Fitrah Mencinta Itu Ternyata

Illutration Picture from 3.bp.blogspot.com

 

“Aku pikir hanya aku yang merasakan hal ini. Ternyata ketika kuamati semua orang, terkhusus untuk manusia yang sekelamin dengan saya, laki-laki.”

Ya, laki-laki seperti saya, yang “percaya” bahwa pacaran itu tidak ada di dalam Islam seringkali merasakan kerinduan yang besar untuk segera, dengan cara yang halal, bercengkrama, bicara mesra, bercumbu rayu  dengan “orang” yang kita sayangi. Hal ini lumrah karena fitrah mencinta itu memang sudah “built in” di setiap hati-hati kita. Aku yakin, ini juga dirasakan oleh mereka, lawan jenis kami-laki-laki, yakni mereka yang biasa disebut kaum hawa. Bahkan mungkin perasaan itu pada mereka lebih besar dibanding kami laki-laki. Apalagi memang umurku sudah hampir menginjak 23 tahun. Umur yang kata seorang pakar psikologi, jika aku tidak salah ingat, bahwa umur yang baik untuk menikah bagi laki-laki itu antara umur 20-25 tahun dan saya sudah masuk pada masa itu.

Saat ini, ada beberapa teman baik itu adik tingkat atau pun kakak tingkat yang sudah menempuh kehidupan baru sebagai seorang suami atau istri. Beberapa dari mereka ada yang menikah ketika masih kuliah dan beberapa lainnya ada yang menikah tidak lama setelah mereka menamatkan kuliahnya. Hal ini mungkin masih dianggap biasa dan sering terjadi. Tapi saya rasa kita juga sepakat bahwa masih banyak orang yang menganggap orang yang menikah di umur 20 hingga 25 itu masih terlalu cepat.  Apalagi jika ternyata mereka yang meniatkan untuk menikah ini tidak pacaran. Akan banyak pertanyaan atau bahkan mungkin fitnah yang timbul di masyarakat. “Eh, tahu-tahu udah nikah aja nih anak. Kebelet aja mau nikah. Jangan-jangan..dan jangan-jangan?!”

“Masa berpuasa” inilah yang terkadang membuat “galau” para pendamba “ikatan yang teguh” ini. Untuk mengisi waktu ini, untuk memenuhi kecenderungan berbagi dan berharap kasih sayang  ini masing-masing punya caranya sendiri. Nah, kira-kira bagaimanakah cara kalian ? Nah, yang biasa dilakukan yang aku tahu misalnya dengan bercanda dengan lawan jenis, ngobrol (chatting), dan lain sebagainya. Nah, dalam hal ini terkadang ada yang berbeda entah itu dalam hal waktu, cara, kedekatan, dan isi pembicaraan. Misalnya saja ada yang pembicaraannya sudah mengarah kepada “cinta”  entah itu dilakukan ketika sedang berkumpul bersama-sama di dalam sebuah forum atau perkumpulan yang banyak pesertanya. Atau ada juga yang chatting di facebook atau di media sosial lainnya. Begitulah, kisah mereka (dan mungkin juga aku). Tapi jujur, aku termasuk orang yang menghindari pembicaraan yang mengarah kepada “perasaan suka/senang/cinta”, apalagi orang yang diajak bicara juga orang yang memiliki pemikiran yang sama (langsung menikah tanpa pacaran).

Jika begitu, bagiku, potensi untuk “merasa dan dirasa” itu akan cukup besar. Itulah mengapa aku lebih cenderung suka berbicara/ngobrol dengan mereka yang aku tahu bahwa mereka tidak/ tidak terlalu berpotensi untuk berpikir ke arah “perasaan tadi”. Namun, begitulah manusia. Kita tidak bisa mengetahui apa isi hati manusia. Jadi ya tetap jaga pembicaraan saja dan jaga hati. Terkadang, jika sudah begitu, maksudnya ketika ada indikasi bahwa “si lawan jenis” sudah berubah orientasinya dalam setiap pembicaraan, aku biasanya mengurangi interaksi (atau mengurangi kedekatan) dengan “si lawan jenis” tersebut. Sebenarnya aku hanya ingin mereka tahu bahwa pada hakikatnya aku menyayangi mereka, dengan memberikan bantuan dan perhatian laiknya adik dan kakak sendiri. Itu saja, tidak lebih.

Ya…Begitulah manusia. Begitulah hati. Begitulah cinta. Silakan sayang..silakan mencintai..tapi jika mau lebih, yang sampai pada “ikatan yang teguh” itu, ya mesti kudu berani lamar..hehe🙂

Semoga dalam “masa-masa” ini kita dijaga oleh Allah agar tetap dalam “batasan”-Nya. Dan semoga fitrah mencintai dan dicintai ini membawa kita pada produktifitas dalam hidup, bukan malah menjadi buta karenanya.wallahu’alam

^_^  Semoga bermanfaat.

Satu pemikiran pada “Fitrah Mencinta Itu Ternyata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s