DARI PALEMBANG HINGGA BALI (TRAINING MANAJEMEN DAERAH SANG BINTANG SCHOOL)

MENGEJAR KERETA

Seperti biasa, gedung-gedung UIN yang megah menjadi pemandangan kami, Shandi dan aku sendiri, ketika akan menuju jalan raya untuk menuju tempat di mana kami bisa menemukan angkot berkode “AL”. Kami jalan menunduk dengan langkah cepat-cepat, terburu-buru karena jam menunjukkan pukul 2 siang lewat, sedangkan kereta Matarmaja jurusan Malang-Jakarta akan berangkat pukul 14.50 siang.

Aku mencoba tenang, seperti biasa, meski sulit rasanya. Karena hujan, ditambah lagi sang supir angkot AL yang kami tumpangi tampaknya masih haus penumbang baru, angkot dengan sengaja dijalankan sang supir dengan lambat. Kulihat sepintas wajah Shandi yang melihati jam tangannya. Tampaknya ia cukup cemas. Ketika kulihati ia juga seolah ingin mengkonfirmasi apakah aku juga merasakan hal yang sama dengan memeriksa mukaku. Aku masih cukup tenang.

10 menit sebelum kereta berangkat akhirnya kami sampai juga di stasiun, tepatnya di sebrang jalan dekat stasiun. Buru-buru kami langsung menyebrang jalan menuju stasiun Malang. Di peron sudah sepi dengan penumpang karena sudah bersiap berangkat dan mungkin sedang asyik di bangku mereka masing-masing.

“Kereta Matarmaja mana ya pak?”, tanyaku pada petugas di sana. “Jalur tiga!”, katanya.

Di jalur satu melintang kereta api entah jurusan mana. Kami memutar cukup jauh, berjalan menuju ujang kereta di jalur satu. “Ah, jauh juga!”, pikirku. Kali ini aku sedikit was-was. Langkah kupercepat. Stasiun seolah-olah sudah sangat sepi. “Aha, itu kereta apinya. Tapi tampaknya ini jalur dua”, kataku. Kami susuri kereta itu untuk masuk ke jalur 3. “lewat sini, Shan!”, aku mengajak Shandi untuk melewati pintu kereta yang kupikir di jalur 2. Kami pun keluar menembus pintu kereta. Tapi..ternyata tak ada kereta lagi. Kami pun kembali masuk menembus pintu kereta untuk kembali ke tempat awal. “Yang manakah keretanya?”, pikirku. Kami pun bertanya pada satpam yang ada di situ. “Iya, ini kereta Matarmaja!”, ujarnya.  Ternyata kereta api yang kami lewati tadi Matarmaja. Seketika itu juga pintu kereta tempat kami masuk tadi ditutup, “gubrak!”. Kami semakin was-was. Kami berlari dengan perasaan was-was mencari-cari pintu kereta yang terbuka. “Sini shan!”, kataku. Akhirnya…”ah, aku memang selalu beruntung. Tapi lain kali janganlah seperti ini lagi. Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya pasti akan jatuh juga (insya Allah. n_n)”

TAKDIRKU KELAS EKONOMI

Aku berpisah di dalam kereta dengan Shandi. Tempat duduk kami berbeda. Aku di gerbong  5 sedangkan Shandi di gerbong 7. Aku sebenarnya baru mendapatkan tiket hari itu juga. Awalnya sih sebenarnya aku bingung mau pulang dengan apa, dengan pesawat dari bandara di Surabaya, dengan kereta api eksekutif Gajayana, dengan kereta api ekonomi Matarmaja, atau dengan bis saja.

Pagi hari itu, hari Sabtu (4/2/2012), sekitar pukul 06.30 orang-orang di kantor SBS Malang aku lihat tampaknya semuanya tidur. Aku pun berniat berjalan-jalan naik angkot untuk berhenti di suatu tempat yang bagus untuk dijadikan tempat perhentian, maksudnya tempatnya ramai dan asyik untuk nonkrong atau jalan-jalan. Ya, itung-itung cari sarapan lah. Aku pun naik angkot “AL”.  Kupandangi jalan-jalan yang ramai dengan siswa-siswa SMA. Kupandangi wajah-wajah mereka. Ah, aku jadi rindu masa SMA. Kemudian kulihat juga beberapa universitas, ada Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Muhammadiyah, dan lain-lain. Ternyata banyak juga ya universitas di Malang. Di tengah jalan, akhirnya kuputuskan saja, nanti aku berhenti di stasiun Malang saja, lihat-lihat tiket dan sambil mikir-mikir kira-kira bagusnya naik apa aku pulang.

