Sumber Passive Income Itu Bernama Orangtua

Semalem karena nggak ada kerjaan, saya nonton film The Social Network (betul yah judulnya?). Itu, film yang menceritakan kisah Mark Zukeberg meraih kesuksesannya dengan menciptakan Facebook. Yang lain semalem udah pada tidur kecuali satu adik tingkat saya yang belum tidur karena masih asyik main Facebook. Sekitar jam 11 malam lewat film itu saya khatamkan.

Setelah nonton tuh film, satu hal yang menggugah saya yaitu tentang “Mandiri”. Yap. Sampai sekarang sayangnya masih belum mandiri. Berbeda sekali dengan Mark yang sudah mampu membangun perusahaan di usia muda. Lah saya, astagfirullah, uang makan saja masih minta. Saya bahkan pada tahap menyesal, kenapa saya tidak dididik dari kecil untuk bisa mandiri sehingga mental kepepet itu masih kurang mendarah daging.  Sebenarnya ini bukanlah kali pertama saya tergugah untuk segera mandiri. Sudah sering, yakni dari bacaan-bacaan tentang finansial dan kewirausahaan selama ini.

***

Setelah menonton film tersebut saya pun siap-siap tidur, melakukan “ritual-ritual” biasa sebelum “jump to the bed” (padahal nggak pake bed, alias tidur di ambal..hehe). Pertama, ke belakang untuk Buang Air Kecil, terus ambil wudhu, terus shalat witir. Sebenarnya sih malam ini masih mikir-mikir untuk shalat witir. Air yang ada di bak tinggal dikit. Bingung hukumnya itu masih bisa dipake nggak untuk wudhu. Opsi saya : 1. Malam ini nggak usah wudhu setelah buang air yang artinya juga nggak usah shalat witir. 1. Buang keraguan, ambil wudhu dan shalat. Toh kalaupun airnya tidak mensucikan yang penting hati tenang sebelum tidur ambil wudhu dan shalat witir, lebih tenang.

***

Di Shalat saya kepikiran tentang kondisi saya yang sampai saat ini masih belum mandiri, masih menggantungkan hidup pada passive income yang berasal dari orangtua. Meminjam istilah anak muda sekarang “saya lagi galau”.hehe Tapi nggak segitunya sih. Dulu, sebenarnya saya pernah bilang pada orangtua kalau saya nggak perlu lagi dikirimin uang. Tapi ujung-ujungnya karena sangat butuh uang akhirnya komitmen itu patah, dikirimin lagi. Ah, ternyata saya BELUM BENAR-BENAR MERASA KEPEPET. Jadi teringat tantangan Mas Jaya Setiabudi waktu Entrepeneur Camp dulu, katanya “Berani sekarang bilang ‘PAK BU, MULAI SEKARANG JANGAN KIRIMI SAYA UANG LAGI!”

***

Habis shalat saya mikir-mikir. Saya pun membuat kertas berisi tulisan “Renungkan! Kapan Mau Mulai Mandiri. Sampai Nikah? Jangan Sampai”. Ya setidaknya itu bisa jadi cambuk bagi saya untuk segera BERUSAHA agar bisa MANDIRI.

***

Rencana saya sih, bulan depan masih butuh uang kiriman (duh, malu euy). Sekarang keuangan saya sampai pada status “defisit”.  Hutang-hutang yang ada harus dilunasi dulu. Setelah itu bikin rencana keuangan agar keuangan lebih teratur. Selain itu juga harus berpikir untuk menambah pemasukan dan siap untuk mandiri-bayar SPP dengan uang sendiri, uang makan hasil keringat sendiri, uang kebutuhan lain juga dari usaha saya sendiri.

***

ASTAGFIRULLAH..HARI GINI TERNYATA SAYA MASIH FAKIR !!!

Ayo kawan-kawan, saling bantu dan saling mengingatkan dalam mewujudkan kehidupan yang lebih mandiri.

Terakhir saya ingin mengutip sebuah kalimat bijak.

“Muliakan diri dengan memenuhi segala hak diri. Berusahalah untuk menambah pendapatan, alih-alih berhemat tapi malah merendahkan diri dengan mengabaikan pemenuhan hak diri.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s