Guru Muda dan Murid Remaja

Aku tergelitik ketika membaca status seorang mahasiswa yang kebetulan masih menjalani program pelatihan guru yang berisi tentang keluhannya terhadap pekerjaannya yang belum selesai-selesai. Tak tahu tugas apa, tampaknya tugas kuliah. Di bawahnya tertulis komentar dari, mungkin seorang anak didiknya di sekolah tempat ia menjalani pelatihan guru yang mencoba memberikan pendapat bahwa melakukan segala sesuatu itu harus ikhlas. Pendapat yang benar aku rasa dan kalian pun pasti setuju. Namun, mungkin karena si mahasiswa, calon guru tadi sedang jelek “mood”nya, lantas membalas komentar anak didiknya tadi dengan, kira-kira seperti ini bunyinya “nggak usah ngajarin ibu tentang ikhlas!!”. Membaca itu, aku langsung berdecak dan berkata dalam hati “wah..wah..pembunuhan karakter anak didik!”haha. Dan anak didiknya pun membalas dengan kata maaf, namun tampak dari pilihan katanya menunjukkan bahwa ia jengkel. Mungkin si anak didik tadi berpikir, “sudah baik-baik kasih pendapat, eh dibilang nggak usah ngajarin. Iya deh, memang ibu yang paling benar dan paling tahu.” Sebuah pilihan tindakan yang kurang tepat, dan bahkan mungkin fatal bagi seorang pendidik, menurutku.

GURU MUDA

Pemuda usia 20an tahun memang masih bisa disebut remaja. Dalam ukuran psikologi, kalau tidak salah, masa tersebut bisa dikatakan sebagai masa remaja tahap akhir, peralihan masa remaja menuju ke dewasa. Namun, seperti yang kita lihat di lapangan, tetap saja banyak pemuda dengan usia tersebut masih saja menunjukkan sikap seperti remaja yang “kekanak-kanakan”. Kekanak-kanakan dalam arti masih menunjukkan sikap “suka minta perhatian” yang kadang berlebihan dan dibuat-buat. Sikap seperti ini, menurutku, cukup berbahaya jika dimiliki oleh seorang guru, apalagi guru muda dengan usia 20an sepertiku sekarang.

MURIDKU MENARIK

Aku, kebetulan, pernah mendengar percakapan beberapa calon guru yang melaksanakan program pelatihan mengajar di sebuah SMA. Inti percakapan mereka yang ku tangkap adalah mengenai murid-murid perempuan mereka di sekolah yang mereka ajar. Dalam percakapan tersebut mereka begitu mengumbar-ngumbar peran mereka dan kehebatan mereka dalam menarik perhatian murid-muridnya. Jujur, aku khawatir dan ngeri. Meski aku sedikit yakin mereka tak akan berhasrat untuk bertindak jauh seperti melakukan “pendekatan” yang intensif untuk sekedar bermain-main, aku pun rasanya tak rela jika ada pembicaraan yang tak pantas bagi seorang pendidik terhadap murid-murid perempuan mereka. Memang, tampaknya pemuda awam akan berpikiran sama jika mendengar kata “anak SMA”, seperti beberapa teman yang ketika mendengar dan tahu bahwa ku mengajar di SMA, mereka biasanya menanggapi “wah, banyak murid yang cantik tuh. Bisalah jadi inceran !”. Nau’dzubillah.

Mereka, anak SMA, masih begitu lugu dan mudah dimainkan perasaannya. Coba perhatikan, mudah sekali, biasanya, mereka untuk kagum dengan kata-kata manis dan berkata “So Sweet!!!. Seperti pengalamanku melihat adikku yang biasa memberi tahu pacarnya “Shalatlah dulu !”, sedangkan ia pun justru Shalat satu kali sehari pun tidak. Aku khawatir, begitu khawatir jika adik-adik perempuanku, mereka yang kusayangi terjebak dengan rasa ketertarikan mereka terhadap lawan jenis yang memang begitu kuat di usia mereka untuk berlaku permisif terhadap tindakan yang tidak pantas menurut budaya ketimuran dan agama kita.

Ya..Aku hanya bisa berpesan, “Jaga diri kalian !!!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s