Hujan 6 Nopember 2010

Aku masih saja menyukai damai warna dunia sehabis hujan. Ketika siang ini, sehabis pulang mengajar aku tertidur pulas di peraduanku yang cukup nyaman. Aku tinggal sendiri di sini, tidak seperti biasanya.

Jam 5 sore aku terbangun. Seperti biasa, aku duduk sembari meneguk sedikit air mineral. Karena dari apa yang pernah aku baca, ketika bangun tidur, sebaiknya tenangkan diri sejenak, minum air putih untuk melancarkan metabolisme dalam tubuh.

Pikiranku pun menerawang, terlintas lapangan basket di dekat SMA Srijaya. Seharusnya sore ini latihan. Tapi aku yakin, tampaknya tidak ada siswa yang datang untuk latihan basket sore ini. Hujan tak mengizinkan kami. Biarlah, masih ada hari esok.

Di luar, air langit masih mengucur menabrak bumi yang sudah basah, mungkin sudah hujan dari tadi siang. Oh ya, aku baru ingat. Tadi siang memang sudah hujan, gambaran siswa-siswa SMA Srijaya yang berteduh di bawah atap galeri sekolah terlintas di benakku. Suasananya pun aku masih ingat. Warna dunia yang basah dibalut dengan ekpresi yang beragam dari siswa-siswa Srijaya. Aku menyukainya, karena hujan, karena mereka, karena senyum-senyum mereka.

Segera setelah bangun, aku keluar menuju air pancuran yang keluar dari sela-sela pipa paralon untuk berwudhu yang tidak jauh dari kamarku. Aku ambil posisi jongkok, dan hmm, segarnya! Sembari berwudhu, terlintas di benak tentang ceramah kakak tingkat beberapa hari yang lalu, katanya, “kita, memang bisa menjaga diri dari maksiat yang biasa dilakukan oleh orang-orang awam, meninggalkan Shalat, menonton video porno, dan lain-lain, hanya saja yang sering terjadi pada diri kita adalah terlalai dan melalaikan: melalaikan Shalat fardhu di masjid, melalaikan baca Al Quran minimal 1 juz perhari, melalaikan silaturahim, dan lain sebagainya.” Sore ini, aku terlalai. Karena lelapku aku hanya bisa Shalat di rumah. Dan setiap hari mengajar di SMA Srijaya, otomatis juga membuatku tak bisa Shalat Zuhur berjamaah di masjid atau mushola.

Bicara sekolah, SMA, dan Shalat, aku juga teringat dengan pengamatan-pengamatanku selama ini di SMA Srijaya tempat aku mengajar. Kebetulan, setiap hari siswa kelas 3 sepulang sekolah harus mengikuti pelajaran tambahan untuk persiapan Ujian Nasional. Sehingga dengan itu mereka pulang lebih sore dari biasanya, mungkin sekitar pukul 5 sore. Begitu juga dengan siswa-siswa yang memiliki kegiatan ekstrakulikuler. Di beberapa kegiatan ekstrakulikuler-tidak perlu aku sebutkan apa, setelah pulang sekolah, ada yang langsung memulai kegiatannya. Aku jadi berpikir “mereka ini apa tidak Shalat ya, padahal organisasi ini organisasi orang-orang yang bisa dikatakan pilihan-karena budaya kedisiplinannya, kebersamaannya, dan lain-lain?” Selain itu juga pada hari Jum’at, aku memperhatikan ternyata masih banyak siswa lelaki yang masih sibuk dengan kegiatannya di kelas. Ya, aku bisa memaklumi kondisi siswa, karena dulu aku juga bukan orang yang cukup taat beragama. Tapi justru itulah, aku berpikir, ternyata selama ini pendidikan kita terutama sekolah umum tidak terlalu memperhatikan hal ini. Kalaupun aku dulu seperti itu, aku mempertanyakan kenapa peraturan tidak diatur sedemikian rupa agar kondisi yang memungkinkan siswa melalaikan Shalat tidak terjadi.

Aku pikir siswa butuh diikat dengan peraturan dan kekuasaan. Karena sesungguhnya itulah fungsi dari sebuah kekuasaan. Seorang presiden atau seorang menteri yang bijak dan abid bisa menggunakan kekuasaannya untuk menyuburkan pendidikan akhlak dengan kebijakan-kebijakannya. Itulah mengapa, politik itu perlu. Kita sering terjebak dengan opini bahwa “agama sudah digunakan untuk kepentingan mencari kekuasaan”. Kata kekuasaan sudah jadi barang jorok dalam pikiran kita, padahal justru dengan kekuasaan itulah sebenarnya akan memudahkan para wakil-wakil rakyat, pemimpin-pemimpin yang bijak, adil, taat beragama dan paham tentang agama untuk menegakkan kebenaran dan kemungkaran yang memang sudah menjangkiti perpolitikan di negeri ini. Jadi, politik tidaklah busuk, justru orang-orang busuklah yang membuat politik terlihat busuk. Tidaklah sempurna keIslaman seseorang yang menganggap politik bukan bagian kehidupan yang tidak diatur dalam Islam. Karena sesungguhnya Islam adalah agama sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Pikirkanlah lagi anggapan kita yang sering merespon kata politik dengan ungkapan “politik itu omong kosong”.

Maaf, aku begitu berapi-api. Ya, itu lebih dari pada aku diam. Aku harus mengatakan apa yang ada di benakku. Dan, setelah bangun dan Shalat ashar, rasanya aku butuh mencari makanan untuk mengisi perutku yang belum diisi dari siang tadi. Hari memang sudah menunjukkan pukul 17.30 sore. Tapi  aku ingin sekali dan butuh jalan keluar mencari makanan, sembari menenangkan pikiran dan kepala yang memang sedikit pusing. Ditemani suasana yang dingin sehabis hujan aku berjalan. Akhirnya kutemukan warung Mie Ayam yang sudah hampir tutup. Hmm, mie ayam terakhir hari ini aku yang menikmatinya, nikmat!!!

Jangan bahagia jika kalian dibebaskan dalam ketidakteraturan yang membuat kalian tidak dapat menemukan pelajaran berharga hari ini. Berbahagialah jika kalian dituntun dengan segala rasa yang terpahat di wajahku-apa pun. Jangan tertipu dengan senyumanku.

#refleksimengajar, 06 Nopember 2010 di KOS Palembang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s