pagaralam. Saya  pikir cara terbaik agar saudara pembaca bisa ikut terlibat dan merasakan nikmatnya menyusuri alam Dempo dengan bercerita tentang pengalaman saya ketika saya pergi ke sana.

MAHASISWA GOES TO PAGARALAM

“Pengen ke Pagaralam lagi aku !” begitulah kira-kira isi status Facebook teman-teman d Himpunan Bahasa Inggris (SEESPA) yang ikut ke Pagaralam saat liburan semester ganjil tahun 2010. Begitu juga dengan yang lain. Hampir semuanya mengungkapkan kepuasaan dan kerinduannya untuk berlibur kembali ke Pagaralam. Saya pun juga berpikir seperti itu, liburan ini memang sungguh berkesan, meskipun sebenarnya aku sudah sering ke Pagaralam. Ada banyak hal berkesan yang membuatnya berbeda.

Saya kembali teringat saat-saat liburan semester ganjil ini digagas. Saat itu, kalau tidak salah, bulan Desember. Saya dan teman-teman memiliki ide untuk menghimpun teman-teman dalam agenda “halal bihalal” Idul Adha, karena kebetulan saat itu adalah hari setelah liburan  Idul Adha. Kebetulan juga pada saat itu sebentar lagi akan liburan semester ganjil, jadi di forum itu  sekaligus kami membahas mengenai liburan bersama semester ganjil. Ada yang ingin ke Bangka, ke Yogya, ke Bali, ke Pagaralam, namun akhirnya, karena berbagai pertimbangan diantaranya biayanya yang murah dan jaraknya yang dekat dengan Palembang, kami memutuskan untuk liburan ke Pagaralam.

Untuk persiapan, pada awalnya kami mempercayakan angkatan 2009 untuk menangani. Namun karena beberapa hal, akhirnya angkatan 2007 (angkatan saya) yang  mempersiapkan liburan ini. Beberapa hari kami melaksanakan rapat persiapan liburan ini. Kami putuskan biaya yang harus dibayar per orang yaitu Rp270.000,- dengan rincian Rp100.000,- untuk biaya penginapan (Villa), Rp100.000,- untuk transportasi,dan Rp70.000,- untuk komsumsi. Agak meleset memang biaya yang kami tetapkan ini. Karena ada biaya-biaya lain yang tidak terduga. Saya sarankan bagi yang juga ingin berlibur ke Pagaralam dengan menginap, setidaknya menyiapkan Rp300.000,- Kalo perlu lebih dari itu biar aman dan nyaman.hehe Tapi ya namanya juga mahasiswa, pinginya yang murah meriah.haha

Dari evaluasi liburan ini, saya akan tunjukkan informasi-informasi yang bisa dijadikan acuan bagi teman-teman yang juga ingin berlibur ke Pagaralam (menginap di Villa).

Pagaralam Trip, 4 Hari Pulang Pergi

Peserta 24 orang

Biaya Villa/malam=Rp704.000,-

No. HP Villa yang bisa dihubungi : 08127390030 (Pak Nanang Rusmadi)

Fasilitas:

  • 4 kamar (2 yang berukuran besar-2 bed dan 2 yang berukukuran sedang-1 bed).
  • Masing-masing kamar memiliki kamar mandi (bathtube, shower air panas dan dingin) dan televisi.
  • Ruang tamu.
  • Dispenser air dingin, panas, dan sedang  (jika habis bisa minta dengan pengurus Villa).
  • Pesawat Telepon untuk menghubungi  kantor pengurus.
  • Sajadah, raincoat, dan handuk per kamar.

Villa Kab. Lahat, Pagaralam

Untuk makan malam dan makan siang, berhubung harga nasi di Villa terbilang mahal bagi mahasiswa (nasi ayam sekitar 15.000)-tapi masih bisa dinego, maka kami memesan nasi di kantin dekat masjid Gunung Gare, komplek perkantoran Pemkot Pagaralam, Gunung Dempo Pagaralam. Harga nasi telor sekitar 5000, ayam 10.000. No HP yang bisa dihubungi 085273090712 (kantin Bu Tuti).

