Menentang Ilmu Pendidikan

Dikutip dari buku Pengalaman Masa Kecil (Nur Sutan Iskandar, Balai Pustaka, Jakarta, 1987).

Semoga bermanfaat. . .

Pendidikan!Hal itu mengingatkan saya kepada ibu saya pula. Sepatah dua patah kata hendak saya pergunakan untuk mempertahankan beliau terhadap kepada ilmu pendidikan resmi. Sebab ilmu pendidikan itu hendak meyakinkan kepadaku, bahwa seorang pendidik harus teguh akan perkataannya atau nasihatya. Ia tidak boleh menjatuhkan hukukan tergesa-gesa, demikian pula memberi perintah. Tapi, kalau hukuman telah dijatuhkannya, harus diteruskannya. Kalau seorang anak harus tinggal di rumah atau di sekolah sejam, harus tetap sejam jua. Tidak lebih dan tidak kurang. Sebab kalau tidak demikian, kalau sebab alasan itu perintahnya itu sudah diabaikannya, maka hasil hukuman itu tak ubah sebagai ancaman hampa saja. Takkan diacuhkan lagi oleh anak-anak. Demikian diajarkan ilmu pendidikan kepadaku.

Dan sampai sekarang masih terdengar olehku suara larangan dengan sungguh-sungguh, dan masih kelihatan olehku gerak tangan ibu melarang dengan marah dan ancaman, jika ia tak suka akan kelakuanku. Akan tetapi saya hendak mengatakan kepadanya – maksud saya kepada ilmu pendidikan, kepada budiman itu – sepatah kata yang kurang baik ?

 

Pengalaman saya sendiri sudah bertentangan dengan ilmu pendidikan itu, telah menampar mukanya. Dengan perbuatannya sendiri telah dirusakkannya segala kebijaksanaannya. Ibu saya tidak tetap pada pendiriannyaa. Dalam peri keadaan yang sangat sungguh-sungguh diberikannya hukuman yang ringan, dan hukuman itu sebahagian beasar dihapuskannya pula dengan cepat.

 

Hal itu diperbuatnya lain tidak karena kelemahan hatinya. Sebab tidak dapat dideritanya, kalau anaknya yang nakal itu tidak dapat mengecap kesenangan yang menurut perasaannya sendiri amat luar biasa adanya. Dia tidak dapat menepati katanya yang telah dikeluarkannya. Dan karena lembut-lembut hatinya, segala kesalahan anaknya itu pun diampuninya dengan segera. Dan bagaimana akibatnya ? Masih teringat olehku, hanya karena saya mengaku salah dengan tangis, lalu saya dilepaskannya dari ikatan erat, dari hukuman, dengan suka hatinya.

 

Sejak itu dan selama hidup saya tidak ada yang lebih saya takuti lagi, melainkan mendukacitakan hati ibu, – meskipun tentu saja kerapkali jua saya berbuat demikian. Sehingga kemudian sangat saya sayangi dan cintai; dan saya pandang dia sebagai malaekat selama hidupku, tidak lain dan tidak bukan, karena ia tidak tetap pada pendiriannya.

 

Satu pemikiran pada “Menentang Ilmu Pendidikan

  1. Ping balik: 3 Sikap yang Diperlukan Guru Demi Kebaikan Siswa | Life of Iwaza

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s