Kudatangi loket kereta Matarmaja. Kudapati tulisan bertuliskan “Tutup!” dan “buka pukul 7.30”. “Yah, sudahlah. Cari sarapan saja dulu”,kataku dalam hati.  Alhamdulillah ada yang jualan kue seharga Rp1.500. Ukurannya cukup besar dan pilihannya banyak juga. Kuambil 3 jenis kue yang gurih dan juga kue yang manis. Cukup mengenyangkan sampai-sampai setelahnya aku “terpanggil” untuk melakukan “hajatan” di tempat bernama toilet. Bukan Ike namanya kalau tidak tenang dan santai. Aku pun berjalan ke arah kanan stasiun, berharap ada tempat yang bisa dipakai untuk “hajatan”. Dan benar, alhamdulillah mataku melihat tulisan yang berbunyi “WC UMUM”.

Aku kembali ke stasiun. Ternyata sudah cukup banyak orang yang antri di loket Matarmaja meski loketnya masih tutup. Aku pun ikut antri untuk selanjutnya kembali duduk di kursi tunggu karena jam 7.30 masih cukup lama. Melihat antrian sudah cukup panjang, akupun antri kembali. Tidak lama setelah itu, datanglah orangtua berpakaian khas calo (aku kira) dengan jeans dan sepatu ketsnya. Ia menawarkan sebuah tiket.

“Kamu mau beli tiket untuk hari ini? Udah habis. Nih ambil tiket ini saja!”, katanya.

“Mau jual berapa?”

“Bayarin aja. Saya mah bukan calo. Saya nggak jadi pegi, daripada tiket ini saya tebus lebih baik kamu aja yang ambil.”

Kami pun melakukan transaksi ke tempat yang lain.  Singkat cerita, akhirnya tiket itupun berpindah ke tanganku. “Takdirku ternyata kereta kelas ekonomi”.

FULL OF HOLIDAY (JAWA-BALI TRIP)

Waktu terasa cepat sekali berlalu. Aku duduk di bangku kereta yang akan menempuh perjalanan kira-kira 20 jam menuju Jakarta. Kuingat-ingat kembali cerita ketika Training Manajemen Daerah Sang Bintang School yang baru saja aku dan kawan-kawan dari cabang Sang Bintang School di beberapa kota di Indonesia alami. Kuingat lagi wajah-wajah sahabat dari Aceh, Batam, Payakumbuh, Linggau, Cirebon, Malang, Surabaya, Pamekasan, dan Palembang. Film perjalananku sebelum menjalani Training sampai berakhir pun diputar kembali.

AWAL KISAH PERJALANAN

Aku harus berterimakasih pada dosenku. Semester ini, di semester 9 aku kuliah di Universitas Sriwijaya, aku benar-benar tak kuliah karena memang tidak ada matakuliah yang mesti diambil kecuali skripsi. Karena itulah semester ini aku bisa dengan leluasa jalan-jalan menyusuri pulau Jawa dan Bali, fokus di KJS dan mengikuti Training Manajemen Nasional.

Sebelumnya di semester delapan (genap), aku mengambil dua kelas yang memang belum aku ambil, listening I dan listening III. Kok bisa ? Bukannya listening adalah matakuliah bersyarat? Ya, memang betul. Listening I, aku kira, sudah aku ambil di semester awal. Buktinya nilai listening II ku ada di DKN (Daftar Nilai Kuliah). Tapi tak tahulah. Aku tidak menemukan nilai listening 1 di KHS-KHS (Kartu Hasil Studi) yang ada. Akhirnya, aku ambil saja dua matakuliah itu di semester delapan dengan harapan sebagai matakuliah terakhir saya. Semester delapan kemarin juga sebenarnya aku targetkan sebagai tahun terakhirku di Unsri. Tapi siapa yang bisa menebak. Aku harus mengulang dua matakuliah tersebut di semester genap tahun selanjutnya, tahun 2012 ini.

