Mirisnya Pendidikan Negaraku

Akhir-akhir ini korupsi seolah menjadi trending topic yang tidak habis-habisnya di pemberitaan media. Kasus Nazarudin contohnya, yang belum lagi selesai permasalahannya sampai saat ini. Kemudian masyarakat juga tampaknya berlomba-lomba menghujat, tak tahan dengan kondisi negeri yang sedang terpuruk ini.  Bagaimana tidak, masyarakat Indonesia tidak habis-habisnya dicekoki dengan pemberitaan-pemberitaan di media yang hampir seluruhnya bercerita tentang ketidakberesan negeri ini, utamanya masalah korupsi.

***

Tidak hanya masalah korupsi, baru-baru ini juga diberitakan tentang laporan seorang wali murid yang pada saat Ujian Nasional yang diminta oleh salah satu gurunya untuk membagi-bagikan jawaban soal ujian kepada teman-temannya yang lain, tidak hanya teman sekelas, tapi seluruh kelas juga mendapat jatah jawaban ini. Miris bukan? Tentu saja. Tapi janganlah kaget. Karena sebenarnya ini bukanlah masalah yang baru. Ini sudah menjadi rahasia umum pendidikan kita. Mau bukti?

***

Saya tinggal di Indonesia. Dan pastinya juga mencari pendidikan yang layak di sekolah-sekolah di Indonesia. Ya tak perlu diberi tahu sebenarnya. Saya cuma ingin mengatakan bahwa saya juga punya pengalaman tentang praktik-praktik kecurangan dalam pendidikan kita, mulai dari SD sampai SMA.

***

Saya SD sekolah di sebuah sekolah negeri di Lahat, tak perlulah saya beri tahu SD no berapa. Ingat betul ketika itu saya bukanlah murid yang dikenal pintar (kalo sekarang? nggak juga..hehe). Tapi siapa sangka, saya mendapatkan NEM tertinggi ketiga di sekolah saya waktu itu. Biasa saja sih sebenarnya, karena ternyata kalau dibandingkan dengan sekolah swasta terkenal di kota saya, nilai-nilai kami tertinggal jauh (merendah ni yeh..hehe Lah emang kenyataannya begitu). Pernah saya dibisiki oleh salah satu guru (namanya ada deh ? tak perlu tahulah.hoho), katanya kurang lebih “nilai kamu bagus tuh, nggak ada ungkapan terimakasih sama ibu?”. Cikiciw!!! Sebenarnya saya waktu sudah cukup mengerti, tapi ya apa boleh baut saya pun meminta kepada ibu saya untuk membelikan hadiah ibu guru tercinta yang sangat ikhlas tersebut (asyiiik..).  Saya bersama beberapa teman-teman yang lain berkunjung ke rumah ibu guru yang bersangkutan untuk menyampaikan “ungkapan cinta dan rasa terimakasih kami”.  Waktu itu saya memberikan hadiah gelas setengah lusin (kalau tidak salah).

***

Momen pemberian hadiah di atas adalah puncak ketidakberesan pendidikan di SD saya. Sebelumnya waktu ujian nasional juga terjadi hal yang sungguh ironis, miris, bikin hati teriris-iris.hehe  Coba bayangkan (mohon untuk dibayangkan!hehe), kami sekelas diberi tahu jawaban soal ujian langsung (dibacakan di depan kelas) oleh salah satu guru kami saat pengawas juga berada di kelas kami. Guru SD kami juga mengajarkan kami bahwa untuk berbaik hati dengan pengawas. Alhamdulillah pada waktu itu saya berpikir “sayang ah curang”. Saya melihat kawan-kawan yang lain pada waktu itu serius memindahkan apa yang didengarnya dari guru tadi ke kertas jawaban yang mereka punya (terlihat jelas kawan-kawan!) . Ahai, harga diriku naik saat itu “meski nggak pinter-pinter amat gue bangga dengan hasilku sendiri”. Merdeka!haha

