Proposal Hidup Gue

Assalamu’alaikum kawan-kawan..ane lagi “nggak mantep ni”. Gini ceritanya. Ane kan bentar lagi tamat kuliah nih. Paling lama ya, insyaallah tahun depan. Dan umur ane juga dah berkepala dua. Sekarang per April 2011, umur ane dah 22 tahun (kalo nggak salah, coba itung. ane lahir 1989.hehe). Masalahnya ane kalo ditanya pingin jadi apa, maksudnya selama hidup ingin memfokuskan diri sebagai orang yang bergelut di bidang apa, ane masih rada-rada bingung.  Sebuah penelitian (ane lupa . pokoknya ane bener pernah baca, suer dah!hehe) menjelaskan bahwa orang yang menuliskan rencana karirnya, apa yang ingin ia capai dalam hidup ternyata memiliki pendapatan yang jauh lebih besar dari orang yang tidak merencanakan hidupnya secara jelas.

***

Memang, dalam hidup, besarnya pendapatan bukan hal yang menjadi tolol ukur kebahagiaan seseorang. Pernah saya mewawancarai seorang ustadz yang sekarang aktif sebagai anggota dewan apakah ia juga menuliskan rencana hidup. Ia menjawab “saya mah mengalir aja. Tahu-tahu sekarang sudah menjadi anggota dewan.”. Tapi memang, ustadz yang saya wawancara ini memang sudah memantapkan hatinya untuk berkarir sesuai dengan jalan dakwah yang menuntunnya. Intinya, kalau dakwah menginginkan saya untuk menjadi ini atau itu ya saya ikuti. Nah, inilah yang sebenarnya membuat ane bingung.

***

Ane sebenarnya ingin menentukan fokus hidup ane agar waktu hidup ane benar-benar termanfaatkan untuk segala sesuatu yang memang sesuai dengan cita-cita/fokus ane. Dengan begitu ane semakin jelas dalam menentukan prioritas dalam menggunakan waktu yang ada. Itulah mengapa, ane ingin fokus pada cita-cita yang memang ane suka mengusahakannya-sesuai dengan minat ane (passion) dan memungkinkan ane untuk tetap bisa konsisten di “jalan dakwah”- meraup pahala sebanyak-banyaknya dari pemanfaatan waktu hidup ane.

***

Untuk itulah ane butuh saran dari kawan-kawan, sebaiknya ane fokus untuk menjadi expert (ahli) di bidang apa. Dalam bukunya Jamil Azzaini, seorang trainer SuksesMulia yang notabene salah satu pendiri Dompet Dhuafa, agar pencapaian target hidup/sukses kita maksimal, kita harus mengetahui dulu apa sebenarnya minat dan kelebihan-kelebihan kita. Ane sebenarnya sudah membuat tulisan untuk mengidentifikasi minat dan kelebihan ane. Ane sudah menyimpulkan, namun tetap saja ane lain waktu terjangkit penyakit bimbang lagi. Terakhir, ane memantapkan untuk fokus menjadi pengajar di Sekolah Bintang School. Namun akhirnya ane mengizinkan ane sendiri untuk mempertimbangkan itu lagi. Ane sangat butuh saran dari kawan-kawan. Agar memudahkan kawan-kawan untuk memberikan masukan pada ane, ane akan menjelaskan riwayat singkat ane yang akan menjelaskan sebenarnya ane memiliki kelebihan dan cocok fokus bekerja di bidang apa. Jangan sarankan ane untuk hidup mengalir saja tanpa perencanaan, karena ane sudah merasakan jika seperti justru semakin membuat hidup ane tidak terarah. Ane harus segera menentukan fokus ane, agar waktu ane yang tersisa dapat ane manfaatkan untuk pencapaian cita-cita ane, dengan catatan yang sudah ane jelaskan di atas: cita-cita tersebut memungkinkan ane untuk tetap konsisten di jalan dakwah dan dapat meraup pahala sebanyak-banyaknya. Karena memang visi hidup kita cuma satu, yaitu “masuk surga” dan misi hidup kita cuma satu yaitu “beribadah kepada Allah SWT untuk meraih Ridho-Nya”.