Semua ini berawal dari pengalaman pertamaku naik pesawat terbang yang harus dibayar dengan skorsing kuliah satu semester. Susah memang jika dosen dan mahasiswanya ternyata sama-sama suka jalan-jalan. Satu hari bolos karena ikut saudaraku ke Jakarta dihitung beberapa hari tidak kuliah. Tidak fair, aku pikir. Karena hampir setiap aku masuk kuliah dosen ternyata sedang ada agenda. Tentu saja untuk mengatasi ini aku mengambil jalan negosiasi. Tapi aku tak mendapatkan keputusan yang memuaskan. Hingga akhirnya, karena aku cenderung berpikir bahwa masalah tidak boleh mengintervensi perasaanku yang positif, aku memilih untuk tidak meneruskan konfrontasiku atas ketidakadilan yang aku dapatkan.

Aku terlalu baik untuk mempermasalahkan dosenku yang selama ini sudah baik padaku. Aku mengirim SMS yang sedikit menyindir Ketua Jurusan. “Asslkum Ibu (bahasa tersopan karena biasanya mahasiswa banyak yang memanggil Ma’m), maaf atas..aku ikhlaskan..semoga jurusan tambah maju di tangan Ibu.” Hingga pada suatu hari aku pun dipanggil oleh Ketua Jurusan (aku kira untuk meluluskan permohonanku) untuk mengklarifikasi dan memberitahukan bahwa memang ada yang salah.  Tapi tetap, aku tak bisa kuliah. Ya, mungkin salahku juga. Tapi ya sudahlah. Sampai saat ini pun ternyata masik baik-baik saja.

SBS LINGGAU, JAWA-BALI TRIP DAN SPECIAL TRAINING DI MALANG    

 

SBS LINGGAU

“Assalamu’alaikum Mr, siap ke Linggau?”

“Siap, Mr, insya Allah”

“Ok. Hari sabtu antum berangkat ke Linggau ya?”

Saat itu kalau tidak salah awal bulan Desember. Aku diminta Mr.Sunyoto untuk datang ke SBS Linggau. Aku sebenarnya tidak begitu jelas apa yang akan aku lakukan di sana. Mr. Sun hanya bilang begitu, datang saja ke Linggau.

Aku baru dua kali ke Linggau. Pertama kali dulu ketika jalan-jalan dengan BEM FKIP Unsri dan ini yang kedua. Aku di Linggau kalau tidak salah selama kurang lebih 2 minggu menggantikan Mr.Sunyoto yang “chau” ke SBS Payakumbuh bersama dengan istri tercintanya (aku di Linggau sendiri, belum ada istri coi!haha).

Singkat cerita, aku pun pulang, cabut dari Linggau menuju Lahat, kampung halaman tercinta, meninggalkan aktivis-aktivis Indonesia Jenius dari Linggau: Mr. Dedi “nyolot”, Mr.Hans yang imut, Mr. Yefran yang baik, Miss Sofie yang friendly dan aktivis sejati, Mr. Dedi, Miss Destri Sang Manajer, dan yang lainnya (yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu di sini.hehe).

SEBULAN DI PULAU JAWA

Sampai Lahat sebenarnya awalnya aku berniat untuk kembali ke Indralaya. Tapi kakak perempuanku yang akan segera kembali ke Jakarta mengajakku untuk ikut Trip Mobil Jawa-Bali. Aku sih mau-mau saja , asal tidak merepotkan.

Perjalananpun di mulai, dari Lahat kami ke Palembang dulu, kakak perempuanku yang dulunya ketua korwil Singa Mania (supporter Sriwijaya FC) wilayah Jabotabek  dan juga pernah jadi pentolan aksi revolusi PSSI yang mengusung tuntutan penurunan Nurdin Halid beberapa hari silam, berkunjung ke markas Viking (supporter Persib) di Palembang. Di sana kami makan duren sama-sama. Durennya beli dari Lahat, padahal sebenarnya di Lahat (tepatnya di desanya) kami punya kebun duren. Jadi, kalau sedang musimnya, silakan saja berkunjung ke tempatku untuk merasakan sensasi menunggu duren jatuh dan makan duren langsung dari kebunnya (di tempat kami kebun duren biasa disebut hepang deghian).

