Konsep Diri Remaja Muslim Lahat

Pernah dimuat di Lahat Pos.

Photo Taken by Me in Taman Lahat

Ketika membaca judul di atas, mungkin pertanyaan yang pertama kali muncul di pikiran kita adalah “apa sih konsep diri?” Konsep  diri, menurut Hurlock, E.B., merupakan jumlah total dari ide-ide atau gagasan-gagasan seseorang tentang apa dan siapa dia. Mungkin dengan penjelasan defenisi di atas masih belum membuat kita mengerti tentang apa itu konsep diri. Sederhananya, menurut versi saya, konsep diri adalah pandangan pribadi dan pandangan orang lain tentang siapa kita dan bagaimana seharusnya kita menjadi. Sebagai contoh saya memandang saya pribadi sebagai orang yang “gaul”, orang-orang lain juga berpandangan  bahwa saya orang yang “gaul”, dan saya ingin menjadi, misalkan anak-anak band yang “gaul” yang banyak dikenal dan dikagumi orang banyak. Itu saja, yang penting saya “gaul” dan harus menjadi “gaul” dengan cara apa pun. Itulah konsep diri saya. Konsep diri saya itulah yang akan membawa saya untuk berperilaku sesuai dengan konsep diri saya tersebut. Maka tidak mengherankan jika kerjaan saya setiap hari cuma nongkrong, kongkow, ngeband, dan hura-hura, karena memang itulah tujuan saya hidup yang saya pahami. Pertanyaannya, apakah sudah benar konsep diri yang seperti itu ?

***

Konsep diri yang benar akan membawa perilaku hidup yang benar. Kita tidak perlu susah-susah mencari panduan agar konsep diri kita sesuai dengan aturan-aturan yang benar. Coba lihat di masing-masing Kartu Tanda Penduduk (KTP) kita, disana tercantum sebuah kata kunci yang dapat mengarahkan kita pada konsep diri yang benar. Apa itu ? Ya, Islam.

***

Dalam Al Quran Surah Az-Zariyat Ayat 51 disebutkan “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” Dari situ jelas bahwa satu-satunya tujuan manusia hidup adalah untuk beribadah kepada Allah. Ibadah tidak saja diartikan sebagai ibadah wajib dan sunnah yang sudah ada tuntunan teknisnya seperti Shalat dan Zakat, namun ibadah juga dapat diartikan sebagai amal baik yang menyangkut hubungan manusia dengan sesama manusia, seperti bekerja-mencari nafkah, menebar senyum kepada sesama, belajar-menuntut ilmu, dan lain-lain. Namun ingat, amal baik tidak akan bernilai ibadah jika amal baik tersebut tidak diniatkan semata-mata karena Allah. Lalu apa hubungannya dengan konsep diri ?

***

Dengan memahami tujuan hidup kita sebenarnya dan memahami apa yang diwajibkan, dilarang, diperbolehkan, dan disarankan dalam agama, maka konsep diri yang kita bangun akan memiliki landasan yang benar dan seimbang antara tujuan duniawi dan tujuan akhirat. Silakan Anda ingin menjadi pemain band, pengusaha, pemain basket, wartawan, guru, anak gaul, apa saja, asalkan kita niatkan untuk beribadah kepada Allah. Dengan niat untuk beribadah, otomatis kita harus bisa meninggalkan segala perilaku-perilaku yang melanggar perintah atau mengabaikan perintah Allah, seperti lupa waktu untuk Shalat (atau bahkan sengaja meninggalkan Shalat), mengganggu ketertiban umum, dan lain sebagainya.

***

REMAJA MUSLIM LAHAT

Tidak ada definisi yang jelas tentang batasan-batasan umur remaja. Karena jika dilihat dari beberapa pendekatan seperti sosial ekonomi, psikologi, dan hokum,  batasan-batasan umur yang bisa disebut sebagai umur remaja akan berbeda-beda. Namun secara umum remaja bisa diartikan sebagai masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa, katakanlah mereka yang berusia 11 sampai 21 tahun. Jadi disini bisa mencakup anak SMP sampai  anak kuliahan (yang belum menikah).

***

Secara kasat mata, menurut pengamatan saya dan pengalaman saya dalam berinteraksi dengan remaja-remaja muslim di Lahat, terlihat bahwa mereka kebanyakan tidak memiliki konsep diri yang jelas. Perilaku-perilaku umum mereka tampaknya banyak dipengerahui oleh masukan-masukan yang tak bisa dibilang “membawa pengaruh positif” yang dibawa oleh media seperti internet, televisi, dan lain-lain. Kita  bisa evaluasi apakah teman-teman kita, adik-adik kita, atau anak-anak kita sekarang (di Lahat) selama ini disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang bernilai ibadah, bagaimana pula Shalatnya, sudah bisakah membaca Al Quran, bagaimana pula cara pakaiannya-sudah cukup sopankah (jika memang tidak boleh mengatakan “sudah sesuai tuntunan Islamkah?”

***

Memang kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan media, tapi yang sangat disayangkan adalah informasi, nilai-nilai, dan budaya yang dibawa media tersebut seringkali tidak mendidik dan kadang menyesatkan. Dengan pemahaman agama yang kurang dan didikan dari orangtua yang kurang optimal dalam mengarahkan perilaku anak/remaja, maka akan sangat mudah bagi informasi, nilai dan budaya negatif untuk menyusup (infiltrasi) ke dalam hati dan perilaku anak/remaja. Ditambah lagi dengan ketidaktanggapan kita (terutama pemerintah) dengan permasalahan mendasar seperti ini, seperti tidak masifnya program-program yang mendukung pembinaan akhlak dan kepribadian remaja dan malah menggalakkan kegiatan-kegiatan (yang memang boleh dalam agama), tapi secara tidak langsung menggerogoti budaya-budaya ketimuran dan budaya lokal yang notebene lebih dekat kepada nilai-nilai Islam.

***

Ini memang tak tampak sebagai sebuah keterpurukan, karena perilaku dan persepsi umum sudah mengaburkannya, yang baik seolah buruk-yang buruk seolah sudah menjadi kebiasaan.  Inilah perang pemikiran yang memang lebih berat dari perang secara fisik. Kita harus menang dalam pertarungan pemikiran ini. Senjata kita cuma dua, Al Quran dan Hadits. Atau jika memang telinga kita terlalu asing mendengar kedua kata tersebut, cukuplah kita bertanya dalam diri kita masing-masing “apakah kita sudah ber-Islam dengan baik?”

***

Remaja (pemuda) adalah aset bangsa. Jika menginginkan bangsa yang maju, maka janganlah mengabaikan pembinaan pemuda dan meremehkan peran pemuda. Seperti dalam sebuah lirik lagu sebuah band punk rock ternama yang berbunyi “. . .kami muda dan berbahaya”. Itulah gambaran pemuda yang kata Soekarno dengan kekuatannya dapat menguncang dunia, bukan karena hanya kekuatan  semangatnya, namun yang lebih penting adalah kekuatan intelektual dan moralnya. Maka jelaslah, jika kita mengabaikan pembinaan intelektual dan moral pemuda, berarti kita ikut andil dalam pengkerdilan sebuah bangsa, perlahan-lahan. iwz

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s