***

SIAPA ITU IKE

Ike adalah orang spesial. Harga tak ternilai. Begitu Pak Jamil Azzaini menjelaskan siapa dirinya dalam sebuah buku “Tuhan. Inilah proposal hidupku”. Ada yang lucu dari Pak Jamil yang merupakan penulis buku best seller “Kubik Leadership” ini. Ketika ia naik haji, ia cuma membawa proposal hidupnya yang berisi target-targetnya selama hidup untuk “disampaikan” kepada Allah. Dan ternyata saat ini target-target yang ia tuliskan dalam proposal hidupnya semua tercapai. Luar biasa bukan. Ok mari kita lanjutkan penjelasan tentang siapa itu Ike Wardhana Efroza.

Masa Kecil dan Keluarga

Ike. Begitu orang sering memanggil saya. Saya beruntung besar di tengah saudara-saudara yang cukup banyak dan rata-rata semuanya laki-laki. Saya mempunyai satu saudara perempuan, yang pertama dan mempunyai 4 saudara laki-laki. Saya adalah anak bungsu. Keluarga saya sebenarnya bukanlah keluarga yang berkecukupan, apalagi di masa ketika saya dan kedua kakak di atas saya belum lahir. Dari cerita orangtuaku, dulu kehidupan masih sangat sulit. Pernah keluarga saya pindah ke Jakarta, dan ayah waktu itu cuma bekerja sebagai pegawai pabrik roti. Di Jakarta tidak lama, mungkin sekitar 1 tahun.

Di masa saya berbeda. Saya lahir dan besar di Lahat. Beberapa saudara saya dari kecil sudah merantau, sehingga ketika kakak perempuan saya pulang ke Lahat, saya sampai tidak mengenalinya. Ketika itu saudara perempuan saya bekerja sebagai pramugari.  Ya setidaknya hidup pada waktu itu tidak begitu terasa sulit. Apalagi saya anak bungsu yang punya 5 orang saudara. Jadi jika ditanya apakah hidup saya ketika kecil cukup sulit, ya saya jawab tidak. Kadang ada rasa malu juga karena dulu hidup saya tidak begitu mengesankan.hehe Jadi yang hidupnya dulu sulit, seperti kondisi ekonomi keluarga yang kurang berkecukupan, berbahagialah karena ketika Anda sukses, Anda punya cerita menarik yang bisa menginspirasi banyak orang.hehe

Mempunyai banyak saudara ternyata membawa pengaruh positif juga buat saya. Banyak. Pertama: saya bisa mendapatkan warisan barang dari kakak-kakak saya (entah itu baju, sepatu, . Kedua: saya bisa belajar banyak tentang masalah-masalah orang dewasa (ya bisa tentang cara bergaul, main gitar, main basket, main sepeda, mengoperasikan komputer, dan lain-lain)  kepada kakak-kakak saya yang tidak bisa didapatkan oleh orang yang tidak mempunyai kakak. Ketiga: banyak kakak membuat saya cukup PD dan berani dalam bergaul, meski sebenarnya saya termasuk orang yang pendiam. Ya kawan-kawan pasti tahulah bagaimana rasanya punya banyak kakak dengan jarak umur yang dekat atau pun jauh.

