Tarbiyah Finansial

Sudah beberapa minggu, saya membuka lapak di teras depan Mushola FKIP Unsri. Saya mencoba memanfaatkan koleksi buku-buku saya untuk dijadikan peluang usaha (besar) meski beromset kecil. Saya menamakan usaha besar saya ini “Warung Baca Kejujuran”. Jadi setiap pagi saya memajang buku-buku saya di teras depan Mushola untuk disewakan. Bukunya cukup banyak. Setiap pengunjung Mushola, baik yang hanya ingin beristirahat atau pun yang ingin Shalat bisa melihat-lihat buku saya, jika tertarik mereka bisa meminjam buku minimal dua buku per orang. Biaya peminjaman untuk satu buku dengan waktu peminjaman dua hari terhitung setelah hari peminjaman sebesar Rp1000 (saja). Lumayan, setiap hari saya bisa menghasilkan uang sekitar Rp1000 sampai RP5000, tergantung dari banyaknya peminat. Siapa coba yang mau ngasih uang segitu tiap hari. Setidaknya uang makan bisa ditutupi oleh usaha besar saya tersebut. Kebetulan akhir-akhir ini juga saya merasakan uang di dompet saya tidak mudah menipis seperti bulan-bulan sebelumya. Kok bisa ? Ya karena memang gaya hidup saya akhir-akhir ini bertahap-tahap sudah saya ubah. Kalau dulu saya makan siang dan makan malam bisa menghabiskan uang Rp5000 sampai Rp7000, kali ini saya biasanya hanya menghabiskan uang paling banyak Rp5000, tapi biasaya cuma Rp2000 sampai Rp4000. Saya mengakalinya dengan tidak perlu makan nasi dua kali sehari (maksudnya siang dan malam). Biasanya kalo makan siang dengan nasi, saya biasanya makan nasi plus tempe dua buah atau satu tempe dan satu tahu, ditambah dengan sayur tentunya, harganya Rp4000. Kalausaya  memang tidak berminat makan nasi, saya biasanya cuma makan tempe dan tahu (campur sayur) plus susu segelas, harganya juga Rp4000. Atau yang lebih murah lagi, saya biasa makan pisang dua buah, tempe dan tahu, harganya cuma Rp2000 (atau ditambah susu kedelai satu bungkus, harganya Rp1000).

Begitulah,  pola hidup dan pengaturan finansial saya di bulan ini, hasil dari cuci otak atas buku-buku finansial yang saya baca.hehe Alhamdulillah objektifitas pemikiran saya masih jalan, tentu saya tidak mau memaksakan diri berhemat jika memang itu malah menyiksa diri. Insyaallah saya juga menimbang-nimbang kebutuhan nutrisi, dan kalori. Alhamdulillah rasanya lebih baik. Memang, jika ada kesempatan makan dengan lauk pauk yang lebih enak, saya juga tidak akan menolak, seperti misalnya saja saya sudah kembali ke kampung halaman. Meskipun begitu, alhamdulillah saya sudah belajar mengatur banyaknya nasi atau lauk-pauk yang akan saya makan sesuai dengan kemampuan perut saya, sesuai dengan sabda Rasulullah “berhentilah makan sebelum kenyang”, meski kadang-kadang tetap saja kenyang, ya setidaknya jangan sampai terlalu kekenyangan.

Dan akhirnya, di bulan ini saya merasa lebih kaya. Uang di dompetku masih cukup banyak. Dan insyaallah, besok usaha besar saya tetap produktif, tak masalah seberapa besar. Saya cukup merasa bahagia dengan uang hasil usaha yang memang tak cukup banyak. Apalagi ketika saya bisa berbagi hasil dengan teman yang juga ikut membantu usaha saya tersebut, seperti memajang buku-buku dan membereskannya ketika saya tidak ada di Indralaya atau ada kesibukan lainnya.

Alhamdulillah, tetap Shalat Dhuha, tetap sedekah, tetap bahagia. Semoga Usaha Besar dengan Omzet Kecil ini suatu saat akan menjadi Usaha Besar dengan Omzet Besar. Amin Ya Rabb.^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s