Memelihara Keyakinan (E-Camp)

“Maaf kak, saya boleh membatalkan pendaftaran saya untuk mengikuti Entreprenur Camp (E-Camp). Krn uang saya terpakai. Jadi mungkin blm bisa ikut.” Itu bunyi sms saya yang saya kirimkan ke panitia E-Camp tiga hari sebelum E-Camp diadakan. Padahal, sebenarnya saya ingin sekali mengikuti pelatihan tersebut. Biayanya memang cukup mahal, yakni Rp 3.400.000 untuk mahasiswa. Dan saat itu, biaya pendaftaran didiskon sehingga menjadi Rp2.700.000.  Pertama kali membaca brosur pendaftarannya, saya sebenarnya agak apatis, karena berpikir “mana ada saya uang segitu, mau minta sama orangtua apa dikasih”. Beberapa setelah itu sudah lewat. Sampai pada suatu saat saya makan di sebuah warung makan yang pemiliknya alumni FKIP Unsri yang memang saya kenal, orang Lahat pula. Di depan warung makan itu, ada usaha kentang goreng rasa yang pemiliknya bekas adik tingkat saya di Bahasa Inggris Palembang. Berbincanglah kami tentang kewirausahaan sampai akhirnya ia mengeluarkan brosur pelatihan E-Camp tadi. Saya mulai menimbang-nimbang untuk ikut.

Pada hari Jumat, kalau saya tidak salah ingat, saya mengikuti sebuah seminar kewirausahaan yang pembicaranya seorang pengusaha dari Silicon Valley. Ya karena pembicara ini berbahasa Inggris, dan yang dibicarakannya juga kurang menarik, saya pun mengalihkan fokus saya pada keinginan saya untuk mengikuti pelatihan tersebut. Otak saya waktu itu langsung terpikir “Google”.hehe Saya coba saja searching di google bagaimana caranya mencari pinjaman uang. Dapatlah ide untuk meminjam uang dengan beberapa orang. Saat itu juga saya mencoba menghubungi salah satu panitia pelatihan, dan saya langsung di’closing’ untuk ikut. (dari situ sedikit-sedikit saya belajar bagaimana cara komunikasi agar pelanggan langsung memutuskan saat itu juga).

Rencana meminjam uang tersebut beberapa hari berjalan, sembari tiap hari berdoa agar diberikan rezeki dan diizinkan untuk ikut E-Camp ini. Modal saya waktu cuma keyakinan dan ikhlas jika saja memang doa saya tidak terkabul. Tapi, setelah beberapa hari uang yang terkumpul dari pinjaman tetap tidak cukup banyak. Saya mulai berpikir untuk menyampaikan keinginan saya pada orangtua saya. Meski saya tahu keuangan keluarga tidak cukup memungkinkan untuk memenuhi keinginan saya, tapi saya berpendapat bahwa pelatihan ini penting untuk investasi diri, untuk meningkatkan valensi (kapasitas diri), dan lagian saya sebenarnya cuma ingin meminta tolong untuk meminjamkan uang Rp 2 juta. Tapi ya karena ini adalah negosiasi antara anak dan orangtua, saya tetap saja diposisikan sebagai anak yang ingin meminta uang bukan meminjam. Waktu itu saya juga beralasan bahwa 2 juta bukanlah uang yang besar untuk sebuah pendidikan. Saya memberikan rasionalisasi bahwa betapa mudahnya kita mengeluarkan uang yang tanpa sadar lebih dari 2 juta untuk sebuah tujuan konsumtif atau kita akan rela mengeluarkan uang 2 juta untuk biaya matakuliah studi lapangan yang pada dasarnya cuma banyak dihabiskan untuk sekedar jalan-jalan. Setelah memberikan rasionalisasi (saat itu dalam pembicaraan di telepon), orangtua saya hanya bisa menjawab “lihat saja nanti”. Saya berpikir bahwa ada harapan untuk dikabulkan di awal bulan berikutnya.

Di awal bulan berikutnya (bulan April 2011), saya mudik. Sebenarnya bukan dengan tujuan menkonfirmasi permintaan saya terdahulu, tapi ya sekalian.hehe Ketika pas waktunya untuk membicarakan hal sensitif ini, waktu itu saat makan, saya mencoba menanyakan perihal permintaan saya tersebut. Apa kata ibu saya “Kita ini sedang banyak pengeluaran, bla..bla..bla..” Ya, saya sudah paham kesimpulannya. Tapi saya sebenarnya menginginkan jawaban yang bukan sekedar ya atau tidak, tapi solusi. Saya mengambil pelajaran “ketika anak Anda menyampaikan sebuah niat baik yang sulit untuk dikabulkan, jangan sarankan untuk mundur, hargailah dan beri solusi konkret. Saya tetap yakin, karena masih ada waktu untuk meminjam uang.

Karena sudah lama tidak berkoordinasi dengan panitia, saya mencoba menanyakan kembali apakah saya masih terdaftar sebagai peserta. Panitia waktu itu menjawab “uangnya sudah ditransfer, dik?” “Belum kak, jadi gimana?” kata saya. “Gpp, saya daftarin langsung yah. . .”balasnya. Waktu itu pelaksanaan pelatihan tinggal menghitung hari lagi. Saya pun, meski bimbang, tetap yakin dan berusaha. Saya mencoba menghubungi teman-teman saya yang berpotensi untuk memberikan pinjaman. Ada yang memang tidak punya uang, ada yang baru terpakai, ada yang tidak mengangkat telepon. Berprasangka burukkah saya? Tidak. Dan tidak akan saya biarkan saya sibukkan pikiran saya untuk berprasangka negatif. Akhirnya, saya pun pasrah, karena waktu sudah sangat dekat, dan akhirnya keluar kata pamungkas saya yang tertulis di awal. Saya bahagia karena balasan dari panitianya sungguh membangun, katanya ” That’s ok, Ike. Lain kali insyaallah bisa ikut ya”. Saya jawab dengan “Thanks kak. Amin insyaallah”.

5 pemikiran pada “Memelihara Keyakinan (E-Camp)

  1. Ping balik: Akhirnya. .ECamp! « Jeme Lahat Nak Maju

  2. ceritanya sungguh menarik karena sungguh km punya bakat menulis yang cukup hebat… paling tidak punya potensi untuk itu, dan ini bs jadi modal penting berwirausaha. Saya juga saat ini mengalami hal yang kurang lebih sama, bedanya saya sudah berkeluarga dan banyak pertimbangan prioritas pengeluaran. Anak saya baru naik kelas dan pindah sekolah sehingga butuh biaya untuk buku2, seragam dll. Belum lagi pengeluaran rutin bulanan dari listrik, air sampai cicilan kredit di bank. Namun belajar dari cerita km, sesuatu hal yang kita yakini baik harus kita perjuangkan semaksimal mungkin dan semampu kita. Salut buat km.. karena sukses itu bukan hasil akhir tapi ada pada prosesnya. perjuangan yang telah kmu tunjukkan itu sudah memiiki nilai kesuksesan yang luar biasa.. pantang surut menyerah.. coba dan coba lagi.. Insya Allah Yang Maha Kuasa akan mengijinkannya..Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s