Masa SD

Kondisi keluarga dan lingkungan, membuat saya berkembang menjadi anak yang serba bisa. Lingkungan dan peraturan ayah saya yang tidak begitu mengekang saya membuat saya menjadi seorang anak yang bebas mengekspresikan diri, meski tetap saja ada batasan-batasan yang diterapkan oleh ayah. Di lingkungan saya belajar bermain sepak bola, bola basket, bola voli, bermain gitar dan lain-lain sehingga di SD (kelas 5-6) saya cukup mudah bergaul karena saya punya keahlian bermain sepak bola dan voli (bola basket juga tapi di SD jarang bermain basket). Ya dengan keterampilan saya yang bisa dibilang cukup menonjol, sedikit banyak membuat saya memiliki banyak teman di SD (sebenarnya ingin bilang “populer di sekolah”, tapi nggak tega).hehe

Masa SMP

Di SD saya sekolah di sekolah negeri. Dan ketika SMP saya pindah ke sekolah swasta, yakni SMP Santo Yosef yang merupakan lingkungan yang sangat baru bagi saya. Rayon SD saya sebenarnya, tentu saja, sekolah negeri yakni SMP 1. Karena dengan alasan di SMP 1, kelas 1 SMP jadwal sekolahnya adalah sore, bukan pagi. Saya akhirnya lebih memilih SMP Santo Yosef, karena jadwal kelas 1 sampai kelas 3 semuanya pagi. Dengan begitu, sore hari saya tetap bisa bermain sepak bola dengan kawan-kawan di lapangan yang ada di lingkungan dekat rumah saya.

Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya pada dasarnya adalah orang yang pendiam. Saya orang baru di SMP Santo Yosef ini, karena jarang-jarang seorang mantan SD Negeri masuk ke SMP Swasta Katolik. Nah, keterampilan saya seperti bermain sepak bola, bola basket, bermain gitar sungguh sangat membantu saya untuk bisa bergaul dengan teman-teman baru di SMP Santo Yosef ini. Ketika kelas satu caturwulan 1 (kalau tidak salah belum menggunakan sistem semester), saya mengikuti banyak ekstrakulikuler yakni komputer, sepak bola, pramuka, dan kalau tidak salah voli juga. Dan di cawu pertama ini, tak disangka-sangka saya mendapatkan juara 10 besar di kelas (padahal di SD saya tidak begitu menonjol di akademis, jujur guru dan cara mengajarnya nggak asyik.hehe), kalau tidak salah juara 6 atau juara 8. Nah, karena ekstrakulikuler saya kebanyakan, wali kelas saya menyarankan untuk mengurangi ekstrakulikuler yang saya ikuti agar nilai akademis saya maksimal. Dan betul pada cawu selanjutnya saya mengalami kemajuan dalam akademis, di kelas 1 ini saya pernah mendapatkan juara ke 3, pertama kali dalam hidup saya nilai MTK saya mendapatkan 6.hehe

Di kelas 1, saya belum menjadi tim olahraga di SMP saya. Di kelas 2, saya mulai dilirik menjadi salah satu pemain dalam tim basket, tim voli, dan tim sepak bola di SMP saya. Jadi ketika musim lomba (biasanya Agustus), saya banyak kebagian dispensasi dari sekolah untuk diperkanankan meninggalkan kelas. Dan satu lagi, di SMP ini saya juga terpilih untuk bergabung dalam tim sepak bola kabupaten saya, Lahat.