Dari Palembang kami pun langsung ke Jakarta. Satu hari kami istirahat di Jakarta untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju Bali. Dari Jakarta kami ke Cimahi dulu, berkunjung ke rumah seorang tetua supporter Viking yang juga mantan domanstran revolusi PSSI. Kami menginap di sana satu malam untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta. Di yogya, kami cuma berkunjung sebentar saja, ke markas korwil Singa Mania juga yang notabene markas mahasiswa Yogya asal Sumatera. Dari Yogya kami langsung menuju Solo. Di Solo kami menginap di hotel selama semalam. Di sana juga kami menemui tetua supporter klub sepak bola Persis Solo, Pasopati.

Malamnya, kami pun langsung berangkan ke Malang. Nah, di Malang kami tinggal cukup lama, aku lupa berapa hari. Yang pasti, selama di Malang kami pernah berkunjung ke Batu Night Square (BNS) di kota Batu dan ke kebun binatang di Batu (aku lupa namanya). Sebenarnya aku tidak begitu menikmati tempat-tempat wisata yang seperti itu. Aku lebih suka wisata alam seperti Tangkuban Perahu, Bromo, Danau Toba, dan sebagainya.

Selama beberapa hari di Malang, aku dan keluargaku sepakat bahwa memang Malang adalah tempat yang enak bagi pecinta kuliner. Di sini kami mengunjungi warung Bakso Bakar, Bakso Presiden yang tempatnya berada dekat sekali dengan rel kereta api, mie setan, pasar minggu, dan lain-lain.

Selain itu, kami juga menyebang Suramadu untuk menuju Madura hanya untuk  “numpang” makan di  restoran di Bangkalan. Kami tidak lama di sana. Setelah itu kami langsung pulang ke Malang. Sebenarnya, ada rencana untuk pergi ke Bromo. Tapi karena kakak perempuanku merasa tidak siap dan tidak “mood”, akhirnya rencana itu dibatalkan. Sayang sekali!

AKHIRNYA, BALI

Tiba waktunya  bagi kami untuk melakukan perjalanan puncak, yakni ke Bali. Mobil Toyota Fortuner dan “the driver” yang notabene kakak iparku sendiri masih gagah untuk sama-sama mengantarkan kami ke Pulau Dewata. Perjalanan yang cukup jauh, Jakarta-Bali pulang pergi. Salut buat mobil dan “the driver”.hehe

TAK BERANI MAKAN BAKSO DI BALI

Meski di Bali cukup banyak tersedia makanan, kami di sini ternyata cuma makan makanan yang tak begitu spesial. Kami cuma makan nasi padang,  nasi soto, dan dan makanan instan seperti pop mie dan ayam goreng KFC. Kakak perempuanku saja tidak mau mencoba makan bakso di sini, meski sudah ada tulisan halal atau tertulis “bakso Malang”.

Bagi penikmat alam sepertiku, perjalanan ke Bali kemarin belumlah optimal karena dengan waktu yang relatif singkat kami cuma pergi ke tempat-tempat wisata budaya, seperti di Garuda Wisnu Kencana Park, Museum Sukarno, dan Candi Tampak Siring atau Tirta Empul. Memang, kami juga pergi ke pantai. Tapi jujur saja aku lebih menyukai pemandangan gunung dibanding pantai, apalagi di pantai mata akan terusik dengan gadis-gadis ekspatriat yang hanya memakai bikini, ditambah lagi aku tak pandai berenang.

SIAP MENJALANI TRAINING SBS

Selama di Bali, aku sudah mulai memperhitungkan apakah setelah dari Bali aku akan langsung tinggal di Malang menunggu training SBS dimulai atau pulang ke Jakarta dulu. Pertamakali waktu itu diinformasikan bahwa Training SBS akan dimulai tanggal 21 Januari. Jika begitu, aku berencana tidak ikut pulang ke Jakarta karena jika aku ikut pulang ke Jakarta waktu training akan tinggal satu hari lagi sesampainya aku di Jakarta.  Namun, berhubung diinformasikan kembali bahwa training diundur menjadi tanggal 24, aku pun memutuskan untuk pulang dulu ke Jakarta agar bisa pergi bersama kawan-kawan dari Palembang untuk menuju Malang.

