Oh Indomie Goreng

Aku duduk jongkok di dekat lemari plastik yang tersedia di kosku. Tanganku sigap laiknya seorang koki yang sedang menyiapkan bahan-bahan masakan. Ku buka laci paling bawah yang memang kukhususkan tempat logistik konsumsiku untuk mengambil sebungkus indomie dan sebutir telur. Di depanku sudah siap kompor portabel yang selalu setia menemaniku. Gas portabel merk carrefour pun sudah terpasang di kompor, begitu juga dengan air mineral, panci, piring, gelas untuk menuangkan energen, dan tentunya sendok.

Tidak seperti biasanya, aku tidak begitu khawatir bila setiap harinya mengkonsumsi indomie goreng. Memang dari kecil aku adalah seorang mania indomie goreng. Tapi ketika aku mendengar bahwa mie goreng mengandung lilin yang digunakan agar mie tidak lengket. Dan juga dikatakan bahwa lebih baik mengkonsumsi mie goreng setidaknya 3 kali sehari, tidak boleh kurang dari 3 hari, karena untuk menghilangkan kandungan lilin dalam mie yang ada perut butuh waktu 2 hari katanya. Sejak saat itu, aku semakin jarang mengkonsumsi indomie goreng.

Baru-baru ketika hangat berita tentang larangan mengkonsumsi indomie di, kalau tidak salah, Vietnam, rasa khawatirku diruntuhkan oleh informasi yang diberikan oleh kakak perempuanku, Novita Eli Efroza. Katanya, berita tentang kandungan lilin dalam mie itu cuma rumor. Berita itu ia dapatkan dari seorang ahli (mungkin ahli gizi, aku lupa). Sejak saat itu, meski masih berhati-hati, kekhawatiranku yang berlebihan itu pun akhirnya sedikit hilang. Apalagi ketika aku berada di kosanku di Palembang. Di sini paling murah nasi goreng yang dijual di dekat kosanku. Harganya 5.000. Jadi tidak mungkin bagiku untuk memaksakan kocekku untuk makan di luar, apalagi untuk sarapan pagi yang nasi gemuk saja harganya 3.000 sampai 5.000.

Mendengar cerita di atas, mungkin kawan akan bertanya “kenapa nggak masak aja?” atau “wah, jadi makan mie terus ni ? mana tercukupi kebutuhan gizinya!” Untuk pertanyaan pertanya, memang keinginan untuk memasak itu ada. Beberapa hari yang lalu, di keranjang belanjaanku sudah terisi wajan penggorengan, spatula, pisau masak, dan alas untuk mengiris bahan masakan.

Awalnya aku berpikir, dengan itu akan membuatku sedikit lebih hemar. Tapi akhirnya barang-barang itu kembalikan lagi ke tempatnya. Aku menimbang-nimbang barang-barang itu nantinya tidak akan banyak terpakai untuk masak olehku. Sedangkan untuk membeli itu semua, tidak sedikit uang yang dikeluarkan, dan lagian aku disini tidak terlalu lama-sekitar satu bulan lagi. Untuk pertanyaan kedua, aku akan menunjukkan pola makanku selama di Palembang.

Di pagi hari, biasanya aku menkonsumsi indomie goreng dicampur dengan telur setengah matang. Jika kalian search di google, kalian akan menemukan bahwa satu telur sudah mencukupi kebutuhan kalori dan protein. Dan indomie goreng juga memiliki cukup karbohidrat dan beberapa kandungan vitamin. Untuk itulah, biasanya saya menambahkan kuah karena, menurut laporan kakakku tadi, justru di kuah tadilah kandungan-kandungan pentingnya berada.

Selain itu, aku juga menambahkan telur yang kumasak  setengah matang, bukan ¾ matang. Siang hari adalah waktu dimana proses pencernaan terjadi. Jadi aku pikir pada saat inilah makanan yang kita konsumsi harus benar-benar sarat gizi. Tapi sayangnya, disini untuk nasi dan sayur rata-rata menjual nasi padang. Aku kurang begitu suka nasi padang dan harganya juga tidak begitu murah.

Itulah kenapa untuk siang hari, aku biasanya menkonsumsi nasi gorang plus telur mata sapi ditambah dengan segelas susu hangat. Intinya, untuk siang hari, budget konsumsiku kubatasi 7.000 dan tidak dengan nasi padang. Karena aku pernah mencoba makan nasi padang, dan hasilnya mengecewakan-uangnya, rasanya, dan banyaknya. Ah, kok jadi seperti rumit sekali ya.😀

Untuk malam hari, makanan di sini banyak tersedia, mulai dari pecel lele, ayam, bebek, soto, dan lain-lain. Jika aku memang benar-benar merasa lapar dan butuh asupan energi, biasanya aku memaksakan untuk membeli makanan-makanan tersebut yang paling murah harganya 10.000. Inilah susahnya tinggal di Palembang, tepatnya di bukit. Karena di Palembang ada satu daerah pelajar yang makanannya sama murahnya dengan makanan di Indralaya, yaitu Plaju (pala kite belanju).hehe

Terlepas dari masalah timbang-menimbang makanan apa yang sebaiknya dimakan. Yang pasti, aku tidak ingin menzalimi badanku dengan terlalu berhemat. Dan juga, aku tidak ingin seolah-olah diri ini orang yang sangat kaya dengan makan apa saja seenak jidat tanpa pikir-pikir. Pokoknya Indomie is the best. Lah ???^^

6 Nopember 2010, di Kos Palembang

2 pemikiran pada “Oh Indomie Goreng

  1. Tadinya cm mau nyari jumlah kalori mie instan, malah baca ini. Hebat sekali Kak Ike bisa bertahan dgn budget hemat anak kosan.
    Saya jd teringat pengalaman ketika mulai bekerja di Jkt th 2009. Biasanya pagi sy makan bubur/mie ayam seharga 6000. Kalau siang nasi pakai rawon/soto/rendang atau ayam padang yg harganya tdk lebih dr 10rb. Ini pun dibagi 2. Setengah makan siang, setengah makan malam😀
    Hasilnya sukses berhemat dan tetap langsing hehe…

    Sukses terus Kak & tetap menginspirasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s