Masa SMA

Setamatnya SMP, saya tetap melanjutkan SMA di SMA Santo Yosef. Di sinilah saya mulai mendapatkan kawan seperjuangan (kawan geng). Dulu ketika SMP saya tidak punya kawan geng. Di SMP saya cenderung menjadi sohib pribadi orang lain: Ada yang mau belajar main gitar dengan saya, akhirnya berteman dekat dengan saya; Ada yang mau belajar bermain basket dengan saya, akhirnya juga dekat dengan saya; Ada yang mempunyai sifat yang sama dengan saya (kalem) akhirnya juga dekat dengan saya. Begitulah kira-kira. Di SMA, kecintaan dengan olahraga tetap jalan. Alhamdulillah tetap bisa menjadi pemain dalam tim bola basket dan voli (sepak bola tidak ada, karena tidak ada turnamen untuk SMA). Di SMA juga saya juga pernah juara kelas (padahal jujur saya saja bingung kok saya bisa juara kelas). Jadi kawan-kawan waktu itu berpikir kalau saya itu pintar, padahal seringkali saya kalau menghadapi ulangan sering belajar SKS (kecuali untuk pelajaran tertentu seperti biologi) dan jarang sekali mengulang pelajaran (intinya bukan termasuk orang yang rajin belajar). Tapi tetap, untuk pelajaran yang berhubungan dengan hitung-hitungan, saya lemah. Kalau dipikir-pikir rahasia saya cuma “percaya diri, tidak mencontek, mencoba aktif di kelas”. Andai saya bisa matematika dan pelajaran hitung-hitungan lainnya!!! Tapi ya, inilah saya. Syukuri apa yang ada. Oh ya saya lupa, baik di SMP dan SMA saya juga bergabung di OSIS. Di SMP dan SMA saya memegang jabatan yang sama “Koordinator Seksi Pendidikan Jasmani dan Kesahatan/Olahraga”. Jadi ya tadi, masa SMP dan SMA adalah masa jaya dalam hidup saya (untuk sebagian orang lain juga tentunya).

Masa Kuliah

Singkat cerita saya akhirnya tamat dari SMA. Guru-guru, khususnya guru konseling menyarankan saya untuk kuliah di jurusan: Bahasa Inggris, Olahraga, atau Teknologi & Informasi (TI/Komputer). Saya berpikir dan berkonsultasi dengan keluarga, guru, dan lain-lain untuk menetapkan pilihan saya. Pendidikan Bahasa Inggris, ok. Pendidikan Olahraga, ok, tapi saya berpikir Bahasa Inggris prospek kerjanya lebih luas dari Olahraga dan waktu itu saya tidak berniat untuk menjadi guru, kalaupun memilih pendidikan Bahasa Inggris ya  bukan karena pendidikannya tapi lebih karena Bahasa Inggrisnya. Kemudian TI/Komputer, kayaknya nggak ok, karena ya itu tadi, TI pasti membutuhkan orang-orang yang pintar berhitung. Akhirnya dalam SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru), pilihan pertama saya mengambil Pendidikan Bahasa Inggris, kedua Ekonomi Akuntansi (Fakultas Ekonomi), dan ketiga Penyuluhan Pertanian karena pertimbangan bidang ini akan banyak dibutuhkan dan kakak saya juga penyuluhan pertanian.

Saya pun lulus di Pendidikan Bahasa Inggris. Sekarang, tak terasa saya sudah semester 8. Pola pikir saya sedikit banyak sudah berubah, sangat berbeda dengan ketika pertama kali masuk kuliah. Sekarang saya suka mengajar. Sekarang saya tidak terlalu berpikir bahwa menjadi PNS itu sebuah kemenangan besar. Sekarang saya berpikir bahwa saya harus memiliki usaha, apa pun profesi saya nanti. Sekarang saya berpikir bahwa saya harus menentukan arah hidup saya. Tugas dan kesibukan saya sekarang ini diantara: menjadi ketua BSO Infocus Nadwah (sebuah organisasi keIslaman di Kampus) periode 2010-2011, menyelesaikan proposal skripsi agar bisa segera penelitian, menjadi instruktur (magang) di Sekolah Bintang School (kursus Bahasa Inggris sekaligus menjadi tim manajemennya, merintis pendirian bimbingan belajar “Sriwijaya Education Center”. Nah, kesibukan inilah yang membuat saya bingung. Saya belum bisa menentukan prioritas karena saya masih belum menentukan fokus saya. Misal saya sudah menetapkan untuk fokus berkarir di Sekolah Bintang School, artinya waktu dan pikiran saya harus bisa saya pusatkan di sini. Jika misal saya mantapkan sehabis tamat saya akan melanjutkan kuliah di Pendidikan Olahraga (cita-cita menjadi dosen Olahraga dan menjadi pelatih), berarti saya harus segera menamatkan kuliah untuk secepatnya melanjutkan kuliah di Pendidikan Olahraga. Waktu dan pikiran saya pun harus saya pusatkan dengan hal yang berbau olahraga (entah itu latihan, dsb).