CALO LAGI

Jaka dan Shandi tiba di Jakarta hari Sabtu tanggal 21 Januari. Kamu memutuskan untuk berangkat ke Malang tanggal 23 Januari. Hari ke dua di Jakarta, aku mengajak mereka untuk pergi ke Stasiun Senen. Awalnya sih kami berpikir bahwa kami sudah sangat tepat pergi ke stasiun senen satu hari sebelum berangkat. Tapi siapa yang mengira ternyata karcis KA Matarmaja tujuan Malang sudah habis terjual. Lagi-lagi, aku pun tetap nyantai. “Tak ada guna galau. Pasti ada jalan”, pikirku. Kucari-cari info tentang kereta mana lagi yang karcisnya belum habis. Di pikiranku pun sudah membayangkan rencana lainnya agar tidak terlambat tiba di Malang dengan biaya yang seminim mungkin. Tiba-tiba ada seekor  eh..sebongkah..hmm maksud saya seorang bapak yang menawarkan untuk memesan karcis dengannya. “Ok juga”, pikirku. Aku pun ikut bapak itu dengan lagak sok santai menuju tempat jualannya tidak jauh dari loket stasiun.  Di sini kami tawar menawar harga. Akhirnya kami sepakat dengan harga karcis Rp100.000 perorang. Aku memberikan uang panjar Rp15.000 karena karcisnya baru akan kami dapatkan besok saat hari keberangkatan. Ini kali kedua aku membeli karcis via calo. Pertama kali saat pulang dari Linggau. Saat itu memang musim mudik. Meskipun aku datang pagi, tetap saja karcis di loket sudah habis duluan. Bahkan aku dengar dari cerita penumpang yang rumahnya dekat dengan stasiun dan sudah antri lebih awal tetap saja tidak kebagian karcis.

SAPA SURUH DATANG JAKARTA

Setelah mendapatkan kepastian tiket, dari Stasiun Senen kami jalan-jalan menuju Monas. Ini kali pertama Shandi dan Jaka naik Trans Jakarta loh.hehe Aku juga sebenarnya tak begitu paham rute Trans Jakarta. Aku, maksudnya kami cuma bermodal “tanya” saja dan sedkit pengalamanku dulu ketika pernah bermain-main dengan trans Jakarta. Dari Senen kami, kalau tidak salah menuju halte busway di Senen. Dari situ kami langsung menuju Monas. Setelah puas jalan-jalan di monas. Kami pun memutuskan untuk pulang. Namun, ketika kami tanya ke petugas loket halte busway, dia bilang bahwa bisnya masih lama datang karena sedang mengisi bahan bakar. Kami langsung memutuskan untuk mencari alternatif lain.

Kami beranjak menuju jalan raya di dekat stasiun gambir. Berjalanlah kami menyusuri trotoar di sebrang stasiun gambir. Kemudian tiba-tiba, datang bus Kopaka yang berwarna hijau putih yang di kaca depannya bertuliskan Senen-Lebak Bulus. Aku pikir bis itu datang dari Lebak Bulus menuju Senen. Padahal, bis itu dari Senen dan mau ke Lebak Bulus. Arahnya datangnya berlawanan dengan arah datang kami ketika naik trans jakarta saat menuju Monas dari halte Senen. Aku pun dengan sedikit yakin mengajak Shandi dan Jaka naik bis tersebut. Lama bis ini berjalan, tak kutemukan tanda-tanda bahwa bis ini menuju daerah Senen. Kulihati papan-papan reklame banyak yang alamatkan “Jakarta Selatan”. Aku pun menkonfimasikan prediksiku dengan mencari diinternet. Kuketik “Lebak Bulus Jakarta Selatan”. Ternyata benar, kami sedang menuju Lebak Bulus yang notabene di Jakarta Selatan, padahal tujuan kami adalah Senen di Jakarta Pusat. Ya sudah, akhirnya kami pun turun dari bis kopaja itu dan nain Trans Jakarta lagi. Hingga ujung-ujungnya kami pun tanggung dan memutuskan berjalan kaki (itung-itung pengalaman).haha Sapa suruh datang Jakarta.  *Mr. jack mungkin bilang dalam hatinya “dasar, kurang kerjaan!”..haha😀

MENUJU KANTOR SBS MALANG

Selasa pagi akhirnya kami pun sampai di Malang.