Untuk makan pagi, kami masak sendiri dengan membawa beras dan beberapa bahan masakan seperti mie dan telor. Atau bagi yang tidak ingin repot memasak, dapat memesan nasi goreng (harga 10.000) di kantor pengurus atau di kantin Villa, bisa dinego untuk mahasiswa.

Biaya transport Palembang-Pagaralam (Bis Telaga Biru-07117078110 atau Melati Indah)= Rp40.000/orang (muatan 25 dan 27 orang)

Biaya transport/antar dari pasar Pagaralam ke Villa Gunung Dempo=Rp150.000 (langsung nego bis atau cari angkot Pagaralam).

Biaya transport/jemput (Bis atau Angkot) ke Villa Gunung Dempo dari pasar Pagaralam=Rp150.000

Biaya angkot (muatan 12 orang) untuk keliling ke tempat wisata di Pagaralam selama sehari=Rp200.000 (nego). No HP supir angkot yang bisa dihubungi 085279338802 (Mang Fensi). Atau tanya dengan pengurus loket Bis Pagaralam di Terminal Karya Jaya, Palembang.

Biaya masuk tempat wisata:

  • Gunung Dempo (Tempat Menginap)sekitar 100.000/rombongan  (nego)

Biaya masuk resmi= 2.000/orang

  • Air Terjun Cughup Embun= Rp2000/0rang (bisa nego jika rombongan)
  • Air Terjun Lematang Indah=Rp2000/orang (bisa nego jika rombongan)

Agenda

Hari 1

  • Jam 8 berangkat ke pagaralam dari terminal Karya Jaya Palembang, sekitar 6  jam perjalanan
  • Sekitar Jam 3 sampai ke Villa, Check In
  • Selanjutnya terserah Anda

Hari 2

  • Jam 9 berangkat ke Tugu Rimau (Batas Tertinggi Perkebunan Teh/Pintu Rimba)
  • Jam 12 turun ke Komplek Perkantoran Pemkot Pagaralam, ambil nasi di kantin Bu Tuti, Makan dan Shalat
  • Jam 13 menuju ke Air Terjun Cughup Embun
  • Jam 16 kembali ke Villa
  • Selanjutnya terserah Anda

Air Terjun Curup Embun

Hari 3

  • Jam 9 berangkat ke Air Terjun 7 Kenangan, atau ke Air Terjun Mangkok, atau belanja oleh-oleh di pasar (opsional).
  • Jam 12 menuju ke Air Terjun Lematang Indah, shalat dulu di Mushola-di luar pintu masuk wisata Air Terjun(cukup untuk sekitar 8 orang)
  • Sehabis shalat menuju ke Air Terjun Lematang Indah. Catatan: biaya untuk bermain ban di bawah air terjun LI yang deras=Rp2000-Rp5.000/orang (nego)
  • Pulang ke Villa atau membeli oleh-oleh jika sebelumnya belum ke pasar.

Maen Banyu di Perahu Ban

Hari 4

  • Jam 9 Bis menjemput, go home!

PENDAKIAN MENUJU PUNCAK DEMPO

Kebetulan, beberapa hari yang lalu saya beserta 6 teman-teman saya lainnya mendaki Gunung Dempo. Sebuah pengalaman yang sungguh berkesan. Perjalanan dimulai dari terminal Karya Jaya. Beberapa teman berangkat Jum’at Sore sekitar pukul lima sedangkan saya dan tiga teman lainnya menunggu di Lahat. Kami akhirnya bertemu di Lahat pukul 10 malam untuk langsung menuju Basecamp yang berada dekat dengan pabrik pengolah teh di Gunung Dempo. Sampai di basecamp kami pun beristirahat hingga fajar hampir menjelang untuk menunaikan Shalat Tahajud sembari  menunggu waktu subuh datang. Air di sini tentu sangat dingin. Tapi kami paksakan karena ini baik untuk adaptasi/aklimatisasi. Apalagi air dingin baik untuk kulit.