Tolong kepada kawan-kawan untuk memberikan masukan, dengan cerita saya di atas dan dari pengamatan kawan-kawan selama ini tehadap saya, kira-kira yang mana yang lebih baik saya pilih untuk jalan hidup saya:

  • Melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Pariwisata Bandung jurusan Manajeman Industri Perjalanan.

      Kenapa: karena saya sangat menyukai traveling dan dan akan sangat bahagia jika saya bisa berkarir di Bandung dan sekitarnya. Dengan ilmu yang saya dapatkan dari sini, saya bisa menjadi dosen (kalau mampu), membekali diri untuk menjadi pengusaha Bisnis Transportasi. Bisnis transportasi adalah bisnis yang cukup prospektif ke depan.

  • Melanjutkan kuliah di Pendidikan Olahraga Universitas Pendidikan Bandung (UPI).

      Saya sangat suka olahraga dan saya memeliliki beberapa keterampilan olahrga. Prospek kerja menjadi dosen olahraga dan pelatih olahraga, khususnya basket. Olahraga sejak dulu sampai sekarang menjadi kesenangan bag saya. Berharap bisa menjadi dosen di Unsri, atau di mana saja. Gaji dan gengsinya pun cukup tinggi, meski bukan menjadi tujuan. Kesempatan buka usaha dan berdakwah tetap ada dan bahkan lebih terbbuka lebar, apalagi di Unsri, balik kampung.hehe

  • Berkarir di Sekolah Bintang School

      Saya suka mengajar, memotivasi, dan memperbanyak teman. Berkarir di sini memungkinkan saya untuk bisa mengembangan kemampuan bahasa Inggris. Kemudian dengan menjadi tim khusus di SBS boleh jadi akan memungkin saya untuk lebih banyak melakukan traveling.

  • Menjadi murid di Young Entrepreneurship Academi (YEA) di Bandung (6 Bulan)

      Dengan bergabung di sini, kemungkinan untuk fokus mengembangkan usaha akan lebih besar. Karena mentor-mentor di sini bertanggungjawab penuh untuk membina usaha dari murid YEA sampai mendapatkan omset yang besar. Tapi memang untuk masuk YEA butuh investasi yang cukup besar, pendafataran sekitar 8 juta dan biaya SPP/bulan sekitar 1,2 juta (dikali 6 bulan). Jadi sekitar 15 jutaan. Dan yang pasti mesti siap membuka usaha. Modal sebenarnya bukan menjadi kendala, karena pasti akan ada jalan keluarnya. Setamatnya di YEA, boleh jadi saya akan membuka usaha di Jakarta-Bandung, atau kembali ke Palembang atau Lahat. Pokoknya usaha.hehe

  • Habis tamat balik kempung ke Lahat. Mengajar di Lahat sambil mengembangkan usaha di sana.

      Kelebihannya ya dekat dengan orangtua. Membangun kota sendiri.

6 pemikiran pada “Proposal Hidup Gue

  1. menurut aku yo kak, lebih enak jadi guru bae soal nyo kakk lah kuliah di unsri jadi guru, dan itu butuh perjuangan untuk sukses kuliah diperguruan

    kalo idak itu mending kakk ikut kemampuan dalam bidang apa yg sangat kakk kuasai , hehe
    yo kak mmm mungkin just it, thats my opinion kaaak hehe😀
    good luck ye kak ^^,

  2. mmmm
    semua pilihannya bagus2…

    tapi biar lebih mantap shalat istikharah, kalo g cukup satu kali ya berkali-kali..

    Semangat Ane Iwaza, Apapun keputusannya itu tentunya pilihan yang terbaik insyaallah ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s