“Udah di mana sekarang? Kalo dah nyampai nanti naik angkot dengan kode “AL”. Bilang turun di UIN!”, sms masuk dari Mr.Sunyoto.

Kami pun naik angkot dan berangkat menuju UIN. Tiba di UIN, aku yang diminta menghubungi Mr. As’ad agar menjemput kami, mencoba mencari jalan sendiri menuju ke Kantor SBS. Ku buka foto alamat SBS Malang di handphoneku yang aku dapat dari blog SBS Malang.

Kutanya orang di sana, kutanya satpam UIN, “maaf Mas, alamat ini di mana ya ?”

“Oh, lurus aja mas dari sini, di luar gerbang UIN”, ujar Satpam.

Kami pun berjalan mengikuti arahan satpam tadi. Kami pikir jauh. Ternyata di tengah jalan, masih di dalam komplek UIN, kami melihat dari kejauhan di luar tembok komplek UIN terpampang spanduk bertuliskan “6 Minggu Bisa!”. “Nah, itu dia!”

JUMPA PERTAMA

Ketika berjalan di komplek UIN saat menuju kantor, aku sebenarnya was-was ditanyai satpam. Kami yang bertampang lusuh dengan baju dan alas kaki seadanya ini masuk ke kompek universitas. Tapi tetap kami jalan sok santai. Tak ada masalah ternyata.

Tiba di kantor SBS rasanya senang juga. Di lantai bawah sudah ada Mr. As’ad dan Redha, kawan kami dari Aceh. Ini jumpa pertama kami dengan mereka. Naik ke atas, kami berjumpa dengan Mr.Sunyoto yang sedang asyik “guling-gulingan” di kasur yang empuk. Di sebelahnya Mr. Yunsirno sedang pulas tertidur. “Mr, Mr.Yunsirno di mana yah?, tanyaku pada Mr.Sun, panggilan singkat Mr. Sunyoto. “Itu dia yang lagi tidur.” “oh..”, kata saya.

3 SERANGKAI TIBA

Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Dari Mr. Dedi ternyata, dari Lubuk Linggau.

“Mr, kami sudah di UIN. Di mana kantor SBS?”, tanya Mr. Dedi.

Arahan yang aku berikan lewat telepon ternyata tidak membuat jelas Mr. Dedi. Akhirnya aku pun menjemput mereka di depan gerbang UIN. Aku kira mereka cuma dua orang. Ternyata ada tiga orang. Mereka adalah Mr. Dedi sendiri (SBS Linggau), Mr. Hansein (SBS Linggau), dan Beni Harja (SBS Payakumbuh). “Kayaknya pendiam nih orang”, pikirku ketika pertama kali melihat utusan Payakumbuh ini. Tapi siapa yang mengira, ternyata dia menjadi salah satu pemeran utama film Training Manajemen Daerah Sang Bintang School di Malang bersama dua orang lainya yang menjadikan mereka tiga serangkai, yakni Mr. Dedi dan Mr.Hansein dari Linggau.haha

RUTINITAS DI MALANG          

Semua peserta laki-laki (ikhwan) dalam training ini menginap di kantor SBS. Ada pun peserta laki-laki yang hadir dalam training ini adalah :

  • Mr. Redha dari Aceh
  • Mr. Putra dari Batam
  • Mr. Beni dari Payakumbuh
  • Mr. Shandi dari Palembang
  • Mr. Jaka dari Palembang
  • Saya sendiri, Ike Wardhana Efroza dari Palembang
  • Mr. Najmudin alias Dean Cooper dari Cirebon
  • Mr. Haris dari Cirebon
  • Mr. Lukman dari Surabaya
  • Mr. Deka dari Surabaya
  • Mr. Ma’ruf dari Surabaya
  • Mr. Rofiq dari Pamekasan,Madura.