Basecamp Pendakian di sebelah Rumah Pak Anton

Hari Pertama di Dempo (Jum’at)

Hari ini kami belum melakukan pendakian. Pagi ini kami ingin bermain-main dulu di Air Terjun Tujuh Kenangan yang letaknya tidak terlalu jauh dari basecamp. Kami cukup berjalan selama sekitar 30 menit dari basecamp. Bagi yang hobi berenang, di sana kita bisa dimanjakan dengan air yang cukup dalam (sekitar 2 meter). Bagi yang tak suka berenang atau tidak bisa berenang bisa bermain-main di bawah  tumpahan air terjun, berfoto ria, atau bermain “waterboom alami”.hehe

Waterboom di Air Terjun Tujuh Kenangan

Melompat Lebih Tinggi!-Air Terjun 7 Kenangan

Sekitar jam 12 lewat kami pun kembali ke Basecamp. Kami tidak ikut Shalat Jum’at di masjid. Kami cukup Shalat Zuhur dan Ashar dengan cara dijama’ dan diqhasar. Tidaklah mengapa bagi kami sebagai orang yang tidak mukim. Sekitar pukul 2, kami menuju Tugu Rimau yang dekat dengan pintu rimba jalur Cahaya Timur dengan mendaki. Kami bermalam di Mushola yang ada di sana untuk esok paginya siap mencapai puncak gunung dempo.

Mentari Pagi di Tugu Rimau (Pintu Rimba Jalur Cahaya Timur)

Menikmati “Sunrise” dari Ketinggian Gunung Dempo

Hari Kedua di Dempo (Sabtu)

Sekitar pukul 2 siang, kami pun mendaki dan akhirnya sampai sekitar pukul 6 sore. Agak lambat dari biasanya. Sesampainya di puncak-tepatnya di alun-alun atau pelataran di antara dua puncak (puncak dempo dan puncak merapi), kami langsung mendirikan dua tenda. Saat itu angin berhembus kencang dan sangat dingin. Malam ini kami ingin istirahat.

Alun-Alun/Pelataran di Gunung Dempo (Lembah Parapuyang)

Hari Ketiga di Dempo (Minggu)

Semalam hujan, meski tidak terlalu deras. Permukaan-permukaan daun dan tenda kami lembab dan basah. Kami bangun agak kesiangan, sekitar pukul 6 pagi. Langsung saja kami ambil wudhu di aliran air yang ada di alun-alun puncak Gunung Dempo. Masya Allah, sangat dingin, seperti air es.

 Pagi-pagi sekali kabut tebal masih menyelimuti alun-alun puncak gunung dempo. Hujan juga masih mengguyur. Kami menunggu hingga pukul sepuluh pagi sampai hujan berhenti untuk setelahnya siap mendaki puncak merapi di mana di sana kami bisa melihat kawah gunung dempo. Sungguh luar biasa cantiknya! Siangnya, kami pun kembali.

Kawah Gunung Dempo..Sungguh eksotis !

Giliran kamu..Visit Mount Dempo, Pagaralam!

Itulah, dua spot wisata alam di Sumatera Selatan yang begitu menakjubkan dan ngangenin. Saya pun rindu sekali ingin ke sana kembali. Di mana lagi kita bisa temukan wisata alam terbaik selain di dua tempat ini di Sumatera Selatan.

Bukit Serelo…Gunung Dempo..memang KEREN ABIZZZ !!! Betul-betul tempat jalan-jalan budak Palembang yang dalam bahasa Lahatnya “Bada midang jeme Plimbang nian!”.hehe

COME ON! VISIT THEM !!! VISIT SOUTH SUMATERA !!!  ^_^ iwz

20 pemikiran pada “Minggat dari Palembang

  1. Ping balik: WongKito » Blog Archive » Daftar Peserta Kompetisi Blog Pesona Sumsel

      • Pernah tinggal di Lahat beberapa tahun, saat masih ada bioskop Serelo (sekarang jadi Hotel ya?), dan bermain di jembatan gantung sungai Lematang.
        : )

      • Pernah tinggal di Lahat beberapa tahun, saat masih ada bioskop Serelo (sekarang jadi Hotel ya?), dan bermain di jembatan gantung sungai Lematang.
        : )

  2. siipp kak..
    jadi kangeen pengen jingook bukit serelo n’ gunung dempo..
    kapanlah bisoo main2 lagi…Mantap ceritonyo kak.🙂

    • Lihat sikon dulu, atau ane cari yang biso kalo ado. Lanjut di Facebook ane, cos jarang buka WordPress, jaringan labil –> ike wardhana efroza

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s