***

Habis SD apa hayo? Ya benar sekali, SMP. Di SMP saya masuk SMP swasta terkenal yang ada di kotaku (Lahat). Sebenarnya sih rayon SD saya ya SMP Negeri, tapi karena untuk siswa kelas 1 dan 2 (kalo tidak salah) masuk sore (karena tidak cukup tempat), saya akhirnya memilih SMP swasta. Sore adalah jadwal saya bermain bola, tidak boleh diganggu gugat.haha Di SMP swasta ini, meski SMP Katholik, saya merasakan bahwa disini saya lebih berkembang. Kalau dulu di SD tidak pernah juara, justru di SMP yang notabene sekolah yang terkenal dengan prestasi-prestasi muridnya ini lah saya pernaih mendapatkan juara kelas. Di sini juga saya banyak mengikuti kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler yang lebih banyak dari siswa kebanyakan. Bisa dibilang masa SMP ini adalah masa keemasan saya.hehe

***

SMP saya waktu itu SMP Katholik. Banyak kawan lama di SD yang sering menanyakan tentang sistem pendidikan di sini. “Ya, seperti biasa. Asyik-asyik aja”, kataku. Tapi dari pengalaman saya selama sekolah di SMP ini, saya berpikir bahwa tampaknya sikap guru negeri dan guru swasta itu ada bedanya (tak tahulah jika di daerah lain). Ya memang  itu tidak sepenuh benar. Tapi waktu itu saya meyakini benar bahwa lebih baik sekolah di sini (sekolah katholik tersebut) daripada sekolah-sekolah negeri. Saya tak suka dengan pemisahan kelas berdasarkan kemampuan akademik siswa seperti yang ada di sekolah negeri yang antara kelas biasa dan kelas luar biasa terdapat perbedaan dari segi fasilitas, waktu belajar dan jumlah bayaran.  Berbeda dengan pemisahan kelas yang hanya ditujukan untuk sebatas pengelolaan kelas saja dan namanya juga tidak berbeda. Semua sama kelas X 1, 2, dan 3 atau kelas XI IPS 1, 2, dan 3. Tidak ada kelas XI IPS dan XI IPS unggulan. “Emangnya lue-lue pade tahu kalo kite bukan termasuk siswa unggulan?” Ada-ada aja tuh orang yeh. Capek deh. Itulah mengapa setamatnya SMP, saya kembali memilih SMA yang juga satu yayasan dengan SMP saya sebelumnya. Eh, tapi alhamdulillah sekarang sudah ada SMA Negeri yang katanya beda, “SMA Unggulan di kota saya”. Katanya sih benar-benar profesional, beda sama SMA negeri yang lain. Tapi terbukti sih, banyak dari SMA tersebut yang jadi kawan saya di Universitas. Rata-rata mahasiswa asal kota saya yang berhasil masuk Universitas tempat saya kuliah memang dari SMA unggulan ini. Lulusan-lulusannya memang ok.

***

Masalah kecurangan bersama/kolektif (guru dan siswa atau antara siswa) saat Ujian Nasional, di SMP alhamdulillah saya tidak menemukannya (kalau kecurangan pribadi saya tidak begitu tahu, tapi alhamdulillah saya fair). Saya lulus dengan nilai matematika yang pas-pasan. Begitu juga di SMA. Hanya saja saat ini dari siswa ada yang mendapatkan bocoran jawaban. Untuk semua pelajaran saya alhamdulillah bersih, tapi untuk Matematika keyakinan saya benar-benar diuji. Di awal diam-diam saya juga ikut mencatat bocoran tadi. Tapi di tengah ujian, saya pun berpikir “bocoran ini belum tentu benar”. Dengan sedikit bingung akhirnya saya  memilih untuk mengisi jawaban tanpa hitung-hitungan dan tanpa mengindahkan bocoran tadi. Saya pasrah, tapi alhamdulillah saya lega dan puas. “Inilah aku yang santai  dan cuek ((let it flow, take it easy)”, pikirku. Ya begitulah saya. Jujur hampir setiap ulangan saya selalu menerapkan sistem SKS atau tidak belajar sama sekali/membaca saja (untuk beberapa pelajaran seperti biologi saya cukup serius). Hanya saja memang selama di kelas saya cukup aktif, dari situlah saya belajar.iwz

Satu pemikiran pada “Mirisnya Pendidikan Negaraku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s