Peserta perempuan (akhwat) yang hadir dalam training ini adalah :

  • Miss Winda dari Aceh
  • Miss Hesti dari Malang

Karena pesertanya tidak terlalu banyak dan kami ditempatkan dalam “kamp konsentrasi” yang memungkinkan kami banyak berinteraksi, kami tidak menemukan masalah yang begitu berarti untuk saling mengenal. Dalam waktu yang relatif singkat, semangat dan visi kami bisa tersatukan dalam training ini. Setelah Subuh, kami akan mendengarkan tausyiah dari salah satu peserta yang bertugas. Setelah itu waktu bebas. Ada yang setelah melakukan amalan sunnah seperti tilawah memilih untuk istirahat kembali. Ada yang memilih untuk ngobrol. Ada yang memilih “internetan”. Ada yang memilih membaca buku. Ada yang memilih bertanding games sepak bola “PES” di laptopnya Mr. Indra. Hingga jam 8 tiba, kami harus siap untuk mulai melaksanakan training.

Sekitar pukul 11.30 sampai dengan pukul 1 siang adalah waktu Somai (Sholat Makan Istirahat).hehe Ada tempat makan siang yang, bagiku, luar biasa. Makanannya murah, pilihannya banyak dan porsinya pun banyak jika dibandingkan dengan makanan di Palembang. Aku saja hampir setiap kali makan di sana selalu kekenyangan dan kelebihan porsi hingga akhirnya aku sering meminta penjual untuk sedikit mengurangi porsi nasiku. Berikut adalah makanan/nasi yang biasa kami pilih sebagai menu makan siang dan malam kami :

  • Nasi lele bakar Rp5.000
  • Nasi Jamur Krispi Rp5.000
  • Nasi Udang Krispi Rp5.000
  • Nasi Cumi Bakar Rp5.000
  • Nasi Cumi Krispi Rp5.000
  • Nasi Ayam Bakar Rp5.000
  • Nasi Ayam Krispi Rp5.000
  • Es Teh Rp1.500
  • Es Susu Rp2.000

Dan masih banyak menu lainnya. (Ketika menulis ini, malam sebelumnya aku makan pecel lele di Indralaya, lelenya kecil, harganya Rp8.000,jadi kangen makan di warung itu.hehe)

Pukul 1 sampai sekitar pukul 3 sore, kami melanjutakan training. Disambung lagi dari pukul 4 sore sampai sekitar pukul 5 sore. Kemudian waktu bebas hingga pukul 7 untuk melanjutkan training hingga pukul 8 atau lebih.

KAMI BERSENANG-SENANG, BUKAN TRAINING      

Secara keseluruhan, bisa dikatakan bahwa kami di Malang hanya bersenang-senang. Di sini kami bisa jalan-jalan, makan-makan, main futsal, dan lain-lain.hehe Ya, memang begitulah adanya, aku tidak melebih-lebihkan. Selama training, kami bersenang-senang. Apalagi setelah training, kami bersama-sama pergi ke kota Batu dan Gunung Bromo. Bagi sebagian orang mungkin biasa saja jalan-jalan ke Batu atau ke Bromo. Tapi bagiku dan bagi kawan-kawan yang lain ini pengalaman yang sungguh luar biasa. Karena memang ini pengalaman pertama bagi kami menyambangi tempat dengan pemandangan yang sangat eksotis yang mampu membuncahkan rasa kagum kami atas kebesaran Allah. Ketika berada di Bromo, aku terpikir dengan niatku untuk menyambangi tempat ini. Akhirnya, Allah mengabulkan niatku. Dengan modal niat dan percaya akhirnya Allah pun membawaku ke tempat ini. Nah, selanjutnya aku berniat ke. . . . . . .n_n PERCAYA !!!

“There’s no special ingredient. You only have to believe it !”Kung Fu Panda

JUMPA LAGI DI BALI

Training Manajemen Daerah usai. Mr. Yunsirno pun akhirnya mengucapkan “sampai jumpa di Bali Juni 2012” kepada kami semua. Kami pulang dengan membawa semangat Indonesia Jenius. Ya, semangat. Masalah kinerjanya, kita lihat saja nanti perkembangannya. Akan seperti apa ceritanya di Juni 2012 nanti. Akankah target-target tercapai ? Akankah aku bisa berjumpa kembali dengan sahabatku peserta TMD di Bali? Tak tahulah. Kita lihat saja nanti (tampaknya saat itu aku masih akan sibuk menyelesaikan studiku..hehe) AHAI ! SEMANGAT !!! n_n

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s