Mengakali Kelas “Kanan”

Siang itu aku sedang beristirahat di perpustakaan SMA Srijaya Negara Palembang.  Cukup penat setelah mengajar di beberapa kelas yang menjadi tanggungjawabku selama masa PPL*. Perpustakaan inilah yang menjadi markas kami para mahasiswa PPL. Ruangannya tak begitu besar, tapi cukup nyamanlah bagi kami untuk sekedar tempat berdiskusi dan beristirahat.

***

Kalau tidak salah waktu jam pelajaran terakhir. Saat itu aku diminta untuk menggantikan guru yang sedang tidak hadir di kelas XI IPS (lupa kelas XI IPS berapa). Padahal sebenarnya aku sedang malas mengisi pelajaran, tapi ya bagaimanapun aku mesti bisa mengelola kelas ini. Alhamdulillah sebelumnya aku pernah diminta untuk mengisi kelas XII IPA, kelas X,  dan hanya kelas XI IPA yang belum beruntung untuk aku masuki kelasnya.hehe Semua bisa diatasi. Jadi ya setidaknya ada sedikit cara pengelolaan kelas yang bisa diadopsi dari pengalaman sebelumnya.

***

Pertama kali masuk kelas XI IPS ini, aku disambut dengan keributan khas anak-anak SMA kelas XI (IPS). Melihat ini, sontak aku langsung memukul meja untuk mengubah suasana kelas agar menjadi tegang. Aku panggil salah satu siswa yang bisa dikatakan provokator keributan. Pertama kali kuminta, ada sedikit pengabaian. Dengan caraku yang menunjukkan muka kesal berwibawa akhirnya ia pun maju. Aku pun menceramahi kelas dengan wajah serius, berdiri di sebelah salah satu siswa provokator tersebut. Kataku waktu itu kurang lebih, “siang-siang mak ini ari panas, kalian malah ribut kayak dakmenghargai. Aku mudo, kalian jugo mudo. Kito saling bantulah. Sir paham karena sir jugo pernah SMA, samo cak kalian.” Alhamdulillah pada waktu itu mereka diam. Setelah itu, aku langsung mengubah suasana yang tegang tadi menjadi lebih bersahabat. “Oke. Dak masalah. Sir paham, memang kayak inilah anak SMA, kami dulu jugo cak kalian. Tapi tolong tetap jago batesan”, aku menyambung ceramah tadi agar suasana menjadi sedikit lebih bersahabat. Lalu aku pun menanyai sang provokator yang masih berdiri di sebelahku, kataku “oke, kito perkenalan dulu. kw perkenalkan diri di depan sini, tapi harus pake gaya, harus ekspresif , cak ini caronyo (dengan mencontohkan)”.

***

Mereka akhirnya kembali ceria dengan sikap bersahabatku dan melihat siswa yang berada di depan tadi agak canggung untuk memperkenalkan diri dengan gaya yang aku contohkan. “Oke, kito kenalan beduo dulu. Kau harus memperkenalkan diri kau sambil berjabatan tangan dengan sir’, kataku memberikan instruksi. Kelas pun tertawa ketika jabatan akan dimulai, karena ternyata tangan siswa tadi ternyata ada kelainan. Aku pun sedikit tak enak karena tak tahu jika tangannya seperti itu.  “Oke tak masalah. Silakan perkenalkan diri..bla..bla..!” Kelas pun menjawab serempak ketika aku tanya nama siswa tadi “Cenggooooooong! (sambil tertawa)”. Aku bingung mengapa mereka tertawa dan tak paham apa artinya cenggong. Ternyata cenggong ini adalah nama yang merepresentasikan keadaan tangannya tadi (ukuran jari lebih kecil dari ukuran normal). Singkat kata perkenalan tadi selesai dan aku pun melanjutkan agenda selanjutnya.

***

Setelah perkenalan tadi aku tak begitu ingat apa yang aku lakukan, tapi kalau tidak salah aku cuma bercerita dan sedikit memberikan games-games hingga bel menandakan perlajaran berakhir berbunyi. Ya, setidaknya aku bisa menyelamatkan harga diriku sebagai guru muda (sekali).hehe Ya, begitulah siswa. Kita mesti paham bahwa karakteristik siswa itu berbeda-beda. Dan kita mesti memandang positif seluruh sikap yang mereka tunjukkan. Berkaitan dengan itu aku ingin mengutip apa kata Nur Sutan Iskandar dalam bukunya Pengalaman Masa Kecil “elok sekarang ia tak mau mengaji, alamat ia jadi pendakwah besar di seluruh negeri ketika besar”. Pandangan positif bahwa seluruh siswa adalah orang yang luar biasa  adalah sebuah sikap yang harus dimiliki oleh setiap guru.

Bagaimana pendapat Anda ?

Satu pemikiran pada “Mengakali Kelas “Kanan”

  1. Tulisan yang bagus, sgat memberiku inspirasi bg aku yg baru sja melaksanakn PPL dtahun ini. Sungguh berat menjadi seorang guru muda sperti ku, yg masih minim pengalaman, sring masih merasa grogi ketika harus berhadapan langsung di depan siswa. Mungkin anda masih punya banyak pengalaman,,gk ada salahny jk berbagi dengan Q?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s